LOGINTara menghentikan mobilnya begitu sudah tiba di depan rumah Luna. Ia melihat jam tangannya dan ternyata sudah pukul sebelas malam.
Seharusnya ia sudah kembali sejak sere sesuai dengan janjinya pada Luna. Namun ada beberapa hal yang harus ia urus lebih dulu sehingga waktunya molor lebih lama dari perkiraan.
Pria itu pun langsung turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah sambil menarik koper yang ia bawa. “Sepertinya semuanya sudah tidur. Sudah larut malam juga,” gumamnya pelan.
Baru saja ia hendak menekan bel, tetapi pintu itu terbuka lebih dulu.
Mbak Sarti tampak berdiri sambil mengusap kedua matanya yang masih mengantuk. Mbak Sarti memang belum kembali ke Paviliun belakang karena ia tahu Tara belum kembali. Sementara Tara tidak memegang kunci rumah ini. “Mas Tara, akhirnya pulang juga.”
“Maaf ya, Mbak. Aku kemalaman pulangnya.”
“Nggak papa, Mas Tara.”
“Maaf sudah bikin repot.”
“Sudah makan belum, Mas?”
“Sudah tadi, Mbak,” ucap Tara.
“Kalau begitu Mas langsung istirahat saja. Nona juga sudah masuk kamar dari tadi.”
Tara hanya mengangguk saja.
Setelah itu, Mbak Sarti pun berpamitan untuk kembali ke Paviliun belakang, sementara Tara menuju kamarnya.
Tara sempat berhenti di ruang tamu. Ia menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Rumah sebesar itu terasa begitu sunyi. Bahkan detak jam dinding terdengar begitu jelas.
“Rumah ini sangat besar, tapi sayang sangat sepi. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakitnya menjadi Nona Luna yang setiap hari merasakan kesepian.”
Tara pun melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Begitu ia masuk ke dalam kamar, Tara meletakkan kopernya di lantai.
Satu persatu baju yang ia bawa tadi, ia gantung di dalam lemari. Ia memang sengaja langsung menatap bajunya agar besok ia langsung fokus sama tugasnya selama berada disini.
“Akhirnya selesai juga,” gumam Tara sambil meregangkan bahunya.
Pria itu memutuskan ingin mandi karena ia merasa gerah.
Selang beberapa menit, pintu kamar mandi terbuka dan Tara keluar dengan rambut basahnya dan tubuh bagian bawahnya hanya di tutupi oleh handuk. Tetesan air dari rambut basahnya jatuh di tubuh atletisnya.
Pria itu berjalan menuju lemari untuk mengambil baju ganti.
Karena sudah malam, Tara hanya memakai celana pendek dan baju tanpa lengan saja. Toh nanti saat ia tidur, bajunya itu akan ia lepas juga karena pria itu sudah terbiasa tidur hanya memakai celana boxer saja.
Saat melihat tidak ada air minum dikamarnya, Tara pun berjalan keluar kama untuk ke dapur mengambil air minum.
Namun saat ia sudah mendekati dapur, langkah Tara terhenti saat ia melihat Luna sedang minum di sana.
Sontak pria itu langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Bukan karena Luna yang sedang minum air, tetapi pandangan yang sukses membuatnya ketar ketir.
Luna hanya memakai gaun tidur berbahan satin yang sangat tipis hingga lekuk tubuh gadis itu terlihat jelas, begitu indah dan menawan apalagi dengan rambut Luna yang lurus menutup punggungnya yang mulus.
Dan yang membuat Tara terkejut adalah ada bintitan kecil di bagian depan Luna, hingga membuat Tara menelan ludah beberapa kali.
Entah lupa atau sengaja, Luna tidak memakai kacamata penutup dua bukit kembarnya.
Ia pria normal, tentu saja pemandangan di depannya membuat tubuhnya langsung bereaksi.
“Hmmm...”
Tara sengaja berdehem agar Luna menyadari keberadaannya, sekaligus ingin melihat reaksi Luna ketika Tara memandangnya dengan pakaian seperti itu.
