เข้าสู่ระบบMing Zhu berjalan menyusuri koridor kayu menuju ruang belajar. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya. Ia lebih khawatir tuan muda ini jauh lebih bahaya daripada bangsawan terdahulu yang melengserkan keluarganya.
Apakah itu hanya ucapan biasa? Atau sebuah peringatan? Ming Zhu tidak tahu. Ia berhenti di depan pintu ruang belajar dan mengetuk dua kali. “Tuan. Aku datang,” ucap Ming Zhu perlahan. “Masuk.” Sahut nya dari dalam. Ming Zhu membuka pintu perlahan. Ruangan itu hampir sama seperti kemarin—rak kitab memenuhi dinding, aroma cendana masih menggantung di udara, dan cahaya pagi masuk lembut melalui tirai tipis. Pria itu sudah duduk di tempatnya. Jubahnya hari ini berwarna abu tinta dengan bordir sederhana di bagian lengan. Tongkat hitam yang sama bersandar di sisi kursinya. Matanya masih terlihat tidak fokus. Namun Ming Zhu tidak lagi yakin bahwa tatapan itu benar-benar kosong. Ia segera menunduk. “Hamba memberi salam, Tuan.” “Duduk,” ucapnya cepat. Ming Zhu sedikit terkejut. Para kasim biasanya tidak duduk di hadapan tuan mereka. Namun ia tidak berani bertanya. Ia hanya duduk di bangku kecil di depan meja rendah seperti yang diperintahkan. Pria itu mengangkat tangan sedikit ke arah meja. “Ada tiga dokumen hari ini,” ujarnya. Ming Zhu melihat ke arah yang dimaksud. Memang ada tiga gulungan bambu yang disusun rapi. Ia mengambil yang pertama dan membukanya. “Laporan hasil panen dari wilayah selatan,” katanya sebelum mulai membaca. Suara Ming Zhu mengalir perlahan di ruangan yang sunyi. Kata demi kata keluar dengan jelas, mengikuti ritme tulisan resmi yang panjang dan kaku. Ia hampir menyelesaikan setengah dokumen ketika pria itu tiba-tiba bertanya, “Kau berasal dari mana?” Pertanyaan itu membuat Ming Zhu berhenti sejenak. Ia menundukkan kepala sedikit lebih dalam sebelum menjawab. “Hamba berasal dari desa kecil di utara.” Itu adalah jawaban yang sudah ia siapkan sejak lama. Jawaban yang tidak terlalu spesifik untuk diselidiki. Pria itu tidak langsung menanggapi. Ia hanya mengetukkan jarinya pelan di sandaran kursi. “Desa kecil di utara,” ulangnya perlahan. Nada suaranya datar, tetapi entah mengapa membuat Ming Zhu merasa seolah-olah ia sedang ditimbang. “Orang desa biasanya tidak bisa membaca seperti itu.” Ming Zhu menahan napas. “Hamba beruntung pernah membantu seorang guru di desa,” jawabnya hati-hati. “Beliau mengajari hamba membaca beberapa tahun.” Pria itu tidak langsung berbicara lagi. Ruangan kembali hening. Ming Zhu merasakan telapak tangannya mulai berkeringat, tetapi ia memaksa dirinya tetap tenang. Beberapa detik kemudian pria itu berkata, “Lanjutkan.” Ming Zhu kembali membaca dokumen tersebut sampai selesai. Setelah gulungan pertama ditutup, ia mengambil yang kedua. Namun sebelum ia sempat mulai membaca, pria itu berkata lagi, “Desa Utara memiliki Bunga Peony yang hebat, benar?” tambahnya seraya mengambil satu kertas di meja. Ming Zhu menatap tangan pria itu sesaat sebelum buru-buru menunduk lagi. “B–benar.” Ia terkesiap. Ada sesuatu yang semakin terasa aneh. Gerakan pria itu terlalu akurat. Jika ia benar-benar tidak bisa melihat, bagaimana ia bisa tahu posisi dokumen itu dengan begitu tepat? Ming Zhu memaksa dirinya berhenti berpikir terlalu jauh. Semakin banyak ia memikirkan tuannya, semakin berbahaya posisinya. Ia membuka gulungan kedua dan mulai membaca. Beberapa menit berlalu. Ketika ia hampir selesai membaca dokumen kedua, pria itu tiba-tiba berkata, “Xiao Yao.” “Ya, Tuan.” “Apakah kau takut padaku?” tanya Gongzi. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba hingga Ming Zhu hampir kehilangan suaranya. Ia menundukkan kepala lebih dalam. “Hamba tidak berani.” Pria itu tertawa pelan. “Kau berbohong.” Ming Zhu tidak berani mengangkat kepalanya. Beberapa detik kemudian pria itu berdiri perlahan. Tongkat kayunya menyentuh lantai dengan bunyi ringan saat ia berjalan beberapa langkah. Namun langkahnya berhenti tepat di depan Ming Zhu. Begitu dekat hingga Ming Zhu bisa merasakan bayangannya jatuh di atas dirinya. Suara pria itu terdengar lagi. “Tidak perlu takut.” ucapnya. Ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Ming Zhu. “Kau aman. Selama kau tetap berguna,” ujarnya. Ming Zhu menahan nafas saat wajah mereka begitu dekat. “Desa utara tidak terkenal akan Peony.” Pria itu kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berkata tanpa menoleh, “Besok datang lebih pagi.” “B-baik, Tuan,” Pintu tertutup pelan di belakangnya. Ming Zhu tetap duduk di tempatnya beberapa saat. Baru setelah langkah pria itu benar-benar menghilang di koridor, ia mengangkat kepalanya perlahan. Jantungnya kian berdebar tak karuan.Ruangan bawah tanah itu terasa semakin sunyi. Ming Zhu masih berdiri di depan lukisan tua Permaisuri Shen Xinyue. "Jadi, Ibu sebenarnya berasal dari Xuanyue?" tanya Ming Zhu lagi. Penjaga Makam mengangguk. "Benar Yang Mulia. Tapi beliau bukan sekadar keturunan kerajaan,” jelas penjaga makam. Ia menatap Ming Zhu dengan serius. "Permaisuri Shen Xinyue adalah keturunan sah kerajaan Xuanyue,” lanjutnya. Ming Zhu terdiam. Liang Wei ikut menatap pria tua itu. "Kalau begitu, kenapa identitasnya disembunyikan?" tanya Liang Wei. Penjaga Makam menarik napas panjang. "Karena ketika Permaisuri Shen masih kecil, terjadi kudeta di Xuanyue. Para pemberontak membantai keluarga kerajaan. Mereka mencari satu anak yang diyakini sebagai pewaris sah. Seorang bayi perempuan. Dan itu Putri terakhir dari garis utama kerajaan Xuanyue,” jelasnya. "Para penjaga setia berhasil menyelamatkannya. Mereka membawanya keluar dari istana dan menyembunyikannya di tempat yang tidak akan pernah dicur
“Jangan bicara sembarangan,” ucap Ming Zhu. Gadis itu berdiri di tengah ruangan. Di hadapannya terdapat sebuah altar batu berbentuk bunga teratai. Delapan pilar mengelilinginya, masing-masing dihiasi lambang keluarga kerajaan Dinasti Ming. Penjaga Makam berjalan perlahan menuju altar. "Yang Mulia. Ada satu hal yang selama ini tidak pernah diketahui siapa pun,” jelasnya. Ming Zhu menatapnya. "Apa?" tanya Ming Zhu cepat. Penjaga Makam menunjuk ke lantai. "Dinasti Ming tidak runtuh hanya karena pengkhianatan,” ujar Penjaga makam. Liang Wei langsung memperhatikan. “Lalu?” "Runtuhnya dinasti Ming, sudah direncanakan jauh sebelum perang dimulai,” jelas Penjaga makam. Jenderal Luo mengerutkan kening. "Siapa yang merencanakannya?" tanya Jenderal Luo penasaran. Penjaga Makam menggeleng. "Itulah yang selama ini tidak kami ketahui,” ucap Penjaga makam. Ia kemudian menekan salah satu batu di altar. KLIK. Seluruh ruangan bergetar. Lantai di tengah altar perlahan ter
Lorong makam semakin dalam. Langkah kaki mereka menggema di antara dinding batu yang telah berusia ratusan tahun. Tidak ada suara selain tetesan air dari langit-langit makam. Liang Wei berjalan paling depan, sementara Ming Zhu berada tepat di belakangnya. Hei Yan dan Mo Lin menjaga bagian belakang. Ye Shuang serta Su Mu memeriksa setiap sudut lorong untuk memastikan tidak ada jebakan. "Pelaku ingin mempertahankan kondisi Putra Mahkota,” celetuk Tuan Tianyi sambil memikirkan simbol racun seribu senja yang baru mereka temukan. Ming Yue langsung memahami. "Untuk apa?" tanya Ming Yue. Tuan Tianyi menatapnya. "Untuk mengendalikan siapa yang akan menggantikan takhta,” ujarnya. Semua terdiam. Liang Wei mengepalkan tangannya. "Kalau Putra Mahkota meninggal, posisi pewaris jelas akan berubah,” ucapnya. Ming Zhu menatapnya. "Dan kau adalah salah satu kandidat terkuat, Liang Wei,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tidak menjawab. Ia sudah memahami maksud sebenarnya. Selama Put
