Teilen

Bab 2

last update Veröffentlichungsdatum: 14.07.2026 14:04:49

“Astaga Tara, memangnya kamu belum pernah melakukannya?” tanya Alvin.

Tara menggaruk tengkuknya. Sebagai seorang pria perjaka, tentu saja Tara selalu menjaga dirinya dengan baik dan tidak nakal. Meski ia tinggal di kota metropolitan, tetapi Tara tidak membiarkan dirinya terikut arus pergaulan bebas.

“Saya masih perjaka, Tuan. Lagipula tugas saya selama ini menjaga keamanan atasan saya. Ya aneh saja kalau saya disuruh untuk melakukan itu dengan Nona Luna. Selama ini kan Nona Luna melakukannya dengan Tuan yang sudah berpengalaman. Sedangkan pengalaman saya masih nol besar,” ucap Tara.

Alvin kembali tertawa mendengar ucapan Tara yang menurutnya lucu. Sementara Luna menatap Tara dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Tara, Tara kamu itu ada-ada saja. Kamu itu seorang pria yang punya insting untuk melakukan itu. Nanti aku kasih kamu link video agar kamu bisa belajar,” ucap Alvin yang masih tertawa.

Tara hanya bisa mengangguk saja.

Atasannya ini memang agak gila, hanya karena tidak bisa adil dengan kedua istrinya rela meminta pria lain untuk menyentuh istri keduanya.

“Tuan Alvin bodoh sekali, teganya menyia-nyiakan istri secantik Nona Luna untuknya,” batin Tara sambil menatap Luna meski hanya sebentar.

Alvin menepuk bahu Tara. “Tara kamu akan tinggal berdua di rumah ini bersama Luna. Nanti ada Mbak Sarti yang akan mengantarkanmu ke kamarmu. Aku percayakan Luna padamu, Tara.”

“Baik, Tuan.”

Setelah itu Alvin langsung keluar dari ruangan itu meninggalkannya bersama Luna. Bahkan Alvin tidak berpamitan dengan istrinya.

Jantung Tara berdegup seperti tidak biasanya saat bertatapan dengan Luna, wanita yang sejak lama ia lihat dari kejauhan.

Katakanlah Tara sudah terbiasa melihat gadis cantik, tapi melihat Luna secara langsung dari jarak sedekat ini, membuat dadanya berdesir aneh.

Gadis itu memiliki wajah yang nyaris sempurna. Hidungnya mancung, bibirnya terlihat penuh, bulu matanya lentik dengan alis yang terbentuk rapi.

Tara menelan ludahnya dengan susah payah.

Gadis itu hanya memakai gaun dengan potongan rendah hingga terlihat jelas belahan dadanya. Kulitnya putih bersih, bahunya mulus berkilau diterpa pendar lampu gantung, dan lekuk tubuhnya yang sintal terbentuk begitu proporsional.

Lagi lagi mata Tara tertuju pada sepasang bukit kembar gadis itu yang sejak tadi membuatnya salah fokus.

Sesuatu di balik celana Tara mendadak berdenyut pelan.

‘Sial, jangan berontak dulu, dia majikanmu!’ Tara masih berusaha mengatur nafasnya.

Luna mendekati Tara. “Kamu lihat sendiri kan suamiku seperti apa. Suami mana yang rela istrinya disentuh oleh pria lain.”

Setelah mengucapkan itu Luna meninggalkan Tara.

Tara menatap punggung Luna yang semakin menjauh. Ia tidak menyangka wanita yang selama ini ia lihat dari kejauhan mengalami kehidupan yang menyedihkan seperti ini.

Beberapa waktu lalu, Tara memang tidak sengaja bertemu dengan Luna di acara panti asuhan. Tapi hanya Tara yang melihat Luna di sana, jadi tidak heran kalau Luna tidak mengenalinya.

Kemudian, pria itu menyusul Luna keluar dari ruangan itu. Saat ia membuka pintu sudah ada seorang wanita yang menunggunya. Dia Adalah Mbak Sarti—ART Tuan Alvin yang sudah mengabdi bertahun-tahun di rumah ini, serta mengetahui konflik apa saja yang menimpa pasutri ini.

“Ayo, Mbak antar ke kamarnya Mas Tara. Mbak panggil Mas Tara saja ya, karena Mas Tara masih muda.”

