LOGINTara dan Luna baru tiba di rumah sore hari setelah semua urusan selesai. Mereka memang sempat singgah di beberapa tempat terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.Malam harinya, Luna duduk di ruang baca di lantai dua, ruangan kecil di samping kamarnya yang dipenuhi rak buku dan sebuah sofa panjang di dekat jendela. Tempat itu jarang dimasuki siapa pun. Bahkan Mbak Sarti dan Mentari hanya membersihkannya seminggu sekali.Siang tadi, ia menandatangani beberapa dokumen di kantor pengacara Alvin. Langkah awal menuju perceraian mereka. Tangannya sempat gemetar saat membubuhkan tanda tangan. Bukan karena menyesal. Tapi karena sadar, babak hidupnya yang paling membingungkan perlahan akan berakhir.Pintu ruang baca diketuk pelan.“Masuk,” jawab Luna.Tara masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia membawa secangkir cokelat panas di satu tangan. Di tangan lainnya, ada sebuah kotak kecil berwarna hijau tua yang sudah sedikit pudar.“Cokelat panas lagi?” Luna tersenyum kecil.“Dua sendok gula. Se
Meski sempat goyah, akhirnya Mentari melakukan permintaan Hardiman. Semua itu ia lakukan karena rasa cemburu buta pada Tara dan Luna. Mentari mencari moment yang pas untuk mencari apa yang diminta oleh Hardiman.Siang harinya, Luna mendapat telepon dari pengacara Alvin. Ada beberapa dokumen yang harus ia tandatangani terkait rencana perceraian mereka. Pertemuannya diatur diam-diam di sebuah kantor kecil di luar kota, jauh dari incaran wartawan.Tara tentu saja ikut mengantar. Mereka berangkat lewat pintu belakang kompleks pukul satu siang, dan menurut perkiraan Mentari, setidaknya butuh tiga sampai empat jam sebelum mereka kembali.Om Deden sedang berjaga di pos depan, sibuk mengusir wartawan yang masih bandel berkeliaran. Bibi Sarti tertidur di paviliun setelah mengeluh kepalanya pusing.Rumah utama tampak sepi saat itu.Mentari berdiri di dapur dengan jantung berdebar kencang. Tangannya memegang kemoceng dan lap, alat yang biasa ia bawa untuk membersihkan kamar. Alasan yang sempurna
Mentari tahu Tara akan mendatanginya. Ia hanya tidak tahu kapan.Dan pagi itu, saat ia sedang menjemur pakaian di halaman belakang, bayangan pria itu jatuh di sampingnya.“Foto yang ada di artikel itu, kamu yang mengambilnya kan?” tanya Tara tanpa basa-basi.Tangan Mentari yang sedang menjepit baju berhenti sejenak. Lalu ia melanjutkannya dengan pura-pura tenang.“Itu foto lama, Mas,” jawabnya tanpa menoleh. “Aku kirim sebelum Mas bicara sama aku malam itu. Sumpah.”Tara menatapnya lama. Mentari bisa merasakan tatapan itu menusuk punggungnya.“Kalau aku tahu kamu berbohong, Tari…”“Aku nggak bohong, Mas,” potong Mentari cepat. Ia menoleh dan menatap Tara dengan mata berkaca-kaca. Air mata yang sudah ia latih semalaman. “Aku sudah janji. Aku sudah lakukan apa yang Mas suruh. Semua informasi yang aku kasih ke Doni sekarang palsu.”Tara terdiam. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi.Mentari menghembuskan napas lega. Tapi begitu punggung Tara menghilang, matanya yang tad
Dua hari setelah skandal itu meledak, Lukman memanggil Alvin ke ruangannya di lantai teratas gedung Mahawira grup.Kali ini tidak ada amplop cokelat di atas meja. Yang ada hanya sebuah map hitam tebal dengan logo kantor notaris keluarga.Lukman duduk tegak di balik mejanya. Wajahnya terlihat jauh lebih tua dari biasanya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, dan kerutan di keningnya semakin dalam. Dua malam terakhir ia hampir tidak tidur. Bukan hanya karena skandal Alvin, tapi juga karena flashdisk perak yang kini terkunci di laci mejanya di rumah.Video itu terus menghantuinya. Dan ia masih tidak tahu siapa yang mengirimnya.“Duduk,” ucap Lukman saat Alvin masuk.Alvin duduk tanpa bicara.Lukman mendorong map hitam itu ke arah Alvin. “Kamu baca itu.”Alvin membuka map itu dan membaca halaman pertamanya. Matanya bergerak cepat menyusuri baris demi baris. Rahangnya perlahan mengeras.Surat pernyataan perubahan ahli waris. Nama Alvin Mahawira dicoret dari posisi pewaris utama. Digantika
Malam itu, Clarissa tidak bisa menahan diri lagi.Ia menunggu sampai seluruh penghuni rumah tertidur. Lalu dengan langkah pelan, ia berjalan menuju ruang kerja Alvin di ujung lorong lantai dua. Lampu di dalamnya masih menyala.Clarissa membuka pintu tanpa mengetuk.Alvin duduk di sofa kecil di sudut ruangan. Ia tidak sedang bekerja. Ia hanya duduk diam dengan segelas wiski di tangan, menatap ke luar jendela yang gelap.“Kita perlu bicara,” ucap Clarissa sambil menutup pintu.Alvin tidak menoleh. “Soal apa lagi?”“Soal yang kamu bilang tadi siang. Hal-hal yang aku sembunyikan.” Clarissa melangkah mendekat. Suaranya tegang. “Aku mau tahu apa maksudmu.”Alvin terdiam cukup lama. Ia memutar-mutar gelas di tangannya, membuat es batu di dalamnya berdenting pelan.“Kamu yakin mau tahu?”“Jangan main-main, Mas.”Alvin menghela napas panjang. Lalu ia meletakkan gelasnya di meja dan menoleh menatap Clarissa. Tatapannya tidak marah. Justru terlihat lelah. Sangat lelah.“Hotel Grand Kencana. Kama
Alvin tidak langsung menjawab ancaman itu.Ia meraih cangkir kopinya yang sudah dingin, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan tenang. Gerakannya pelan. Terlalu pelan untuk seseorang yang baru saja diancam akan dihancurkan di depan publik.Ketenangan itu justru membuat Clarissa gelisah.“Kamu dengar aku, Mas?” desaknya.“Dengar,” jawab Alvin. “Dan jawabanku tetap sama. Aku nggak akan menceraikanmu sampai kapanpun itu.”Clarissa tertawa tidak percaya. “Kamu bercanda? Kamu sudah punya perempuan lain, Mas. Untuk apa kamu masih menahanku?”“Bukan untukku,” jawab Alvin datar. “Tapi untuk Mahawira grup. Saham kita sudah jatuh delapan persen dalam sehari. Kalau besok publik dengar pewaris Mahawira bercerai dengan istri sahnya di tengah skandal, saham itu bisa jatuh dua kali lipat. Ribuan karyawan yang akan menanggung akibatnya.”“Itu urusanmu, bukan urusanku!”“Dan setengah sahamku yang kamu minta itu, nilainya juga ikut jatuh,” sambung Alvin sambil menatapnya tajam. “Kamu ng







