LOGINTak!Bunyi tuts mesin ketik itu menggema ke seluruh kompleks walaupun tidaklah keras, tetapi setiap orang di aula merasakan getarannya hingga ke telapak kaki.Sedangkan di layar pengawas, pintu-pintu besi di berbagai koridor mulai terbuka dan tertutup sendiri bagaikan ada kekuatan tak terlihat yang sedang bermain main seperti anak kecil di arena bermain. Lampu indikator pun seketika berubah warna dari hijau menjadi kuning, seakan seluruh sistem seolah sedang menunggu perintah berikutnya.Dengan kondisi mulai dilanda kepanikan, Raka menoleh kepada Kustodian,"Apa yang sedang dia lakukan?"Kustodian tidak langsung menjawab karena tatapannya masih terpaku pada mesin ketik tua di layar. "Itu bukan mesin ketik biasa." Ujarnya singkat."Tentu saja bukan," sahut Mira kesal karena Kustodian hanya mematung saja. "Yang ditanyakan oleh Raka barusan, kenapa seluruh bangunan bereaksi?"Lantas Kustodian menarik napas panjang. "Karena sejak awal bangunan ini tidak dikendalikan komputer karena bisa de
Suara sirene tidak berbunyi sama sekali sehingga suasana masih tenang, namun justru itulah yang membuat seluruh aula terasa ganjil, karena sudah jelas tampak di layar pengawas, iring-iringan kendaraan hitam berhenti sekitar lima puluh meter dari gerbang utama Depo 9.Sementara itu, tak satu pun anggota diluar sana yang langsung mendobrak atau memaksa masuk. Mereka tampak dengan sikap disiplin menunggu dalam diam, seolah memiliki keyakinan bahwa pintu akan dibukakan dari dalam.Raka memperhatikan monitor dengan sekasama, "Kenapa mereka tidak menyerang?"Pria berkacamata berseragam hitam menjawab tanpa mengalihkan pandangan. "Karena mereka tidak pernah memulai perang.""Lalu? Apa sebenarnya yang mereka tunggu?”"Mereka akan membuat lawannya saling menghancurkan lebih dulu." Jawab Pria berkacamata kalem.Sementara itu di ruang sidang, suasana mulai retak terbelah karena beberapa anggota Direktorat bergegas menuju pintu keluar, sedangkan yang lainnya tetap duduk.Ketua Sidang tampak berus
Pistol tua itu tergeletak di atas meja tanpa ada seorang pun yang berinisiatif untuk menyentuh, apalagi mengambilnya. Seluruh aula masih tenggelam dalam keheningan yang terasa lebih berat dan mengganggu daripada ancaman apa pun yang pernah mereka hadapi. Raka terus saja memandangi senjata itu dengan rasa galau tingkat tinggi yang membuatnya merasa serba salah dan serba takut akan konsekuensi dari pilihan yang akan diambilnya.Pergumulan pikiran dan batin Raka membuatnya memandang Kustodian dengan ekspresi teramat serius. "Kalau aku menolak? Apa yang akan terjadi kemudian?"Kustodian menjawab tanpa ragu. "Itu juga sebuah jawaban.""Kalau aku tidak membunuhmu..." Raka menelan ludahnya sejenak, lalu melanjutkan pertanyaannya, "...apa yang akan terjadi?""Yang terjadi adalah kalian yang akan terus mengejar serpihan informasi dan petunjuk, sedikit demi sedikit tanpa kejelasan, mungkin bertahun-tahun atau mungkin juga seumur hidup."Jawaban itu tidak terdengar seperti ancaman, melainkan ce
Lampu padam seketika hingga seluruh aula tenggelam dalam kegelapan yang nyaris sempurna dan nyaris tanpa suara yang terdengar.Lebih dari seratus orang yang memenuhi Ruang Sidang Utama tetap berdiri di tempat masing-masing, seolah mereka telah dilatih menghadapi keadaan seperti ini. Hanya napas mereka yang terdengar sedikit memburu walau masih dalam kondisi tenang.Lalu suara itu kembali muncul. "Akhirnya kita bisa bertemu secara langsung."Kini suara itu tidak lagi berasal dari pengeras suara ataupun hasil dari gema pantulan dinding, karena terasa begitu dekat dan begitu nyata.Raka memutar tubuhnya cepat untuk melihat sumber suara, namun hanya kekosongan yang dilihat karena tak seorang pun berada di belakangnya."Di mana kau?" Serunya dengan nada sedikit menantang.Tetapi tidak ada jawaban.Sementara itu, terdengar langkah kaki dari lorong bata merah yang baru terbuka beberapa menit sebelumnya.Tok..., Tok..., Tok...Seberkas cahaya kecil berwarna kuning muncul di ujung lorong seper
