LOGIN
“Gantikan posisiku sebagai suami dari istri keduaku, maka kubayar 10x lipat gajimu!”
Seorang pria memberikan perintah pada bodyguard yang sudah bekerja dengan pria itu.
Tara, pria yang berusia dua sembilan puluh tahun tampak terkejut mendengar perintah atasannya. Pria itu adalah bodyguard yang bekerja dengan Alvin Mahawira. Ia baru empat bulan menjadi bodyguard pria itu sejak ia menyelematkan Alvin dari keroyokan preman.
“Istri kedua? Empat bulan saya jadi bodyguard Tuan, saya hanya tahu bahwa istri Tuan adalah Nyonya Clarisa.”
Alvin mengangguk. “Aku memang punya dua istri. Rumah ini adalah rumah istri keduaku. Aku sengaja mengajakmu ke rumah ini untuk memberimu perintah tadi. Luna, dia istri keduaku.”
Tara terkejut.
Ia memang baru pertama kali di ajak oleh Alvin ke rumah ini karena selama ia menjadi bodyguard Alvin, ia hanya pernah datang ke rumah Alvin bersama Clarissa.
“Kamu terima saja permintaanku, Tara. Aku tahu kamu pasti sangat memerlukan uang banyak untuk kebutuhanmu,” ucap Alvin dengan entengnya.
Tara tampak berpikir seribu kali sebelum membuat keputusan. Ia tidak habis pikir, Tuan-nya memintanya menggantikan posisi suami untuk istri keduanya.
“Tugasmu selain menjaganya, penuhi kebutuhan biologis istriku. Luna sudah lama tidak aku sentuh. Kamu jangan khawatir Tara, untuk kebutuhan finansial Luna masih menjadi tanggung jawabku. Kamu hanya menggantikan posisiku berada di samping Luna.”
Alvin kembali menegaskan permintaannya pada Tara. Dari semua bodyaguard yang bekerja dengannya, ia hanya percaya pada Tara yang bisa menggantikan posisinya.
“Itu masalah rumah tangga Tuan, tapi kenapa saya yang harus memenuhi kebutuhan biologisnya.”
“Aku tahu, Tara. Tapi aku tidak bisa memenuhinya. Kamu tahukan kalau aku punya dua istri. Kesibukanku yang membuatku hanya bisa memilih salah satu dari mereka saja. Aku juga...” Alvin diam sejenak.
Tara melihat tangan atasannya mengepal.
“Aku nggak bisa bertahan lama. Sebagai pria, aku malu mengakuinya. Beberapa tahun yang lalu aku mengalami kecelakaan, sampai membuatku seperti itu. Aku sudah berobat tapi hasilnya tetap tidak maksimal. Aku tidak bisa memuaskan istriku, Tara.”
Braaak!
“Mas, Kenapa kamu pecat Agam? Mau kamu apa sebenarnya Mas!?”
Luna masuk ke ruang kerja suaminya sambil marah-marah karena ia tidak terima bodyguard yang sudah menjaganya selama satu tahun terakhir di pecat oleh suaminya.
Tara menoleh ke arah gadis yang baru saja datang, saat melihat wajah Luna betapa terkejutnya dia ternyata gadis yang selama ini hanya ia lihat dari kejauhan adalah Luna, istri kedua atasannya.
Tara terus menatap gadis cantik di sampingnya seolah ada magnet yang membuatnya tidak bisa memalingkan pandangannya.
Luna, wajahnya sangat cantik, kulitnya putih dan terlihat terawat, kontras dengan rambut panjang yang jatuh lembut di bahunya. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tetapi bentuk tubuhnya begitu proporsional, pinggangnya ramping. Hanya bagian dada dan bokongnya yang terlihat lebih berisi.
Seolah sadar dengan situasi saat ini, Tara langsung berusaha untuk bersikap biasa saja agar Alvin dan Luna tidak menyadarinya.
“Sudahlah, Luna. Kamu jangan terlalu mendramatisir masalah ini,” ucap Alvin.
“Bagaimana aku tidak mempermasalahkan ini, Mas. Setahun ini, di saat aku sangat membutuhkan perhatian dan kehadiran suamiku, hanya Agam yang menjadi temanku Mas!”
“Aku sudah siapkan orang yang menggantikan Agam. Tara, dia yang jadi bodyguardmu yang baru,” jawab Alvin dengan santai pada istrinya.
