LOGINDi pagi hari berikutnya, Ashlan terbangun di tempat tidur; di sampingnya, Ashlan tidak bisa menemukan Lira. Dan tampaknya pada saat itu Lira telah bangun lebih dulu, karena pada saat ia melihat ke arah jendela, hari sudah begitu terang.
"Sepertinya aku bangun terlalu lambat. Bisa-bisanya..." Dengan sedikit sempoyongan, Ashlan membalut tubuh bagian bawahnya dengan menggunakan kain, sedangkan untuk tubuh bagian atasnya ia tidak menggunakan apa-apa. Dan dengan langkah kaki yang terasa berat, Ashlan keluar dari kamar itu. Awalnya ia berpikir, jika ia keluar mungkin ia bisa menemukan salah satu dari istrinya— namun tampaknya pada saat itu ia tidak berhasil menemukan siapa-siapa. "Ke mana perginya semua orang? Kenapa tiba-tiba jadi sepi seperti ini? Apa jangan-jangan..." Ketika melihat kondisi rumah yang sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan orang lain selain dirinya sendiri... Ashlan tiba-tiba saja mulai berpikir jika mungkin apa saja yang telah terjadi kepada dirinya itu hanyalah sebuah mimpi. "Apakah semua itu hanya mimpi saja? Bukan kenyataan? Tapi..." Pada saat ia masih terjebak dalam pemikirannya sendiri, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan dari luar rumah. Dan dengan cepat ia langsung berlari untuk melihat sumber dari suara tersebut. Dan disana, Ashlan melihat dengan jelas kelima istrinya; dan itu artinya segala hal yang terlihat terjadi bukanlah mimpi kosong. Semua itu benar-benar nyata terjadi. Dan tidak tahu kenapa, tetapi ia merasa benar-benar sangat lega saat mengetahui bahwa keberadaan lima istrinya itu bukanlah sebuah mimpi kosong belaka. "Apa kalian berlima lakukan di sana?" Ashlan mendekati kelima istrinya, berusaha untuk bergabung di tengah keseruan mereka. "Kamu sudah bangun, Ashlan?" Lira menyambut kedatangan Ashlan dengan senyuman yang terlihat sangat manis di wajahnya. Tampaknya pada saat itu sesuatu yang baik telah terjadi. "Sepertinya sesuatu yang baik sudah terjadi. Kalian terlihat jauh lebih bahagia dibandingkan sebelumnya. Ada apa? Bisa tolong beritahukan kepadaku juga? Aku juga ingin merayakannya bersama dengan kalian," ucap Ashlan. "Kekuatan Lira hampir kembali sepenuhnya. Dia sudah bisa mengendalikan kekuatannya jauh lebih besar dibanding sebelumnya; dan semua ini terjadi berkat bantuan darimu, Ashlan," ujar Nara. Ketika mendengar hal itu, Ashlan merasa lega karena kekuatan Lira sudah berangsur-angsur kembali seperti semula. Dan di satu sisi, ia juga merasa malu karena Nara terus saja menyanjung dirinya dengan mengatakan bahwa ia adalah penyelamat bagi mereka berlima. "Kamu benar-benar penyelamat, Ashlan." Namun pada saat itu tidak semua dari mereka merasakan hal yang sama; contohnya, Vea. Wanita itu memang kelihatan sangat sulit untuk bisa percaya dengan orang lain; dan tentu saja tidak terkecuali Ashlan. Walaupun empat dari mereka sudah sangat percaya kepada Ashlan, Vea masih saja tidak bisa mempercayai Ashlan seutuhnya. Dan pada saat itu, tentu saja Ashlan menyadari akan hal itu. Namun walaupun ia tahu mengenai ketidakpercayaan Vea, Ashlan tetap mencoba untuk bersikap baik kepadanya agar wanita itu bisa segera luluh dan juga percaya kepada dirinya. "Oh ya, Ashlan. Kalau kamu baru bangun, berarti kamu belum makan kan? Bagaimana kalau begini