Share

Bab 100

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-10-13 23:21:43

Tiga puluh menit sebelumnya...

Tara membuka matanya lalu ia menoleh ke samping ke arah Luna yang ternyata sudah bangun.

Gadis itu langsung tersenyum pada Tara.

"Selamat pagi Tara," ucap Luna.

"Good morning cantik," jawab Tara dengan suara seraknya khas orang bangun tidur.

Lalu Tara mendekatkan wajahnya pada Luna dan pria itu langsung mengecup bibir Luna. "Morning kiss," ucap Tara. Kemudian ia mengungkuk tubuh Luna. Menggunakan kedua tangannya, Tara menahan tubuhnya agar tidak menimpa Luna.

"T
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 101

    “Nona, masih tidur?”Suara Mentari terdengar pelan dari ambang pintu, disusul bunyi langkah kaki yang berjinjit masuk. Di balik celah lemari, Tara menahan napas.Di atas ranjang, Luna tidak bergerak sama sekali. Matanya terpejam rapat, napasnya ia atur panjang dan teratur, dan satu tangannya yang tadi hampir mencengkeram selimut ia biarkan lemas di sisi tubuh.Dalam hati ia berdoa semoga kelopak matanya tidak berkedut.“Nona Luna?” panggil Mentari lagi, kali ini sedikit lebih dekat.Luna tetap diam dan masih memejamkan kepalanya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia khawatir Mentari bisa mendengarnya.Luna mencoba untuk tetap tenang agar actingnya meyakinkan.“Yah, masih tidur rupanya,” gumam Mentari kepada dirinya sendiri. “Kasihan, pasti capek habis pergi dua hari.”Akhirnya Mentari pun menyelesaikan tugasnya datang ke sini. Gadis itu mengambil keranjang baju kotor milik Luna kemudian langsung keluar dari kamar Luna agar tidak mengganggu tidur Luna.KlikTerdengar pintu kama

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 100

    Tiga puluh menit sebelumnya...Tara membuka matanya lalu ia menoleh ke samping ke arah Luna yang ternyata sudah bangun.Gadis itu langsung tersenyum pada Tara. "Selamat pagi Tara," ucap Luna."Good morning cantik," jawab Tara dengan suara seraknya khas orang bangun tidur. Lalu Tara mendekatkan wajahnya pada Luna dan pria itu langsung mengecup bibir Luna. "Morning kiss," ucap Tara. Kemudian ia mengungkuk tubuh Luna. Menggunakan kedua tangannya, Tara menahan tubuhnya agar tidak menimpa Luna."Tara—" kalimat Luna terhenti saat Tara mengecup bibir gadis itu."Apa yang aku katakan semalam itu tidak bohong. Aku memang menyukaimu Luna. Makanya hatiku sakit melihat kamu diabaikan oleh suamimu. Sejak awal, rasanya aku ingin membawamu pergi dari suamimu tapi aku juga sadar kalau statusmu saat ini masih istri pria lain."Luna masih diam tapi matanya menatap netra Tara seolah mencari kebenaran lewat mata pria itu dan yang ia temukan tatapan ketulusan pria itu. Bahkan ini pertama kalinya ia meli

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 99

    Luna masih menangkup wajah Tara, dan Tara membiarkannya saja. Ia hanya tersenyum dengan pipi sedikit tertekan oleh kedua telapak tangan gadis itu, mirip bapao yang baru keluar dari kukusan.“Iya, Luna. Aku Mas jenggotan itu.”“Ya ampun.” Luna akhirnya melepaskan wajah Tara, lalu menjatuhkan punggungnya ke sandaran sofa sambil menutup muka dengan bantal. “Pantas aja waktu pertama kali lihat kamu di rumah ini rasanya kayak pernah lihat. Tapi aku pikir itu cuma perasaan.”“Kamu sempat mikir begitu?”“Iya. Cuma sebentar, habis itu lupa.” Luna mengintip dari balik bantal. “Terus, kok bisa kamu ada di panti waktu itu? Dan kenapa kamu pakai kacamata hitam di dalam ruangan? Kamu waktu itu lagi jadi buronan, ya?”Tara tertawa. “Bukan buronan. Waktu itu aku lagi di masa-masa...” Ia berhenti sebentar, mencari kata yang pas. “Aku nggak mau dikenali siapa-siapa. Orang tuaku baru meninggal, dan aku pengin menghilang dulu dari dunia. Rambut dipanjangin, jenggot dibiarin tumbuh, kacamata hitam kupak

