แชร์

Janji di Samping Ranjang

ผู้เขียน: Refina Seftiani
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-01 15:51:21

"Malam ini adalah giliran, Lira," ucap Nara. "Malam ini dia akan menghabiskan malam berdua denganmu. Dan malam ini juga kalian berdua harus segera melakukan penyatuan; karena hanya dengan begitu kekuatan Lira bisa terisi ulang kembali."

Pada posisi itu, Ashlan benar-benar merasa sangat malu. Seumur hidupnya ia tidak pernah memiliki pengalaman untuk melakukan hal seperti itu. Terlebih lagi selama ini juga ia tidak mendapatkan pelatihan apapun, karena sejak kecil ia telah hidup sebagai budak dan tidak pernah pergi bersekolah.

Namun sihir yang sebelumnya Sia lakukan kepada dirinya masih berlaku; secara ajaib Ashlan bisa tahu langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk melakukan penyatuan jiwa.

Akan tetapi, tetap saja rasanya Ashlan tidak bisa melakukan hal itu.

"Kamu tidak perlu merasa cemas, Ashlan. Semuanya akan cepat berlalu begitu saja tanpa kamu sadari. Dan yang perlu kamu lakukan hanyalah mengikuti arus, dan lakukan seperti apa yang tertanam di dalam pikiranmu."

Lira yang tampak santai saja memberikan dukungan kepada Ashlan. Dia memang tampak sangat santai pada saat itu, seakan-akan dia tidak merasakan apapun saat ingin melakukan hubungan intim bersama dengan Ashlan.

"Aku sudah selesai makan. Aku akan menunggu kamu di dalam kamar. Jika kamu sudah siap, masuklah ke dalam," ucap Lira.

Sebelum pergi, Lira menumpuk pundak Ashlan— seakan-akan dia menaruh beban yang begitu berat di pundak Ashlan.

"Ashlan, bersemangatlah. Jangan terlalu khawatir. Percayalah, semuanya akan berlalu dengan cepat dan matahari pasti akan segera terbit kembali," ucap Nara— berusaha memberikan semangat kepada Ashlan.

Ashlan berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberikan ia semangat. Tetapi jujur saja, dorongan semangat yang diberikan kepadanya itu tidak terlalu memberikan efek yang nyata. Buktinya ia masih merasa gugup saat dihadapkan dengan Lira.

Pada saat ia masuk ke dalam kamar, Ashlan benar-benar langsung salah tingkah. Wajahnya memerah pada saat melihat Lira yang telah menunggu dirinya di atas ranjang dengan tubuh yang terbalut kain kemban.

Rasanya benar-benar sangat memalukan. Dan pada saat itu sangat sulit baginya untuk mendekat kepada Lira; akan tetapi pada saat itu Lira dengan sabar membimbing Ashlan.

Secara perlahan Lira berhasil membuat Ashlan duduk di tepi ranjang. Dan pada saat itu Ashlan benar-benar merasa bersyukur, karena pada saat itu Lira tidak langsung ingin melakukan hubungan badan dengan segera.

Wanita itu dengan hati-hati berbicara kepada Ashlan. Dia membuat Ashlan berjanji akan satu hal...

"Berjanjilah, mulai malam ini, dan juga seterusnya... kamu tidak boleh membiarkan orang lain merendahkan dirimu seperti sebelumnya."

Mendengar permintaan dari istrinya, Ashlan hanya bisa mengganggukan kepalanya pelan. Pada saat itu ia mengerti maksud permintaan dari Lira. Dan untuk itu, Ashlan berani berjanji jika ia tidak akan lagi melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.

"Jika memang itu yang kamu inginkan, maka tentu saja aku akan mengabulkan semuanya," sahut Ashlan.

Setelah mendengar jawaban dari Ashlan, Lira terlihat senang. Dia tersenyum, dan kemudian secara perlahan, wanita itu mulai mengambil inisiatif sendiri dengan mendekati Ashlan.

Ashlan yang tidak terbiasa dengan sentuhan itu hanya bisa diam dan kaku; dia benar-benar berubah menjadi patung dalam sesaat. Dan akibatnya, Lira yang pada awalnya sangat serius, tiba-tiba saja dia tidak bisa menahan tawanya. Dia tertawa.