saja; kamu pergi untuk mandi dulu, dan untuk sarapannya biar kami yang siapkan. Nanti barulah kita makan bersama." Diberikan penawaran seperti itu, tentu saja Ashlan tidak menolak dan langsung setuju dengan apa yang sampaikan oleh, Lira. "Baiklah. Kalau begitu aku akan pergi mandi dan ganti baju dulu. Kita bertemu lagi nanti di meja makan." ——— Ashlan telah diberikan waktu seluas-luasnya untuk mandi dan juga berganti pakaian. Tetapi Ashlan bukanlah tipe orang yang menggunakan banyak waktu hanya untuk mandi dan berganti pakaian; karena itulah ia bisa selesai lebih awal. Pada saat kelima istrinya masih sibuk memasak di dapur, Ashlan sudah selesai mandi dan juga berganti pakaian. Dan pada saat itu para istrinya belum selesai memasak. Ashlan tidak merasa enak hanya diam saja dan menunggu sambil menonton para istrinya memasak dengan susah payah; karena itulah secara inisiatif dia ikut bergabung di dapur. Dengan penuh kehati-hatian, Ashlan membantu Lira yang kesulitan memotong sayur-sayuran. "Sini, biar aku saja yang memotong sayuran ini. Kamu bisa kerjakan yang lain saja." "Padahal kamu tidak perlu ikut membantu," ucap Lira. "Aku merasa tidak enak harus duduk diam begitu saja sambil menonton kalian memasak. Biar bagaimanapun juga aku harus ikut membantu," jawab Ashlan. Pada awalnya Lira tidak ingin memberikan pekerjaan itu kepada Ashlan, tetapi mengingat kembali masih banyak hal yang harus dikerjakan, Lira pun tampaknya terpaksa harus membiarkan Ashlan ikut bekerja. Dan dengan begitu mereka semua bekerjasama di dapur untuk memasak sarapan. Dan sambil bekerja mereka sambil mengobrol tentang banyak hal; bahkan Nara juga menceritakan kepada Ashlan tentang bagaimana indahnya tempat asal mereka. Nara menceritakan tentang bagaimana dia begitu merindukan rumahnya. "Aku benar-benar sangat merindukan rumah..." Ketika melihat Nara yang tampak sedih ketika mengingat rumahnya, Ashlan pun tanpa sadar ikut merasa sedih juga. Entah kenapa, tetapi tiba-tiba saja ia merasa sesuatu yang sangat aneh; rasa sakit yang sulit untuk ia jelaskan dengan kata-kata. "Ini aneh," gumamnya sambil memegangi uluh hatinya yang rasa sakitnya kian semakin nyata. "Ashlan, ada apa?" tanya Sia yang sejak tadi hanya fokus menggiling cabe. "Aku tidak tahu, tetapi ketika melihat Nara bersedih seperti itu... tiba-tiba saja aku merasa hatiku pun ikut terasa sakit. Dan anehnya rasa sakit itu begitu nyata. Ini benar-benar sangat aneh!" jelas Ashlan. Tiba-tiba saja semua orang terdiam. Dan di tengah kesunyian itu, Elen memecahnya dengan memberikan jawaban yang langsung memuaskan rasa penasaran semua orang. "Itu hal yang wajar. Dan bahkan sangat bagus jika memang kamu merasakan apa yang dirasakan oleh Nara," ucap Elen. "Maksudnya?" "Rasa sakit yang kamu rasakan itu adalah rasa sakit yang dirasakan oleh Nara. Dan karena kamu sudah bisa merasakan rasa sakit yang dia rasakan, itu artinya penyatuan jiwa kita sudah mulai diterima. Dan untuk malam ini sepertinya kalian berdua yang harus bermain," ucap Elen sambil fokus menjaga api tetap menyala. "Bermain? Bermain apa?" tanya Nara. "Mungkin yang dia maksud itu adalah malam pertama," jawab Ashlan. Dan tiba-tiba saja pada saat itu wajah Nara memerah. Dan jelas jika pada saat itu dia tampaknya belum siap secara