“Mau panggil nama juga boleh kok Mbak,” jawab Tara, mencoba untuk tidak salah tingkah.

Tara mengikuti langkah Mbak Sarti yang mengantarkannya ke kamar yang akan ia tempati di rumah ini. Sambil mengikuti Mbak Sarti, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di rumah itu.

“Mbak, siapa saja yang tinggal di rumah ini?” tanya Tara karena rumah sebesar ini tetapi sangat sepi.

“Yang tinggal di rumah utama hanya Nona Luna saja, Mas. Kalau kami asisten rumah tangga tinggalnya di Paviliun belakang. Ada Mbak, Mas Deden suaminya Mbak dan Mentari keponakannya suami Mbak.”

“Sudah lama Nona Luna tinggal di rumah ini?”

“Setelah menikah dengan Tuan Alvin, Nona Luna langsung tinggal di rumah ini karena memang rumah ini khusus untuk Nona Luna. Mbak kadang kasihan sama Nona Luna, sudah lah sebatang kara punya suami tetapi seperti tidak punya suami. Nona Luna ibarat burung cantik yang terjebak di sangkar emas.”

Tara masih diam mendengarkan Mbak Sarti.

Setelah tiba di kamar tamu, Mbak Sarti mempersilahkan Tara untuk istirahat.

Sepeninggalan Mbak Sarti, Tara masuk ke dalam kamar. Tetapi hanya sebentar saja karena ia harus izin pada Luna untuk pulang ke kos-nya untuk mengambil semua barangnya.

Setelah berkeliling mencari Luna, akhirnya Tara menemukan Luna sedang duduk di gazebo dekat dengan kolam ikan.

Tara mendekati Luna, tetapi saat sudah hampir dekat dengan Luna, Tara menghentikan langkah kakinya ketika mendengar Luna sedang bicara sendiri.

“Ikan, enak banget ya jadi kamu. Kamu di kolam ini banyak teman, nggak sendirian macam aku. Mas Alvin memang kasih aku kemewahan tapi aku malah di tinggal sendirian. Punya suami seolah nggak punya. Mas Alvin berubah, sekarang fokusnya sama Mbak Clarissa aja.”

Tara menatap Luna dengan rasa iba. Tanpa sadar tangannya mengepal. Entah kenapa mendengar ucapan Luna, ada perasaan tidak tega yang ia rasakan.

 “Kasihan Nona Luna. Benar kata Mbak Sarti, Nona Luna seperti burung cantik yang dikurung di sangkar emas. Tuan Alvin benar-benar tega,” gumam Tara.

Kemudian Tara pun mendekati Luna. “Nona.”

“Astaga! Ngangetin aja kamu, Tara. Belum sehari kamu kerja di sini sudah bikin aku mau jantungan,” gerutu Luna sambil mengusap dadanya karena terkejut.

“Maaf Non. Saya mau pamit pulang ke kos untuk ambi barang-barang saya.”

“Hmm... Terserah kamu!”

“Saya janji, nanti sore sudah kembali ke rumah ini.”

“Hmmm...”

Meski tanggapan Luna seperti itu, Tara tidak mempermasalahkannya. Ia pikir Luna masih emosi dengan suaminya.

Kemudian, Tara langsung meninggalkan Luna.

Tanpa Tara sadari, Luna masih memandang ke arah kepergiannya.

“Mas Alvin ketemu Tara dimana sih. Bisa-bisa punya bodyguard sangat tampan begitu. Kayaknya Tara bodyguard paling tampan yang Mas Alvin punya deh. Agam aja kalah jauh,” gumam Luna.

Begitu keluar dari rumah megah Luna, Tara langsung masuk ke dalam mobil sudah menemaninya selama empat bulan terakhir ini.

Pria itu mulai mengendarai mobilnya meninggalkan rumah tiga lantai yang akan ia tempat beberapa waktu kedepan.

Saat dalam perjalanan menuju kos yang ia sewa selama empat bulan terakhir sejak ia jadi bodyguard Alvin, pria itu mengambil ponselnya lalu ia mencari kontak seseorang.

“Gilang, tolong sampaikan pada sepupu kamu kalau aku sudah di jalan menuju kos. Hari ini aku mau mengembalikan kunci kos padanya,” ucap Tara saat sambungan telepon terhubung.

“Iya. Tapi yakin mau mengembalikan kunci kos sama Mas Arga?”

