Share

Bab 135

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-10-20 13:23:47

Malam itu, Clarissa tidak bisa menahan diri lagi.

Ia menunggu sampai seluruh penghuni rumah tertidur. Lalu dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ruang kerja Alvin di ujung lorong lantai dua. Lampu di dalamnya masih menyala.

Clarissa membuka pintu tanpa mengetuk.

Alvin duduk di sofa kecil di sudut ruangan. Ia tidak sedang bekerja. Ia hanya duduk diam dengan segelas wiski di tangan, menatap ke luar jendela yang gelap.

“Kita perlu bicara,” ucap Clarissa sambil menutup pintu.

Alvin tidak menoleh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 142

    Reno datang ke rumah Hardiman membawa sebuah map hitam dan wajah yang tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya.Selama bertahun-tahun bekerja untuk Hardiman, Reno sudah melakukan banyak hal yang tidak bisa dibilang bersih. Menyuap pejabat. Mengintai pesaing bisnis. Mengancam orang-orang yang menghalangi jalan tuannya. Tapi selama ini, semua itu masih dalam batas tertentu.Menurutnya, yang diminta Hardiman kali ini sudah melewati batas. Tetapi ia sebagai asisten pria itu hanya bisa menjalankan perintah sebagai bentuk keloyalitasannya.“Sudah kamu siapkan?” tanya Hardiman tanpa menoleh. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya dengan segelas wiski di tangan.Reno meletakkan map itu di atas meja. “Sudah, Tuan. Ada lima orang yang bisa dipercaya. Mereka biasa menangani… pekerjaan seperti ini. Bayarannya mahal, tapi mereka tidak banyak bertanya.”“Tempatnya?”“Gudang tua di kawasan pelabuhan lama. Dulu milik anak perusahaan kita yang sudah bangkrut. Sudah bertahun-tahun kosong. Jauh dari

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 141

    Setelah Mentari pergi, Hardiman masih duduk di kamar hotel itu cukup lama.Ia tidak menyalakan lampu. Hanya cahaya tipis dari celah tirai yang menerangi ruangan. Kedua tangannya bertaut di depan wajah, dan matanya menatap kosong ke arah dinding.Tara. Nama itu terus terngiang di benaknya.Pengawal muda yang ia lihat bersama Luna. Yang menatapnya tanpa berkedip. Yang berdiri setengah menghalangi tubuh Luna seolah siap menerkam siapa pun yang mendekat.Hardiman ingat betul tatapan itu. Saat itu ia merasa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang familier. Tapi ia mengabaikannya.Sekarang ia tahu kenapa. Itu tatapan Adiwangsa Askara.Hardiman tertawa kecil. Tawa yang pelan, lalu semakin keras, sampai akhirnya berubah menjadi sesuatu yang terdengar lebih seperti erangan.Selama ini musuh terbesarnya ada di depan matanya. Mencuci mobil. Menyiram bunga. Membukakan pintu untuk seorang gadis. Dan ia sama sekali tidak menyadarinya.Hardiman pulang ke rumahnya sore itu. Rumah besar yang selalu sepi,

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 140

    Mentari menatap layar ponselnya yang menyala. Ada nama Doni di sana. Ia masih terus menatap layar itu tanpa menerima panggilan dari Doni.Selama ini, apa yang ia laporkan masih soal kebiasaan sehari-hari. Kapan Luna keluar rumah. Kapan Alvin datang. Foto-foto di gazebo. Berkas perjanjian. Semua itu terasa seperti hal-hal kecil yang tidak akan benar-benar menyakiti siapa pun.Tapi kali ini berbeda. Ada berita yang tidak pernah ia sangka selama ini.Ini tentang siapa Mas Tara sebenarnya. Rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat, bahkan dari Bibi Sarti dan Om Deden yang sudah cukup lama bekerja di rumah ini bersamanya.Mentari menggigit bibirnya. Sesuatu dalam dirinya berbisik, agar ia tidak terlalu jauh melangkah.Tapi suara Tara tadi kembali terngiang. Aku akan melamarmu dengan cara yang benar.Mentari memejamkan mata. Air matanya jatuh satu tetes ke layar ponsel. Lalu ia menerima panggilan dari Doni dan akhirnya mereka akan bertemu besok. Mentari tidak ingin memberitahu informasi

