Share

Bab 38

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-09-03 09:03:57

Saat waktu makan malam tiba, Tara keluar kamarnya dan langsung menuju ruang makan.

Tetapi ketika ia tiba di sana, hanya ada Mbak Sarti dan Mentari saja.

"Nona Luna belum turun?" tanya Tara.

Mbak Sarti dan Mentari kompak mengangguk.

"Sejak pulang dari Puncak, Nona sama sekali belum keluar kamar. Tadi aku juga udah ke kamarnya Nona tapi nggak ada jawaban dari dalam," jawab Mentari.

"Kamu udah ketuk pintunya? Mungkin Nona lagi nggak dengar kali?"

"Aku udah empat kali ketuk kok, tapi tetap saja n
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 40

    "Sekarang aku harus gimana, Tara?"Tangan Tara mengusap air mata yang sudah jatuh di pipi Luna. Melihat gadis di depannya mengeluarkan air mata membuat hatinya tidak rela."Saya yakin Nona kuat menjalani semua ini. Nona jangan khawatir, saya selalu ada untuk Nona. Satu atau dua orang yang mengabaikan dan menyikiti kita, bukan berarti satu dunia juga akan menyakiti kita. Masih ada orang lain yang menyayangi Nona. Semua orang di rumah ini menyayangi Nona. Luna menundukkan kepala. Air matanya kembali menggenang di pelupuk mata."Tapi kenapa rasanya tetap sakit, Tara?"Tara terdiam.Ia tahu tidak ada kalimat sederhana yang bisa menghapus rasa sakit Luna. Ada luka yang tidak bisa disembuhkan hanya dengan mengatakan semuanya akan baik-baik saja.Tara menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya. "Nona jangan terlalu larut dalam kesedihan ini. Saat Nona tidak mendapatkan kebahagian dari Tuan Alvin, Nona masih bisa menciptakan kebahagian Nona sendiri."Luna menatap netra Tara begitu lekat. I

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 39

    Luna mengusap keringat di kening Tara hingga membuat pria itu semakin ketar ketir menahan gejolak dalam tubuhnya.Tidak ingin Luna menyentuhnya terlalu lama, Tara menahan tangan Luna."Sudah, Nona."Luna mengerjapkan mata. "Kenapa?""Saya bisa mengusapnya sendiri."Bukannya menjauh, Luna justru semakin mengikis jarak mereka berdua. Luna menatap mata Tara yang berusaha menghindari tatapannya.Ketika Tara menundukkan pandangannya, tanpa sengaja ia melihat belahan dada Luna yang begitu jelas hingga membuatnya menelan ludah dengan susah payah."Kamu temani aku makan malam ya Tara. Aku mau cerita sesuatu sama kamu."Tara menganguk. "Tapi Nona pakai dulu pakaiannya," ucap Tara.Mendengar itu Luna tertawa. "Aku tahu kenapa kamu berkeringat padahal di kamarku sangat dingin. Kamu tergoda ya lihat tubuhku, Tara?"Tara langsung berdehem dan ia pun memilih untuk duduk di sofa.Luna masih tertawa melihat Tara yang salah tingkah. Tetapi gadis itu langsung masuk ke walk-in closet untuk memakai pakai

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 38

    Saat waktu makan malam tiba, Tara keluar kamarnya dan langsung menuju ruang makan. Tetapi ketika ia tiba di sana, hanya ada Mbak Sarti dan Mentari saja."Nona Luna belum turun?" tanya Tara.Mbak Sarti dan Mentari kompak mengangguk. "Sejak pulang dari Puncak, Nona sama sekali belum keluar kamar. Tadi aku juga udah ke kamarnya Nona tapi nggak ada jawaban dari dalam," jawab Mentari."Kamu udah ketuk pintunya? Mungkin Nona lagi nggak dengar kali?""Aku udah empat kali ketuk kok, tapi tetap saja nggak ada jawaban dari dalam.""Mbak Sarti khawatir selama Nona pergi dengan Tuan Alvin terjadi sesuatu," ucap Mbak Sarti."Maksud Mbak Sarti apa?" tanya Tara."Selama Mbak mengenal Nona Luna, sesedih apapun dia pasti tidak melewatkan jam makan. Ya minimal nggak mengurung diri seperti ini. Tapi Nona Luna pernah melakukannya, waktu Nona Luna habis bertengkar hebat dengan Tuan Alvin dan kejadian foto Nona Luna yang di sebar sama Mas Reza. Mbak khawatir kalau sesaknya kambuh. Mbak dan Mentari belum

