
Bukan Aku Orangnya
Aku tidak pernah menyangka akan berada di titik ini. Menikah dan menjalani rumah tangga tanpa adanya rasa cinta di dalamnya. Pernikahan yang kujalani karena dijodohkan oleh wanita yang katanya melahirkanku. Wanita yang selalu memperlakukanku layaknya robot dan dia yang memegang kendalinya.
Seperti aku yang masih berusaha melepas rasa untuk seseorang yang sekarang entah dimana, begitu juga dengan Mas Zayn, suamiku, yang tak pernah kurasakan kehangatan cintanya. Awalnya kukira, aku tidak merasakan cinta itu karena hatiku yang masih dibelenggu masa lalu. Namun, ternyata aku salah. Aku tidak merasakan cinta itu bukan karena diriku, melainkan karena memang dia tidak mencintaiku.
Malam itu aku mendapati Mas Zayn menangis sambil memandangi sebuah foto yang aku tak tau itu siapa. Hingga aku bertekad mencari tahu segalanya. Satu persatu kenyataan mulai terungkap, dan aku sempat menyalahkan diri sendiri.
Ada keinginan untuk menyerah, tetapi …apa dayaku? Aku tak bisa mengambil keputusan besar itu, jika dia si Pemegang Remot tak memberi izin untuk robotnya ini.
Rasa panas menjalar di pipiku ketika lima jari mendarat indah di sana. Gesekannya meninggalkan bekas merah, sama persis dengan apa yang dulu kurasakan setiap kali menyebutkan keinginanku.
“Jangan bikin malu keluarga!” Teriaknya kala itu. “Kamu kira menjadi janda itu menyenangkan? Kalau kamu cerai sama Zayn, siapa yang bakal membiayai kehidupan kita, ha? Siapa yang akan membiayai kuliah dan sekolah adik-adikmu?” Tatapannya nyalang, mengunci pergerakanku. Dadanya naik turun bersamaan dengan mengetatnya rahang membuat nyaliku ciut seketika.
Dia, wanita yang kupanggil Ibu itu tak pernah berubah, dan aku tahu seperti apapun aku berusaha baginya aku tak seberharga itu. Aku tak akan diberi celah sedikit pun.
Lalu aku harus apa? Bertahan membuatku semakin terluka.
Tuhan … sebegitu buruknya kah aku, sampai aku tak pernah layak dicintai? Aku hanya ingin bahagia, meski tak ada yang menaruh cintanya untukku. Apa itu mungkin?
Leer
Chapter: Bab. 5 Rahasia yang TerkoyakKusandarkan diri pada sandaran kursi dengan Gavin berada dalam gendongan. Riuh hujan di luar sana tak mampu memberiku ketenangan. Setelah berulang kali kuyakinkan diri untuk tidak berlari keluar, kini kepalaku semakin bising oleh berbagai hal yang melelahkan. Berbagai goresan diciptakan telunjukku pada jendela kaca saat embun terbentuk di sana. Jika orang lain lelah oleh semua aktivitas fisik yang dia lakukan, maka aku berbeda. Lelah ini bukan lagi tentang hal fisik yang kujalani. Sungguh, tubuh ini jauh lebih lelah ketika berkutat dengan semua isi kepala. Ah … entah kapan semua ini bisa berakhir. Aku telah sangat kewalahan menjalaninya. “Mereka siapa, Mas?” Pertanyaan yang lolos setelah berulang kali aku berusaha membuka kunci ponsel Mas Zayn, hingga akhirnya berhasil. Aku tidak bertanya dengan nada tinggi, layaknya istri sah memergoki pengkhianatan suaminya. Aku berusaha setenang mungkin, menahan diri agar emosi ini tidak meledakkan tangis. “Bukankah dari awal sudah kukatak
Última actualización: 2025-12-12
Chapter: Bab 4. Sebuah Kenyataan“Makan malam sudah kusiapkan.” Aku bicara tanpa menatap lelaki yang sudah 3 hari ini tidak bicara padaku sama sekali. Sama seperti dia, aku pun enggan untuk memulai obrolan dengannya lebih dulu. Ya, kalau orang zaman sekarang bilang silent treatment, dan itulah yang terjadi antara kami. Hanya sesekali aku bicara dan itu pun cuma hal-hal penting, layaknya saat ini ketika dia baru pulang dengan wajah kusut tak karuan.“Hm.” Cuma gumam itu yang keluar, dan tungkainya melangkah menaiki anak tangga. Aku tahu dia pasti menuju kamar kami. Tempat dimana Gavin sedang terlelap. Sepertinya dia nggak bakalan makan malam lagi kali ini. Sama seperti malam sebelumnya sejak Mama pulang. Dia … tak pernah makan di rumah ini.Aku ingin tak menghiraukannya, sama seperti dia yang gak menghiraukanku. Namun, hati ini masih saja merasa bertanggung jawab atas semua keperluannya. Aku tak punya kemampuan untuk seacuh itu.Suara gemericik air terdengar dari arah kamar mandi saat aku memasuki kamar. Di sana aku
