LOGIN"Euggk!" Sefan cegukan, bayi mungil itu terlihat polos dan begitu menakjubkan di mata Sean. Dalam gendongannya, bayi kecil mereka yang baru berusia beberapa minggu itu bergumam dan menggeliat kecil dalam. Bayi itu membuka mata sipitnya sebentar sebelum kembali terlelap, seolah memahami bahwa dunia di luar sana kini adalah tempat yang sangat aman. Sean menunduk, mengecup lembut kening putranya yang masih merah dan hangat. "Papa bawa kamu ketemu Oma dulu, gapapa sma Oma dulu kan?" bisik Sean pelan, suaranya nyaris tak terdengar. Sefan hanya bisa mengulat, masih belum bisa menjawab pertanyaan Papanya. Dengan langkah pelan namun pasti, Sean menuruni tangga marmer yang melingkar. Setiap anak tangga seakan menjadi penghubung antara *dunia tugas menjaga istri* dan *dunia kehangatan keluarga besar Narenda*. Suara riuh rendah perpaduan antara tawa renyah adik bungsunya, suara televisi, dan denting cangkir teh samar-samar terdengar dari ruang keluarga di lantai dasar. Saat Sean men
Aroma khas bumbu rendang dan gulai yang gurih langsung menyapa indra penciuman semua orang yang sekarang tengah duduk di dalam mobil, rasanya mobil ini bak toko Padang berjalan. Papa Narendra, Alex dan Ardi (selaku sopir di sini) hanya bisa menelan ludah. Karena Sean berpesan, semua makanan yang ia beli khusus untuk istrinya. Kalau mereka mau, beli sendiri. Karena tadi Alex dan papa Narendra tidak ikut turun, sekarang Alex tengah berkutat dengan ponselnya. Memesan beberapa lauk pauk maaan padang dari resto yang sama dengan Sean sebelumnya, yaitu *RMP, Pagi Sore*. Alex memesan makanan dengan porsi besar, untuk dijadikan menu makan malam oleh keluarga istrinya atau keluarga Narendra nanti. Sesaat setelah tiba di kediaman orang tuanya, Sean melangkah melewati pintu depan rumah keluarga besar Narendra egan semangatnya. Di tangan kanannya, sebungkus Nasi Padang hangat— lengkap dengan ekstra kuah dan sambal ijo kesukaan Fara terayun pelan. Senyum tipis terukir di wajah lelahnya
Siang itu terasa lebih terik dari biasanya. Kamu baru saja berhasil menidurkan Sefan, buah hati kecil kalian yang baru berusia dua minggu itu di dalam box bayinya. Fara menghela napas lega, Mama muda itu melangkah pelan menuju tempat tidur, berniat merebahkan diri sejenak di ranjang sebelum putranya kembali bangun. Namun, belum sempat punggung Fara menyentuh bantalan ranjang, ponsel yang tergeletak di meja nakas tpat disebelah ranjang terlihat bergetar hebat. Nama "Suamiku" muncul di layar, disertai dengan ikon panggilan video. Dengan mata yang masih setengah mengantuk dan rambut yang mungkin sudah tidak karuan, Fara menggeser tombol terima. Wajah Sean memenuhi layar ponsel. Fara tahu betul jika suaminya tampak sedang berada di ruang istirahat kantornya, wajah Sean terlihat lelah namun matanya langsung berbinar begitu melihat wajah Fara. "Mau bobo, ya?" tanya Sean lembut, suaranya terdengar berat dan menenangkan di telinga Fara. Fara menguap lebar, menutupi mulut dengan tangan
Suasana ruang makan kediaman Narendra pagi itu benar-benar hangat, cenderung kelewat bising. Jam baru menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit, namun riuh rendah di ruang tengah sudah mengalahkan ramainya pasar pagi. Dua perempuan tangguh keluarga itu, Mama Sarah dan Sella, tampak seperti pemandu sorak yang baru saja memenangkan kompetisi nasional. "Ih ya ampun... ganteng banget keponakan aku!” heboh Sella, tangannya gemas mencubit angin di depan wajah sang bayi. "Iya dong, cucu Oma! Bibirnya mirip banget sama Opa-nya waktu muda, hidungnya yang mancung ini mutlak turunan Oma!" jawab Mama Sarah tak kalah hebohnya, menepuk-nepuk pelan popok kain yang membungkus tubuh mungil itu. Mama Sarah dan Sella sama sekali tidak menyentuh sarapan mereka pagi ini. Keduanya terlalu sibuk mengurus Seven di ruang tengah. Bayi mungil yang menjadi pusat semesta baru di rumah itu tampak tenang tiduran di atas baby lounger, menikmati ASI dari dalam dot yang sebelumnya sudah disiapkan dan dipompa ole