“Aku akan tinggal di rumah istri keduanya atasanku, Gilang. Oh iya, aku masih pinjam mobil kamu ya.”

“Kamu bebas mau pakai sampai kapanpun, Tara. Kamu udah yakin dengan rencanamu itu?”

“Udah sejauh ini, tentu saja aku yakin Gilang. Hanya ini satu-satunya cara agar semuanya terpecahkan.”

“Baiklah. Saranku aja nih, kunci kosnya jangan kamu kembalikan dulu. Siapa tahu nanti kamu masih memerlukannya.”

“Hmm. Baiklah. Tapi nanti aku tetap mau bertemu Mas Agra.”

Setelah itu, Tara memutuskan panggilan telepon.

Saat mobilnya berhenti di lampu merah. Tara membuka galeri foto. Ia tatap layar ponselnya di sana ada foto seorang pria dan wanita paruh baya.

“Maafkan aku, Nona Luna, aku terpaksa melakukan ini. Ini semua demi kebaikan dan kebahagian Nona Luna…”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Kommentare (2)
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
Siapa sebenarnya Tara ini dan mengapa mobil merah tidak boleh dipinjam?
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Eh, apa yang terjadi sama Tara dan Luna?
ALLE KOMMENTARE ANZEIGEN

Aktuellstes Kapitel

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 81

    "Morning cantik," ucap Tara begitu Luna membuka matanya.Luna menoleh ke arah jendela kamar hotel yang tirainya sudah Tara buka. Di luar sana sudah terang menderang."Tara, jam berapa sekarang?" tanya Luna dengan suara seraknya.Rambut gadis itu masih sangat berantakan sama seperti tadi. Gadis itu bahkan tidak sadar jika selimut melorot ke bawah hingga sepasang bukit kembarnya terlihat jelas di mata Tara."Sekarang sudah jam delapan pagi. Ayo bangun, kamu harus sarapan." Tara berusaha menahan dirinya.Pemandangan di depannya sungguh sangat menggoda imannya, terlebih lagi saat ini pagi hari adalah waktu krusial untuk kelangsungan bagian bawah tubuhnya."Aku lapar Tara. Kamu sih semalam kayak singa kelaparan. Nggak kasih jeda sama sekali. Kalau aku nggak ngerengek minta berhenti aku yakin kamu nggak akan berhenti. Kamu minum obat kuat ya Tara."Tara terkekeh. Lalu ia mendekati Luna dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.Bukan ciuman terburu-buru tetapi hanya ciuman lembut saja.Lalu

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 80

    Tara membuka matanya dan ia menoleh ke samping pada gadis dipelukannya. Satu senyuman merekah di bibirnya saat melihat Luna masih terlelap dengan mulutnya sedikit terbuka. Rambut gadis itu tampak berantakan. Tara menarik selimut menutupi tubuh mereka yang masih sama-sama polos.Satu jam setelah Luna tertidur mereka kembali melanjutkan sesi kedua pendakian mencapai puncak karena Luna. Tara yang tidak bisa menahan hasratnya saat melihat Luna dengan tubuh polosnya hingga pria itu kembali menyentuh Luna. Pria itu hanya berhenti setelah Luna merengek kelelahan."Kamu itu cantik dan istimewa, Luna. Aku tidak akan meninggalkan kamu begitu saja. Aku sudah lama melihatmu dari jauh," bisik Tara.Pria itu mengecup kening Luna, lalu ia menarik pelan lengannya yang dijadikan gadis itu sebagai bantalan. Tara menghela napas lega ketika ia sudah berhasil menarik lengannya dan Luna tidak bangun sama sekali. Gadis itu sempat mengeliat sedikit.Tara menggerakkan tangannya karena rasa kebas akibat tid

