로그인Suasana kelas perlahan lengang setelah dosen menutup penjelasannya. Mahasiswa lain berbondong-bondong keluar menuju kantin atau sekadar nongkrong di luar. Alana, seperti biasanya, tetap duduk di kursinya. Ia membuka kembali buku catatan, merapikan tulisan-tulisan dosen tadi yang sempat tercecer.
Pensil mekaniknya menari di atas kertas, sementara ruang kelas makin sepi. Hanya ada suara kipas angin di langit-langit yang berputar pelan.
Namun, tidak lama kemudian, telinganya menang
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan, Axel membiarkan tubuhnya merubuh, mengunci tubuh Alana di bawahnya. Ciumannya kembali menuntut, kasar pada awalnya, namun perlahan berubah menjadi ritme yang menghancurkan pertahanan Alana. Setiap kali Alana mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya untuk menolak, Axel menghapus perlawanan itu dengan jilatan di leher dan gigitan lembut di bahunya yang membuat napas Alana tercekat.Perlawanan Alana perlahan meluruh, digantikan oleh gelombang panas yang tidak bisa ia jelaskan. Tangan Axel yang besar mulai merayap liar di balik gaun tidur tipis itu. Ia menyentuh setiap inci kulit Alana dengan otoritas yang membuat gadis itu gemetar. Dari sepasang puncak dadanya yang sensitif hingga paha bagian dalamnya yang terasa panas, Axel memainkannya dengan ritme yang sengaja dibuat untuk menaklukkan.Alana tidak tahu mengapa ia begitu mudah menyerah. Mungkin karena ia lelah berpura-pura membenci pria yang selama ini selalu menghantuinya, atau mungkin kare
Hawa malam itu terasa berbeda, berat dengan ketegangan yang belum sepenuhnya surut. Alana baru saja menyelesaikan ritual pembersihannya. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan gaun tidur berbahan sutra tipis yang jatuh tepat di atas lutut. Tanpa pakaian dalam, ia merasa bebas sekaligus rentan.Ia segera naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya tengkurap sambil membuka laptop. Justin Timberlake - Mirrors mengalun lembut dari speaker ponselnya, memberikan sedikit kedamaian yang ia butuhkan.Alana mulai menyenandungkan liriknya, memejamkan mata, membiarkan melodi itu mengusir bayangan tatapan tajam Nero dan amarah Axel yang sempat meledak pagi tadi. Namun, kedamaian itu pecah saat sebuah suara bariton yang familiar menyela dari arah pintu."Bahagia banget kayaknya hari ini."Alana tersentak, laptopnya nyaris meluncur dari pangkuan. Ia menoleh dan mendapati Axel sedang bersandar santai di bingkai pintu, tangannya terlipat di depan dada, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartika
Mata Alana mengerjap cepat, berusaha mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. Sensasi hangat dan lembap di bibirnya masih terasa nyata, meninggalkan jejak yang membuat detak jantungnya berpacu tidak karuan. Ia menatap sosok pria yang berdiri di samping ranjang dengan postur tubuh tegap yang begitu familiar."Kak Nero?" gumam Alana, suaranya parau.Nero menunduk, menatap Alana dengan sorot mata yang sulit diartikan—datar, namun intens. "Mengantuk?"Alana menggeleng cepat, meskipun rasa kantuk masih menggelayuti kelopak matanya. Ia berusaha mengenyahkan pikiran tentang mimpi aneh barusan. "Tidak... hanya sedikit terkejut.""Ayo pulang. Pekerjaanku sudah selesai," ucap Nero singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan melangkah menuju pintu.Alana masih terduduk di ranjang, melamun sejenak. Pikirannya dipenuhi pertanyaan yang menggelitik. Apakah mimpi tadi nyata? Ia menyentuh bibirnya sendiri. Rasanya benar-benar basah. Mungkinkah Nero baru saja menciumnya saat ia tidur?Namun, me
