Share

Bab 105

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-10-16 19:52:13

“Tara, aku lapar,” ucap Luna tiba-tiba saat mobil baru saja keluar dari basement.

Tara melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya. Matcha di tangan Luna sudah tinggal setengah, dan wajahnya tidak lagi ditekuk seperti tadi pagi. Melihat itu saja sudah membuat hati Tara lega.

“Mau makan apa?”

“Sushi,” jawab Luna cepat. “Di restoran Jepang yang dekat kantor itu. Yang salmon mentainya enak banget.”

Tara tersenyum kecil. “Siap, Nona.”

“Ih, jangan panggil Nona kalau lagi berdua,” protes Luna sambil
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 106

    Alvin masih berdiri di samping meja. Tatapannya tidak lepas dari wajah Luna, seolah sedang menunggu penjelasan yang masuk akal.Luna meletakkan buku menu di atas meja. Ia berusaha keras agar tangannya tidak terlihat gemetar.“Aku nggak enak mau menyapa, Mas,” jawab Luna akhirnya. “Tadi aku lihat Mas lagi sibuk sama Papa dan Tuan Hardiman. Kelihatannya pembicaraannya serius. Aku takut mengganggu.”Alvin hanya mengangguk pelan. Raut wajahnya sulit ditebak.“Iya, kami memang sedang membicarakan kerja sama proyek baru,” ucap Alvin. “Papa sengaja datang langsung karena proyek ini cukup besar.”Luna hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus menanggapi apa.Sementara itu Tara masih berdiri di dekat kursinya dengan tubuh tegap. Pandangannya lurus ke depan, wajahnya datar seperti biasa. Tapi telinganya menangkap setiap kata yang keluar dari mulut Alvin dan Luna.Alvin melirik sekilas ke arah Tara. “Kamu duduk saja, Tara.”“Terima kasih, Tuan. Saya berdiri saja.”Alvin tidak memaksa. Ia kembali men

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 105

    “Tara, aku lapar,” ucap Luna tiba-tiba saat mobil baru saja keluar dari basement.Tara melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya. Matcha di tangan Luna sudah tinggal setengah, dan wajahnya tidak lagi ditekuk seperti tadi pagi. Melihat itu saja sudah membuat hati Tara lega.“Mau makan apa?”“Sushi,” jawab Luna cepat. “Di restoran Jepang yang dekat kantor itu. Yang salmon mentainya enak banget.”Tara tersenyum kecil. “Siap, Nona.”“Ih, jangan panggil Nona kalau lagi berdua,” protes Luna sambil mencubit lengan Tara pelan.Tara terkekeh. Rasanya baru beberapa jam yang lalu gadis ini menjawab semua pertanyaannya dengan satu kata. Sekarang Luna sudah kembali cerewet seperti biasa, bercerita tentang gaun biru muda yang sebenarnya ia suka tapi gengsi untuk membelinya.Dua puluh menit kemudian mereka tiba di restoran itu. Suasananya cukup tenang dengan interior kayu dan lampu temaram yang hangat.Namun baru saja melangkah melewati pintu masuk, langkah Luna terhenti.Tara yang berjalan di bel

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 104

    Selesai sarapan, Luna langsung bangkit dari kursinya tanpa bicara sepatah kata pun.“Tara, siapkan mobil. Aku mau ke mali,” ucap Luna datar sambil berlalu menaiki tangga untuk mengambil tasnya.“Baik Nona,” jawab Tara cepat.Tara buru-buru menghabiskan sisa air jahenya lalu bergegas ke garasi. Ia memanaskan mobil dan menyalakan AC lebih dulu supaya Luna tidak kepanasan saat masuk nanti.Tidak lama kemudian Luna keluar dari rumah. Melihat itu, Tara segera membukakan pintu belakang untuknya.Namun Luna justru melewatinya begitu saja. Gadis itu membuka sendiri pintu depan lalu duduk di samping kursi kemudi.Tara mengerjap pelan. Ia menutup kembali pintu belakang dengan canggung lalu masuk ke balik kemudi.Begitu mobil keluar dari gerbang rumah dan tidak ada lagi orang yang melihat, Tara menoleh ke arah Luna.“Kamu kenapa sih, Lun? Dari tadi mukanya ditekuk terus.”“Nggak papa.”“Beneran nggak papa?”“Hmm.”Tara menghela napas. Jawaban nggak papa dari seorang perempuan biasanya justru ber