"Kenapa kamu tiba-tiba tertawa? Apakah ada yang lucu?"

Ashlan bertanya karena ia benar-benar tidak tahu betapa lucunya dirinya pada saat itu. ​

"Ekspresi wajahmu benar-benar sangat lucu. Dan karena ekspresi wajahmu itu, aku benar-benar tidak bisa fokus," ujar Lira.

"Maafkan aku..."

Dan setelah hal itu, suasana diantara keduanya kembali menjadi canggung. Tidak ada lagi yang berbicara untuk beberapa waktu— baik itu Ashlan, maupun Lira.

Di dalam hati Ashlan terus bertanya-tanya, kira-kira sampai kapan mereka saling bisu seperti ini? Dan jika saja mereka terus bersikap seperti itu... mungkin mereka tidak akan bisa melakukan penyatuan sampai besok pagi.

"A-Anu... itu... Lir—"

Belum selesai Ashlan berbicara dengan cara yang aneh, Lira sudah lebih dulu mengambil keputusan.

"Jika terus seperti ini kita tidak akan selesai sampai ayam berkokok. Dan jika aku terus menunggu kamu untuk berinisiatif, hal itu mungkin tidak akan terjadi sampai kapanpun. Jadi, tolong biarkan aku yang memimpin," ujar Lira.

Wanita itu benar-benar penuh dengan kharisma. Dan pada saat itu, Ashlan hanya bisa mengganggukan kepalanya dengan patuh. Ia hanya membiarkan Lira yang bekerja keras.

Dimulai dengan gerakan halus dimana Lira duduk dipangkuan Ashlan, dan kemudian dengan sentuhan halus dia mengalungkan tangannya di leher Ashlan.

Jujur saja, pada saat itu wajah Ashlan benar-benar memerah dan terasa sangat panas. Rasanya sangat sulit bagi dirinya untuk menatap matap Lira secara langsung; dan oleh sebab itulah, Ashlan tidak berani membuka matanya dan hanya menutup kedua matanya.

Setelah berhasil mengalungkan tangannya di leher Ashlan, perlahan-lahan wanita yang duduk di pangkuannya itu mulai membuka baju yang dipakai oleh Ashlan. Dan tempat setelah baju Ashlan terbuka, dengan jemarinya yang lihai, Lira mulai menyentuh dada bidang Ashlan.

Gerakan tangan wanita itu begitu halus, begitu lembut dan begitu memabukkan. Setiap jemarinya memberikan sensasi yang luar biasa— sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Selanjutnya Lira mulai mengambil tindakan berani dengan mendaratkan ciuman manis di bibir Ashlan. Dan pada awalnya ciuman itu terasa lembut dan manis, tetapi semakin berjalannya waktu ciuman itu semakin berani— dimana lidah mulai ikut bermain, ketika kedua lidah saling menyerang satu sama lain... hingga pada akhirnya Ashlan yang sejak awal tidak memiliki nafsu sama sekali— kini nafsu itu mulai bangkit.

Dengan dorongan dari nafsu tersebut, Ashlan dengan penuh tenaga mendekatkan tubuh kecil Lira— lebih menempel dan lebih dekat lagi dengan tubuhnya; membuat wanita itu bisa merasakan sesuatu yang bangkit dari balik celana Ashlan.

Pada awalnya memang Lira yang memimpin permainan tersebut. Tetapi setelah Ashlan telah terpicu, ialah yang mulai memimpin permainan tersebut.

Ashlan tidak bermain dengan lembut. Ia bermain dengan sangat kasar— tetapi kasar di sini bukan kasar yang menyakitkan, tetapi kasar yang memabukan.

Napas Ashlan memburu. Rasa canggung itu terbakar habis, digantikan oleh naluri purba seorang pria yang menginginkan wanitanya sepenuhnya.

Erangan rendah lolos dari tenggorokan Ashlan saat kedua tangan besarnya turun ke pinggang Lira, meremasnya posesif, dan mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah untuk dibawa kembali ke atas ranjang.