Kemegahan hotel bintang lima malam itu menjadi saksi bisu bagi babak baru keluarga besar Narendra. Lantai dansa yang disulap menjadi taman artifisial penuh dengan bunga lili putih dan lampu-lampu kristal yang berpijar hangat. Hari ini, tepat satu minggu setelah jagoan kecil yang dinanti-nanti itu lahir ke dunia, acara besar yang disiapkan dengan penuh ambisi dan kasih sayang oleh Papa Narendra akhirnya tiba. Sebagai konglomerat yang dihormati, Papa Narendra tidak tanggung-tanggung. Pengenalan generasi ketiga keluarga Narendra, cucu pertama di keluarga besar mereka, di siapkan dengan begitu mewah dan megah. Ratusan tamu VIP, mulai dari kolega bisnis, pejabat, hingga kerabat dekat, hadir dengan pakaian terbaik mereka, memenuhi aula utama yang dipenuhi atmosfer sukacita. Di atas panggung utama yang dihiasi dekorasi elegan, Sean berdiri dengan tegap. Di sampingnya, Fara tampil begitu anggun mengenakan gaun panjang berwarna pastel yang longgar namun tetap memancarkan pesona seoran
Rumah postpartum pilihan Mama Sarah benar-benar berasa kayak lagi liburan di resort mewah buat Fara dan Sean, jauh banget dari drama pusingnya urusan rumah yang biasanya bikin stres pasutri itu. Karena begitu masuk kamar, Fara langsung bisa rebahan santai di kasur empuk khusus yang bikin punggungnya nyaman, sementara Sean dengan siaga langsung beresin barang-barang mereka tanpa membiarkan istrinya ngangkat barang seberkas pun. Di sini, keseharian mereka seru skali karena diisi sama kelas parenting privat bareng Suster Neni yang super ramah dan telaten ngajarin mereka berdua trik-trik dasar merawat bayi. "Nah, Mama Fara sama Papa Sean, pas membedong si kecil itu kuncinya kainnya jangan terlalu neken dada jagoan kita ya, tapi bagian kakinya harus agak rapat biar dia ngerasa anget kayak waktu di dalem perut Mamanya," kata Suster Neni sambil mencontohkan cara ngelipet kain bedong motif lucu di meja bayi. Sean yang penasaran langsung ngedeket sambil masang muka serius, nyoba mera
Setelah selesai mengurus semua administrasi Sean kembali ke kamar dengan selembar kertas pemulangan oasien atas nama istrinya, dan juga selembar surat kontrol milik istrinya untuk minggu depan. Suasana di kamar rumah sakit terasa jauh lebih cerah, aroma obat-obatan yang sempat membayangi hari-hari
Sean tengah menatap sang istri lamat-lamat dari kursi yang berada tepat di samping ranjang rumah sakit. Tatapan pria itu begitu lekat, seolah takut jika dalam hitungan detik saja wanita yang sedang duduk bersandar itu akan kembali menghilang dari pandangannya lagi. Fara yang duduk di atas ranjang
Setibanya di pekarangan rumahnya, Sean mentap sang istri yang masih sesenggukan di sampingnya. "Kenapa sih nangis begitu, bikin Mas khawatir tau nggak." ucap Sean.Fara melirik ke arah suaminya sekilas, lalu membuang pandangannya ke sembarang arah lagi. "Hey, kenapa malingin wajahnya dari Mas?" bin
"Nona, selamat. Anda positif hamil! Usia kandungannya *empat minggu*." Pernyataan itu, membuat dunia Fara seketika melenyap, matanya perlahan tetlihat kabur dan hampir gelap. Suara bising pendingin ruangan, aroma khas antiseptik, hingga hiruk-pikuk lorong rumah sakit di balik pintu kayu itu seolah