“Aku nggak perlu bodyguard. Aku hanya perlu kehadiran dan perhatian Mas di rumah ini. Mas harusnya adil, aku juga istrinya Mas!”
Tara menoleh ke arah Luna, ia tahu Luna memendam rasa sakit, semua itu tampak jelas dari tatapan matanya.
“Bukankah kamu sudah tahu konsekuensinya menjadi istri keduaku, Luna? Dari awal, kamu juga tahu kalau aku tidak bisa untuk terus berada di rumah ini. Kamu juga tahu kalau Clarissa sedang sakit dan dia lebih memerlukan kehadiranku.”
Tangan Luna mengepal, mata gadis itu memerah.
“Tara tidak hanya menjadi bodyguardmu Luna, tetapi dia juga yang menggantikan posisiku di sampingmu,” ucap Alvin.
“Maksud Mas?”
“Tara juga yang akan memenuhi kebutuhan biologismu yang selama ini tidak bisa aku penuhi. Tenang saja, semua kebutuhan finansialmu masih menjadi tanggung jawabku karena kamu masih menjadi istriku,” ucap Alvin dengan entengnya.
Luna terkejut mendengar ucapan suaminya. Ia menoleh sekilas ke arah Tara dengan mata merah menahan tangisnya.
“Mas! Kamu kira aku barang yang bisa kamu kasihkan ke siapapun!” Suara Luna meninggi.
“Aku tidak memberikanmu dengan pria lain tapi hanya meminta pria lain yang menggantikanku.”
“Sama aja Mas!”
Alvin mengeluarkan amplop cokelat dan meletakkannya di atas meja.
“Ini untuk uang muka sebagai tanda kamu menerima permintaanku, Tara. Setelah kamu memuaskan Luna, aku akan kasih gaji 10x lipat sesuai janjiku. Aku pikir itu sangat cukup untuk memenuhi kebutuhanmu. Aku tahu Tara tinggal sendiri di kota metropolitan ini pasti perlu uang banyak. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja, aku tidak akan menuntutmu seandainya Luna hamil anakmu,” ucap Alvin dengan entengnya seolah ia tidak peduli sama sekali pada istrinya.
Pernikahan Alvin dan Luna memang pria itu rahasiakan dari keluarga besar Mahawira. Yang tahu ia pernikahan keduanya hanya Clarissa, istri pertamanya.
Pria itu juga percaya Tara bisa memuaskan istrinya.
Tara, pria berwajah tegas dan tampan, memiliki tatapan mata tajam seperti elang, rambut hitam lurus dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh atletis, proporsional dan gagah.
“Tapi Tuan... Apa ini tidak keterlaluan? Nyonya Luna adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria lain? Saya rasa mengenai memenuhi kebutuhan biologis sangat tidak masuk aka!” ucap Tara berusaha untuk menjaga martabat Luna.
Sebagai seorang bodyguard, mana mungkin ia sampai memenuhi kebutuhan biologis istri atasannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang.
“Hah. Persetan dengan itu semua. Yang penting semua kebutuhan Luna terpenuhi!” ucap Alvin dengan tegas.
“Mas, kamu tega sama aku. Bisa-bisanya kamu merelakan aku disentuh oleh pria lain,” ucap Luna. Air mata yang sudah sejak tadi ia tahan akhirnya mengalir.
Bagai disambar petir, suaminya sendiri merelakan pria lain untuk menyentuhnya dengan dalih menggantikan posisinya.
Tidak ada lagi Alvin sangat mencintainya dan melakukan apapun demi mendapatkannya. Sejak Clarissa mengalami kecelakaan, Alvin berubah.
Luna mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya. Berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan suaminya.
Alvin saja saja teganya dengannya.
“Mas, kamu yakin merelakan aku di sentuh Tara?” tanya Luna pada Alvin, wanita cantik yang dulu pernah menjadi primadona.
Alvin mengangguk dengan mantap, seolah tidak ada keraguan sama sekali. “Keputusanku ini justru menguntungkanmu Luna.”
Tara melihat tangan Luna mengepal, tapi wanita itu terlihat tenang di depan suaminya. Tidak seperti tadi saat pertama masuk ke ruangan ini, Luna marah-marah dengan suaminya.