Keheningan di dalam ruangan kerja Nero mulai terasa mencekik. Setelah tiga jam bergelut dengan modul kuliah online dan menyelesaikan tumpukan tugas esai, Alana akhirnya menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Ia menyandarkan punggung ke kursi kerja Nero yang empuk, kursi yang aromanya sangat khas—campuran antara kulit mahal dan parfum maskulin pria itu.Alana menatap meja besar itu. Ia sengaja meninggalkan ponselnya di rumah. Ia tahu dirinya pengecut. Ia tidak siap melihat notifikasi dari grup kampus atau pesan-pesan asing yang mungkin masih menghujatnya karena foto masa lalunya. Baginya, tanpa ponsel, dunia terasa sedikit lebih aman, meskipun membosankan.Ia bangkit dan mulai berjalan berkeliling. Matanya menyisir setiap sudut ruangan. Ada pot bunga yang tertata simetris, piagam-piagam penghargaan di dinding yang membuktikan kejeniusan Nero, hingga papan nama di atas meja: Nero Graves – Chief Executive Officer.Alana menyentuh papan nama itu dengan ujung jarinya. "Nero Graves
Pagi itu, jalanan menuju pusat bisnis kota tampak padat, namun di dalam mobil SUV mewah milik Nero, suasana terasa seperti berada dalam ruang kedap suara yang dingin. Nero sengaja tidak membawa sopir seperti biasanya. Ia duduk di balik kemudi dengan setelan jas yang sempurna, sementara Alana duduk di sampingnya, memeluk tas ransel berisi laptop dengan erat di pangkuannya.Sejak mesin mobil dinyalakan, Alana hanya terdiam. Pandangannya lurus ke depan, namun pikirannya bercabang ke mana-mana. Ia bersiap mental jika tiba-tiba Nero menanyakan kejadian di ruang makan tadi. Posisi Alana dan Axel tadi memang sangat ambigu; dorongan tangan Alana, jarak mereka yang terlalu intim, dan teriakan peringatan itu. Alana bertanya-tanya, apakah Nero mengajaknya ke kantor karena curiga? Ataukah ini cara Nero untuk menjauhkannya dari pengaruh liar Axel? Seingat Alana, Nero bukan tipe orang yang suka membawa urusan rumah ke kantor, apalagi membawa adik tiri yang tidak tahu apa-apa soal bisnis.Nero melir
Suasana pagi di kediaman Graves selalu terasa dingin, sepadan dengan arsitektur minimalis modernnya yang didominasi marmer abu-abu. Alana terbangun dengan kepala yang sedikit berat. Sisa-sisa kekesalannya semalam terbawa hingga ke alam mimpi, membuatnya terus terjaga dan berguling gelisah di atas ranjang.Ia turun ke lantai bawah dengan langkah gontai. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit acak-acakan, jatuh di bahu gaun tidur selutut berwarna broken white yang ia kenakan. Tenggorokannya terasa kering kerontang, ia butuh sesuatu yang dingin untuk menyiram rasa sesak yang masih tertinggal di dadanya.Di ruang makan, para pelayan sudah sibuk menata piring-piring porselen. Aroma kopi yang kuat dan roti panggang mulai memenuhi udara."Selamat pagi, Nona Alana. Ingin sarapan sekarang?" sapa salah satu pelayan dengan sopan.Alana hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan. "Pagi, Bi. Nanti saja, aku mau minum dulu."Ia melangkah menuju kulkas besar di sudut dapur bers
Mobil mewah Nero meluncur pelus memasuki area parkir kediaman Graves yang megah. Suasana di dalam kabin sunyi, hanya menyisakan aroma parfum maskulin Nero dan sisa rasa manis es krim melon di lidah Alana yang mendadak terasa pahit. Bayangan Axel yang tertawa lepas sambil merangkul wanita asing di t
Malam di kediaman Graves terasa lebih tenang dari biasanya. Alana sudah berdiri di depan cermin selama lima belas menit, memastikan blazer marun yang dikenakannya tampak serasi dengan celana panjang hitamnya. Ia ingin terlihat dewasa, namun tetap ingin mempertahankan sisi cerianya.Tok, tok, tok."
Pintu gerbang otomatis kediaman mewah keluarga Graves terbuka perlahan, menyambut sedan hitam Nero yang meluncur halus melintasi halaman yang tertata rapi. Alana duduk mematung di kursi penumpang, memeluk kantong plastik berisi dimsumnya seolah benda itu adalah pelindung dari aura dingin yang meman
Perjalanan kembali dari Maldives menyisakan keheningan yang janggal di dalam mobil. Nero turun lebih dulu di depan gedung pencakar langit kantornya tanpa banyak kata, hanya memberikan tatapan singkat yang sulit diartikan kepada Alana. Alana pun melanjutkan perjalanan pulang hanya ditemani sopir pri







