Share

Bab 4

Penulis: Nabila Ara
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 14:08:12

“Pelan-pelan Tara.”

“Saya sudah pelan, Non. Tahan sedikit ya,” ucap Tara.

“Ini semua gara-gara kamu.”

“Loh kok gara-gara saya, Non?”

“Iya. Kalau bukan gara-gara kamu, gelas itu nggak akan jatuh,” ketus Luna.

Saat Tara menoleh ke arah Luna, gadis itu langsung memalingkan wajahnya. Melihat itu, Tara tersenyum. Nyonya mudanya ini lucu sekali, bisa-bisanya ia menyalahkannya padahal tadi ia tidak melakukan apapun.

“Sudah selesai Non,” ucap Tara begitu selesai menutup luka Luna dengan plester luka.

Untungnya luka di kaki Luna tidak begitu besar.

Luna menoleh ke arah luka di kakinya. “Makasih,” lirih Luna pelan.

Tara hanya mengangguk saja. Jarak mereka berdua saat itu begitu dekat. Tara berdiri di depan Luna.

Tidak ingin berada di posisi seperti itu terlalu lama, Luna pun buru-buru turun dari meja namun karena buru-buru, Luna hampir terjatuh dan untungnya dengan sigap Tara memegang Luna hingga Tara memeluk Luna.

“Hmm... Nona mau kemana?” tanya Tara pelan.

Tatapan mata keduanya saling bertemu.

“Ma-mau ke kamar,” jawab Luna.

Tara langsung mengendong Luna dan gadis itu refleks mengalungkan tangannya di leher Tara.

Tara membawa Luna menuju kamar gadis itu di lantai dua.

Pria itu berusaha biasa saja apalagi sejak tadi Luna terus menatap wajahnya. Tara terus memfokuskan pandangannya ke depan agar segera tiba di kamar Luna.

Menggunakan kakinya, Tara membuka pintu kamar Luna yang kebetulan tidak tertutup rapat.

Pria itu langsung membawa Luna menuju ranjang. Dengan pelan-pelan, Tara membaringkan Luna di atas ranjang.

Tidak ingin terlalu lama berada di sana, apalagi tubuh Luna terlalu dekat dengannya, Tara memilih beranjak dari sana. Namun belum sempat ia beranjak, Luna menahan tangannya.

“I-iya Nona?”

“Makasih ya Tara,” ucap Luna. Bagaimana pun juga, Tara yang sudah membantu mengobati lukanya.

Tara mengangguk, dan pria itu langsung pergi dari kamar Luna.

Luna terus menatap kepergian Tara sampai pintu kamarnya tertutup.

“Ternyata saat dilihat lebih dekat, dia lebih tampan dari Agam. Dada bidangnya.... Issh cukup Luna jangan bayangkan hal lain,” gerutu Luna.

Luna bangun dari baringnya, lalu ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menatap luka yang diobati oleh Tara. “Mas Alvin aja nggak pernah ngobatin aku kalau lagi terluka. Mana tahu dia aku terluka atau nggak. Tapi Tara....” Luna terus menatap lukanya di kakinya.

Di sisi lain, Tara langsung masuk ke dalam kamarnya. Begitu pintu kamar tertutup, Tara mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan punggungnya pada daun pintu.

Beberapa saat yang lalu ia masih berusaha bersikap setenang mungkin di depan Luna. Apalagi saat mengendong Luna, ia dapat merasakan kulit lembut Luna ketika wanita itu mengalungkan tangannya di lehernya. Sentuhan kulit mereka membuat tubuhnya langsung bereaksi aneh.

"Astaga..." Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar.

Tatapannya  langsung turun ke arah bawah bagian tubuhnya pada gundukan di antara selangkangannya, lalu ia menghela napas panjang.

"Astaga Jhon, lihat itu saja kamu sudah bangun. Kita udah biasa lihat wanita yang lebih seksi dan molek dari Nona Luna, tapi kenapa kamu nggak pernah bereaksi. Kenapa harus sama Nona Luna bereaksinya?"

Tara langsung membuka kaos tanpa lengan yang ia pakai tadi. “Akibat ulahmu, Jhon aku harus mandi air dingin lagi. Padahal aku baru juga selesai mandi.”

Tara pun berjalan menuju kamar mandi, karena harus menidurkan benda pusakanya agar ia bisa istirahat dengan tenang malam ini.