“Oke, aku menerima keputusan, Mas. Tapi, jangan salahkan aku kalau nanti tertarik dengan Tara. Mas yang meminta aku melakukan ini,” ucap Vina sambil melihat penampilan Tara yang sangat sederhana untuk seorang bodyguard Alvin Mahawira, pria konglomerat di kota ini.
Tatapan Luna dan Tara bertemu meski hanya beberapa detik saja. Tara mengalihkan pandangannya ke arah lain. Meski sebelum ini sudah pernah melihat Luna dari kejauhan, tetapi ketika melihat Luna dari dekat, Tara tidak menyangka Luna sangat cantik.
Alvin menghampiri Tara yang sedang berdiri tidak jauh darinya. Pria itu terlihat sedikit panik, karena kali ini tugasnya tidak hanya menjaga keamanan istri kedua atasannya tetapi ada tugas tambahan yang sebenarnya enak tapi sangat beresiko.
“Tara, bagaimana keputusanmu? Istriku sudah setuju. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Lagipula, permintaanku ini sangat membuatmu enak. Tidak hanya uang yang banyak akan kamu terima tapi kamu bisa memuaskan alat tempurmu,” ucap Alvin dengan santai sambil menoleh ke arah bagian bawah tubuh Tara.
Tara menelan ludahnya. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Tara bersedia untuk menerima permintaan Alvin.
“Baiklah, Tuan. Saya bersedia menerima permintaan Tuan. Tapi, bagaimana cara saya memenuhi kebutuhan biologis Nona Luna?” tanya Tara dengan ekspresi lugunya.
“Astaga Tara, memangnya kamu belum pernah melakukannya?” tanya Alvin.
Alvin dan Luna tertawa mendengar ucapan Tara yang sangat polos.
"Morning cantik," ucap Tara begitu Luna membuka matanya.Luna menoleh ke arah jendela kamar hotel yang tirainya sudah Tara buka. Di luar sana sudah terang menderang."Tara, jam berapa sekarang?" tanya Luna dengan suara seraknya.Rambut gadis itu masih sangat berantakan sama seperti tadi. Gadis itu bahkan tidak sadar jika selimut melorot ke bawah hingga sepasang bukit kembarnya terlihat jelas di mata Tara."Sekarang sudah jam delapan pagi. Ayo bangun, kamu harus sarapan." Tara berusaha menahan dirinya.Pemandangan di depannya sungguh sangat menggoda imannya, terlebih lagi saat ini pagi hari adalah waktu krusial untuk kelangsungan bagian bawah tubuhnya."Aku lapar Tara. Kamu sih semalam kayak singa kelaparan. Nggak kasih jeda sama sekali. Kalau aku nggak ngerengek minta berhenti aku yakin kamu nggak akan berhenti. Kamu minum obat kuat ya Tara."Tara terkekeh. Lalu ia mendekati Luna dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.Bukan ciuman terburu-buru tetapi hanya ciuman lembut saja.Lalu
Tara membuka matanya dan ia menoleh ke samping pada gadis dipelukannya. Satu senyuman merekah di bibirnya saat melihat Luna masih terlelap dengan mulutnya sedikit terbuka. Rambut gadis itu tampak berantakan. Tara menarik selimut menutupi tubuh mereka yang masih sama-sama polos.Satu jam setelah Luna tertidur mereka kembali melanjutkan sesi kedua pendakian mencapai puncak karena Luna. Tara yang tidak bisa menahan hasratnya saat melihat Luna dengan tubuh polosnya hingga pria itu kembali menyentuh Luna. Pria itu hanya berhenti setelah Luna merengek kelelahan."Kamu itu cantik dan istimewa, Luna. Aku tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Aku sudah lama melihatmu dari jauh," bisik Tara.Pria itu mengecup kening Luna, lalu ia menarik pelan lengannya yang dijadikan gadis itu sebagai bantalan. Tara menghela napas lega ketika ia sudah berhasil menarik lengannya dan Luna tidak bangun sama sekali. Gadis itu sempat mengeliat sedikit.Tara menggerakkan tangannya karena rasa kebas akibat tid
