Share

Peony Merah di ibu kota

Author: QuinzeeQ
last update publish date: 2026-03-18 15:35:18

Pagi turun dengan perlahan. Ming Zhu hampir tidak ingat kapan akhirnya tertidur, dan ketika suara lonceng kecil dari dapur belakang terdengar, langit baru saja mulai memucat.

Ming Zhu duduk perlahan di ranjang kayunya. Beberapa detik ia hanya menatap lantai, mencoba menenangkan pikirannya. Namun begitu ia mengingat kejadian tadi malam di paviliun pemandian, wajahnya kembali terasa panas.

“Lupakan, Ming Zhu. Wanita terhormat tak memikirkan itu.” gumamnya pelan.

Ia cepat-cepat mengenakan jubah kasimnya, mengikat rambutnya rapi di bawah topi hitam, lalu keluar dari kamar sebelum pikiran aneh itu kembali mengganggunya.

Udara pagi terasa dingin. Daun-daun plum di halaman bergoyang pelan tertiup angin.

Kediaman itu sudah mulai hidup dengan aktivitas para pelayan, meskipun suasananya tetap jauh lebih tenang dibandingkan bagian istana lainnya.

Ketika Ming Zhu melewati taman kecil, ia kembali melihat dua pelayan perempuan yang sama seperti kemarin. Tangannya sibuk mengolah sementara mulutnya masih berbicara. "Kau sudah dengar?" bisik pelayan yang lebih muda. "Rumah bordil Peony Merah di pinggir kota itu sedang jadi pembicaraan."

Kakak Hua menyipitkan mata, mendekat. "Kenapa? Apa ada gadis baru?"

"Bukan sembarang gadis. Katanya mereka memiliki seorang wanita cantik yang dibeli beberapa tahun lalu. Dan aku dengar dari pengawal pasar..." ia merendahkan suara, "...wanita itu dulunya adalah salah satu Putri dari Dinasti Ming yang runtuh."

Jantung Ming Zhu seakan berhenti berdetak.

"Sst! Jaga mulutmu. Kalau Tuan Liang Wei dengar kita bicara soal dinasti lama, kepala kita bisa hilang," tegur Kakak Hua sembari melirik ke sekeliling.

Ming Zhu buru-buru mengatur ekspresinya dan berjalan keluar dari balik pilar.

"Eh, kasim kecil," sapa Kakak Hua, mendadak mengubah topik. "Kau terlihat aneh hari ini. Wajahmu merah. Apa kau sakit?"

“Halo Kakak Hua,” sapa Ming Zhu dengan senyuman canggungnya.

Pelayan itu menyandarkan sapunya ke pohon. “Kau terlihat aneh hari ini,” ucapnya lagi.

Ming Zhu buru-buru menggeleng.

“Tidak! A-aku baik-baik saja.”

Pelayan pertama menyipitkan mata lebih curiga, “Benarkah?”

Ming Zhu merasa semakin tidak nyaman ditatap seperti itu. Untungnya pelayan kedua malah tertawa lagi. Ming Zhu tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya menunduk lagi.

“Aku harus pergi ke ruang belajar.”

“Pergilah, pergilah,” kata pelayan itu sambil mengibaskan tangannya.

Namun saat Ming Zhu sudah berjalan beberapa langkah, ia masih bisa mendengar pelayan muda berbisik, “Kasihan juga dia.”

“Benar. Melayani tuan muda itu tidak mudah.”

Ming Zhu pura-pura tidak mendengar. Ia mempercepat langkahnya menuju ruang belajar. Semakin cepat ia menyelesaikan pekerjaannya, semakin cepat ia bisa melupakan kejadian kemarin.

Ketika ia tiba di depan pintu, ia menarik napas pelan sebelum mengetuk.

“Masuk,” sahut suara yang begitu familiar di telinganya.

Suara Pria itu terdengar seperti biasa. Tenang. Datar. Seolah tidak ada apapun yang terjadi semalam.

Ming Zhu membuka pintu dan masuk. Pria itu sudah duduk di kursinya, seperti setiap pagi.

