Home / Romansa / Bos, Jangan! Nanti Ketahuan / Bab 4. Tawaran Kerja

Share

Bab 4. Tawaran Kerja

Author: Hare Ra
last update Last Updated: 2025-12-04 10:43:58

"Bagaimana?" tanya Haris setelah beberapa saat Anton belum memberikan jawaban.

Tapi, di matanya terlihat jelas kalau dia sulit menolaknya.

Bagaimana bisa? Bertahun-tahun dia berusaha bekerja sebaik mungkin, mendekati dan mencari perhatian bos. Bahkan menjilat pun kerap dilakukannya agar terlihat bos.Dia tidak kunjung naik jabatan. 

Tapi ini? Hanya mengizinkan Selena bekerja, dia akan menjadi Manajer.

"Coba saya tanyakan Selena dulu, Pak."

"Kalau dia bersedia, besok langsung temui saya di kantor," jawab Haris sambil tersenyum.

"Baik, Pak."

Sementara itu, Selena yang masih di dapur tampak bingung sendiri. Haruskah dia menjadi asisten pribadi Haris? Tapi, ini adalah kesempatan yang dia tunggu-tunggu.

Tidak berapa lama, Haris berpamitan dari pasangan suami istri itu. 

Selena dan Anton mengantarkan sang bos hingga depan pintu.

"Berikan jawabannya besok," ucap Haris kepada Anton, tapi ekor matanya melihat ke arah Selena.

"Baik, Pak."

Di kamar Anton dan Selena.

Tubuh Anton penuh peluh, dia baru saja menuntaskan hasratnya. Sedangkan Selena, hanya terbaring diam.

Anton berbaring di sampingnya, nafasnya naik turun. Dia tidak peduli dengan Selena yang bahkan belum mencapai puncaknya.

Asal Anton sudah puas, dia akan menghentikan permainan, dia tidak bertanya apakah Selena sudah puas atau belum, baginya itu tidak penting.

"Kamu ditawari Pak Haris bekerja," ujar Anton setelah nafasnya kembali normal.

Selena menarik selimut, menutupi tubuhnya yang masih telanjang.

"Kerja apa?" tanya nya, pura-pura tidak tahu. 

Padahal Selena sempat mendengar pembicaraan Anton dan Haris tadi.

"Menjadi asisten pribadinya," jawab Anton.

"Sekretaris maksudnya?" tanya Selena.

"Ya itu, karena memang sekretaris Pak Haris sudah resign. Yang sekarang itu hanya pengganti sementara. Tapi, beliau meminta merangkap menjadi asistennya," jawab Anton.

"Oh." Selena hanya menjawab singkat. 

Dia pun masih ragu dengan tawaran itu. Tatapan tak biasa dan sentuhan yang berani itu membuat Selena berpikir, apakah tawaran ini karena kerjanya atau….

"Kamu mau?" tanya Anton.

"Kamu pasti tidak mengizinkannya, percuma juga walaupun aku mau," jawab Selena lemah.

Anton terdiam, tatapannya tertuju pada langit-langit kamar yang putih.  Jabatan Manajer begitu menggiurkan. Kapan lagi bisa mendapatkan promosi dengan mudah?

"Menurutku, kamu harus ambil deh," ucap Anton akhirnya.

"Hah?" Selena terkejut mendengarnya.

Anton tiba-tiba mengizinkannya bekerja. Bukankah itu hal yang aneh? 

Selena memang tidak mendengar tawaran Haris untuk Anton. Makanya dia syok saat tahu Anton mengizinkannya.

"Mumpung aku berbaik hati. Jangan sampai aku berubah pikiran," sambung Anton dingin.

"Kamu beneran boleh?" tanya Selena.

"Besok langsung temui Pak Haris," ujar Anton mengabaikan pertanyaan Selena, lalu membelakangi Selena. 

Tidak berapa lama, terdengar dengkuran halus dari bibir Anton, artinya dia sudah terlelap.

Keesokan harinya...

"Mas, kamu beneran bolehin aku bekerja?" tanya Selena sambil mematut diri di depan cermin.

Mengenakan kemeja putih, dan celana kulot hitam. Dengan bando dari pita berwarna putih, penampilan Selena terlihat sempurna. 

"Jangan banyak tanya. Kalau mau kerja ya kerja aja. Aku sudah pusing mendengar rengekanmu setiap hari," jawab Anton.

"Terima kasih, Mas."

"Hmmm."

Anton melirik ke arah sang istri, tanpa polesan make up yang tebal istrinya terlihat begitu cantik. Ada rasa tidak rela. Tapi, ini juga demi dirinya. 

Dia akan segera menjadi Manajer.

Tiba di kantor, Anton hanya memberikan petunjuk kepada Selena dimana ruangan Haris.