BRUKKK!Tubuh Pangeran Rui Ambruk. Darah mulai mengalir. “Liang Wei!” seru Ming Zhu menerobos maju kearah Liang Wei.Ming Zhu kemudian menoleh kearah Pangeran Rui yang sudah tergeletak tak bernyawa.“Akhirnya, aku berhasil mengambil nyawanya dengan tanganku,” ucap Liang Wei pelan.Kematian Pangeran Rui membuat pasukan Teratai Hitam kehilangan arah. Namun perang belum berakhir. Di sisi lain lembah, Wang Ji'an masih memimpin pasukannya bertahan di depan gerbang makam. "Jangan biarkan mereka mendekati gerbang!" teriak Wang Ji'an. Pasukannya kembali menyerang. Jenderal Xu Rong mengangkat pedangnya. "Pasukan Ming!" "MAJU!" Ratusan prajurit menerjang bersamaan. Benturan kedua pasukan kembali mengguncang lembah. Liang Wei menatap medan perang. "Hei Yan, Mo Lin, Kepung sisi kiri,” ucapnya. "Ye Shuang, Su Mu. Amankan sisi kanan,” lanjutnya Keempat Penjaga Bayangan langsung bergerak. Ming Zhu menggenggam pedangnya. "Aku ikut!” Liang Wei menatapnya. "Jangan terlalu memaksakan luk
“Han Qiye, Kenapa kau begitu bodoh,” lirih Ming Zhu.Ming Zhu masih memeluk tubuh pria itu. Air matanya jatuh tanpa henti. Ia teringat pertama kali bertemu Han Qiye saat masih remaja. Mereka pernah berlatih pedang bersama. Pernah bertengkar, pernah tertawa. Dan pada akhirnya mereka berdiri di sisi yang berlawanan. Han Qiye memang telah melakukan banyak kesalahan. Namun di saat-saat terakhir hidupnya, ia memilih menebus semuanya. Bahkan dengan nyawanya sendiri Liang Wei berjalan mendekat. Ia berlutut di samping jasad Han Qiye. Dengan penuh hormat, ia menutup kedua mata pria itu. "Meski kita tidak pernah menjadi kawan, kau mati sebagai seorang kesatria. Terimakasih, karena sudah menepati janjimu, untuk melindungi Ming Zhu sampai akhir hayatmu,” ucap Liang Wei pelan Air mata Ming Zhu mengalir semakin deras. Isak tangisnya membuat beberapa jenderal ikut tertegun. Jenderal Luo, Xu Rong, bahkan Tuan Tianyi ikut menundukkan kepala. Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada ejekan kep
“Serang!”Perang akhirnya pecah. Teriakan para prajurit mengguncang seluruh lembah. Dentang pedang, hujan anak panah, dan debu yang beterbangan memenuhi udara. Pasukan Pengawal Perbatasan Dinasti Ming bertempur mati-matian melindungi gerbang Makam Teratai Putih, sementara Penjaga Bayangan Xuanyin bergerak lincah menghadapi para pembunuh Teratai Hitam. "Jangan biarkan mereka mendekati Putri Ming!" teriak Jenderal Xu Rong. "Majuuuu!" Liang Wei langsung menerobos ke tengah medan perang bersama Mo Lin dan Hei Yan. Di sisi lain, Ming Zhu dan Ming Yue bertarung bahu-membahu. Tebasan pedang Ming Zhu yang tegas membuat beberapa prajurit musuh tumbang, sementara Ming Yue melindungi sisi belakang adiknya agar tidak dikepung. "Zhu'er, hati-hati di kanan!" teriak Ming Yue. Ming Zhu berputar cepat, menangkis sebuah tombak sebelum membalas dengan satu tebasan yang menjatuhkan lawannya. Liang Wei yang melihat dari kejauhan tersenyum tipis. "Itulah Putri Ming yang sesungguhnya,”gumamnya. Na
“T-tapi aku bisa berjalan sendiri,” gugup Ming Zhu. “Aku tahu. Tapi malam ini, biar aku yang melakukannya,” bisik Liang Wei. Ming Zhu terdiam sejenak. Ia tidak benar-benar melawan meski alisnya sedikit berkerut, dan tatapannya tajam seperti biasa. Namun anehnya, ia tidak meminta diturunkan lagi
“Nama-nama itu,” lanjut Perdana Menteri, “telah lama berada dalam pengawasan. Namun tanpa bukti yang cukup… mereka tidak bisa disentuh.” “Jadi kau menciptakan bukti itu?” tanya Kaisar. “Ya,” ucap perdana menteri. Jawaban yang langsung. Tanpa ragu. Kaisar terdiam. Untuk beberapa saat tidak a
Istana malam itu bersinar terang. Lampion-lampion emas menggantung di setiap sudut, memantulkan cahaya hangat di atas lantai marmer yang mengilap. Musik lembut mengalun, bercampur dengan suara tawa para bangsawan dan pejabat yang memenuhi aula perjamuan. Semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna
Malam itu berakhir tanpa siapa pun benar-benar bisa beristirahat. Liang Wei terbaring lemah di ranjangnya. Napasnya sudah stabil, namun wajahnya pucat, dan kesadarannya naik turun seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.Ming Zhu duduk di sampingnya sejak tadi tidak bergerak. Tangannya tidak