Tara mencabut miliknya yang sudah kembali tidur dari lembah kenikmatan Luna. Kemudian, pria itu membawa Luna dalam pelukannya. Tara menarik selimut agar menutupi tubuh mereka yang masih sama polosnya.Keringat di tubuhnya masing-masing sudah mulai mengering. Suhu dalam kamar mewah itu sudah mulai terasa dingin kembali. Tara menepikan rambut Luna yang menutupi wajah cantik Luna.Ia mencium kening gadis di pelukannya itu dengan lembut, sementara Luna memejamkan matanya ketika keningnya Tara mengecup keningnya."Tara..""Hmm...""Bisakah kita selalu seperti ini?""Kenapa?"Luna mengeratkan pelukannya pada Tara, lalu ia mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Aku takut nanti kita berpisah saat misi kamu sudah berhasil," lirih Luna.Tara terkekeh sambil mengusap pipi Luna dengan lembut."Kenapa kamu bisa kepikiran begitu, hmm?""Aku takut kamu juga meninggalkan aku Tara, seperti Mas Alvin. Dulu dia begitu memperjuangkanku agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah menikah dia mengab
Tara menggerakkan pinggulnya menghujam goa sempit milik Luna. Pria itu memejamkan matanya saat merasakan jepitan dari milik Luna pada Jhon yang sedang mengobrak abrik di bawah sana. Irama khas penyatuan dua raga mulai memenuhi seisi kamar, beradu dengan suara napas yang memburu saat tubuh Tara mengayun pelan diselingi gerakan keras kemudian menghentak ketika tidak lagi kuat bertahan dalam suasana damai dan tenang.Kepala Luna bergerak resah dengan bibir terus saja menggaungkan nama Tara sementara kedua tangannya yang tadi mencengkeram seprei sudah berpindah pada punggung pria itu."Aahhh... Ta-Tara...""Yaa Lunaa.." balas Tara dengan gerakan lincahnya memompa tubuh Nyonya mudanya yang berada dalam kekuasaannya.Beberapa kali bibir itu kembali menyasar puncak bukit Luna bergantian hingga respon Luna pun semakin liar.Gadis itu mungkin tidak sadari jika bibirnya begitu berisik hingga Tara tahu kalau kaki gadis itu mengejang dengan tubuh melengkung bagai busur dan memeluk pinggangnya b
"Keluarkan saja Luna, jangan di tahan."Bersamaan gerakan jarinya semakin kuat disertai suara desah nikmat dari bibir Luna.Tubuh Luna bergetar.Tara tahu, Luna mendapatkan klimaks untuk pertama kalinya.Tara mengeluarkan jarinya dari lembah kenikmatan Luna. Pria itu menatap wajah Luna yang berkeringat dan napas gadis itu yang masih ngos-ngosan seolah baru saja lari jauh."Sudah siap untuk ke menu utama, Luna?" tanya Tara.Di saat Luna masih menikmati pelepasannya, Tara menarik kain segitga berenda yang masih menutupi lembah kenikmatan gadis di bawah kendalinya ini. Luna mengangkat bokongnya agar memudahkan Tara melepaskan kain segitiga berenda itu dan lagi lagi pria itu melemparkannya ke sembarangan arah.Tara menatap lembah kenikmatan Luna yang sangat terawat. Warna merah muda dan bersih tanpa di tumbuhi oleh rerumputan. Sejak pertama kali Tara melihat pusat gairah Luna, pria itu langsung menyukainya.Milik Luna sangat berbeda dengan milik wanita yang pernah ia lihat di dalam video
Tubuh Luna mengejang saat merasakan hisapan lidah di permukaan lehernya. Kedua kaki gadis itu bergerak resah.Tara semakin bergerak ke bawah menyelusuri permukaan kulit putih Luna. Jejak-jejak merah hampir memenuhi kulit leher Luna."Tara, jangan di sana. Nanti kelihatan sama yang lain," lirih Luna dengan suara bergetar karena gadis itu menahan sensasi dari sentuhan Tara.Tara hanya diam saja. Pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa mengindahkan permintaan Luna. Ia masih saja membuat maha karya di sana.Satu tangannya sejak tadi tidak diam karena sudah berada di salah satu bukit Luna yang masih tertutup oleh gaun yang masih menempel pada tubuh gadis itu. Tangan Tara terus meremas bukit Luna secara bergantian yang semakin menambah sensasi yang meresahkan dan menambah kobaran api gairah dalam tubuh Luna.Seolah tidak puas membuat jejak merah di leher Luna, pria itu kini membuat jejak cinta di dekat dengan tulang selangka Luna."Ta-Taraaa...."Mulut Luna sejak tadi tidak bisa diam







