Share

Bab 8

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2025-12-12 12:02:19

“Lyra.”

Suara Kaisar memecah lamunan Lysandra. Dia mengangkat wajah, berusaha mati-matian menjaga ekspresi agar tetap datar, namun dia tahu matanya pasti memancarkan gelombang kepanikan yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan.

“Ya, Yang Mulia?” suaranya serak.

“Kau kenapa?” tanya Kaisar. Kalimatnya pendek, tetapi langsung ke sasaran. Matanya tak berkedip, menangkap setiap ekspresi di wajah Lysandra yang pucat.

“Hamba … sakit perut, Yang Mulia,” gumam Lysandra, tangannya secara refleks menekan perut bawah. Dia membungkuk sedikit, berpura-pura kesakitan.

“Tiba-tiba … mual.” Dia berharap alasan itu terdengar seperti masalah siklus bulanan pada  perempuan, sesuatu yang memalukan dan tidak mungkin dibahas lebih lanjut oleh seorang pria, apalagi seorang Kaisar.

Kaisar terdiam. Namun tatapannya tak pernah benar-benar beralih dari Lysandra.

“Kembalilah ke kamarmu,” ucap Kaisar, suaranya kembali datar, netral.

Tidak ada nada khawatir, tidak ada kemarahan. Hanya sebuah perintah. “Jangan keluar kamar sampai kau merasa lebih baik.”

“Terima kasih, Yang Mulia,” bisiknya, membungkuk terlalu dalam.

Lysandra hampir kehilangan keseimbangan. Dia berbalik, merasakan tatapan dua pria itu mengikuti langkah kakinya.

Begitu dia sampai di pintu kamar dan segera menutupnya, Lysandra merosot ke lantai. Punggungnya menempel pada kayu yang keras. Nafasnya tersengal-sengal.

Lalu dia menangis tanpa suara, tersedu-sedu. Dia menangis untuk kerajaan yang hancur, untuk orang-orang yang mungkin sudah tiada, untuk ketakutan bahwa rahasia terbesarnya hampir saja terungkap.

Tiba-tiba, ketukan di pintu kamarnya membuat Lysandra berjingkat karena terkejut.

Bukan suara pengawal atau pelayan.

“Lyra.” Suara itu lembut tetapi tegas. Suara  Kaisar Xylas sendiri.

‘Dia di luar? Kenapa? Apa kurirnya sudah pergi?’ pikir Lysandra.

Dengan gemetar, dia berjalan ke pintu dan membukanya sedikit.

Kaisar berdiri di depan pintu, sendirian. Lysandra tak bisa melihat ekspresi wajah Kaisar karena pencahayaan koridor yang redup. Di tangannya, Kaisar membawa sebuah cangkir keramik kecil, uap hangat mengepul dari atasnya.

“Teh chamomile,” ucapnya, saat dia menyodorkan cangkir itu. “Untuk sakit perutmu.”

Lysandra menerimanya dengan tangan gemetar. Namun yang lebih membuatnya bingung adalah kehadirannya. Seorang Kaisar, mengantarkan teh pada budaknya?

“T… terima kasih, Yang Mulia,” ucap Lysandra.

Kaisar tidak pergi. Dia memandangnya, dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu selain kecurigaan di matanya yang dingin. Sesuatu yang mirip dengan pengertian.

Kaisar berbalik untuk pergi, lalu berhenti.

“Istirahatlah, Lyra. Besok, kita akan membicarakan tugas baru untukmu. Seseorang dengan pengamatan yang cukup tajam untuk pura-pura sakit perut mungkin berguna untuk mengamati hal-hal lain.”

Kaisar melangkah, meninggalkan Lysandra yang masih berdiri di pintu. Dia masih memegang cangkir teh yang hangat, dengan hati yang berdebar kencang dan satu pertanyaan yang membuatnya bingung.

Namun Kaisar berhenti melangkah. Dia berdiri di sana, di ambang koridor yang redup.

