LOGIN"Ya Tuhan... Apa-apaan ini?!" seru seorang frater senior dengan suara gemetar, menatap angka-angka dan aliran dana yang terpampang lebar pada layar di depan mereka semua."Jadi... selama ini dana operasional yang menyokong Seminari ini... berasal dari dividen aset perusahaan milik mendiang Keigo Watanabe, papa kandung Jordan Smith Watanabe?" lirih pimpinan Seminari hampir limbung, memandang tajam pada wakilnya dan beberapa staf yang bekerja di bagian keuangan.Selama ini Seminari mengira sokongan finansial terbesar tersebut berasal dari donasi Ben Horik, yang selalu membanggakan diri di hadapan mereka semua.Namun, dokumen negara yang diretas oleh Badan Intelijen Negara, dengan bantuan Marco yang telah membukakan celah keamanan sistemnya, membongkar data tersebut sepenuhnya.Marco, sebagai asisten setia Keigo, telah mengurus perusahaan mendiang Keigo Watanabe atas permintaan Mary Helena Smith demi mendukung pendidikan Jordan di Seminari. Selama lebih dari dua belas tahun, setiap bulan
Gerakan Badan Intelijen Negara di bawah komando langsung Menteri Jonas Lindolm bergerak bagai badai tanpa belas kasihan.Hanya dalam hitungan jam setelah surat perintah darurat ditandatangani, seluruh jaringan sirkuit keuangan yang menjadi urat nadi kekaisaran bisnis Mister Bough dan Ben Horik dipotong satu persatu dari akarnya.Di sebuah ruang kendali Badan Intelijen Negara yang dipenuhi layar monitor raksasa, Elias berdiri tegak di samping Menteri Jonas, mengawasi langsung operasi pemblokiran aset serentak tersebut."Laporan masuk, Tuan Mentri," lapor seorang agen senior sambil mengetik cepat di konsol utamanya."Sistem perbankan siber kita berhasil menyusup dan mengunci seluruh brankas digital milik Mister Bough. Tempat-tempat hiburan malam mereka memang masih buka dan beroperasi seperti biasa di permukaan, tapi sistem pencucian uangnya sudah lumpuh total." ucap sang agen senior melaporkan. "Setiap transaksi keuangan dikawal orang kita yang akan memasukkan semua pendapatan ke kas
Di kediaman Jola, Jordan memangku Joshua yang ia ayun pelan di dalam dekapannya, duduk berdampingan dengan Lagertha, ketika Marco menyalakan layar proyektor yang merekam seluruh jalannya rapat rahasia dari ruang kerja Menteri Jonas Lindolm.Suara rekaman itu menggema, memperdengarkan setiap kata dari pengakuan Tiger. Serta reaksi para pejabat pemerintahan di dalam ruangan rapat.Air mata Vanesha langsung meluncur bebas, membasahi pipinya. Seketika bayangan kelam itu kembali berkelebat di kepalanya, teringat akan orang tuanya, para tetangga, teman-teman masa kecilnya, hingga anak-anak tak berdosa di pemukiman tempat tinggalnya dulu yang tewas terpanggang kobaran api besar akibat kebejatan Mister Bough dan Ben Horik.Samantha yang duduk di samping Vanesha langsung merengkuh pundak gadis itu erat-erat, menyalurkan kehangatan, "Semuanya akan segera usai, Ness
Sebagai Menteri Keamanan Nasional Swedia yang wilayah strategisnya membentang hingga gerbang Eropa Utara, Jonas Lindolm memiliki otoritas penuh untuk menyelidiki segala ancaman yang merongrong kedaulatan negeri.Di dalam sebuah ruang rapat yang dijaga ketat, suasana tampak tegang. Mentri Jonas duduk di ujung meja bundar bersama Menteri Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Kepala Badan Intelijen Negara, serta Jenderal Karl, jenderal tua berwibawa dengan deretan tanda jasa di dada.Di hadapan para pejabat itu, Elias, asisten Mentri Jonas, berdiri sambil menyambungkan perangkat yang menampilkan laporan keamanan terbaru ke layar monitor besar dalam ruangan."Kita tidak bisa tinggal diam lagi," buka Menteri Jonas dengan suara baritonnya yang tegas, memecah keheningan ruangan.Mentri Jonas mendorong beberapa berkas laporan ke tengah meja, "Dalam beberapa minggu terakhir, masyarakat di wilayah perbatasan utara dilanda ketakutan luar biasa. Ada teror psikologis yang masif, laporan hilangnya warg