Jubahnya hari ini berwarna biru tua, dan tongkat kayu hitamnya bersandar di sisi kursi. Tatapannya masih terlihat kosong. Namun Ming Zhu tidak lagi yakin apakah mata itu benar-benar tidak melihat apa pun.

“Hamba memberi salam, Tuan,” ucap Ming Zhu sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.

“Ya.”

Pria itu menggerakkan tangannya sedikit ke arah meja, “Dokumen,” ucapnya cepat.

Ming Zhu berjalan ke meja, mengambil gulungan pertama, lalu duduk di bangku kecil seperti biasa. Namun kali ini, saat ia membuka gulungan itu, tangannya sedikit lebih kaku dari biasanya.

Ia mulai membaca. Suara Ming Zhu tetap jelas, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya fokus pada kata-kata di depan matanya. Ia terlalu sadar akan keberadaan pria yang duduk di seberangnya.

Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba Pria itu berkata, “Xiao Yao.”

Ming Zhu hampir salah membaca satu kalimat. Ia buru-buru berhenti.

“Ya, Tuan?” ucap Ming Zhu.

Ada jeda beberapa detik sebelum pria itu melanjutkan. “Baumu hari ini berbeda,” celetuk Pria itu.

Jantung Ming Zhu berdetak lebih cepat. “H-hamba habis dari dapur, Tuan.” jawab Ming Zhu asal.

“Begitu.”

Nada suara Liang Wei terdengar santai. Namun setelah beberapa detik ia menambahkan. “Apakah kau tidur nyenyak semalam?” tanya nya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.

Pertanyaan itu terasa terlalu tepat. Ming Zhu langsung menunduk lebih dalam.

“Hamba tidur dengan baik,” jawab Ming Zhu.

Ruangan menjadi sunyi. “Aneh,” celetuk nya.

Ming Zhu menegang sedikit. “Kenapa Tuan berkata begitu?”

Pria itu bersandar di kursinya.

Beberapa detik hening. Lalu Ia tertawa kecil. Bukan tawa keras. Lebih seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang menghibur.

“Xiao Yao.”

“Ya, Tuan,” ucap Ming Zhu pelan.

“Kau benar-benar buruk dalam berbohong.”

“H-hamba tidak paham maksud anda, Tuan.” ucap Ming Zhu sembari terus menunduk.

Liang Wei menghela nafasnya kasar. “Lanjutkan membaca.”

Perintah itu datang begitu saja, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi. Ming Zhu menarik napas pelan sebelum kembali menatap dokumen di tangannya. Ia mulai membaca lagi.

Namun pikirannya tidak lagi tenang. Ia merasa seolah setiap kata yang ia ucapkan sedang diperhatikan dengan sangat teliti. Setelah beberapa menit, Liang Wei tiba-tiba berkata lagi,

“Xiao Yao,” ucapnya.

“Ya, Tuan,” jawab Ming Zhu.

“Menurutmu, apakah paviliun belakang terlalu terpencil?” tanya Liang Wei.

Ming Zhu mengerutkan dahinya. “Hamba tidak berani menjawab, Tuan,” ucap Ming Zhu.

Liang Wei mengangkat sedikit dagunya.

“Lanjutkan membaca,” ucap Liang Wei.

Liang Wei baru saja menyandarkan tubuhnya di kursi setelah Ming Zhu selesai membaca gulungan terakhir.

"Tuan," suara Ming Zhu sedikit bergetar.

"Ya?" sahut Liang Wei tanpa menoleh, jemarinya mengetuk sandaran kursi kayu hitamnya.

"Hamba... hamba memiliki sebuah keperluan mendesak. Jika Tuan mengizinkan, hamba memohon izin untuk keluar dari kediaman sore ini. Hamba berjanji akan kembali sebelum gerbang belakang dikunci malam nanti."

Ketukan jari Liang Wei terhenti. Ruangan itu mendadak sunyi. Ming Zhu menahan napas, menatap punggung pria berbaju biru tua itu dengan cemas.

"Keperluan mendesak?" Liang Wei mengulang kata-katanya dengan nada datar yang sulit ditebak. "Seorang kasim baru sepertimu punya urusan apa di luar sana?"

