Share

Bab 48

Author: Nabila Ara
last update publish date: 2026-09-07 12:58:52

Luna meraih tangan kanan Tara, membuka telapaknya, lalu meletakkan kunci kecil itu di sana. Sesudah itu dia menutup jari-jari Tara dengan kedua tangannya sendiri, menahannya beberapa saat sambil menatap wajah pria di depannya.

"Nama yang kamu cari selama beberapa tahun ini, kemungkinan besar ada di dalam kotak itu."

Kunci kecil itu masih tergenggam di telapak tangan Tara waktu Luna berdiri lebih dulu dari lantai lorong, menepuk-nepuk piyamanya yang kusut di bagian belakang.

"Sekarang aja kita b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 51

    "Tara, Nona Luna mana?"Tara yang ingin kembali ke kamarnya menoleh ke ruang makan dimana Mbak Sarti sedang menata sarapan di sana."Nona ada di atas, Mbak. Mungkin di kamarnya," jawab Tara."Oh iya. Ini sarapannya udah siap.""Mau aku panggilkan, Mbak? Oh iya, aku kok belum melihat Mentari ya Mbak?" tanya Tara sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sejak tadi Mbak Sarti datang, Tara memang belum melihat keberadaan Mentari."Itu Mas Tara. Dari semalam, Tari nggak enak badan. Demam, suhu tubuhnya juga tinggi.""Loh. Nggak di bawa ke dokter Mbak?""Anu Mas, Tari nya nggak mau di bawa ke dokter. Padahal semalam Om-nya udah mau bawa dia ke dokter, tapi dianya menolak. Katanya minum obat nanti juga sembuh. Tapi loh Mas, tadi sebelum ke sini Mbak periksa tubuhnya masih panas banget.""Di bawa ke dokter aja Mbak. Biar lekas sembuh.""Iya Mas. Nanti Mbak coba bujuk Tari lagi biar mau ke rumah sakit. Mas Tara mau langsung sarapan atau nggak?"Tara menggeleng. "Aku sarapannya nant

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 50

    "Ini.... Namaku kenapa ada di sini?"Tara langsung mendekat ke Luna. "Coba aku lihat, Luna."Luna menyerahkan lembar itu ke Tara, tapi tangannya sudah gemetar waktu menyerahkannya. Dokumen itu berupa akta pengalihan saham, ditandatangani enam bulan lalu, dan di kolom penerima tercantum nama lengkap Luna tanpa satu pun kesalahan ketik."Enam bulan lalu itu..." Tara membaca tanggalnya sekali lagi. "Ini cuma dua minggu sesudah kecelakaan Nyonya Clarissa.""Aku nggak pernah tanda tangan apa pun soal ini. Sumpah, Tara, aku nggak pernah." Luna menggeleng beberapa kali."Kamu pernah dimintain tanda tangan sama Tuan Alvin atau asistennya buat urusan lain nggak? Yang katanya buat surat rumah, atau surat bank atau keperluan apapun? Coba di ingat-ingat lagi."Luna terdiam sebentar, ia mencoba untuk mengingat kenangan enam bulan lalu. "Hmm... Pernah sih, beberapa kali malah. Dia cuma nyodorin map, terus nunjuk bagian yang harus aku tanda tanganin. Aku nggak pernah baca isinya soalnya aku pikir i

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 49

    Alvin mengangkat kepalanya sebentar, lalu kembali menatap gelas air di depannya. "Terus soal apa?"Luna membuka mulutnya, tapi yang keluar cuma embusan napas panjang. Dia menoleh sedikit ke belakang, ke arah Tara yang berdiri diam di posisinya, lalu kembali menghadap suaminya sendiri."Nggak apa-apa. Lupain aja Mas.""Ya udah kalau nggak ada apa-apa." Alvin meraih gelasnya, meminum airnya sampai separuh, lalu meletakkannya kembali. "Oh iya, Clarissa titip salam. Katanya kalau kamu senggang, kamu boleh main ke rumah sana kapan aja.""Boleh main ke rumah sana? Rumah yang mana, Mas? Rumah kamu sama dia, atau rumah kita?""Luna?!" Alvin sedikit menaikkan nada suaranya, yang lantas membuat Luna semakin kesal mendengar itu."Aku cuma nanya, Mas. Nggak usah pakai nada gitu juga."Alvin memijat pangkal hidungnya, kemudian melirik jam tangannya. "Aku ada rapat jam delapan. Kalau nggak ada yang penting, aku balik sekarang.""Baru juga lima belas menit Mas di sini," decak Luna, sedikit kesal. "

