LOGINMalam itu, Clarissa tidak bisa menahan diri lagi.Ia menunggu sampai seluruh penghuni rumah tertidur. Lalu dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ruang kerja Alvin di ujung lorong lantai dua. Lampu di dalamnya masih menyala.Clarissa membuka pintu tanpa mengetuk.Alvin duduk di sofa kecil di sudut ruangan. Ia tidak sedang bekerja. Ia hanya duduk diam dengan segelas wiski di tangan, menatap ke luar jendela yang gelap.“Kita perlu bicara,” ucap Clarissa sambil menutup pintu.Alvin tidak menoleh. “Soal apa lagi?”“Soal yang kamu bilang tadi siang. Hal-hal yang aku sembunyikan.” Clarissa melangkah mendekat. Suaranya tegang. “Aku mau tahu apa maksudmu.”Alvin terdiam cukup lama. Ia memutar-mutar gelas di tangannya, membuat es batu di dalamnya berdenting pelan.“Kamu yakin mau tahu?”“Jangan main-main, Mas.”Alvin menghela napas panjang. Lalu ia meletakkan gelasnya di meja dan menoleh menatap Clarissa. Tatapannya tidak marah. Justru terlihat lelah. Sangat lelah.“Hotel Grand Kencana. Kama
Alvin tidak langsung menjawab ancaman itu.Ia meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan tenang. Gerakannya pelan. Terlalu pelan untuk seseorang yang baru saja diancam akan dihancurkan di depan publik.Ketenangan itu justru membuat Clarissa gelisah.“Kamu dengar aku, Mas?” desaknya.“Dengar,” jawab Alvin. “Dan jawabanku tetap sama. Aku nggak akan menceraikanmu sampai kapanpun itu.”Clarissa tertawa tidak percaya. “Kamu bercanda? Kamu sudah punya perempuan lain, Mas. Untuk apa kamu masih menahanku?”“Bukan untukku,” jawab Alvin datar. “Tapi untuk Mahawira grup. Saham kita sudah jatuh delapan persen dalam sehari. Kalau besok publik dengar pewaris Mahawira bercerai dengan istri sahnya di tengah skandal, saham itu bisa jatuh dua kali lipat. Ribuan karyawan yang akan menanggung akibatnya.”“Itu urusanmu, bukan urusanku!”“Dan setengah sahamku yang kamu minta itu, nilainya juga ikut jatuh,” sambung Alvin sambil menatapnya tajam. “Kamu ng
Pagi harinya, Clarissa turun ke ruang makan dengan mata sembap dan wajah tanpa riasan.Ia sengaja tidak memakai bedak. Sengaja membiarkan rambutnya sedikit berantakan. Sengaja memakai daster sederhana, bukan gaun rumah mewah yang biasa ia kenakan. Semalaman ia menangis di depan cermin sampai matanya benar-benar bengkak.Semua itu ia lakukan dengan perhitungan.Di meja makan, Ratna sudah duduk sendirian. Lukman berangkat ke kantor sejak subuh untuk rapat darurat dengan para pemegang saham. Alvin semalam pulang hampir tengah malam dan langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa bicara pada siapa pun.Begitu melihat Clarissa, Ratna langsung berdiri.“Clarissa, Sayang…”Clarissa berhenti melangkah. Bibirnya bergetar. Lalu, seolah tidak sanggup lagi menahan diri, ia berlari kecil dan memeluk ibu mertuanya erat-erat.“Ma…” isaknya. “Kenapa Mas Alvin tega sama aku, Ma?”Ratna memeluk menantunya sambil mengusap punggungnya. Air matanya ikut jatuh.“Maafkan Mama, Nak. Mama juga nggak tahu apa-apa,”
Di rumah Luna sama tegangnya.Sejak artikel itu terbit, Luna terus mengurung diri di kamar. Ponselnya ia matikan setelah puluhan pesan dan panggilan dari nomor tidak dikenal masuk bertubi-tubi. Ester sempat menelepon dengan suara panik, tapi Luna hanya sanggup bilang, nanti aku cerita, lalu menutup telepon.Tara sendiri tidak berhenti bergerak. Ia memastikan semua tirai tertutup, gerbang terkunci rapat, dan Om Deden berjaga di pos depan. Di luar pagar, dua orang wartawan sudah mulai berkeliaran sejak sore.Tapi yang paling membuat Tara gelisah bukan wartawan-wartawan itu.Melainkan foto itu. Foto yang diambil dari jendela dapur. Dari dalam rumah ini.Tara mengepalkan tangannya setiap kali mengingat sudut pengambilan foto itu. Ia sudah tahu siapa pelakunya. Tapi ia belum sempat bicara dengan Mentari karena gadis itu sejak siang beralasan sakit dan tidak keluar dari paviliun.Pukul sembilan malam, lampu mobil menyorot dari arah gerbang.Tara langsung waspada. Ia mengintip dari jendela.
Kediaman utama keluarga Mahawira belum pernah segaduh ini.Sejak siang, telepon rumah tidak berhenti berdering. Para pelayan berlalu-lalang dengan wajah tegang, saling berbisik setiap kali berpapasan di lorong. Di depan gerbang, beberapa wartawan sudah berkumpul dengan kamera di tangan, menunggu siapa pun yang keluar atau masuk.Di ruang keluarga, Ratna Mahawira duduk di sofa dengan wajah pucat. Tablet di pangkuannya masih menampilkan artikel yang sama. Artikel yang sejak satu jam lalu ia baca berulang-ulang, berharap isinya akan berubah.Anaknya. Alvin. Anak yang ia lahirkan dan besarkan dengan penuh kasih sayang. Anak yang selalu ia banggakan di depan teman-teman arisannya.Menikah diam-diam dengan perempuan lain.Tangan Ratna gemetar. Ia meletakkan tablet itu di meja, lalu menekan dadanya yang terasa sesak.“Nyonya, minum dulu,” ucap salah satu pelayan sambil menyodorkan segelas air putih.Ratna hanya menggeleng.Pintu depan terbuka dengan kasar. Lukman masuk dengan langkah lebar,
Sudah tiga malam Hardiman tidak bisa tidur dengan nyenyak.Setiap kali ia memejamkan mata, rekaman CCTV buram itu terus berputar di kepalanya. Dan sepasang mata remaja yang menatapnya dingin di pemakaman beberapa tahun yang lalu.Hardiman bahkan mengabaikan pesan dan telpon dari Clarissa. Piikirannya sedang kacau dan ia tidak ingin diganggu oleh siapapun.Pagi itu, Hardiman duduk di ruang kerjanya dengan wajah kusut. Kopi di cangkirnya sudah dingin. Sejak tadi ia hanya menatap kosong ke arah jendela.Ia sudah memerintahkan Reno untuk menyelidiki semuanya. Kurir yang mengantar paket. Asal flashdisk itu. Keberadaan pewaris Askara grup saat ini. Tapi semua jejak terputus. Kurir itu memakai identitas palsu. Flashdisk itu bisa dibeli di toko mana saja. Dan pewaris Askara seperti hilang ditelan bumi.Yang lebih membuatnya gelisah, ia tidak tahu apakah Lukman juga menerima paket yang sama. Ia ingin menghubungi Lukman, tapi takut justru membuka kartunya sendiri.Hardiman mengusap wajahnya ka