Selama untuk beberapa waktu, tak seorang pun diantara mereka yang mau menyentuh gulungan film mikro itu terlebih dahulu, bahkan Hadi dan Surya pun enggan melakukannya, seolah benda sekecil itu memiliki bobot yang jauh lebih besar daripada seluruh arsip Proyek Kamar Nol.Namun setelah menimbang beberapa saat, akhirnya Raka memberanikan diri untuk mengangkatnya ke arah cahaya. Ternyata di dalam gulungan transparan itu tampak ratusan bingkai gambar yang sangat kecil dan itu bukanlah dokumen maupun foto, melainkan potongan-potongan denah."Apakah itu blueprint?" tanya Mira.Hadi merespon dengan menggeleng pelan. "Sepertinya yang ini lebih tua usianya.""Lebih tua dari apa?" Tanya Mira lagi dengan nada makin penasaran."Lebih tua dari hotel, dari Depo 9, bahkan lebih tua daripada Proyek Kamar Nol." Sahut Hadi menerangkan dengan suara yang terdengar lebih pasti daripada sebelumnya.Jawaban Hadi barusan membuat ruangan kembali sunyi, sampai Pria berkacamata berseragam hitam melangkah mendeka
Kemudian foto itu berpindah dari tangan ke tangan dalam keheningan karena tak seorang pun dari mereka yang berani berbicara. Semua mata yang melihat foto itu pasti tertuju pada sosok samar di dekat papan gambar. Bukan wajahnya yang menarik perhatian, melainkan bayangannya. Raka mengambil kaca pembesar dari meja sekretariat sidang lalu meletakkannya di atas foto."Lihat sepatunya." Semuanya langsung mendekat karena hendak melihat apa yang ditunjukkan oleh Raka.Ternyata bayangan itu mengenakan sepatu kulit mengkilap, sedangkan empat orang lainnya yang sedang rapat memakai sepatu proyek yang penuh debu semen."Dia bukanlah pekerja lapangan di proyek," gumam Bima," Dan dia datang setelah rapat dimulai."Akan tetapi Lestari langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, sepertinya bukan begitu.""Kenapa?" Raka bertanya dengan penuh rasa penasaran."Kalau ia datang belakangan dan berada di dalam ruang rapat, bayangannya akan jatuh ke arah pintu." Lestari berusaha memberi penjelasan sambil menu
Raka membeku mematung tak mampu bergerak. Napasnya tercekat di tenggorokan. Suara itu terlalu dekat, seolah seseorang benar-benar berdiri di belakangnya, menempel di punggungnya. Ia menoleh cepat. Kosong. Hanya pintu kamar mandi yang masih terbuka sedikit, menganga seperti mulut gelap.“Ini nggak
Hujan turun seperti seseorang sedang menghapus dunia, berhiaskan kilatan petir yang liar bebas menyambar.Raka menatap layar ponselnya, sinyal naik turun di sudut kanan atas. Jalanan yang mereka lewati sejak tadi berubah jadi jalur sempit, gelap, dan sepi. Tidak ada lampu jalan. Tidak ada rumah. Ha
Rak! Buruan! Kita check in dulu!”Suara Naya terdengar lagi, Sama seperti sebelumnya dengan nada dan intonasi yang identik, seolah tidak pernah terjadi apa pun. Suara ceria kesukaan Raka.Raka tidak langsung menjawab. Ia duduk di tepi kasur, berkeringat dingin di pelipis meski kamar terasa normal.
Naya mundur satu langkah seolah tubuhnya menolak apa yang terlihat. “Itu…,bukan gue!” suaranya bergetar penuh penyangkalan cenderung sedikit histeris. Mendengar itu, Raka tidak menjawab karena dia juga melihatnya. Sosok di ujung lorong itu, tinggi, bentuk tubuh, rambut, bahkan cara berdirinya sama