Sementara itu kamar Luna, wanita itu belum bisa memejamkan matanya. Bahkan ia sudah beberapa kali mencari posisi baring yang nyaman tetapi tetapi aja ia tidak bisa memejamkan matanya.

“Aarrgghh... Aku kenapa sih? Masa ia gara-gara Tara mengobati lukaku, detak jantungku jadi seperti ini,” gumam Luna sambil memegang dadanya.

“Lagian dia juga kenapa harus jalan kayak tadi, seolah mau mendekatiku. Siapa pun bisa kaget kan? Arrgghh.. Kenapa harus kepikiran kejadian tadi, sih?” Luna mengacak-acak rambutnya, lalu menutup wajahnya dengan bantal.

“Cukup Luna, jangan pikirkan lagi. Sudah-sudah, ayo tidur! Jangan sampai besok pagi ada lingkaran hitam di matamu!”

Luna langsung menarik selimutnya hingga sampai leher.

Perlahan wanita itu memejamkan matanya hingga beberapa saat kemudian terdengar napas teratur dari Luna.

***

Pagi-pagi sekali, Tara sudah keluar dari dalam kamar. Ia hanya memakai celana pendek dan baju tanpa lengannya.

Pria itu ingin berolahraga di sekeliling kompleks.

Sebelum pergi olahraga, Tara berjalan menuju dapur karena ingin minum.

“Loh Mas Tara sudah bangun?”

Tara langsung menoleh dan ternyata ada Mbak Sarti dan Mentari yang sudah tiba di rumah utama. “Iya Mbak. Mau lari pagi dulu mumpung aku belum bertugas. Nona Luna juga masih tidur kan?”

“Nona biasa turun ke bawah kalau sudah waktunya sarapan, Mas Tara.”

Tara menoleh ke arah gadis muda di samping Mbak Sarti.

Melihat itu, Mbak Sarti langsung mengenalkan Mentari pada Tara karena kemarin memang Tara belum berkenalan dengan Mentari. “Mas Tara, ini Mentari keponakan Mbak yang juga bekerja di rumah ini.”

“Tari…” Mentari mengulurkan tangannya pada Tara dan langsung di sambut oleh pria itu.

Membalas uluran itu, Tara berujar singkat. “Tara.”

“Mbak baru sadar kalau nama kalian berdua hampir mirip,” ucap Mbak Sarti sambil terkekeh.

Tari langsung tersenyum malu-malu, sementara Tara hanya tersenyum tipis.

Tara menoleh ke arah jam dinding, kemudian pria itu langsung pamit pada Mbak Sarti dan Mentari untuk pergi lari pagi.

“Hussstt, jangan dilihatin mulu,” goda Mbak Sarti pada Tari.

“Mas Tara tampan banget ya, Bi. Lebih tampan dari Mas Agam, bodyguard Nona Luna sebelum Mas Tara.” Tari masih menatap ke arah kepergian Tara.

“Iya. Mas Tara lebih ramah juga. Tuan Alvin aneh, bukannya sering pulang ke rumah ini untuk menjenguk Nona Luna, eh malah menyiapkan bodyguard untuk menemani istrinya. Ada-ada aja emang tingkah orang kaya.”

“Namanya juga orang kaya, Bi, mau gimana lagi. Aku kadang kasihan sama Nona Luna, Bi. Cantik banget terus baik lagi tapi sayang diabaikan oleh suaminya. Non Luna kayaknya cocok deh sama Mas Tara, tapi kalau Mas Tara-nya nggak mau, biar aku aja sama dia, hihihi.”

“Hish, apa kamu ini. Ayo, kita lanjut kerja dulu,” ucap Mbak Sarti.

Beberapa jam kemudian, Luna keluar dari kamarnya. Meski luka di kakinya masih terasa sakit, Luna berusaha untuk menahannya. Ia turun ke bawah untuk mencari Tara. Namun saat ia di lantai satu, Luna sama sekali tidak menemukan keberadaan Tara.

“Mbak, ada lihat bodygoard itu dimana? Apa jam segini belum bangun juga dia?” tanya Luna.

Mbak Sarti diam sejenak, tetapi sesaat kemudian ia paham siapa yang dimaksud oleh Luna. “Mas Tara?”

“Iya, Mbak. Jam segini kok belum kelihatan?”

“Mas Tara sudah bangun pagi-pagi banget, Non. Bahkan tadi saat Mbak sama Mentari tiba di sini, Mas Tara sudah bangun. Mas Tara lagi olahraga di depan Non,” jawab Mbak Sarti.