Luna yang sedang minum langsung terkejut. Hampir saja ia menyemburkan air yang ia minum.
“Kamu! Bisa nggak sih Tara, kamu nggak ngangetin aku. Sekali kamu nggak ngagetin aku kayaknya bakalan meriang ya,” gerutu Luna.
Sadar dengan apa yang ia pakai saat ini, Luna berusaha untuk bersikap biasa saja meski ia tidak nyaman.
Ia lupa kalau malam ini Tara sudah tinggal di rumah ini. Maklum, selama ini ia sudah terbiasa tinggal sendiri.
“Ngapain kamu berdiri di sana?” tanya Luna lagi.
“Saya mau ambil air minum, Non.”
Tara berusaha untuk biasa saja di depan Luna meski tubuhnya sudah mulai menunjukkan gejolak aneh melihat penampilan Luna.
“Hmmm... Kupikir kamu nggak akan kembali ke rumah ini. Hari pertama kerja di rumah ini aja sudah tidak taat aturan. Katanya pulang sore tapi nyatanya larut malam baru pulang.”
“Nona menunggu saya?” tanya Tara.
“Siapa juga yang menunggu kamu, pede banget jadi orang! Kamu jangan kegeeran ya, Tara. Mentang-mentang Mas Alvin sudah minta kamu gantikan posisinya. Tetap aja kamu itu hanya seorang bodyguard.” Luna mendengus kesal.
Tara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Luna. Ia sama sekali tidak sakit hati karena ia juga sadar siapa dirinya di rumah ini.
“Maafkan saya pulang terlambat. Tadi masih ada urusan di luar yang harus saya selesaikan sebelum saya pulang ke rumah ini.”
“Memangnya urusan apa sampai harus pulang selarut ini?” tanya Luna datar.
Gadis itu meletakkan gelas yang ia pegang tadi di tepi meja. Lalu Luna menyilangkan kedua tangannya di depan dada, berusaha menutupi rasa canggung yang tiba-tiba muncul.
Setahun terakhir Agam memang menjadi bodyguardnya tetapi Agam tidak menginal di rumah ini. Pria itu datang ke rumah ini hanya saat ia bertugas di siang hari.
Sementara Tara berbeda, suaminya bahkan meminta pria di depannya ini untuk tinggal bersamanya di rumah ini.
“Urusan pribadi saya, Nona.”
Luna mengangguk pelan, meski sebenarnya ia tidak terlalu peduli.
Tara melangkah perlahan mendekatinya. Entah kenapa, semakin pria itu mendekat, jantung Luna justru berdetak semakin cepat.
Tatapan mata Tara yang sejak tadi tertuju ke arahnya membuat Luna tanpa sadar menelan ludah.
“Ka-kamu... mau apa, Tara?” tanya Luna. Suara gadis itu sedikit bergetar.
Tara tidak menjawab dan pria itu semakin melangkah mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Hingga jarak diantara mereka kini hanya tinggal beberapa senti.
Luna refleks mundur beberapa langkah hingga punggungnya langsung menyentuh tepi meja.
Deg.
Detak jantung Luna semakin berdetak semakin cepat.
Kenapa pria ini tiba-tiba mendekat?
Apa ia tidak sadar jarak mereka suah terlalu dekat.
Tatapan Luna tanpa sadar bertemu dengan mata Tara. Wajah Tara tetap tenang dan semakin mendekat ke arahnya membuat Luna semakin salah tingkah. “Ta... Tara...”
Gadis itu tampak gelisah, tanpa sengaja menyenggol gelas yang ia letakkan di tepi meja hingga...
Praanggg!
“Aargghhh...”
Gelas itu jatuh ke lantai dan pecahannya bertaburan hingga mengenai kaki Luna.
“Nona...”
Tara langsung berjongkok untuk memeriksa kaki Luna.
Darah langsung mengalir dari telapak kaki gadis itu akibat terkena serpihan kaca.
Luna terkejut saat Tara tiba-tiba mengendongnya dan mendudukannya di atas meja.
“Kotak P3K dimana, Non?”