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 103

    Mentari yang sejak tadi berdiri di samping Tara menangkap gerakan dari arah tangga. Ekor matanya melirik sekilas. Ia tahu siapa yang sedang berdiri di sana.Bukannya menjauh, gadis itu justru menggeser posisinya semakin dekat dengan Tara. Kini jarak mereka begitu dekat, bahkan lengan Mentari hampir menempel di bahu pria itu.“Gimana Mas, enak air jahenya?” tanya Mentari dengan suara mendayu.Tara yang baru saja menyesap air jahe itu mengangguk. “Enak kok. Makasih ya.”Senyum Mentari semakin lebar. Tangannya terulur lalu mendarat di bahu Tara.“Kalau Mas Tara nggak enak badan atau lagi ingin minum air jahe, bilang sama aku ya. Nanti aku buatkan lagi,” ucap Mentari lembut.Lagi-lagi Tara hanya mengangguk saja. Ia memilih fokus pada gelas di tangannya. Rasa hangat jahe itu memang cukup membuat tenggorokannya lega, tetapi tangan Mentari yang masih bertengger di bahunya membuat Tara sedikit tidak nyaman.Tapi ia membiarkan tangan Mentari di bahunya.Mbak Sarti yang melihat itu hanya senyum

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 102

    'Sayang, kamu harus segera menjalankan rencanamu. Aku sudah muak dengan Alvin'Pesan itu terkirim dan langsung centang biru.Clarissa tersenyum sinis. "Kita lihat saja Mas, setelah ini siapa yang akan mohon-mohon. Kamu pegang kartuku bukan berarti kamu bisa memperlakukan aku dengan semaumu. Dasar pria lemah, jika bukan nama besar keluarga Mahawira, kamu sudah lama aku tendang!"Lalu wanita itu meletakkan ponselnya di atas nakas. Tubuhnya masih terasa pegal karena sejak kemarin sore hingga malam, Hardiman terus menggempur tubuhnya. Mereka memang melakukannya sampai berkali-kali sampai puas.Clarissa akui dirinya memang memiliki nafsu yang besar. Memiliki suaminya yang punya masalah pada keperkasaannnya membuatnya mencari kepuasan di tempat lain.Awalnya Clarissa membayar pria bayaran untuk memuaskannya. Selama ini ia memang sengaja memakai KB agar tidak bisa hamil saat bermain dengan pria bayarannya. Dulu sebelum ia mencari kepuasan dengan pria bayaran, bersama Alvin ia belum juga ham

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 101

    “Nona, masih tidur?”Suara Mentari terdengar pelan dari ambang pintu, disusul bunyi langkah kaki yang berjinjit masuk. Di balik celah lemari, Tara menahan napas.Di atas ranjang, Luna tidak bergerak sama sekali. Matanya terpejam rapat, napasnya ia atur panjang dan teratur, dan satu tangannya yang tadi hampir mencengkeram selimut ia biarkan lemas di sisi tubuh.Dalam hati ia berdoa semoga kelopak matanya tidak berkedut.“Nona Luna?” panggil Mentari lagi, kali ini sedikit lebih dekat.Luna tetap diam dan masih memejamkan kepalanya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia khawatir Mentari bisa mendengarnya.Luna mencoba untuk tetap tenang agar actingnya meyakinkan.“Yah, masih tidur rupanya,” gumam Mentari kepada dirinya sendiri. “Kasihan, pasti capek habis pergi dua hari.”Akhirnya Mentari pun menyelesaikan tugasnya datang ke sini. Gadis itu mengambil keranjang baju kotor milik Luna kemudian langsung keluar dari kamar Luna agar tidak mengganggu tidur Luna.KlikTerdengar pintu kama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status