LOGINHai, maaf belum fokus update tiap hari nih cerita Jordan. Bulu mata authornya akhir-akhir ini sering melakukan meeting hahaha. Ayuk komen dan vote dulu lah biar semanga :D Love you all!
Dua bulan telah berlalu. Keadaan di Swedia yang sempat gempar karena kejahatan Mister Bough dan Ben Horik, kini sudah kembali tenang.Seminari membuat permintaan maaf secara terbuka di media yang ditujukan kepada Jordan dan keluarganya. Namun, Jordan menolak untuk muncul atau menanggapi pernyataan dari institusi tersebut.Bagi Jordan, semua itu sudah menjadi masa lalu. Ibunya, Mary Helena, bahkan telah meninggal dunia dengan damai tanpa pernah menyimpan rasa sakit hati ataupun dendam atas fitnah keji yang pernah dialaminya.Kendati demikian, bayang-bayang masa lalu belum sepenuhnya lenyap. Mister Bough dan Ben Horik masih belum berhasil diringkus oleh agen intelijen negara yang terus memperketat pencarian. Pemerintahan Swedia juga telah berkoordinasi secara intensif dengan Interpol serta jaringan agen intelijen negara-negara tetangga untuk menutup selur
Kemarahan yang sama kini juga meletup di setiap sudut jalanan Swedia. Bukti video amatir warga yang terekam kamera ponsel, yang secara kebetulan pernah melihat Yuri dan Vincent berkencan di tempat hiburan setelah 'kematian' yang diumumkan seminari, berhamburan di media sosial, semakin memperkuat bukti bahwa seluruh skenario keji itu murni rekayasa busuk untuk menumbalkan Jordan."Mereka benar-benar iblis berwujud manusia! Tidak cukup dengan menghancurkan masa depan Jordan, bahkan setelah Jordan dibebaskan pun mereka masih memfitnahnya dengan menyebut monster pembunuh kejam!" caci para warga sambil meludah, seolah membuang sial karena sempat mempercayai fitnah rekayasa Mister Bough dan Ben Horik.Di ujung siaran investigasi nasional, layar televisi serentak menampilkan sebuah logo resmi keamanan negara dengan deretan angka tebal berwarna merah menyala. Sebuah imbauan tegas berkumandang dari pen
"Ya Tuhan... Apa-apaan ini?!" seru seorang frater senior dengan suara gemetar, menatap angka-angka dan aliran dana yang terpampang lebar pada layar di depan mereka semua."Jadi... selama ini dana operasional yang menyokong Seminari ini... berasal dari dividen aset perusahaan milik mendiang Keigo Watanabe, papa kandung Jordan Smith Watanabe?" lirih pimpinan Seminari hampir limbung, memandang tajam pada wakilnya dan beberapa staf yang bekerja di bagian keuangan.Selama ini Seminari mengira sokongan finansial terbesar tersebut berasal dari donasi Ben Horik, yang selalu membanggakan diri di hadapan mereka semua.Namun, dokumen negara yang diretas oleh Badan Intelijen Negara, dengan bantuan Marco yang telah membukakan celah keamanan sistemnya, membongkar data tersebut sepenuhnya.Marco, sebagai asisten setia Keigo, telah mengurus perusahaan mendiang Keigo Watanabe atas permintaan Mary Helena Smith demi mendukung pendidikan Jordan di Seminari. Selama lebih dari dua belas tahun, setiap bulan
Gerakan Badan Intelijen Negara di bawah komando langsung Menteri Jonas Lindolm bergerak bagai badai tanpa belas kasihan.Hanya dalam hitungan jam setelah surat perintah darurat ditandatangani, seluruh jaringan sirkuit keuangan yang menjadi urat nadi kekaisaran bisnis Mister Bough dan Ben Horik dipotong satu persatu dari akarnya.Di sebuah ruang kendali Badan Intelijen Negara yang dipenuhi layar monitor raksasa, Elias berdiri tegak di samping Menteri Jonas, mengawasi langsung operasi pemblokiran aset serentak tersebut."Laporan masuk, Tuan Mentri," lapor seorang agen senior sambil mengetik cepat di konsol utamanya."Sistem perbankan siber kita berhasil menyusup dan mengunci seluruh brankas digital milik Mister Bough. Tempat-tempat hiburan malam mereka memang masih buka dan beroperasi seperti biasa di permukaan, tapi sistem pencucian uangnya sudah lumpuh total." ucap sang agen senior melaporkan. "Setiap transaksi keuangan dikawal orang kita yang akan memasukkan semua pendapatan ke kas