“Di lemari bawah TV,” jawab Luna.
Tara langsung meninggalkan Luna. Selang dua menit saja, Tara sudah kembali membawa kotak P3K.
“Issshhh…” Luna meringis saat Tara sedang membersihkan serpihan kaca di kakinya.
“Sakit, Non?”
“I-iya…” lirih Luna.
“Tahan sedikit, Nona. Lagian kenapa juga Nona menjatuhkan gelas itu,” ucap Tara.
Luna diam saja tetapi ia terus menatap Tara yang masih membersihkan lukanya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Sejak pagi rumah sudah ribut karena Luna mencoba tiga pasang sepatu dan tetap tidak puas, sedangkan Mbak Sarti bolak-balik dari kamar ke ruang setrika sambil membawa jepit rambut yang tidak satu pun dipakai Luna.“Nona, menurut saya semua sepatunya cocok dengan gaunnya,” ucap Mentari.“Cocok ya? Tapi kok aku merasa nggak nyaman ya,” ucap Luna.“Pakai yang nyaman di kaki Nona saja. Mau pakai sepatu yang mana pun, Nona tetap cantik banget hari ini,” ucap Mbak Sarti.“Hmm… Baik deh. Aku pakai yang hitam ini aja. Makasih ya Mbak Sarti dan Mentari udah bantu aku siap-siap.”Luna pun berdiri lalu ia melihat penampilannya lagi di cermin besar. Ia hanya memoleskan make up tipis tetapi membuat wajahnya semakin cantik.“Oh iya Mbak Sarti, Mentari malam ini kalian aku kasih libur sampai besok ya. Kasih tahu Pak Deden juga ya. Beberapa hari yang lalu aku dengar kalian ingin mengunjungi saudara yang ada di sini juga. Nah, mumpung libur kalian bisa menginap di rumah saudara kalian.”“Makasih banyak
“Clarissa akan ikut serta di acara itu.”Untuk pertama kalinya sejak ia menikah dengan Alvin, ia akan berada di ruangan yang sama dengan Clarissa.“Mas Alvin.. Halo..”Luna melihat ke layar ponselnya, ternyata Alvin sudah memutuskan sambungan telepon bahkan belum sempat ia menjawab.“Tara gimana ini..” Luna tampak sedikit panik.“Ada apa Non?”“Acara keluarga Mahawira dimajukan jadi lusa. Aku nggak yakin siap untuk pertemuan itu. Aku harus gimana Tara?”Tara memegang bahu Luna. “Luna tenang dulu. Semuanya akan baik-baik saja. Di acara keluarga Mahawira lusa, Nona harus tampil jauh lebih cantik dari semua perempuan yang datang ke acara itu,” ucap Tara menenangkan Luna.“Waktunya mepet banget. Gaun yang aku pesan nggak mungkin bisa selesai besok.”“Non, lihat aku.” Tara memegang kedua bahu Luna hingga tatapan mereka saling mengunci.“Aku sendiri yang akan pastikan semuanya baik-baik saja. Nona akan tampil cantik di sana dan bisa mengikuti acara itu dengan baik. Nona percaya padaku kan?”