"Hamba hanya ingin membeli beberapa keperluan pribadi dan... mengunjungi seorang kenalan lama, Tuan," jawab Ming Zhu, kembali berbohong demi menutupi tujuannya ke rumah bordil tersebut.

Liang Wei terdiam cukup lama, seolah sedang menimbang kejujuran di balik suara Ming Zhu. "Pergilah."

Ming Zhu menghembuskan napas lega. "Terima kasih, Tuan."

"Tapi Xiao Yao," potong Liang Wei saat Ming Zhu hendak berdiri. “Jika kau tak kembali, maka pintu akan ditutup rapat untukmu.”

Ming Zhu menggigit bibirnya. “Ba-baik, Tuan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Interogasi Awal

    “Keluarga Ming?” Jantung Ming Zhu berdetak lebih kencang. Ia tahu apa maksudnya. Nama Ming bukan nama keluarga biasa. Itu adalah nama keluarga dari dinasti yang telah digulingkan. Liang Wei memiringkan kepalanya sedikit. “Apakah itu kebetulan?” Nada suaranya tetap santai. Namun setiap kata terasa seperti pisau yang perlahan mengupas rahasia. Ming Zhu menunduk lagi. “Aku tidak tahu apa yang Tuan maksud,” ucap Ming Zhu. Liang Wei tertawa kecil. Bukan tawa keras. Lebih seperti seseorang yang mendengar jawaban yang sudah ia duga. “Benarkah?” Kereta perlahan berhenti. Mereka sudah tiba di kediaman. Namun Liang Wei belum bergerak untuk turun. Sebaliknya, ia berkata pelan, “Kalau begitu mari kita buat ini sederhana,” ucapnya. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Suara berikutnya lebih rendah. “Mulai malam ini…” ia berhenti sejenak. “kau bukan lagi kasimku.” Ming Zhu mengangkat kepalanya dengan cepat. “Apa?” Liang Wei tersenyum tipis lagi. “Kau lupa?” Ia m

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Terbongkar

    “Mulai malam ini, gadis ini menjadi milik tuan.” Liang Wei tidak bahkan membaca kertas itu. Ia hanya mengeluarkan kantong perak dan meletakkannya di meja. Bunyi logam berat itu langsung membuat madam tersenyum lebar. Liang Wei kemudian memiringkan kepalanya sedikit ke arah Ming Zhu. “Kemari.” Suara itu tidak keras. Namun cukup untuk membuat Ming Zhu bergerak tanpa sadar. Ia melangkah mendekat. Jantungnya masih berdetak keras sementara kembennya hampir terkoyak sisa tadi. Setelah beberapa langkah, ia berdiri tepat di samping Liang Wei. Pria itu mengangkat tangannya sedikit. Ujung jarinya menyentuh dagu Ming Zhu. Ia menarik dagu Ming Zhu dan mendekatkan wajahnya dan menutup kembennya dengan jubahnya. Liang Wei kemudian tersenyum. “Aku tahu itu kamu,” bisiknya. “A-apa maksud anda, Tuan?” “Kau Xiao Yao,” bisik Liang Wei sembari mengusap pipi Ming Zhu. “Kasimku pintar menyamar.” Sentuhan itu ringan, tetapi cukup untuk membuatnya menegang. Liang Wei berkata pelan, hanya cukup unt

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Menyinggung tuan muda

    Malam itu setelah kediaman mulai sunyi dan sebagian besar pelayan sudah kembali kekamar mereka, Ming Zhu bergerak perlahan. Ia menggunakan pakaian perempuan yang ia simpan diam-diam sejak awal tinggal di kediaman itu. Pakaian yang tidak terlalu mewah, tapi cukup untuk dikenal sebagai wanita baik-baik yang datang ke kota. Tanpa pikir panjang, ia berjalan menuju gerbang belakang. Gerbang yang hampir tidak pernah dijaga pengawal saat malam hari. Ming Zhu membuka pintunya perlahan. Udara malam kota langsung menyambutnya. Jalanan Ibu kota masih ramai. Lampion merah menggantung di sepanjang jalan, dan suara tawa serta musik dari kedai the terdengar jelas dari kejauhan. Namun langkah Ming Zhu tetap tenang. Sampai akhirnya ia sampai di depan bangunan yang ia cari. Sebuah bangunan besar tiga lantai yang bertuliskan PEONY MERAH. Rumah bordil paling terkenal di distrik itu. Ia menarik nafas sebelum akhirnya memasuki bangunan itu. “Ah Nona muda. Jarang sekali ada wanita datang sendiri ke te