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 79

    Tara mencabut miliknya yang sudah kembali tidur dari lembah kenikmatan Luna. Kemudian, pria itu membawa Luna dalam pelukannya. Tara menarik selimut agar menutupi tubuh mereka yang masih sama polosnya.Keringat di tubuhnya masing-masing sudah mulai mengering. Suhu dalam kamar mewah itu sudah mulai terasa dingin kembali. Tara menepikan rambut Luna yang menutupi wajah cantik Luna.Ia mencium kening gadis di pelukannya itu dengan lembut, sementara Luna memejamkan matanya ketika keningnya Tara mengecup keningnya."Tara..""Hmm...""Bisakah kita selalu seperti ini?""Kenapa?"Luna mengeratkan pelukannya pada Tara, lalu ia mendongak hingga tatapan mereka bertemu. "Aku takut nanti kita berpisah saat misi kamu sudah berhasil," lirih Luna.Tara terkekeh sambil mengusap pipi Luna dengan lembut."Kenapa kamu bisa kepikiran begitu, hmm?""Aku takut kamu juga meninggalkan aku Tara, seperti Mas Alvin. Dulu dia begitu memperjuangkanku agar aku mau menikah dengannya, tapi setelah menikah dia mengab

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 78

    Tara menggerakkan pinggulnya menghujam goa sempit milik Luna. Pria itu memejamkan matanya saat merasakan jepitan dari milik Luna pada Jhon yang sedang mengobrak abrik di bawah sana. Irama khas penyatuan dua raga mulai memenuhi seisi kamar, beradu dengan suara napas yang memburu saat tubuh Tara mengayun pelan diselingi gerakan keras kemudian menghentak ketika tidak lagi kuat bertahan dalam suasana damai dan tenang.Kepala Luna bergerak resah dengan bibir terus saja menggaungkan nama Tara sementara kedua tangannya yang tadi mencengkeram seprei sudah berpindah pada punggung pria itu."Aahhh... Ta-Tara...""Yaa Lunaa.." balas Tara dengan gerakan lincahnya memompa tubuh Nyonya mudanya yang berada dalam kekuasaannya.Beberapa kali bibir itu kembali menyasar puncak bukit Luna bergantian hingga respon Luna pun semakin liar.Gadis itu mungkin tidak sadari jika bibirnya begitu berisik hingga Tara tahu kalau kaki gadis itu mengejang dengan tubuh melengkung bagai busur dan memeluk pinggangnya b

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 77

    "Keluarkan saja Luna, jangan di tahan."Bersamaan gerakan jarinya semakin kuat disertai suara desah nikmat dari bibir Luna.Tubuh Luna bergetar.Tara tahu, Luna mendapatkan klimaks untuk pertama kalinya.Tara mengeluarkan jarinya dari lembah kenikmatan Luna. Pria itu menatap wajah Luna yang berkeringat dan napas gadis itu yang masih ngos-ngosan seolah baru saja lari jauh."Sudah siap untuk ke menu utama, Luna?" tanya Tara.Di saat Luna masih menikmati pelepasannya, Tara menarik kain segitga berenda yang masih menutupi lembah kenikmatan gadis di bawah kendalinya ini. Luna mengangkat bokongnya agar memudahkan Tara melepaskan kain segitiga berenda itu dan lagi lagi pria itu melemparkannya ke sembarangan arah.Tara menatap lembah kenikmatan Luna yang sangat terawat. Warna merah muda dan bersih tanpa di tumbuhi oleh rerumputan. Sejak pertama kali Tara melihat pusat gairah Luna, pria itu langsung menyukainya.Milik Luna sangat berbeda dengan milik wanita yang pernah ia lihat di dalam video

  • Bodyguard Idaman Nona Muda   Bab 76

    Tubuh Luna mengejang saat merasakan hisapan lidah di permukaan lehernya. Kedua kaki gadis itu bergerak resah.Tara semakin bergerak ke bawah menyelusuri permukaan kulit putih Luna. Jejak-jejak merah hampir memenuhi kulit leher Luna."Tara, jangan di sana. Nanti kelihatan sama yang lain," lirih Luna dengan suara bergetar karena gadis itu menahan sensasi dari sentuhan Tara.Tara hanya diam saja. Pria itu tetap melanjutkan aktivitasnya tanpa mengindahkan permintaan Luna. Ia masih saja membuat maha karya di sana.Satu tangannya sejak tadi tidak diam karena sudah berada di salah satu bukit Luna yang masih tertutup oleh gaun yang masih menempel pada tubuh gadis itu. Tangan Tara terus meremas bukit Luna secara bergantian yang semakin menambah sensasi yang meresahkan dan menambah kobaran api gairah dalam tubuh Luna.Seolah tidak puas membuat jejak merah di leher Luna, pria itu kini membuat jejak cinta di dekat dengan tulang selangka Luna."Ta-Taraaa...."Mulut Luna sejak tadi tidak bisa diam

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status