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 37

    Menjelang sore, Tara akhirnya kembali ke rumah Luna.Perjalanan dari pemakaman hingga ke rumah terasa lebih panjang dari biasanya. Sejak meninggalkan tempat itu, pikirannya masih dipenuhi wajah kedua orang tuanya. Untuk beberapa saat setelah keluar dari area pemakaman, Tara bahkan hanya mengemudikan mobil dalam diam, membiarkan pikirannya berjalan ke mana-mana.Ada rasa lega setelah akhirnya bisa mengunjungi mereka.Tara menghela napas panjang sebelum akhirnya memarkirkan mobil di halaman rumah Luna.Ia mematikan mesin, tetapi tidak langsung turun.Tangannya masih berada di atas kemudi. Tatapannya lurus ke depan, memandangi rumah yang selama beberapa waktu terakhir ia tinggali.Akhirnya, ia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.Ketika ia melewati ruang keluarga rumah itu, Tara mendengar suara dari arah samping rumah. Tepatnya di dekat kolam renang.Tara pun memutuskan untuk menuju samping rumah itu. Di sana ia melihat Mbak Sarti, Pak Deden, dan Mentari sedang duduk santa

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 36

    “Jangan bilang kamu...”“Apa yang kamu pikirkan Gilang?”Gilang menyipitkan matanya menatap curiga pada sahabatnya.“Kamu keberatan meninggalkan Luna kan?”“Hmm.. Semakin aku mengenal Luna, semakin aku takut jika semuanya terbongkar akan menyakitinya. Dia korban keegoisan suaminya sendiri. Luna seperti burung yang di kurung dalam sangkar emas.”Gilang masih diam tetapi ia menatap ekspresi sahabatnya. Tatapannya berubah serius.“Bukan itu yang kutanyakan Tara.”Tara mengernyit. “Lalu?”“Kamu takut Luna terluka karena rencanamu terbongkar...” Gilang berhenti sejenak, lalu menatap tepat ke mata Tara. “Atau kamu takut kehilangan Luna?”Pertanyaan itu membuat Tara terdiam.Untuk beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka.Tara mengalihkan pandangan ke arah jendela. Jemarinya mengepal di atas meja.“Aku tidak tahu Gilang. Tapi aku nggak bisa melihat ketika dia sedang sedih.”Jawaban itu terdengar begitu pelan, tetapi cukup untuk membuat Gilang menghela napas.“Berarti benar dugaanku s

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 35

    Pagi sekali Luna sudah bangun dan gadis itu langsung bersiap. Alvin memang sudah mengabarinya untuk berangkat pagi.Semalam ia hampir tidak bisa tidur karena terlalu bersemangat memikirkan rencana pergi bersama Alvin ke Puncak. Sudah berbulan-bulan mereka tidak benar-benar menghabiskan waktu berdua seperti ini.Ketika suara mobil berhenti di depan rumah, Luna langsung bergegas keluar.Namun, langkahnya terhenti sesaat ketika melihat siapa yang turun dari balik kemudi.Alvin datang sendiri.Tidak ada sopir pribadi, tidak ada asistennya, bahkan tidak ada pengawal yang biasanya mengikuti perjalanan pria itu.“Mas Alvin?”“Kenapa?” Alvin tersenyum tipis. “Kok malah bengong?”“Mas datang sendiri?”“Iya. Bukankah aku sudah bilang kita pergi berdua?”Jawaban sederhana itu membuat hati Luna kembali berbunga-bunga.Ia segera masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya memastikan barang-barang kecil yang dibawanya sudah lengkap. Bahkan Luna merasa perjalanan kali ini akan berbeda dari biasanya. Tid

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status