“Yang Mulia?” suara Lysandra nyaris tak terdengar, tertahan di tenggorokan yang kering.

Kaisar Xylas tidak menjawab segera. Matanya yang abu-abu itu, yang biasanya seperti es, kini tampak memandang sesuatu yang jauh, sesuatu yang tidak ada di ruangan kamar Lysandra.

“Dia juga memiliki mata yang sama,” ucapnya lagi, suaranya rendah, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Lysandra.

Jantung Lysandra berdebar kencang. Dia menduga-duga.

‘Siapa? Siapa yang dia maksud? Apakah dia pernah mengenal seseorang dari kerajaanku? Atau ... oh, dewa-dewa, apakah dia mengenali kemiripanku dengan keluarga kerajaan Utara?’ pikir Lysandra.

Atau lebih buruk, apakah dia mengenali Lysandra dari Kerajaan Utara?

Lysandra menggeleng. Membuang dugaan buruk dari pikirannya.

‘Tapi tidak mungkin. Dia seorang Kaisar Barat. Aku seorang Putri dari Utara yang seharusnya sudah mati. Dunia kami terpisah oleh perang dan propaganda. Pertemuan langsung hampir tidak mungkin. Sepertinya memang tidak mungkin,’ batinnya.

“Apakah ... apakah orang itu masih ada, Yang Mulia?” Lysandra memberanikan diri bertanya, terdorong oleh rasa ingin tahu yang membuatnya penasaran.

Tatapan Kaisar langsung kembali fokus padanya. Matanya tajam dan waspada sekali lagi, seolah baru menyadari bahwa dia berbicara keras. Ekspresinya kembali datar, seolah begitu seharusnya wajah sang penguasa di Kekaisaran Barat.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Namun, Lysandra  mendengar nada lain dari ucapan Kaisar. Seperti rasa sakit atau kehilangan.

Kaisar menghela napas pendek, lalu posturnya kembali tegak. “Itu tidak penting. Yang penting adalah kau, Lyra. Aku memintamu menjadi mata-mata. Karena utusan dari kerajaan lain tidak akan mencurigai seorang budak.”

Kaisar mendekat satu langkah. Dan Lysandra tak bisa bergerak mundur.

“Aku tidak tahu masa lalumu yang sebenarnya. Dan untuk saat ini, aku memilih untuk tidak bertanya.” Suaranya tegas, sebuah keputusan telah dibuat. “Tapi ketahuilah, di istana ini, setiap orang adalah pion dalam permainan. Kecurigaan adalah mata uang. Dan rahasia  adalah senjata yang kita miliki.”

Kaisar menatapnya sekali lagi.

“Tugas baru yang kubicarakan,” lanjutnya, kembali ke nada bicara yang datar.

“Aku membutuhkan sepasang mata dan telinga untuk pertemuan antar kerajaan. Seseorang yang tidak mencurigakan. Seseorang seperti pelayan, atau ... budak yang pura-pura sakit perut saat mendengar kabar buruk.”

Dia sedang menugaskan Lysandra menjadi seorang mata-mata. Untuknya.

“Apa kau mengerti, Lyra?” Kaisar bertanya, tetapi Lysandra tahu itu bukanlah pertanyaan yang bisa dia jawab dengan kata tidak.

Lysandra mengangguk, perlahan. Ya, dia mengerti. Dia terjebak. Rahasianya membuat posisinya terjebak, tetapi juga memberinya nilai tambah di mata Kaisar. Dan sekarang, Kaisar sedang memanfaatkan kelemahan Lysandra.