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 48

    Luna meraih tangan kanan Tara, membuka telapaknya, lalu meletakkan kunci kecil itu di sana. Sesudah itu dia menutup jari-jari Tara dengan kedua tangannya sendiri, menahannya beberapa saat sambil menatap wajah pria di depannya."Nama yang kamu cari selama beberapa tahun ini, kemungkinan besar ada di dalam kotak itu."Kunci kecil itu masih tergenggam di telapak tangan Tara waktu Luna berdiri lebih dulu dari lantai lorong, menepuk-nepuk piyamanya yang kusut di bagian belakang."Sekarang aja kita buka, mumpung Mbak Sarti sama Mentari belum datang ke rumah utama.""Kamu yakin? Bagaimana jika memang semua bukti yang aku cari tidak ada di dalam kotak itu?""Makanya kita harus buka kotak itu dulu Tara. Kamu ingin semua misteri meninggalnya kedua orang tuamu segera terpecahkan? Kalau memang ternyata feelingku salah, artinya kita harus cari bukti itu di tempat lain, Tara."Tara diam tetapi ia masih belum mengalihkan pandangannya dari Luna."Selama ini feelingku selalu benar. Aku yakin Mas Alvin

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 47

    Tara mengatupkan bibirnya, tidak membantah sedikit pun. Tara memilih duduk di sofa, membiarkan Luna menyelesaikan apa pun yang mau dia katakan lebih dulu.Sesudah itu Tara mulai bercerita dari bagian yang paling bisa dia jelaskan, yaitu alasannya memilih masuk ke keluarga Mahawira dengan menjadi bodyguard, satu-satunya posisi yang memungkinkan dia berada di dalam lingkaran keluarga Mahawira tanpa perlu menunjukkan wajahnya di acara mana pun. Seolah semesta mendukung tujuannya, tanpa sengaja ia menyelamatkan Alvin dari serangan para preman. Karena itu jalannya untuk menjadi bodyguard di keluarga Mahawira semakin di permudah.Tara juga menyebut soal kamar kos di gang sempit yang disewa atas nama orang lain, soal mobil hitam yang ia pakai selama ini, sampai soal kacamata bingkai tipis yang cuma keluar kalau ada kemungkinan bertemu orang yang mengenali keluarganya."Berarti mobil hitam yang biasa kamu bawa itu punya Gilang?" Luna mengernyitkan dahi, sekaligus menyipitkan matanya."Iya, L

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 46

    "Tara, makasih ya untuk hari ini.""Kamu bahagia kan?"Luna mengangguk. Lalu gadis itu langsung pamitan dengan Tara untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Setelah mengambil tas belanjanya di kursi belakang, Luna langsung turun dari mobil meninggalkan Tara yang masih berada di sana.Dari dalam mobil, Tara menatap Luna."Apa perasaanku saja sepanjang perjalanan pulang, dia lebih banyak diam. Bisa jadi dia sedang lelah makanya banyak diam," gumam Tara.Kemudian Tara pun keluar dari dalam mobil.Ketika mereka tiba di rumah Luna, hari memang sudah gelap. Begitu Tara masuk ke dalam rumah, lantai satu sangat sepi karena tidak ada satu pun di sana. Mbak Sarti, Mentari dan Pak Deden pasti sudah kembali ke paviliun belakang.Ia mendongak ke arah lantai dua dimana kamar Luna berada. Pintu kamar gadis itu tertutup. Sementara di dalam kamar Luna, gadis itu sedang menatap layar laptopnya. Setelah melihat senyum lebar Tara, Luna merasa penasaran dimana ia pernah melihat senyum itu.Luna merasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status