Jordan mengajak Pastur Lukas ke ruang makan, sementara Maximus membawa Zero keluar menuju teras depan."Apa tujuanmu? Kenapa kau datang kemari?!" tanya Maximus tegas, menatap lekat ke dalam netra Zero yang justru balas menyunggingkan senyuman samar."Aku tak punya rumah. Pastur Lukas bilang pemilik kediaman ini berhati baik, mungkin bisa menampungku untuk beberapa hari."Sudut bibir Maximus menyeringai sinis. "Ya, pemilik kediaman ini memang berhati baik, tapi bukan berarti bisa kau manfaatkan. Pergilah ke hutan di belakang sana, kau boleh tinggal di sana sepuasmu. Tapi jangan pernah berani menginjakkan kaki ke halaman ini, jika tidak..." Maximus menghentikan perkataannya sejenak, memberi penekanan."Meskipun ilmu beladiriku mungkin tidak sebanding denganmu, tapi... untuk urusan membunuhmu, aku bisa melakukan segala macam cara! Jadi, jangan coba-coba mengujiku!"Zero mendengkus rendah, "Apakah seperti ini adab kalian pada orang yang telah menyelamatkan Pastur Lukas, yang notabene adal
Mister Bough masih merasa tenang, mengira semua bisnisnya masih berada dalam kendali penuh. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Tiger, [Viper sudah bergerak, kabar besar segera datang.]"Ha ha ha..."Tawa besar Mister Bough menggema di dalam ruangan kerjanya. Namun, mulutnya yang terbuka lebar, terkatup rapat begitu cepat saat pelayan di depan pintu memberitahukan kedatangan Zero.Mister Bough buru-buru duduk di balik meja kerjanya, memasang wajah sedingin dan seserius mungkin saat Zero melangkahkan kaki ringannya memasuki ruangan."Kau dari mana saja? Katanya mau membereskan Jordan, tapi...""Ada urusan!" potong Zero cepat.Tanpa menunggu dipersilakan, Zero langsung mendudukkan diri pada kursi seberang meja kerja Mister Bough."Tidak penting Anda tahu urusanku, juga tak ada hubungannya dengan Anda." tambah Zero melihat sorot tajam Mister Bough padanya, "Tapi ada dua hal yang perlu ku sampaikan..." Zero berhenti sejenak, matanya di balik masker yang menutupi wajahny
Langley mengambil pisau yang terselip di samping pahanya dan langsung melemparkannya ke arah Jordan. Namun ... Maximus yang sudah terlatih merasakan bahaya, menoleh dan menangkap pisau dengan telapak tangannya yang langsung dia genggam erat selama beberapa detik. Lalu membalikkan dan melemparkan p
Jordan kembali mendapat hadiah cambukan ke dua puluh tujuh. Ya, pria malang itu telah berada di penjara batu dalam pulau selama lima tahun. Langley semakin menggila mencambuki punggung Jordan. Tetapi Jordan sudah tidak berteriak lagi juga tidak melantunkan firman Tuhan. Sebaliknya Jordan justru te
"Papa!" Lagertha meloncati beberapa anak tangga dan berlari masuk ke ruangan makan sambil memanggil Papanya yang sedang duduk hendak sarapan. "Och, pakaian apa yang kamu pakai, Young Lady?!" protes Priskila pada putrinya yang memakai pakaian serba mini, hanya terlihat menutupi bagian penting pad
"Aku hanya ingin anak darimu, Sayang!" bisik sang pria sembari meraba celah lembut pada sela paha wanita yang duduk di sampingnya. Tangan sang pria menyentak hingga robek penutup tipis yang menghalangi jemarinya dari memasuki celah lembut wanitanya. "Och ...!"Sang wanita menjerit tertahan namun