Di kediaman Jola, Jordan memangku Joshua yang ia ayun pelan di dalam dekapannya, duduk berdampingan dengan Lagertha, ketika Marco menyalakan layar proyektor yang merekam seluruh jalannya rapat rahasia dari ruang kerja Menteri Jonas Lindolm.Suara rekaman itu menggema, memperdengarkan setiap kata dari pengakuan Tiger. Serta reaksi para pejabat pemerintahan di dalam ruangan rapat.Air mata Vanesha langsung meluncur bebas, membasahi pipinya. Seketika bayangan kelam itu kembali berkelebat di kepalanya, teringat akan orang tuanya, para tetangga, teman-teman masa kecilnya, hingga anak-anak tak berdosa di pemukiman tempat tinggalnya dulu yang tewas terpanggang kobaran api besar akibat kebejatan Mister Bough dan Ben Horik.Samantha yang duduk di samping Vanesha langsung merengkuh pundak gadis itu erat-erat, menyalurkan kehangatan, "Semuanya akan segera usai, Ness
Sebagai Menteri Keamanan Nasional Swedia yang wilayah strategisnya membentang hingga gerbang Eropa Utara, Jonas Lindolm memiliki otoritas penuh untuk menyelidiki segala ancaman yang merongrong kedaulatan negeri.Di dalam sebuah ruang rapat yang dijaga ketat, suasana tampak tegang. Mentri Jonas duduk di ujung meja bundar bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Kepala Badan Intelijen Negara, serta Jenderal Karl, jenderal tua berwibawa dengan deretan tanda jasa di dada.Di hadapan para pejabat itu, Elias, asisten Mentri Jonas, berdiri sambil menyambungkan perangkat yang menampilkan laporan keamanan terbaru ke layar monitor besar dalam ruangan."Kita tidak bisa tinggal diam lagi," buka Menteri Jonas dengan suara baritonnya yang tegas, memecah keheningan ruangan.Mentri Jonas mendorong beberapa berkas laporan ke tengah meja, "Dalam beberapa minggu terakhir, masyarakat di wilayah perbatasan utara dilanda ketakutan luar biasa. Ada teror psikologis yang masif, laporan hilangnya warg
Jordan menengadah ke atas kaca bening di langit-langit ruangannya dan kembali memperhatikan jika air merembas dari langit-langit ke dinding. Titik air yang sebelumnya menimpa kepalanya sudah tidak ada, namun dinding batu ruangannya masih sangat lembab."Jika ruangan ini paling atas dan bisa meliha
“Aku tidak berzina dan juga bukan pembunuh!” tegas Jordan dengan bibir berdesis yang dicengkeram kuat oleh Langley. Langley tertawa terbahak sangat nyaring bergema yang kemudian melepaskan cengkeramannya pada dagu Jordan. “Kau pikir siapa dirimu, Jordan? Ben Horik memerintahkan untuk mengeksekusi
Jordan menemukan sebuah batu yang dia banting dan pukulkan agar meruncing. Dengan batu tersebut Jordan membuat coretan untuk menghitung hari pada dinding batu. Telah dua tahun berlalu sejak Jordan pertama kali di bawa ke penjara terpencil yang terletak dalam pulau pada tengah lautan. Tubuh Jordan
Lukas Layton, salah satu Pastur yang sangat mengenal Jordan dan sering bertemu Mamanya, terkejut melihat Mary Helena dan Siggy didorong hingga terjatuh ke lantai. “Oh, kalian tidak apa-apa? Ayo berdirilah,” Lukas membantu menarik lengan Mary Helena dan Siggy yang bergegas bangkit membantu Nyonya m