“Mas Tara?”“Mbak Sarti jangan biarkan Nona Luna mengetahui ada yang mencarinya. Apapun yang terjadi Mbak Sarti harus bisa menahan Nona Luna di dalam rumah. Untuk pria yang ingin menemui Nona Luna biar aku saja yang menemuinya.”“Baik Tara,” jawab Mbak Sarti sambil meletakkan kembali telepon rumah.Masih dengan tubuhnya yang setengah basah oleh keringat dan handuk kecil di lehernya, Tara berjalan menuju keluar rumah untuk menemui pria yang ingin menemui Luna.Ketika ia sudah berada di luar rumah, Tara melihat ada pria yang berdiri di balik pagar sambil memegang amplop cokelat.Tara memicingkan matanya melihat pria itu dan setelah melihat jelas wajahnya, Tara teringat dengan foto yang ada di halaman terakhir data tentang Luna yang dikasihkan oleh Alvin.Reza.Ya, yang berdiri di balik pagar itu adalah Reza, mantan bodyguard Luna yang pernah dilaporkan oleh Luna ke polisi.Pria itu tampak tidak jauh dengan usianya Tara.Tara pun berjalan ke sisi pagar untuk menemui Reza.Pak satpam yang
“Siapa yang menelpon kamu malam-malam begini Tara?”“Eh itu teman lama saya, Non.”Luna menatap Tara dengan tatapan curiganya.“Tadi aku sempat lihat ada nama keluarga Askara di kontak yang menelpon kamu. Bukankah itu nama keluarga terpandang di kota ini?”“Teman saya itu iseng tulis nama kontak di ponsel saya begitu, Nona. Dia bukan dari keluarga itu kok,” jawab Tara berusaha untuk tenang.Luna hanya mengangguk saja. “Hmm.. Baiklah.”Kemudian Luna turun dari pangkuannya Tara. Ia berusaha untuk menerima begitu saja jawaban Tara meski jawaban Tara masih mengganjal di benaknya.Tara bangun dari duduknya dan mengantarkan Luna. Namun saat mereka sudah keluar kamar, Luna melarang Tara untuk mengantarkannya ke atas.“Kamu tidurlah Tara. Aku bisa kembali ke kamarku sendiri,” jawab Luna dan gadis itu langsung meninggalkan Tara.Tara menatap punggung Luna yang semakin jauh. Tara memegang bibirnya, manisnya bibir Luna masih terasa jelas. Setelah memastikan Luna naik tangga, Tara masuk ke dalam k
“Tari, kenapa tehnya tawar sekali. Kamu nggak kasih gula?”Luna meletakkan kembali gelas teh di atas nampan.“Sudah saya kasih gula kok, Non. Apa kurang ya gulanya tapi saya yakin sudah sesuai dengan takaran biasanya,” jawab Mentari.“Lebih baik kamu bawa lagi tehnya terus kasih gula.”Mentari mengangguk, lalu mengambil nampan itu kembali. Kemudian Mentari pamit untuk masuk ke dalam rumah.Sesudah Mentari pergi, Luna menyandarkan punggungnya ke tiang gazebo sambil menyilangkan tangannya.“Aku lihat kamu sangat akrab dengan Tari?” tanya Luna.“Saya dan Tari hanya berteman saja, Non.”“Aku harap bodyguard seperti kamu jangan terlalu ramah sama yang lain di rumah ini kecuali Mbak Sarti karena dia kepala asisten rumah tangga di rumah ini. Itu juga nggak baik untuk kamu.”Kening Tara mengernyit bingung. “Kenapa Nona berkata seperti itu?”“Nanti wibawa kamu sebagai bodyguard akan hilang.”“Baik Nona.”Tara hanya mengiyakan saja meski ia masih bingung dengan ucapan Luna.“Apa hubungan wibawa
Tara memotret halaman itu. Ia masih penasaran dengan apa yang baru saja ia baca di halaman itu.Ia pun mengirimkannya ke Gilang melalui pesan singkat. Di bawah foto yang baru saja ia kirim, Tara juga meminta sesuatu pada Gilang.Gilang[Foto]‘Tolong kamu selidiki yang ada di foto itu.’‘Ingat, jangan sampai kamu sebut nama keluarga Mahawira’Pesan Tara sudah terkirim tetapi belum centang biru.Tara menutup kembali map cokelat itu dan menyimpannya di dalam laci dimana ia mengambilnya tadi. Tidak lupa ia mengunci laci itu.Setelah itu ia pun berjalan menuju kamar mandi sekedar bersih-bersih.Selang beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Tara keluar dengan wajah freshnya. Ia langsung berjalan menuju ranjang.Tara tidak langsung baring. Ia duduk sambil bersandar di sandaran ranjang.Ia masih kepikiran dengan apa yang baru saja ia baca tadi. Entah kenapa kalimat ‘laporan polisi dicabut oleh permintaan keluarga Mahawira’ terus berputar di pikirannya.“Sebenarnya ada apa yang t