"Jangan tunjukkan di depan orang kalau kita suami istri," ujar Anton kepada Selena.

"Hah? Kenapa, Mas?" tanya Selena bingung.

"Bisa gak sih kamu itu gak banyak tanya! Jangan terlalu cerewet!" kesal Anton dan segera meninggalkan Selena menuju ruangannya.

Dengan petunjuk dari Haris, Selena akhirnya tiba di depan sebuah ruangan dengan papan nama tergantung diatasnya "Haris Pradana - CEO".

Tok! Tok! Tok!

Ragu-ragu Selena mengetuk. 

"Masuk!" terdengar suara dari dalam.

Ceklek!

Selena meraih handle pintu dan masuk ke ruangan Haris. Harum bunga mawar lembut menyambutnya. Ternyata, Haris memiliki sisi feminim juga.

"Selena?" tanya Haris yang seolah terkejut melihat kedatangan Selena di ruangannya.

"Iya, Pak. Mas Anton bilang, bapak membutuhkan asisten dan meminta saya datang," jawab Selena sambil menunduk.

"Iya, silakan duduk."

Selena  duduk pada kursi di hadapan Haris, tapi tatapan lelaki itu seperti sedang menelanjanginya. Menusuk, tapi penuh makna.

"Sudah tahu tugasnya?" tanya Haris.

Selena menggeleng. "Mas Anton hanya bilang sebagai asisten."

Haris bangkit dari kursinya, kemudian memutar layar komputernya hingga menghadap Selena.

Haris berdiri di belakang Selena, jarak mereka sangat dekat. Bahkan, Selena bisa merasakan embusan nafas Haris di samping telinganya.

"Ini tugas kamu sebagai sekretaris, termasuk mengatur semua jadwalku," ujar Haris tangannya menyentuh bahu Selena.

Selena diam, dia merasa tidak nyaman. 

Tangan Haris meremas bahunya dengan lembut.

"Berapa gaji yang kamu minta?" tanya Haris setengah berbisik di telinga Selena.

"Sa-saya tidak tahu, Pak," jawab Selena.

"Tidak perlu gugup. Sebutkan saja, aku akan menyetujuinya," ucap Haris.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 119

    “Kenapa kenal dengan Anton?” tanya Bu Tini sambil menatap Haris penuh selidik.Tatapan itu tajam, seolah sedang menguliti Haris dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sepertinya, sampai detik ini pun mereka belum puas mencari celah untuk kembali menyalahkan Selena. Seolah apapun yang terjadi, selalu ada kesalahan yang bisa diarahkan pada wanita itu.“Ini Pak Haris, bos aku dulu, Ma,” jawab Anton pelan, nyaris tidak berani mengangkat wajah.“Yang dulu mentransfer uang?”“Iya, Ma.”“Jadi selama ini dia memang selingkuh? Kenapa kamu gak buka aib dia? Jangan hanya kamu yang disalahkan,” tanya Bu Tini lagi, nadanya meninggi.Selena menarik napas dalam-dalam. Kesabarannya benar-benar berada di batas paling tipis. Tangannya refleks menggenggam pergelangan Haris, berniat mengajaknya pergi dan mengakhiri semua ini.“Bu, yang selingkuh itu anak Ibu, bukan aku,” jawab Selena akhirnya, suaranya dingin dan tegas.Ia benar-benar menarik Haris, berniat melangkah pergi. Namun Haris justru menghentikann

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 118

    “Mama, mau es kim.” Haisa menarik tangan Selena sambil menunjuk ke sebuah kedai es krim yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.Sebenarnya, sejak tadi Haisa sudah merengek kepada Haris. Namun sang ayah belum mau menuruti keinginannya karena mereka belum makan siang. Haris berjanji es krim itu bisa dibeli setelah perut Haisa terisi. Menurutnya, perut kosong lalu diisi makanan dingin bukan ide bagus.Namun seperti anak kecil pada umumnya, Haisa tidak menyerah begitu saja. Kalau satu orang menolak, masih ada orang lain yang bisa diajak bersekutu. Kali ini targetnya adalah ibunya. Meski peluang dikabulkan lebih kecil, Haisa tetap mencoba.“Nak, es krimnya nanti ya,” ujar Haris sambil mendekat, mencoba menenangkan.Haisa mendengus kecil, bibirnya maju ke depan, tanda protes yang mulai muncul.“Pak Haris?”Haris mendongak. Senyum tipis langsung terbit di wajahnya ketika melihat siapa yang berdiri di depan. “Pak Anton? Ada di sini juga? Kok jadi merasa dunia ini semakin sempit ya.”Anton