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 98

    “Kapan?”Tara tidak langsung menjawab. Ia menarik tubuhnya perlahan dari atas Luna, lalu duduk tegak di sofa sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Napasnya masih belum sepenuhnya teratur, dan rambutnya sedikit berantakan karena jemari Luna tadi. Ia menyugar rambutnya ke belakang, mencoba menenangkan diri.Luna ikut bangkit dan duduk di sebelahnya. Ia menunduk, lalu buru-buru membetulkan tali gaun putih tulangnya yang sudah melorot sampai ke lengan atas, ulah Tara beberapa menit lalu. Wajahnya langsung merah padam. Ia merapikan rambutnya yang kusut, menarik ujung gaunnya ke bawah, lalu berdeham pelan seolah tidak ada apa-apa.Tara melirik gerak-geriknya dari sudut mata, dan bibirnya berkedut menahan senyum.“Jangan senyum,” desis Luna tanpa menoleh.“Aku nggak senyum.”“Jangan mengelak, aku melihatnya.”Di depan mereka, televisi masih menyala dalam keadaan mute, menayangkan adegan film yang tadi mereka tinggalkan begitu sajaTara menarik napas dalam, lalu menoleh. “Ka

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 97

    "Bagaimana caranya Tara?"Tara mengenggam tangan Luna. "Setelah semua urusanku selesai, aku akan membantu kamu untuk lepas dari suamimu. Aku nggak mau melihat kamu harus terbelenggu dalam sangkar yang suamimu buat untukmu Luna.""Kamu yakin bisa berhasil Tara? Kamu tahu sendiri bagaimana kekuasaan Mas Alvin," ucap Luna terlihat ragu."Aku yakin bisa. Apalagi pernikahan kalian belum suamimu umumkan pada publik. Sangat mudah membuat kamu terlepas dengannya. Aku bisa melakukan apapun asal memang keinginan dari kamu untuk berpisah dengan dia," ucap Tara.Luna langsung mengangguk tanpa berpikir dua kali. Gadis itu langsung memeluk Tara. "Makasih Tara. Aku sudah lelah terus-terusan mengharapkan perhatian Mas Alvin."Tara membalas pelukan Luna. Tangan pria itu mengusap punggung Luna. "Kamu pantas mendapatkan kebahagian Luna," bisik Tara."Dan aku yang akan memberikan kebahagian itu, Luna," batin Tara.Luna sedikit melonggarkan pelukannya, lalu ia mendongak hingga tatapannya bertemu dengan n

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 96

    Tara kembali ke kamar setelah menaruh nampan, piring, dan mangkuk kosong di dapur.Begitu pintu terbuka, Luna yang sedang duduk bersila di atas ranjang langsung menoleh. Gadis itu memeluk bantal di pangkuannya, rambut ekor kudanya sudah dilepas dan tergerai berantakan di bahu.“Tara, kamu sudah mengantuk belum?” tanyanya.Tara menggeleng. “Belum. Kamu sendiri sudah mengantuk?”“Belum juga.” Luna ikut menggeleng. “Padahal tadi aku pikir habis masak langsung mau tidur. Ternyata mataku malah segar banget.”“Itu karena kamu terlalu bangga sama sup buatanmu sendiri.”“Ih, memang pantas dibanggakan, kan? Kamu saja tadi puji sup ayam kampung buatanku.” Luna mengangkat dagunya dengan gaya sombong yang dibuat-buat, lalu terkekeh. Tiba-tiba matanya berbinar. “Eh, bagaimana kalau kita nonton saja?”“Nonton?”“Iya. Daripada bengong, kamu juga belum ngantuk. Kalau kamu balik ke kamarmu sendiri, nanti ujung-ujungnya buka laptop lagi.”Tara membuka mulut hendak membantah, lalu menutupnya lagi karena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status