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Peony Merah di ibu kota

    Pagi turun dengan perlahan. Ming Zhu hampir tidak ingat kapan akhirnya tertidur, dan ketika suara lonceng kecil dari dapur belakang terdengar, langit baru saja mulai memucat. Ming Zhu duduk perlahan di ranjang kayunya. Beberapa detik ia hanya menatap lantai, mencoba menenangkan pikirannya. Namun begitu ia mengingat kejadian tadi malam di paviliun pemandian, wajahnya kembali terasa panas. “Lupakan, Ming Zhu. Wanita terhormat tak memikirkan itu.” gumamnya pelan. Ia cepat-cepat mengenakan jubah kasimnya, mengikat rambutnya rapi di bawah topi hitam, lalu keluar dari kamar sebelum pikiran aneh itu kembali mengganggunya. Udara pagi terasa dingin. Daun-daun plum di halaman bergoyang pelan tertiup angin. Kediaman itu sudah mulai hidup dengan aktivitas para pelayan, meskipun suasananya tetap jauh lebih tenang dibandingkan bagian istana lainnya. Ketika Ming Zhu melewati taman kecil, ia kembali melihat dua pelayan perempuan yang sama seperti kemarin. Tangannya sibuk mengolah sementara mulu

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Situasi canggung

    “Ayah, Ibu, Maaf aku belum bisa menemukan Kakak,” gumam Ming Zhu didepan kaca. Ia melepas topi kasim yang menutupi rambutnya, baju, serta tali yang melilit untuk menyamarkan dada miliknya. Ia kemudian mulai melepas ikatan rambutnya dan menyisir rambut panjangnya di depan kaca sembari bersenandung kecil. Untungnya, kamar Ming Zhu terletak di bagian belakang halaman kediaman itu. Hingga ia tidak perlu terlalu khawatir ada yang mendengarnya. “Gerah sekali. Aku akan membersihkan diri, lalu tidur,” ucapnya. “Harusnya tidak ada yang memakai kolam ditengah malam seperti ini,” gumamnya. Ia kemudian mengambil kain untuk melilit dirinya, kemudian mengendap keluar menuju kolam pemandian para pelayan. Ia belum terlalu mengenal bagian belakang kediaman itu, tetapi ia tahu paviliun yang dimaksud berada melewati taman kecil dan jembatan batu sempit. Langkahnya pelan di atas papan kayu koridor. Tempat itu terasa begitu tenang hingga suara burung yang bertengger di atap terdengar jelas. Setelah

  • Budak Kesayangan Pangeran Buta   Sikap yang aneh

    Ming Zhu berjalan menyusuri koridor kayu menuju ruang belajar. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Kata-kata pria itu terus terngiang di kepalanya. Ia lebih khawatir tuan muda ini jauh lebih bahaya daripada bangsawan terdahulu yang melengserkan keluarganya. Apakah itu hanya ucapan biasa? Atau sebuah peringatan? Ming Zhu tidak tahu. Ia berhenti di depan pintu ruang belajar dan mengetuk dua kali. “Tuan. Aku datang,” ucap Ming Zhu perlahan. “Masuk.” Sahut nya dari dalam. Ming Zhu membuka pintu perlahan. Ruangan itu hampir sama seperti kemarin—rak kitab memenuhi dinding, aroma cendana masih menggantung di udara, dan cahaya pagi masuk lembut melalui tirai tipis. Pria itu sudah duduk di tempatnya. Jubahnya hari ini berwarna abu tinta dengan bordir sederhana di bagian lengan. Tongkat hitam yang sama bersandar di sisi kursinya. Matanya masih terlihat tidak fokus. Namun Ming Zhu tidak lagi yakin bahwa tatapan itu benar-benar kosong. Ia segera menunduk. “Hamba memberi salam, Tuan.” “Duduk,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status