Última actualización: 2025-12-05
Chapter: bab 3. Sebuah pertengkaran“Besok pagi aku harus tetap berangkat ke luar kota.” Sunyi yang memenuhi setiap sudut kamar, pecah oleh suara berat dari Mas Zayn. Pandangannya tertuju pada Gavin yang terlelap dalam pangkuanku. “Lagipula, demam Gavin udah mulai turun.” Dia melirik sekilas ke arah Gavin.Aku hanya diam. Memperhatikan putra semata wayangku yang terlelap dalam pangkuan. Panasnya memang sudah turun, tetapi dia nggak bisa lepas dari gendongan. Tak dipungkiri, tubuhku rasanya mau remuk. Dari tadi tak sedikit pun Mas Zayn berniat untuk menggantikanku menggendong Gavin. Sementara mama mertuaku sudah terlelap sejak pembicaraannya dengan Mas Zayn berakhir setelah makan malam.Aku nggak tahu apa yang mereka bicarakan. Dari raut wajah Mama yang nampak kesal, dan Mas Zayn yang sepertinya tertekan bisa ku simpulkan kalau itu bukan pembicaraan biasa. Sempat sih, Mama menggendong Gavin sebentar, cuma … aku nggak tega aja membiarkannya terlalu lama. “Tolong besok pagi kamu bantu bicara sama Mama!” Mas Zayn kembali
Última actualización: 2025-12-02
Chapter: Bab 2. Kedatangan MertuaSore datang menyapa menandakan satu lagi hari yang berat berhasil kulalui. Mengurus semuanya sendirian cukup menguras energi dan mentalku. Syukurnya aku masih bisa melaluinya meski dengan tertatih. Sebenarnya bukan cuma menyelesaikan pekerjaan sebagai Ijah dan mengurus Gavin yang membuatku lelah. Lebih dari itu, ada banyak hal yang bersemayam dalam benakku. Memikirkan Ibu yang sampai sekarang belum sempat kuhubungi. Memikirkan rumah tanggaku yang seolah cuma aku yang menjalani. Belum lagi komentar Ibu-Ibu posyandu tadi saat melihat tubuh mungil putraku tak segembul bayi lainnya. “Mbak, ASI-nya lancar kan?” “Mungkin ASI Mbak kurang berkualitas, apa Mbak nggak minum suplemen ASI?” “Banyakin makan sayur, Mbak!” Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan. Memberi saran yang aku sendiri sudah jauh lebih dulu lakukan. Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan sua
Última actualización: 2025-10-07
Chapter: Bab 1. Bukan Mesin Pencetak Uang“Ale, nanti tolong kamu siapin baju-baju, Mas, ya!” Mas Zayn bicara tanpa menatapku. Dia masih sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggaman. Entah apa yang dia lakukan dengan benda pintar itu, yang jelas sepertinya jauh lebih menarik daripada menatap istrinya ini. Lucu, ya. Kami tinggal dalam satu atap, bahkan menghabiskan malam dalam satu ranjang. Namun, ketika pagi menyapa kami justru bagai dua orang asing yang terjebak dalam situasi melelahkan. Dia begitu dingin dan menyebalkan. Terkadang ada inginku untuk dilirik olehnya walau hanya dalam hitungan detik. Ya … sekedar menghargai statusku sebagai seorang istri. Sayangnya itu hanya sebatas ingin. “Kamu jadi berangkat sore ini, Mas?” tanyaku. Memastikan kalau malam ini sampai seminggu ke depan aku akan kembali sendirian. Merawat buah hati kami yang baru berusia 3 bulan. Ah … bodoh! Memangnya apa yang aku harapkan dari dia? Bukankah selama ini aku selalu merawat buah hati kami sendirian? Tak ada campur tangannya sama s
Última actualización: 2025-10-02