Di atas ranjang, Ashlan kembali menikmati setiap inci bibir manis Lira. Dia tidak berhenti dan terus mengacup serta menghisap bibir tersebut hingga memerah; dan tidak cukup sampai di situ, Ashlan perlahan-lahan mulai turun untuk mencium leher jenjang Lira.

Ketika mulutnya sibuk dengan kecupan manis dan juga hisapan, tangan kekar Ashlan perlahan mulai menjelajahi tubuh bagian atas Lira.

Tindakan berani yang dilakukan oleh Ashlan benar-benar membuat wanita yang berada di bawah tubuhnya pada saat itu terus mendesah kenikmatan; hingga pada akhirnya tiba proses penyatuan yang dimana pada awalnya hal itu terasa sakit... tetapi seiring berjalannya waktu, rasa nikmat dan juga rasa puas itu berhasil membuat Ashlan dan Lira berteriak nikmat ketika mereka sampai pada puncak klimaks.

———

-Bersambung-​

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Menolak Darah Ashlan

    Ashlan tersentak ketika tiba-tiba saja Lira berteriak menolak apa yang belum dikatakan oleh Vea. "Jangan berani-berani melakukan hal itu!" Lira memberikan peringatan tegas untuk tidak melakukan apa yang ada di dalam pikiran Vea. Di sisi lain, Ashlan yang masih belum mengerti hanya bisa terdiam di tengah-tengah ketegangan antara Lira dan juga Vea. "Tetapi hanya itu cara satu-satunya agar bisa menyelamatkan kamu Lira! Dan sebagai seseorang yang nyawanya telah kita selamatkan, bukankah memang sudah menjadi kewajiban baginya untuk menyelamatkan kita juga di saat kita kesusahan? Lalu kenapa kamu ingin menolak hal itu?" Vea tampaknya tidak ingin mundur dari rencana yang ada di dalam kepalanya. Di tengah ketegangan itu, pada awalnya Ashlan belum menyadari tentang rencana apa yang ada di dalam pikiran Vea. Tetapi setelah melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan oleh Lira, tampaknya pada saat itu Ashlan mengetahui rencana apa yang sedang dipikirkan ol

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Retakan

    Ashlan tidak bisa menjaga ekskresi wajahnya sendiri ketika pertama kali melihat bagaimana kondisi dari wajah Lira pada saat itu. Wajah cantik yang dulu dia miliki kini telah berubah menjadi wajah kering, mirip seperti tanah yang mengering yang pada saat ini sedang dilanda oleh para petani. "Apa yang sebenarnya telah terjadi kepada kamu Lira?" tanya Ashlan."Ini terjadi karena energinya semakin berkurang hari demi hari. Dan semua ini terjadi karena proses penyatuan yang sebelumnya kita lakukan telah ternoda akibat kejadian di istana waktu itu," jawab Nara. Mendengar jawaban yang baru saja diberikan oleh Nara, Ashlan langsung mengerti jika apa yang pada saat ini tengah terjadi kepada Lira adalah karena kesalahan yang ia lakukan di istana waktu itu. "Maafkan aku... "Ashlan benar-benar merasa sangat bersalah atas apa yang telah terjadi kepada Lira karena dirinya. Dan mungkin bukan hanya Lira saja nanti yang akan menerima dampak

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Wabah Kekeringan

    Pada malam berikutnya, Ashlan tidak bisa tidur. Di dalam pikirannya ia masih terbayang-bayang dengan apa yang sebelumnya dikatakan oleh Nara.Ia terus bertanya-tanya; bagaimana jika mungkin memang benar-benar ada seorang budak yang mungkin masih mengingat tentang hari dimana Ashlan datang ke kediaman Tuan Bara. Hal tersebut benar-benar mengganggu pikiran tenang Ashlan. Bahkan ketika malam telah berganti dengan siang, ia tidak bisa bekerja dengan fokus di ladang. Pikirannya terbang kemana-mana. Bahkan ketika Pak Joko berusaha untuk membuatnya kembali fokus dengan pekerjaan di ladang, ia tidak bisa melakukannya. "Tuan. Tuan sedang tidak enak badan kah? Sepertinya sejak tadi Tuan tidak bisa fokus. Jika sedang tidak enak badan, tuan bisa serahkan pekerjaan di sini kepada saya. Saya akan mengawasi semuanya dengan baik di sini. Tidak perlu khawatir," kata Pak Joko. "Ndak, Pak. Saya baik-baik saja. Saya cuman sedang berpikir sebentar. Ayo kita lanjutkan lagi bekerjanya. Kita akan harus ke