Dia melihat cangkir teh di tangan Lysandra. “Minum teh itu. Dan besok, kau mulai bekerja,” katanya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 220

    Dia mencium pipi ayahnya, lalu meronta ingin turun. “Sudah, Ayah. Evangeline mau lihat adik!”Xylas menurunkannya, menggandengnya masuk ke kamar. Frederick, Arion, Delia, dan Elise mengikuti dari belakang, berdiri di ambang pintu dengan senyum bahagia.Lysandra terbaring di tempat tidur, terlihat lelah tapi berseri-seri. Di sampingnya, bayi mungil itu terbungkus kain sutra putih, tertidur pulas.Evangeline mendekat perlahan, matanya membelalak melihat adiknya. “Dia ... kecil sekali.”Lysandra tersenyum lemah. “Dia baru lahir, Sayang. Nanti dia akan besar, seperti Evangeline.”“Boleh Evangeline gendong?”“Nanti, kalau sudah agak besar. Sekarang lihat saja dulu,” kata Lysandra.Evangeline mengangguk, lalu berbisik pada adiknya, “Halo, adik. Aku kakakmu, Evangeline. Aku akan jagain kamu, ya. Aku akan ajarin kamu main pedang sama Paman Frederick, dan memanah sama Paman Arion. Pokoknya, seru

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 219

    Usai dua hari menginap, rombongan Kerajaan Barat harus kembali. Evangeline berdiri di depan gerbang istana, berhadapan dengan Rian yang juga sedih.“Kau harus sering-sering ke Barat, Rian,” pinta Evangeline. “Atau aku yang ke sini lagi nanti.”Rian mengangguk. “Aku janji. Nanti kalau sudah besar, aku akan berkuda ke  kerajaanmu sendiri.”“Janji kelingking!”Mereka mengaitkan kelingking, seperti lima tahun lalu.“Janji kelingking,” ulang Rian. “Kalau ingkar jadi cacing.”Mereka tertawa bersama, lalu berpelukan sebentar—canggung. Evangeline naik ke keretanya. Kereta mulai bergerak. Evangeline melambai dari jendela sampai Rian dan istana menghilang di kejauhan.“Ibu,” katanya, bersandar di pangkuan Lysandra, “Rian baik, ya.”Lysandra mengusap rambutnya. “Iya, Sayang. Dia anak yang baik.”“Aku senang punya teman sepertinya.”“Ayah dan Ibu juga senan

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 218

    Evangeline berlari keluar dari kamarnya dengan gaun biru muda pilihannya. Warna favoritnya karena sama dengan warna matanya. Rambutnya yang indah dikepang dua oleh Delia, dengan pita-pita kecil berwarna perak. Di tangannya, sebuah kotak hadiah terbungkus kertas warna-warni dengan pita besar.“Ayah! Ibu! Evangeline sudah siap!” teriaknya, berlari ke ruang makan dengan semangat membara.Xylas dan Lysandra sudah duduk di meja, sarapan pagi. Mereka tersenyum melihat putri mereka yang bersemangat.“Sudah siap, Sayang?” tanya Lysandra. “Makan dulu, supaya tidak lapar di perjalanan nnanti.”Evangeline duduk di kursinya, tapi matanya terus melirik ke arah jendela, seolah-olah bisa melihat Kerajaan Selatan dari sana. “Ibu, Rian sekarang sudah sepuluh tahun! Evangeline ingat dulu waktu Evangeline masih kecil, Rian ke sini dan kami main di taman.”Lysandra tersenyum, mengenang momen itu. “Iya, Sayang. Sekarang Rian sudah bes

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 217

    Setelah memastikan Evangeline tertidur pulas dengan boneka di pelukannya, Xylas dan Lysandra kembali ke kamar mereka. Bulan purnama bersinar terang, menciptakan suasana romantis.Lysandra baru saja hendak duduk di tepi tempat tidur ketika Xylas memeluknya dari belakang. Dagu Xylas bertumpu di bahunya.“Evangeline sudah besar,” bisiknya, suaranya dalam dan hangat di telinga Lysandra. “Bagaimana kalau kita memberinya seorang adik?”Lysandra tersentak, lalu tertawa pelan. Wajahnya merona merah, bahkan setelah bertahun-tahun menikah, Xylas masih bisa membuatnya tersipu seperti gadis muda.“Kau ini!” Lysandra memukul lengannya karena gemas, tapi tidak benar-benar berusaha melepaskan diri. “Baru saja Evangeline tidur, kau sudah—”Xylas tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. Dengan gerakan cepat, dia menggendong Lysandra. Xylas mengangkatnya seperti pasangan pengantin baru dan membawanya ke tempat tidur. Lysandra men