Mendengar itu, Luna langsung meninggalkan dapur dan menuju ke depan rumah.

Tara baru saja menyelesaikan putaran terakhirnya mengelilingi kompleks perumahan elite tersebut.

Olahraga pagi memang sudah menjadi rutinitasnya sejak bertahun-tahun. Biasanya, ia mengawali hari dengan latihan beban di gym pribadinya.

Namun, sekarang semua itu harus ia tinggalkan untuk sementara waktu.

Karena sedang menjalankan misi, ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.

"Lumayan juga. Keliling kompleks dapat lima putaran." Tara memperlambat langkahnya menjadi jalan santai. Kaus tanpa lengan yang dikenakannya tampak basah oleh keringat.

Ia mengusap tengkuk menggunakan handuk kecil yang sejak tadi melingkar di lehernya.

Tak lama kemudian, gerbang rumah Luna sudah terlihat di depan mata.

Di depan rumah, berdiri seorang wanita yang sedang melakukan peregangan. Dan saat menyipitkan mata, Tara terkejut melihat wanita cantik sedang berdiri di sana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Celine Alo08
Mr. Jhon.... masih aman? ahahaah
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Lanjut, Thor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 51

    "Tara, Nona Luna mana?"Tara yang ingin kembali ke kamarnya menoleh ke ruang makan dimana Mbak Sarti sedang menata sarapan di sana."Nona ada di atas, Mbak. Mungkin di kamarnya," jawab Tara."Oh iya. Ini sarapannya udah siap.""Mau aku panggilkan, Mbak? Oh iya, aku kok belum melihat Mentari ya Mbak?" tanya Tara sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sejak tadi Mbak Sarti datang, Tara memang belum melihat keberadaan Mentari."Itu Mas Tara. Dari semalam, Tari nggak enak badan. Demam, suhu tubuhnya juga tinggi.""Loh. Nggak di bawa ke dokter Mbak?""Anu Mas, Tari nya nggak mau di bawa ke dokter. Padahal semalam Om-nya udah mau bawa dia ke dokter, tapi dianya menolak. Katanya minum obat nanti juga sembuh. Tapi loh Mas, tadi sebelum ke sini Mbak periksa tubuhnya masih panas banget.""Di bawa ke dokter aja Mbak. Biar lekas sembuh.""Iya Mas. Nanti Mbak coba bujuk Tari lagi biar mau ke rumah sakit. Mas Tara mau langsung sarapan atau nggak?"Tara menggeleng. "Aku sarapannya nant

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 50

    "Ini.... Namaku kenapa ada di sini?"Tara langsung mendekat ke Luna. "Coba aku lihat, Luna."Luna menyerahkan lembar itu ke Tara, tapi tangannya sudah gemetar waktu menyerahkannya. Dokumen itu berupa akta pengalihan saham, ditandatangani enam bulan lalu, dan di kolom penerima tercantum nama lengkap Luna tanpa satu pun kesalahan ketik."Enam bulan lalu itu..." Tara membaca tanggalnya sekali lagi. "Ini cuma dua minggu sesudah kecelakaan Nyonya Clarissa.""Aku nggak pernah tanda tangan apa pun soal ini. Sumpah, Tara, aku nggak pernah." Luna menggeleng beberapa kali."Kamu pernah dimintain tanda tangan sama Tuan Alvin atau asistennya buat urusan lain nggak? Yang katanya buat surat rumah, atau surat bank atau keperluan apapun? Coba di ingat-ingat lagi."Luna terdiam sebentar, ia mencoba untuk mengingat kenangan enam bulan lalu. "Hmm... Pernah sih, beberapa kali malah. Dia cuma nyodorin map, terus nunjuk bagian yang harus aku tanda tanganin. Aku nggak pernah baca isinya soalnya aku pikir i

