MasukBegitu mobil berhenti di parkiran privat, Vee tidak bersuara sedikit pun. Dia turun, memutari mobil, dan mencengkeram pergelangan tangan Valeryn dengan remasan yang cukup kuat hingga menyisakan rona merah di kulit mulusnya. Pria itu menuntunnya—atau lebih tepatnya menyeretnya—masuk melewati lobi, naik menggunakan lift privat, hingga akhirnya pintu kamar suite mewah mereka tertutup dan terkunci dengan dentuman keras yang bergema di langit-langit ruangan. "Vee, kau sak—" Kalimat Valeryn terputus saat tubuhnya didorong kasar hingga membentur daun pintu yang kokoh. Sebelum dia sempat memprotes, tubuh besar Vee sudah mengungkungnya, menekan seluruh bobot tubuhnya pada Valeryn. Kacamata hitam yang bertengger di wajah Valeryn terlepas, jatuh mencium lantai kayu dan terabaikan begitu saja. "Kau mengatakannya dengan sangat mudah, huh?" desis Vee, napasnya memburu panas di depan wajah Valeryn. Matanya yang sehitam jelaga kini menyala oleh kobaran amarah, frustrasi, dan sesuatu yang jauh
Valeryn duduk dengan punggung tegak. Dia melipat kedua tangannya di atas meja dengan gestur yang santai namun kokoh. Tidak ada keringat dingin, tidak ada jemari yang meremas gaun, dan tidak ada binar mata yang goyah di balik kacamata hitam yang sengaja dia kenakan. Berbeda dengan perkiraan Clara. "Aku harus mengakui, kau memiliki nyali yang cukup besar untuk benar-benar datang kemari," Clara membuka suara, nadanya tenang namun tersaput keangkuhan yang kental. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Valeryn dari atas ke bawah seolah sedang menilai sebuah komoditas. "Biasanya, wanita-wanita pelarian seperti dirimu akan langsung bersembunyi di balik punggung Vee begitu mendengar namaku." Valeryn menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang terkesan hampir meremehkan. Dia perlahan melepas kacamata hitamnya, menatap lurus ke dalam manik mata Clara tanpa berkedip sedikit pun. "Jika kau mengira aku datang kemari karena takut pada ancamanmu di surat it
"Aku akan kembali sebelum siang. Tetaplah di sini."Suara pintu kamar suite yang tertutup dengan bunyi klik halus menjadi penanda bahwa Vee telah pergi. Begitu suara langkah kaki pria itu menghilang sepenuhnya di koridor luar, Valeryn langsung membuka matanya. Dia mendudukkan diri di atas ranjang, menatap ruang kosong di sampingnya yang masih menyisakan kehangatan samar dan aroma parfum maskulin milik Vee.Suasana resor sepagi ini luar biasa sunyi. Valeryn menyibak selimut, berjalan menuju balkon dan membuka pintu kaca lebar-lebar. Angin pagi Oahu berembus kencang, dingin dan menusuk kulitnya yang hanya dibalut jubah mandi. Di bawah sana, dia bisa melihat mobil sport milik Vee melaju meninggalkan area lobi resor, membelah jalanan sepi menuju Bandara Internasional Daniel K. Inouye di Honolulu.Menemui Clara. Mantan istrinya.Valeryn mencengkeram pembatas besi balkon, membiarkan rambut panjangnya berantakan diterpa angin pagi. Logikanya kembali bekerja dengan tajam setelah sempat d
Gerakan tangan Vee langsung terhenti seketika. Valeryn bisa merasakan bagaimana otot-otot dada pria itu kembali mengeras dalam sekejap. Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es. Vee membuka matanya. Tatapan yang tadinya sayu penuh gairah kini berubah menjadi tajam dan waspada. Dia menoleh ke arah Valeryn, menatap wanita itu dengan ekspresi datar yang sulit ditembus. "Dari mana kau tahu nama itu?" Valeryn tidak berkedip. Dia menolak untuk mengalihkan pandangannya, meski intimidasi yang terpancar dari mata Vee cukup untuk membuat orang awam gemetar. "Ponselmu menyala saat kau mandi tadi. Ada pesan masuk di layar kuncimu. Aku tidak sengaja melihatnya saat ingin menaruh ponselmu kembali." Vee menghela napas panjang, sebuah tawa getir yang terdengar dingin lolos dari bibirnya. Dia melepaskan pelukannya dari Valeryn, lalu duduk di tepi ranjang dengan memunggungi wanita itu. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, tampak luar biasa frustrasi. "Kau m
Gemercik air hangat yang membasuh tubuh Valeryn sama sekali tidak mampu meluruhkan ketegangan yang telanjur menyergap hingga ke sumsum tulangnya. Di bawah pancuran shower, dia memejamkan mata erat-erat. Kalimat ancaman di layar ponsel Vee seolah tercetak di balik kelopak matanya.Clara akan datang besok pagi.Fakta bahwa wanita itu tahu Vee berada di sini, dan tahu bahwa ada seorang wanita yang sedang menemani Vee, membuat atmosfer kamar mandi ini mendadak terasa mencekik. Valeryn mematikan keran. Dia meraih handuk, mengeringkan tubuhnya dengan gerakan mekanis yang kaku, lalu mengenakan jubah mandi satinnya kembali. Dia harus bersikap biasa saja. Dia tidak boleh terlihat goyah di depan Vee.Ketika Valeryn membuka pintu kamar mandi, uap hangat ikut menguar keluar, menyebarkan aroma sabun bergamot yang menenangkan. Namun, ketenangan adalah hal terakhir yang ada di ruangan itu.Vee sedang berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan senja. Pria itu sudah mengenakan kem
"Berdiri di luar sini tanpa pakaian hangat bisa membuatmu masuk angin, Val." Suara berat dan serak khas orang bangun tidur itu mengejutkan Valeryn. Dia menoleh dan mendapati Vee sudah berdiri di ambang pintu balkon. Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitam longgar tanpa atasan, memamerkan otot perutnya yang kokoh. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, memberikan kesan liar yang justru menambah ketampanannya. Dia tidak langsung memeluknya, hanya berdiri di samping wanita itu, ikut menatap ke arah laut lepas yang mulai berubah warna menjadi keemasan akibat matahari terbenam. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Vee lembut, matanya menyipit menghalau sisa kantuk. Valeryn menghela napas, uap tipis seolah keluar dari bibirnya. "Memikirkan tentang seberapa cepat hidup bisa berubah. Dua minggu lalu aku mengira hidupku sudah berakhir. Hari ini, aku berada di Hawaii, menghabiskan waktu dengan pria asing." Vee terkekeh kecil, sebuah suara rendah yang selalu ber