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 139

    Tara dan Luna baru tiba di rumah sore hari setelah semua urusan selesai. Mereka memang sempat singgah di beberapa tempat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.Malam harinya, Luna duduk di ruang baca di lantai dua, ruangan kecil di samping kamarnya yang dipenuhi rak buku dan sebuah sofa panjang di dekat jendela. Tempat itu jarang dimasuki siapa pun. Bahkan Mbak Sarti dan Mentari hanya membersihkannya seminggu sekali.Siang tadi, ia menandatangani beberapa dokumen di kantor pengacara Alvin. Langkah awal menuju perceraian mereka. Tangannya sempat gemetar saat membubuhkan tanda tangan. Bukan karena menyesal. Tapi karena sadar, babak hidupnya yang paling membingungkan perlahan akan berakhir.Pintu ruang baca diketuk pelan.“Masuk,” jawab Luna.Tara masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia membawa secangkir cokelat panas di satu tangan. Di tangan lainnya, ada sebuah kotak kecil berwarna hijau tua yang sudah sedikit pudar.“Cokelat panas lagi?” Luna tersenyum kecil.“Dua sendok gula. Se

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 138

    Meski sempat goyah, akhirnya Mentari melakukan permintaan Hardiman. Semua itu ia lakukan karena rasa cemburu buta pada Tara dan Luna. Mentari mencari moment yang pas untuk mencari apa yang diminta oleh Hardiman.Siang harinya, Luna mendapat telepon dari pengacara Alvin. Ada beberapa dokumen yang harus ia tandatangani terkait rencana perceraian mereka. Pertemuannya diatur diam-diam di sebuah kantor kecil di luar kota, jauh dari incaran wartawan.Tara tentu saja ikut mengantar. Mereka berangkat lewat pintu belakang kompleks pukul satu siang, dan menurut perkiraan Mentari, setidaknya butuh tiga sampai empat jam sebelum mereka kembali.Om Deden sedang berjaga di pos depan, sibuk mengusir wartawan yang masih bandel berkeliaran. Bibi Sarti tertidur di paviliun setelah mengeluh kepalanya pusing.Rumah utama tampak sepi saat itu.Mentari berdiri di dapur dengan jantung berdebar kencang. Tangannya memegang kemoceng dan lap, alat yang biasa ia bawa untuk membersihkan kamar. Alasan yang sempurna

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 137

    Mentari tahu Tara akan mendatanginya. Ia hanya tidak tahu kapan.Dan pagi itu, saat ia sedang menjemur pakaian di halaman belakang, bayangan pria itu jatuh di sampingnya.“Foto yang ada di artikel itu, kamu yang mengambilnya kan?” tanya Tara tanpa basa-basi.Tangan Mentari yang sedang menjepit baju berhenti sejenak. Lalu ia melanjutkannya dengan pura-pura tenang.“Itu foto lama, Mas,” jawabnya tanpa menoleh. “Aku kirim sebelum Mas bicara sama aku malam itu. Sumpah.”Tara menatapnya lama. Mentari bisa merasakan tatapan itu menusuk punggungnya.“Kalau aku tahu kamu berbohong, Tari…”“Aku nggak bohong, Mas,” potong Mentari cepat. Ia menoleh dan menatap Tara dengan mata berkaca-kaca. Air mata yang sudah ia latih semalaman. “Aku sudah janji. Aku sudah lakukan apa yang Mas suruh. Semua informasi yang aku kasih ke Doni sekarang palsu.”Tara terdiam. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi.Mentari menghembuskan napas lega. Tapi begitu punggung Tara menghilang, matanya yang tad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status