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 49

    Alvin mengangkat kepalanya sebentar, lalu kembali menatap gelas air di depannya. "Terus soal apa?"Luna membuka mulutnya, tapi yang keluar cuma embusan napas panjang. Dia menoleh sedikit ke belakang, ke arah Tara yang berdiri diam di posisinya, lalu kembali menghadap suaminya sendiri."Nggak apa-apa. Lupain aja Mas.""Ya udah kalau nggak ada apa-apa." Alvin meraih gelasnya, meminum airnya sampai separuh, lalu meletakkannya kembali. "Oh iya, Clarissa titip salam. Katanya kalau kamu senggang, kamu boleh main ke rumah sana kapan aja.""Boleh main ke rumah sana? Rumah yang mana, Mas? Rumah kamu sama dia, atau rumah kita?""Luna?!" Alvin sedikit menaikkan nada suaranya, yang lantas membuat Luna semakin kesal mendengar itu."Aku cuma nanya, Mas. Nggak usah pakai nada gitu juga."Alvin memijat pangkal hidungnya, kemudian melirik jam tangannya. "Aku ada rapat jam delapan. Kalau nggak ada yang penting, aku balik sekarang.""Baru juga lima belas menit Mas di sini," decak Luna, sedikit kesal. "

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 48

    Luna meraih tangan kanan Tara, membuka telapaknya, lalu meletakkan kunci kecil itu di sana. Sesudah itu dia menutup jari-jari Tara dengan kedua tangannya sendiri, menahannya beberapa saat sambil menatap wajah pria di depannya."Nama yang kamu cari selama beberapa tahun ini, kemungkinan besar ada di dalam kotak itu."Kunci kecil itu masih tergenggam di telapak tangan Tara waktu Luna berdiri lebih dulu dari lantai lorong, menepuk-nepuk piyamanya yang kusut di bagian belakang."Sekarang aja kita buka, mumpung Mbak Sarti sama Mentari belum datang ke rumah utama.""Kamu yakin? Bagaimana jika memang semua bukti yang aku cari tidak ada di dalam kotak itu?""Makanya kita harus buka kotak itu dulu Tara. Kamu ingin semua misteri meninggalnya kedua orang tuamu segera terpecahkan? Kalau memang ternyata feelingku salah, artinya kita harus cari bukti itu di tempat lain, Tara."Tara diam tetapi ia masih belum mengalihkan pandangannya dari Luna."Selama ini feelingku selalu benar. Aku yakin Mas Alvin

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 47

    Tara mengatupkan bibirnya, tidak membantah sedikit pun. Tara memilih duduk di sofa, membiarkan Luna menyelesaikan apa pun yang mau dia katakan lebih dulu.Sesudah itu Tara mulai bercerita dari bagian yang paling bisa dia jelaskan, yaitu alasannya memilih masuk ke keluarga Mahawira dengan menjadi bodyguard, satu-satunya posisi yang memungkinkan dia berada di dalam lingkaran keluarga Mahawira tanpa perlu menunjukkan wajahnya di acara mana pun. Seolah semesta mendukung tujuannya, tanpa sengaja ia menyelamatkan Alvin dari serangan para preman. Karena itu jalannya untuk menjadi bodyguard di keluarga Mahawira semakin di permudah.Tara juga menyebut soal kamar kos di gang sempit yang disewa atas nama orang lain, soal mobil hitam yang ia pakai selama ini, sampai soal kacamata bingkai tipis yang cuma keluar kalau ada kemungkinan bertemu orang yang mengenali keluarganya."Berarti mobil hitam yang biasa kamu bawa itu punya Gilang?" Luna mengernyitkan dahi, sekaligus menyipitkan matanya."Iya, L

  • Bodyguard Menggoda, Nyonya Tergoda   Bab 46

    "Tara, makasih ya untuk hari ini.""Kamu bahagia kan?"Luna mengangguk. Lalu gadis itu langsung pamitan dengan Tara untuk masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Setelah mengambil tas belanjanya di kursi belakang, Luna langsung turun dari mobil meninggalkan Tara yang masih berada di sana.Dari dalam mobil, Tara menatap Luna."Apa perasaanku saja sepanjang perjalanan pulang, dia lebih banyak diam. Bisa jadi dia sedang lelah makanya banyak diam," gumam Tara.Kemudian Tara pun keluar dari dalam mobil.Ketika mereka tiba di rumah Luna, hari memang sudah gelap. Begitu Tara masuk ke dalam rumah, lantai satu sangat sepi karena tidak ada satu pun di sana. Mbak Sarti, Mentari dan Pak Deden pasti sudah kembali ke paviliun belakang.Ia mendongak ke arah lantai dua dimana kamar Luna berada. Pintu kamar gadis itu tertutup. Sementara di dalam kamar Luna, gadis itu sedang menatap layar laptopnya. Setelah melihat senyum lebar Tara, Luna merasa penasaran dimana ia pernah melihat senyum itu.Luna merasa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status