Share

Situasi canggung

Penulis: QuinzeeQ
last update Tanggal publikasi: 2026-03-18 15:34:31

“Ayah, Ibu, Maaf aku belum bisa menemukan Kakak,” gumam Ming Zhu didepan kaca.

Ia melepas topi kasim yang menutupi rambutnya, baju, serta tali yang melilit untuk menyamarkan dada miliknya.

Ia kemudian mulai melepas ikatan rambutnya dan menyisir rambut panjangnya di depan kaca sembari bersenandung kecil. Untungnya, kamar Ming Zhu terletak di bagian belakang halaman kediaman itu. Hingga ia tidak perlu terlalu khawatir ada yang mendengarnya.

“Gerah sekali. Aku akan membersihkan diri, lalu tidur,” ucapnya.

“Harusnya tidak ada yang memakai kolam ditengah malam seperti ini,” gumamnya.

Ia kemudian mengambil kain untuk melilit dirinya, kemudian mengendap keluar menuju kolam pemandian para pelayan. Ia belum terlalu mengenal bagian belakang kediaman itu, tetapi ia tahu paviliun yang dimaksud berada melewati taman kecil dan jembatan batu sempit.

Langkahnya pelan di atas papan kayu koridor. Tempat itu terasa begitu tenang hingga suara burung yang bertengger di atap terdengar jelas. Setelah melewati taman bambu, ia melihat bangunan kecil yang berdiri di tepi kolam.

Paviliun itu lebih terpencil daripada ruang-ruang lain di kediaman. Tirai sutra tipis menggantung di pintu, bergerak perlahan tertiup angin.

Ming Zhu berhenti sebentar. Ia tidak mendengar suara siapa pun di dalam.

“Seharusnya disini…” gumamnya pelan.

Ia mengangkat tirai dan melangkah masuk. Hal pertama yang ia rasakan adalah uap hangat yang memenuhi ruangan. Barulah ia menyadari sesuatu. Di tengah paviliun terdapat kolam batu yang dipenuhi air hangat, dan kabut tipis naik dari permukaannya.

Dengan perlahan, Ming Zhu mulai melepas kain yang membalut tubuhnya dan turun ke kolam tersebut.

“Nyaman sekali,” ujar Ming Zhu sembari menyandarkan tubuhnya di tepi kolam tersebut.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, tirai pintu bergerak.

Tok.

Tok.

Tok.

Jantung Ming Zhu langsung berhenti. Ia memutar kepalanya dan mendapati Liang Wei sudah berdiri di tepi kolam sambil melepas pakaiannya. Mata Ming Zhu pun membulat saat seluruh tubuh Liang Wei terekspos dengan sangat jelas.

“Oh tuhan, situasi macam apa ini?” batin Ming Zhu. “Benda— apa itu?”

Wajahnya memanas seketika. Ini benar-benar situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dengan sangat perlahan, Ming Zhu merayap ke sisi tepi kolam sebelum Liang Wei turun. Saat ia berhasil naik, ia langsung mengambil kain dan melilit tubuhnya.

“Siapa disana?” ujar Pria itu.

Ming Zhu terdiam. Ia berusaha menjadi patung untuk sesaat. Jantungnya benar-benar akan copot saat itu juga. Pria itu menghampirinya. meski pria itu dikenal pria buta, bagaimana ia bisa tahu dirinya berdiri dimana? lagi-lagi ia membungkam mulutnya dengan tangan kanan. Sementara, pria itu masih berdiri tak menggunakan satu helai pun.

Setelah beberapa saat, Pria itu memutar tubuhnya dan masuk kedalam kolam tanpa berkata apapun.

Ming Zhu yang tersadar langsung pergi meninggalkan paviliun dengan perlahan berharap Pria itu tidak menyadari kehadirannya.

Brak!

Pintu kamar ditutup dengan cukup kasar. Ming Zhu berusaha menetralkan nafasnya.

“Sial. Apa-apaan itu?!” ujar Ming Zhu saat wajahnya mulai memanas.

Namun bahkan setelah berjalan cukup jauh dari paviliun itu, jantungnya masih berdetak tidak teratur. Bayangan yang sempat ia lihat di dalam kabut uap air tadi tidak mau hilang dari pikirannya. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke kediaman ini, Ming Zhu menyadari sesuatu yang baru.

“K-kenapa reaksi ku seperti ini. Sadarlah Ming Zhu. Dia Tuanmu!” kesal nya pada dirinya sendiri.

Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Di kamar kecil yang diberikan untuk para kasim, Ming Zhu duduk di tepi ranjang kayu sambil menatap lampu minyak yang berkedip pelan. Api kecil itu bergoyang setiap kali angin malam menyelinap melalui celah jendela.

Namun pikirannya tidak berada di kamar sempit itu. Pikirannya masih tertinggal di Paviliun Pemandian. Ia menutup mata sebentar, mencoba mengusir bayangan yang terus muncul tanpa diundang—uap hangat yang memenuhi ruangan, rambut hitam basah yang jatuh di punggung seseorang, dan garis bahu lebar yang terlihat jelas di bawah cahaya senja.

Ming Zhu buru-buru membuka matanya lagi. Ia jelas tak pernah melihat benda sepanjang itu.

Ia menepuk pipinya sendiri dengan ringan, mencoba menenangkan diri. Seharusnya itu hanya sebuah kecelakaan. Ia masuk ke tempat yang salah, melihat sesuatu yang tidak seharusnya, lalu pergi.

“Aaarghhh,” jerit Ming Zhu sembari berguling guling di ranjang miliknya. Ming Zhu menghela napas panjang dan akhirnya memadamkan lampu.

“Tidak ada yang terjadi. Lupakan itu, Ming Zhu.” katanya pada dirinya sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Interogasi Awal

    “Keluarga Ming?” Jantung Ming Zhu berdetak lebih kencang. Ia tahu apa maksudnya. Nama Ming bukan nama keluarga biasa. Itu adalah nama keluarga dari dinasti yang telah digulingkan. Liang Wei memiringkan kepalanya sedikit. “Apakah itu kebetulan?” Nada suaranya tetap santai. Namun setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan mengupas rahasia. Ming Zhu menunduk lagi. “Aku tidak tahu apa yang Tuan maksud,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tertawa kecil. Bukan tawa keras. Lebih seperti seseorang yang mendengar jawaban yang sudah ia duga. “Benarkah?” Kereta perlahan berhenti. Mereka sudah tiba di kediaman. Namun Liang Wei belum bergerak untuk turun. Sebaliknya, ia berkata pelan, “Kalau begitu mari kita buat ini sederhana,” ucapnya. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Suara berikutnya lebih rendah. “Mulai malam ini…” ia berhenti sejenak. “kau bukan lagi kasimku.” Ming Zhu mengangkat kepalanya dengan cepat. “Apa?” Liang Wei tersenyum tipis lagi. “Kau lupa?” Ia m

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Terbongkar

    “Mulai malam ini, gadis ini menjadi milik tuan.” Liang Wei tidak bahkan membaca kertas itu. Ia hanya mengeluarkan kantong perak dan meletakkannya di meja. Bunyi logam berat itu langsung membuat madam tersenyum lebar. Liang Wei kemudian memiringkan kepalanya sedikit ke arah Ming Zhu. “Kemari.” Suara itu tidak keras. Namun cukup untuk membuat Ming Zhu bergerak tanpa sadar. Ia melangkah mendekat. Jantungnya masih berdetak keras sementara kembennya hampir terkoyak sisa tadi. Setelah beberapa langkah, ia berdiri tepat di samping Liang Wei. Pria itu mengangkat tangannya sedikit. Ujung jarinya menyentuh dagu Ming Zhu. Ia menarik dagu Ming Zhu dan mendekatkan wajahnya dan menutup kembennya dengan jubahnya. Liang Wei kemudian tersenyum. “Aku tahu itu kamu,” bisiknya. “A-apa maksud anda, Tuan?” “Kau Xiao Yao,” bisik Liang Wei sembari mengusap pipi Ming Zhu. “Kasimku pintar menyamar.” Sentuhan itu ringan, tetapi cukup untuk membuatnya menegang. Liang Wei berkata pelan, hanya cukup unt