mental. "Tapi, jika kamu belum siap untuk melakukan itu, maka kamu tidak perlu memaksakan dirimu," jelas Ashlan. "Bukan hal yang baik juga jika melakukan sesuatu dalam kondisi terpaksa." Perkataan Ashlan berhasil membuat Nara tampak lebih tenang. Dia tampak senang saat Ashlan menunjukkan sikap dewasanya. "Kalian dengar kan... malam ini aku tidak akan melakukannya. Jadi, kira-kira siapa yang akan melakukannya selanjutnya? Apa kamu ingin melakukannya malam ini, Vea?" tanya Nara. ——— -Bersambung-Setelah dengan berani membuat sumpah, Nadia langsung pergi meninggalkan tempat itu. Dan tidak lama setelah Nadia pergi ....Vea membalikkan badan, menatap Ashlan yang masih berdiri di belakangnya."Jangan pernah goyah hanya karena dia terang-terangan mengaku menyukaimu," tegur Vea, memecah keheningan. "Dia cuma putri manja yang tidak terbiasa ditolak."Elen melangkah mendekat, melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap Ashlan dengan tatapan yang jauh lebih serius."Vea benar. Dan ingat satu hal lagi, Ashlan," potong Elen dengan nada menekan. "Jika sampai kamu terbuai oleh rayuannya, bahkan sedikit saja! Kita semua yang ada di sini akan mati. Jiwa suci milikmu akan ternoda begitu disentuh oleh wanita lain."Lira, Nara, dan Sia tidak mengucapkan satu kata pun. Mereka hanya berdiri diam di posisinya masing-masing, menatap Ashlan dengan tatapan berat. Sikap diam ketiganya sudah cukup menjadi tanda bahwa mereka menyetujui setiap kata yang diucapkan oleh Vea dan Elen.Ashlan mengepalk
Satu minggu setelah kejadian di acara jamuan istana; Ashlan dan kelima istrinya melanjutkan hidup seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Namun, pada saat itu para pekerja di kebun tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka ketika melihat perubahan wajah Ashlan yang kini semakin menua hanya dalam waktu satu minggu. ... Hari itu adalah pertama kali sejak terakhir kali Ashlan keluar saat ingin pergi ke istana. Karena satu minggu terakhir, Ashlan fokus menyembuhkan diri dengan melakukan meditasi bersama kelima istrinya. Walaupun pada saat itu efeknya tidak terlalu kuat, tetapi setidaknya hal itu bisa menutupi kurangnya usia Ashlan yang begitu banyak. Walaupun wajahnya tetap berubah, tetapi setidaknya perubahan itu tidak terlalu terlihat jelas. ... Setelah seminggu penuh beristirahat, Ashlan akhirnya kembali bekerja di lahan bersama dengan orang-orang lainnya ikut bekerja di sana. Dan sebelum bekerja ia ingin memastikan apakah permintaannya benar-benar telah dikabulkan oleh Raja Salman a
Walaupun pada saat itu rasanya kulit tubuh Ashlan tergoreng habis, dengan sisa tenaga yang ada ia langsung berlari untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi di aula jamuan sampai-sampai membuat Vea dan juga Elen berteriak dengan suara yang keras. Dan ketika ia baru sampai di sana, Ashlan benar-benar sangat terkejut melihat bahwa, Lira, dan Sia sudah tidak sadarkan diri di tempat itu. Dan bahkan Nara pun tampak lemah. Dan pada saat itu hanya Vea dan Elen yang baik-baik saja diantara mereka berenam. Dengan menggunakan sisa tenaga yang ada, Ashlan meminta bantuan kepada Raja Salman untuk membiarkan dirinya dan juga kelima istrinya untuk segera pergi dari istana. Dan beruntung pada saat itu Raja Salman memberikan izin dan bahkan membantu dengan memberikan seorang kusir untuk mengendarai kuda yang digunakan oleh Ashlan dan kelima istrinya. ... Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya mereka sampai kembali di rumah. Ashlan mengucapkan banyak terima kasih kepada kusir itu dan jug