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 216

    Lima tahun kemudian … Waktu berlalu begitu cepat di Istana Kekaisaran Barat. Evangeline, yang dulu hanya bayi mungil dalam gendongan, kini telah tumbuh menjadi gadis kecil berusia tujuh tahun yang ceria dan penuh semangat. Rambut pirangnya yang indah—warisan dari Xylas, orang tuanya—sering dikepang dua oleh Delia atau Elise. Matanya yang biru, persis seperti mata Seraphina, selalu berbinar penuh rasa ingin tahu. Pagi itu, halaman latihan istana dipenuhi oleh suara gemerincing pedang kayu dan teriakan semangat Evangeline. “Ayo, Paman Frederick! Lagi! Lagi!” Frederick, yang kini rambutnya mulai memutih di pelipis, berdiri dengan pedang kayu di tangannya. Wajahnya yang biasanya kaku kini menunjukkan senyum tipis. Sesuatu yang dulu sangat langka, tapi sekarang lebih sering muncul, terutama sejak dia menikah dengan Delia tiga tahun lalu. “Putri kecil, kau harus perbaiki posisi kakimu dulu,

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 215

    Matahari pagi bersinar hangat di halaman belakang istana, tempat para pelayan biasa menjemur pakaian keluarga kerajaan. Tali-tali jemuran terbentang panjang, dihiasi dengan gaun-gaun cantik milik Lysandra, pakaian kecil Evangeline, dan jubah-jubah hitam Xylas yang berkibar lembut ditiup angin.Elise berdiri dengan keranjang anyaman di sampingnya, dengan cekatan menjepit pakaian satu per satu. Rambutnya yang diikat sederhana sedikit berantakan terkena angin, tapi dia tidak peduli. Matanya fokus pada tugasnya sambil bersenandung kecil. Lagu yang sama dengan yang dia nyanyikan saat kecil dulu.Dia baru saja meraih gaun biru milik Lysandra ketika tiba-tiba sebuah bayangan muncul di sampingnya.“Astaga! Kau membuatku terkejut!” Elise berteriak kecil, hampir menjatuhkan gaun itu. Tangannya spontan memukul lengan Arion yang berdiri di sampingnya dengan senyum lebar.Arion tertawa—tawa yang dalam dan hangat. “Maaf, maaf. Aku tidak seng

  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 119

    “Segera, Yang Mulia,” jawab Delia sambil membungkuk dan segera pergi memanggil tabib istana.Elise tetap tinggal, berdiri di dekat pintu dengan tangan dilipat ke belakang, menunggu perintah lebih lanjut dari Xylas.Xylas berlutut di depan sofa, tangannya masih menggeng

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 114

    “Saya …” Lysandra terbata-bata.‘Haruskah aku mengakuinya? Aku adalah Putri Mahkota itu. Lysandra. Aku adalah Lysandra.’Lalu, tanpa sadar Seraphina menjatuhkan cangkir tehnya. “Kamu ... benar-benar Putri Mahkota Utara?”Lysandra menutup mulutnya. “Yang M

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 118

    Frederick, wajahnya pucat marah, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mundur beberapa langkah. “Jangan sakiti dia, Eisen. Kau sudah terjebak.”“Apa? Kau bilang aku terjebak?” Eisen tertawa, suaranya pecah.“Aku masih memegang kartu terbaik di sini.” Tangannya yang memegang belati gemetar sedikit

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Budak Kesayangan Sang Tiran   Bab 113

    “Nona Lyra, saya diperintahkan Yang Mulia Kaisar untuk mengantar Anda menuju kediaman Ibu Suri Seraphina.”“Oh, baiklah.”Arion membungkuk, lalu menunjuk Shadow yang mendengkus pelan.“Apa kita akan naik kuda?” tanya Lysandra.Arion mengangg

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status