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Menyinggung tuan muda

    Malam itu setelah kediaman mulai sunyi dan sebagian besar pelayan sudah kembali kekamar mereka, Ming Zhu bergerak perlahan. Ia menggunakan pakaian perempuan yang ia simpan diam-diam sejak awal tinggal di kediaman itu. Pakaian yang tidak terlalu mewah, tapi cukup untuk dikenal sebagai wanita baik-baik yang datang ke kota. Tanpa pikir panjang, ia berjalan menuju gerbang belakang. Gerbang yang hampir tidak pernah dijaga pengawal saat malam hari. Ming Zhu membuka pintunya perlahan. Udara malam kota langsung menyambutnya. Jalanan Ibu kota masih ramai. Lampion merah menggantung di sepanjang jalan, dan suara tawa serta musik dari kedai the terdengar jelas dari kejauhan. Namun langkah Ming Zhu tetap tenang. Sampai akhirnya ia sampai di depan bangunan yang ia cari. Sebuah bangunan besar tiga lantai yang bertuliskan PEONY MERAH. Rumah bordil paling terkenal di distrik itu. Ia menarik nafas sebelum akhirnya memasuki bangunan itu. “Ah Nona muda. Jarang sekali ada wanita datang sendiri ke te

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Peony Merah di ibu kota

    Pagi turun dengan perlahan. Ming Zhu hampir tidak ingat kapan akhirnya tertidur, dan ketika suara lonceng kecil dari dapur belakang terdengar, langit baru saja mulai memucat. Ming Zhu duduk perlahan di ranjang kayunya. Beberapa detik ia hanya menatap lantai, mencoba menenangkan pikirannya. Namun begitu ia mengingat kejadian tadi malam di paviliun pemandian, wajahnya kembali terasa panas. “Lupakan, Ming Zhu. Wanita terhormat tak memikirkan itu.” gumamnya pelan. Ia cepat-cepat mengenakan jubah kasimnya, mengikat rambutnya rapi di bawah topi hitam, lalu keluar dari kamar sebelum pikiran aneh itu kembali mengganggunya. Udara pagi terasa dingin. Daun-daun plum di halaman bergoyang pelan tertiup angin. Kediaman itu sudah mulai hidup dengan aktivitas para pelayan, meskipun suasananya tetap jauh lebih tenang dibandingkan bagian istana lainnya. Ketika Ming Zhu melewati taman kecil, ia kembali melihat dua pelayan perempuan yang sama seperti kemarin. Tangannya sibuk mengolah sementara mulu

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Situasi canggung

    “Ayah, Ibu, Maaf aku belum bisa menemukan Kakak,” gumam Ming Zhu didepan kaca. Ia melepas topi kasim yang menutupi rambutnya, baju, serta tali yang melilit untuk menyamarkan dada miliknya. Ia kemudian mulai melepas ikatan rambutnya dan menyisir rambut panjangnya di depan kaca sembari bersenandung kecil. Untungnya, kamar Ming Zhu terletak di bagian belakang halaman kediaman itu. Hingga ia tidak perlu terlalu khawatir ada yang mendengarnya. “Gerah sekali. Aku akan membersihkan diri, lalu tidur,” ucapnya. “Harusnya tidak ada yang memakai kolam ditengah malam seperti ini,” gumamnya. Ia kemudian mengambil kain untuk melilit dirinya, kemudian mengendap keluar menuju kolam pemandian para pelayan. Ia belum terlalu mengenal bagian belakang kediaman itu, tetapi ia tahu paviliun yang dimaksud berada melewati taman kecil dan jembatan batu sempit. Langkahnya pelan di atas papan kayu koridor. Tempat itu terasa begitu tenang hingga suara burung yang bertengger di atap terdengar jelas. Setelah

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Sikap yang aneh

    Ming Zhu berjalan menyusuri koridor kayu menuju ruang belajar. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya. Ia lebih khawatir tuan muda ini jauh lebih bahaya daripada bangsawan terdahulu yang melengserkan keluarganya. Apakah itu hanya ucapan biasa? Atau sebuah peringatan? Ming Zhu tidak tahu. Ia berhenti di depan pintu ruang belajar dan mengetuk dua kali. “Tuan. Aku datang,” ucap Ming Zhu perlahan. “Masuk.” Sahut nya dari dalam. Ming Zhu membuka pintu perlahan. Ruangan itu hampir sama seperti kemarin—rak kitab memenuhi dinding, aroma cendana masih menggantung di udara, dan cahaya pagi masuk lembut melalui tirai tipis. Pria itu sudah duduk di tempatnya. Jubahnya hari ini berwarna abu tinta dengan bordir sederhana di bagian lengan. Tongkat hitam yang sama bersandar di sisi kursinya. Matanya masih terlihat tidak fokus. Namun Ming Zhu tidak lagi yakin bahwa tatapan itu benar-benar kosong. Ia segera menunduk. “Hamba memberi salam, Tuan.” “Duduk,”

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status