"Tuan Ashlan adalah tamu terhormat yang kuundang secara pribadi ke istana ini. Siapa pun yang menghina Tuan Ashlan, itu artinya kalian telah menghina keputusanku dan menghina Kerajaan Jayakarta!" pangkas Raja Salman penuh penekanan.Tuan Bara dan Arka membeku di tempatnya. Hinaan yang ingin mereka lontarkan untuk mempermalukan Ashlan justru berbalik menjadi tamparan keras yang meruntuhkan harga diri mereka di hadapan seluruh pejabat dan bangsawan kerajaan. Tuan Bara cepat-cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa malu yang teramat sangat.Sementara itu, Ashlan hanya bisa terpana melihat ketegasan dari sang raja. Hatinya tersentuh melihat seorang penguasa tertinggi membela dirinya yang biasa ini dengan begitu megah.... Setelah kekacauan itu terjadi dan kemudian di atasi, semua orang duduk di tempat masing-masing sambil diam menyantap hidangan yang telah disiapkan khusus oleh Raja Salman untuk semua orang, terutama untuk Ashlan dan juga kelima istrinya. Dan di tengah-te
Pada saat Ashlan merasa takut dengan semua bandit itu, dan berpikir untuk menyerahkan semua harta bawaan mereka, serta juga hadiah-hadiah yang telah disiapkan—untuk diberikan kepada Raja Salman; kelima istri Ashlan justru tidak takut sama sekali dan bahkan langsung menghadapi para bandit tersebut dengan hanya menggerakkan beberapa jari tangan mereka hingga membuat semua bandit itu terlempar jauh. Ketika melihat apa yang baru saja dilakukan oleh kelima istrinya, Ashlan benar-benar dilihat bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Ia benar-benar tidak bisa terbiasa dengan kejutan dan juga kekuatan yang ditujukan oleh para istrinya saat itu. Padahal sebenarnya ia telah beberapa kali melihat para istrinya menggunakan kekuatan mereka; tetapi tetap saja hal itu masih mengejutkan bagi Ashlan."Semua sudah beres sekarang. Kamu tidak perlu lagi memegangi tongkat itu. Dan ngomong-ngomong... kemana hilangnya kusir kita?" tanya Vea. "Emm... i-itu... tadi kurasa dia telah melarikan diri karena te
Ashlan benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Undangan dari Raja Salman?Bahkan sampai beberapa saat lamanya, Ashlan masih berdiri mematung di depan pintu rumahnya. Tatapan matanya terus berpindah dari wajah prajurit kerajaan ke gulungan surat bersegel emas yang berada di tangan pria itu.Baginya, semua ini terasa seperti mimpi.Dalam hatinya, Ashlan bertanya-tanya, kenapa seorang Raja Salman ingin mengundang dirinya yang tidak suci ini ke istana megah itu? Dulu, jangankan mendapatkan undangan dari raja. Berdiri di depan gerbang istana saja adalah sesuatu yang tidak pernah berani ia bayangkan.Namun sekarang...Seorang prajurit kerajaan benar-benar datang langsung ke rumahnya hanya untuk mengantarkan undangan resmi."Tuan Ashlan?" panggil prajurit itu sekali lagi ketika melihat Ashlan tidak kunjung menerima surat yang ia sodorkan.Ashlan tersentak."Oh... maaf."Dengan sedikit gugup, Ashlan mengulurkan kedua tangannya untuk menerima gulungan surat tersebut.