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 117

    “Kamu tidak tahu akibatnya ke aku nantinya,” gumam Selena lirih. Tatapannya menunduk, seolah beban di dadanya terlalu berat untuk diangkat dengan kata-kata.Haris meraih tangan Selena, menggenggamnya dengan mantap. Dia menatap wajah wanita itu lekat, memastikan Selena benar-benar mendengarnya. “Sel, Pak Dirga bukan orang yang mudah menghakimi. Dia tidak akan menyebarkan cerita ini ke mana-mana sampai kamu sendiri siap. Seperti kamu percaya Mala dan Bian, seperti itu juga aku percaya Pak Dirga.”Selena menghela napas panjang. “Kamu baru kenal sama beliau. Kenapa bisa langsung percaya?”“Dia anak buahku juga,” jawab Haris tenang. “Aku menilainya dari caranya bekerja, dari sikapnya selama ini. Dan aku percaya.”“Bagaimana kalau dia tidak seperti yang kamu yakini?” Selena masih belum sepenuhnya yakin. Ada ketakutan yang sulit ia jelaskan, takut jika hidupnya kembali berantakan hanya karena satu keputusan.Haris tidak langsung menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Selena sedikit lebih era

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 116

    “Saya masih menunggu Bian,” ujar Haris, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meskipun pikirannya tidak berhenti berputar.Apalagi melihat tatapan mata Pak Dirga. Lelaki itu sudah dewasa, dia paham apa yang sebenarnya terjadi yang dilihatnya.Pak Dirga berjalan mendekat ke ranjang Selena. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran kepada admin kebanggaannya yang sangat pintar.“Bian masih di kantor polisi, Pak. Tadi Dion langsung kita serahkan ke pihak berwajib. Jujur saja, tidak ada yang menyangka akan sejauh ini. Selama ini Dion terlihat baik, sopan, dan tenang,” jawab Pak Dirga.Haris hanya mengangguk singkat. Pikirannya kembali ke kejadian di kantor, saat pintu ruangan itu didobrak dan Selena tergeletak dengan darah mengalir di kepalanya. Setiap detailnya masih terlalu jelas.Beberapa rekan kerja bergantian masuk ke kamar Selena. Mereka membawa buah, bunga, dan kata-kata penguatan. Namun, tatapan mereka tidak sepenuhnya netral. Ada rasa penasaran

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 115

    “Jangan berkata seperti itu,” ujar Haris mengelus kepala Selena dengan lembut.“Tapi—““Bukan kamu yang salah, tapi dia. Dan percaya padaku, dia akan menyesal setelah ini.”Airmata Selena tidak mau berhenti, rasanya begitu sesak kalau mengingat bagaimana Dion memaksanya. Lelaki itu yang selama ini terlihat santai dan sabar, dia mendekati Selena dengan caranya.Tapi, entah mengapa hari ini Dion seperti kerasukan setan.“Aku mau pulang,” rengek Selena kemudian.Selena sudah merasa baik-baik saja, dia terbayang Haisa akan mencarinya nanti kalau dia tidak pulang. Sekalipun Haisa dekat dengan Bu Wati, tapi Haisa setiap sore akan selalu menunggu kedatangan ibunya.“Kamu masih harus perlu dirawat, Sel. Besok kita akan cek kepala kamu, takutnya ada masalah dari benturan tadi,” jawab Haris.“Aku gapapa kok.”“Kita gak tahu ada apa-apa atau gaknya kalau gak periksa, Sel.”Selena menggelengkan kepalanya. “Haisa sendirian.”“Aku sudah menelpon Ibu, sudah memberitahukan keadaan kamu disini. Dan ib

  • Bos, Jangan! Nanti Ketahuan   Bab 114

    “Hah?”Bian tampak bengong, matanya menatap kosong tanpa fokus. Teriakan Mala justru membuat kepalanya semakin penuh. Otaknya seakan berhenti bekerja.Bau darah yang menyengat hidungnya membuat dadanya mendadak sesak. Napasnya memburu, keringat dingin muncul di pelipis. Trauma lama itu datang tanpa permisi.“Bian!” bentak Mala lagi, kali ini lebih keras.Haris yang mendengar teriakan Mala itu tersentak. Ia tidak menunggu lebih lama. Dengan gerakan cepat, ia segera menggendong tubuh Selena dengan hati-hati. Wajah Selena pucat, darah mengalir di bawah kepalanya, membuat jantung Haris serasa diremas kuat-kuat.“Aku akan membawanya ke rumah sakit!” ucap Haris tegas.Mala segera menarik tangan Bian agar ikut bergerak. Langkah Haris panjang dan cepat menuju mobilnya.Di belakang mereka, beberapa karyawan sudah mengamankan Dion. Lelaki itu terduduk lemas, wajahnya babak belur, sudut bibirnya berdarah. Matanya terpejam, seolah baru sadar dengan apa yang telah ia lakukan.Sebelum benar-benar p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status