LOGIN“Siapkan ramuan penawar. Cepat,” ucap Tabib pada pelayan. Pelayan segera pergi. Su Mu mengusap wajahnya kasar. “Hebat. Di saat seperti ini,” Liang Wei berdiri perlahan. Sedikit goyah— namun tetap berdiri. Ming Zhu langsung menahannya. “Jangan bergerak.” “Aku masih bisa berdiri,” jawab Liang Wei. “Su Mu. Ambilkan tongkatku,” ucap Liang Wei. “Baik Tuan,” ucap Su Mu. Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Di dalam kamar, cahaya dibuat redup. Tirai ditutup untuk menahan silau. Aroma herbal memenuhi udara lebih tajam dari sebelumnya. Liang Wei duduk bersandar, mata setengah terpejam. Bukan karena ingin tidur tapi karena itu satu-satunya cara meredam rasa perih. Di sampingnya, Ming Zhu duduk diam. Tidak pergi. Tidak berbicara. Hanya ada. Tabib datang kembali membawa semangkuk ramuan baru. Warnanya lebih gelap, aromanya lebih pahit. “Ini untuk menahan penyebaran racun,” katanya. “Akan sedikit menyakitkan,” lanjutnya. Su Mu yang bersandar di dekat pintu mendeng
Detik berikutnya— CLANG! Pedang Ming Zhu bergerak. Namun bukan untuk membunuh. Han Qiye sudah menghindar setengah langkah, senyumnya kembali dingin. Dalam sekejap, suasana berubah—tenang yang tegang menjadi ledakan aksi. Dari lorong samping— langkah kaki terdengar. Banyak. Ming Zhu langsung menyadari. “Jadi ini rencanamu?” katanya dingin. Han Qiye tertawa pelan. “Kau pikir aku hanya menunggumu, tanpa menyiapkan sesuatu yang lebih menarik?” Pintu-pintu samping terbuka. Beberapa orang berlari masuk bukan prajurit biasa. Mereka membawa peti-peti kayu. Cepat. Terburu-buru. Seolah sedang memindahkan sesuatu. Mata Ming Zhu langsung menangkap detail itu. “Penyelundupan,” gumamnya. Han Qiye tidak menyangkal. “Pendanaan perang tidak datang sendiri,” ujarnya santai. “Senjata, racun, logam langka semua harus bergerak tanpa diketahui istana.” Ming Zhu menyipitkan mata. Jadi ini bukan hanya soal dirinya. Ini jauh lebih besar. Di luar Liang Wei merasakan pergerakan mendadak di sisi bangun
Malam turun perlahan, membawa bayangan yang lebih pekat dari sebelumnya. Di halaman dalam kediaman Liang Wei, cahaya lentera bergoyang pelan. Persiapan berjalan diam-diam kuda disiapkan, senjata diperiksa, dan orang-orang bergerak tanpa banyak suara. Di sudut yang lebih sepi Ming Zhu berdiri, merapikan ikatan di pergelangan tangannya. Pakaiannya ringan, siap untuk bergerak kapan saja. Langkah kaki mendekat. Ia tidak menoleh. “Kau masih punya waktu untuk mundur,” suara Liang Wei terdengar rendah. Ming Zhu tersenyum tipis. “Kalau aku mau mundur aku tidak akan sampai sejauh ini,” ucapnya Liang Wei berhenti di sampingnya. Hening sejenak. Namun kali ini— ia tidak langsung bicara soal rencana. “Ada satu hal yang belum kau jelaskan,” ucap Liang Wei. Ming Zhu akhirnya menoleh. Tatapan Liang Wei dalam. “Han Qiye.” Nama itu terasa berat. “Dia tidak hanya mengenalmu,” lanjut Liang Wei. “Cara dia memandangmu itu bukan sekadar musuh.” Ming Zhu terdiam. Tatapannya perlahan menja
Kamar itu kembali sunyi. Ming Yue masih tertidur di ranjang, napasnya tenang, sementara cahaya pagi semakin terang menyelimuti ruangan. Liang Wei berdiri tak jauh dari jendela, sedangkan Ming Zhu masih di dekat ranjang namun pikirannya jelas tidak lagi di sana. Beberapa detik berlalu. Lalu Ming Zhu melangkah pelan mendekat. “Sudah pagi Tuan. Dan kau belum beristirahat sama sekali,” ucap Ming Zhu.. Liang Wei menoleh. “Dan kau pun sama,” ucap Liang Wei. Ming Zhu menghela napas tipis. “Aku hampir kehilangan dia.” “Dan aku hampir kehilanganmu,” ujar Liang Wei. Jawaban itu datang tanpa jeda. Ming Zhu terdiam. Tatapannya perlahan terangkat, bertemu dengan mata Liang Wei. Tidak ada lagi jarak dingin seperti sebelumnya. Hanya sisa-sisa ketegangan dan sesuatu yang lebih dalam. “Aku tahu kau akan datang,” kata Ming Zhu pelan. Liang Wei mendekat satu langkah. “Kau terdengar terlalu yakin.” “Karena itu kau. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun,” ucap Ming Zhu. Jawaban sederh