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Pulang Dengan Tangan Kosong

    Baru saja Ashlan sampai di depan rumah, Nara yang sejak tadi sudah menunggu ia datang langsung menyambut kedatangannya dengan begitu hangat. "Ashlan, kamu sudah pulang? Bagaimana perjalananmu? Kamu lelah? Apa kamu ingin aku buatkan minuman?" tanya Nara. "Boleh. Tolong ya, Nara," jawab Ashlan."Baik. Tunggu sebentar ya."Nara langsung pergi ke dapur untuk mengambilkan Ashlan minuman. Dan setelah selesai membuat minuman untuk Ashlan, Nara langsung mengajukan minuman tersebut kepada Ashlan.Mereka duduk bersama di teras rumah. "Terima kasih ya, Nara."Ashlan mengambil minuman yang sebelumnya dibuatkan oleh Nara dan kemudian meminum minuman tersebut untuk menghilangkan rasa haus. "Bagaimana perjalanan kamu tadi? Berjalan lancar bukan?" tanya Nara. Ashlan hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. "Lalu, bagaimana dengan Tuan Bara? Kamu sudah mendapatkan jawaban yang kamu inginkan dari dia?"

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Menolak Tawaran Nadia

    Bertanya langsung kepada Tuan Bara tidak memberikan Ashlan jawaban yang diinginkan. Alhasil upayanya datang jauh-jauh ke sana hanya sia-sia saja. Bahkan kini ia harus menepati janji yang sebelumnya sudah ia buat dengan Nadia. ... Setelah tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Tuan Bara, Ashlan terpaksa harus menepati janji yang ia buat kepada Nadia dengan memberikan sedikit waktu yang ia miliki untuk makan bersama dengan gadis bangsawan itu. "Boleh aku bertanya sesuatu kepada kamu?" tanya Nadia tiba-tiba."Ingin bertanya tentang apa?" tanya Ashlan balik. "Selama lebih dari berpuluh-puluh tahun lamanya kamu tidak pernah mengungkit kembali tentang orang tua kandungmu. Lalu karena apa tiba-tiba sekarang kamu mengungkit tentang hal itu? Kenapa kamu sekarang ingin tahu tentang mereka?" tanya Nadia. Ashlan hanya terdiam untuk beberapa saat. "Awalnya aku memang tidak pernah peduli tentang hal itu. Tetapi setelah

  • Budak & Lima Istri Dari Langit   Jawaban Dari Tuan Bara

    "Kamu ingin aku berjanji apa? Tolong jangan minta hal yang macam-macam dariku. Aku tidak bisa melanggar batasan yang ada, Nona Nadia," ucap Ashlan.Nadia tersenyum dengan senyuman yang paling manis yang dia miliki. "Tidak. Kamu tenang saja. Aku tidak akan meminta hal yang aneh-aneh dari kamu, karena yang aku inginkan dari kamu hanya satu dan itu pun hal yang sangat sederhana," jawab Nadia. Walaupun tidak mengetahui niat sebenarnya yang dimiliki oleh Nadia, tetapi pada saat itu Ashlan tidak punya pilihan lain selain menuruti apa yang dia inginkan. Karena jika tidak, maka usahanya datang jauh-jauh kemari tidak akan membuahkan hasil apa-apa. "Baik. Katakan, bayaran apa yang kamu minta dariku agar aku bisa bertemu dengan ayahmu? Sebagai catatan, aku tidak akan menerima jika kamu meminta hal yang aneh-aneh!" tekan Ashlan."Tenang saja. Aku tidak akan meminta hal yang aneh-aneh dari kamu. Karena yang aku inginkan hanyalah waktu sebentar dari

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status