Langit mulai memucat saat mereka tiba di kediaman Liang Wei. Udara pagi masih dingin, namun suasana di dalam jauh dari tenang. Para pelayan bergegas, tabib hilir mudik, dan penjagaan diperketat di setiap sudut.Begitu langkah Ming Zhu melewati gerbang ia tidak berhenti. Tidak bicara. Dan Langsung menuju kamar dalam. “Nona Ming—” panggil Su Mu, namun ia sudah melangkah lebih cepat. Liang Wei hanya diam, membiarkannya pergi. Ia tahu ini bukan sesuatu yang bisa dihentikan. Pintu kamar terbuka cepat. Di dalam, suasana sunyi. Aroma obat herbal masih terasa kuat. Ming Yue terbaring di atas ranjang, tubuhnya dibalut perban. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit kering, namun napasnya sudah lebih stabil dibanding sebelumnya. Seorang tabib yang berjaga langsung berdiri. “Nona—” “Keluar,” potong Ming Zhu pelan. Tidak keras. Namun cukup untuk membuat semua orang menurut. Dalam beberapa detik, ruangan itu kosong. Hanya mereka berdua. Ming Zhu melangkah mendekat. Pelan. Seolah takut langkahn
“Oh satu hal lagi,” ucap Han Qiye sebelum meninggalkan ruangan. Mata Ming Zhu menyipit. “Aku sengaja membiarkan mereka mengetahui tempat ini. Karena aku ingin melihat, sejauh apa dia akan pergi untukmu,” lanjutnya. “Jangan melukainya. Dia tidak terlibat dalam urusan kita!” seru Ming Zhu. “Dia tidak. Tapi dia terus mencampuri urusan ini. Dan dia harus tahu, siapa yang sebenarnya sedang dihadapi,” ujar Han Qiye. Pria itu kemudian meninggalkan Ming Zhu sendirian. Disisi lain, Beberapa langkah kaki terdengar cepat, namun terkontrol. Su Mu berjalan dipaling depan, diikuti Liang Wei dan beberapa pasukan bayangan dibelakangnya. Obor dinding berderet, memantulkan bayangan panjang dilantai batu. “Tidak ada penjaga?” ucap Su Mu curiga. “Itu memang tujuannya. Ini jebakan yang sudah diatur,” ucap Liang Wei tanpa memperlambat langkahnya. Mereka semua tahu itu. Namun tidak ada yang berhenti. Di ujung lorong— pintu besi besar berdiri tertutup. Bekas goresan lama terlihat di permuka
Malam semakin dalam. Suasana di kediaman perlahan mereda, para pelayan sudah mundur, dan hanya suara jangkrik yang terdengar dari taman. Di dalam kamar, lampu minyak masih menyala redup. Ming Zhu terbaring tenang. Namun alisnya sedikit berkerut. Napasnya tidak sehalus sebelumnya. Di luar Liang W
Malam telah turun sepenuhnya. Kediaman Liang Wei kembali sunyi setelah kesibukan sebelumnya mereda. Di dalam kamar, Ming Zhu tertidur lelap—napasnya mulai stabil, wajahnya jauh lebih tenang dibanding beberapa jam lalu.Di luar, di paviliun kecil yang menghadap taman— Liang Wei berdiri dengan tangan
“Jangan takut. Aku tidak akan mati,” gumam Ming Zhu dengan sisa tenaganya. Gadis itu kemudian menutup matanya karena sudah tidak memiliki energi. Liang Wei pun langsung merobek sebagian jubahnya. “Su Mu, ikat lukanya dengan ini,” ucap Liang Wei. “Kita harus segera kembali ke kediaman. Dia dira
“Aku yang disiksa , kelaparan dijalanan, sampai akhirnya dia yang menemukanku.” Hening. Angin berhembus pelan, membawa ketegangan yang semakin tajam. “Dia memberiku kekuatan Dan alasan untuk tetap hidup.” Mata Ming Yue kembali dingin. “Dan sekarang, dia memintaku membawamu,” lanjutnya. Mi







