LOGIN"Aku akan kembali sebelum siang. Tetaplah di sini."Suara pintu kamar suite yang tertutup dengan bunyi klik halus menjadi penanda bahwa Vee telah pergi. Begitu suara langkah kaki pria itu menghilang sepenuhnya di koridor luar, Valeryn langsung membuka matanya. Dia mendudukkan diri di atas ranjang, menatap ruang kosong di sampingnya yang masih menyisakan kehangatan samar dan aroma parfum maskulin milik Vee.Suasana resor sepagi ini luar biasa sunyi. Valeryn menyibak selimut, berjalan menuju balkon dan membuka pintu kaca lebar-lebar. Angin pagi Oahu berembus kencang, dingin dan menusuk kulitnya yang hanya dibalut jubah mandi. Di bawah sana, dia bisa melihat mobil sport milik Vee melaju meninggalkan area lobi resor, membelah jalanan sepi menuju Bandara Internasional Daniel K. Inouye di Honolulu.Menemui Clara. Mantan istrinya.Valeryn mencengkeram pembatas besi balkon, membiarkan rambut panjangnya berantakan diterpa angin pagi. Logikanya kembali bekerja dengan tajam setelah sempat d
Gerakan tangan Vee langsung terhenti seketika. Valeryn bisa merasakan bagaimana otot-otot dada pria itu kembali mengeras dalam sekejap. Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es. Vee membuka matanya. Tatapan yang tadinya sayu penuh gairah kini berubah menjadi tajam dan waspada. Dia menoleh ke arah Valeryn, menatap wanita itu dengan ekspresi datar yang sulit ditembus. "Dari mana kau tahu nama itu?" Valeryn tidak berkedip. Dia menolak untuk mengalihkan pandangannya, meski intimidasi yang terpancar dari mata Vee cukup untuk membuat orang awam gemetar. "Ponselmu menyala saat kau mandi tadi. Ada pesan masuk di layar kuncimu. Aku tidak sengaja melihatnya saat ingin menaruh ponselmu kembali." Vee menghela napas panjang, sebuah tawa getir yang terdengar dingin lolos dari bibirnya. Dia melepaskan pelukannya dari Valeryn, lalu duduk di tepi ranjang dengan memunggungi wanita itu. Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, tampak luar biasa frustrasi. "Kau m
Gemercik air hangat yang membasuh tubuh Valeryn sama sekali tidak mampu meluruhkan ketegangan yang telanjur menyergap hingga ke sumsum tulangnya. Di bawah pancuran shower, dia memejamkan mata erat-erat. Kalimat ancaman di layar ponsel Vee seolah tercetak di balik kelopak matanya.Clara akan datang besok pagi.Fakta bahwa wanita itu tahu Vee berada di sini, dan tahu bahwa ada seorang wanita yang sedang menemani Vee, membuat atmosfer kamar mandi ini mendadak terasa mencekik. Valeryn mematikan keran. Dia meraih handuk, mengeringkan tubuhnya dengan gerakan mekanis yang kaku, lalu mengenakan jubah mandi satinnya kembali. Dia harus bersikap biasa saja. Dia tidak boleh terlihat goyah di depan Vee.Ketika Valeryn membuka pintu kamar mandi, uap hangat ikut menguar keluar, menyebarkan aroma sabun bergamot yang menenangkan. Namun, ketenangan adalah hal terakhir yang ada di ruangan itu.Vee sedang berdiri di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan senja. Pria itu sudah mengenakan kem
"Berdiri di luar sini tanpa pakaian hangat bisa membuatmu masuk angin, Val." Suara berat dan serak khas orang bangun tidur itu mengejutkan Valeryn. Dia menoleh dan mendapati Vee sudah berdiri di ambang pintu balkon. Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitam longgar tanpa atasan, memamerkan otot perutnya yang kokoh. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, memberikan kesan liar yang justru menambah ketampanannya. Dia tidak langsung memeluknya, hanya berdiri di samping wanita itu, ikut menatap ke arah laut lepas yang mulai berubah warna menjadi keemasan akibat matahari terbenam. "Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Vee lembut, matanya menyipit menghalau sisa kantuk. Valeryn menghela napas, uap tipis seolah keluar dari bibirnya. "Memikirkan tentang seberapa cepat hidup bisa berubah. Dua minggu lalu aku mengira hidupku sudah berakhir. Hari ini, aku berada di Hawaii, menghabiskan waktu dengan pria asing." Vee terkekeh kecil, sebuah suara rendah yang selalu ber
Kalimat terakhir Vee tidak membutuhkan jawaban verbal. Valeryn membiarkan dirinya dituntun, melangkah kembali ke dalam mobil sport mewah tersebut. Saat mobil kembali melaju membelah jalanan Oahu, Valeryn memandang lurus ke depan. Di dalam hatinya, sebuah peperangan batin berkecamuk hebat. Dia tahu dia sedang bermain dengan api. Status one night stand yang kini berkembang menjadi kesepakatan pemenuhan hasrat selama masa liburan adalah sebuah transaksi yang berbahaya. Vee adalah obat bius. Dia menghilangkan rasa sakit dari luka lama Valeryn, namun di saat yang sama, dia menciptakan ketergantungan baru yang mungkin saja jauh lebih merusak. Setibanya di resor mewah tempat Valeryn menginap, suasana privat langsung menyambut mereka. Kamar suite bernuansa tropis modern itu langsung menyuguhkan pemandangan laut lepas dari balik dinding kaca besarnya. Begitu pintu kamar tertutup dan terkunci di belakang mereka, atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah menjadi pekat dan penuh tuntuta
Gemuruh ombak Hawaii yang tadinya terdengar seperti simfoni kebebasan di telinga Valeryn, kini mendadak berubah menjadi kepungan suara yang bising dan menuntut. Di dalam kabin mobil sport beratap terbuka ini, keheningan yang tercipta setelah tawa paksa Vee terasa begitu padat. Saking padatnya, Valeryn merasa oksigen di sekitarnya mendadak menipis, menyisakan aroma parfum maskulin Vee yang bercampur dengan aroma asin laut yang tajam. Vee masih terus mengemudi. Jemarinya yang kokoh—jemari yang beberapa jam lalu menelusuri lekuk tubuh Valeryn dengan kelembutan yang memabukkan—kini mencengkeram kemudi dengan begitu erat. Buku-buku jarinya memutih. Sisi wajahnya yang terpahat sempurna layaknya mahakarya seniman Renaisans tampak mengeras, dengan garis rahang yang mengetat kaku. Valeryn memalingkan wajah kembali ke arah jendela, pura-pura menikmati jajaran pohon palem yang bergerak mundur dengan cepat. Namun, fokusnya tidak ada di sana. Pikirannya tertinggal pada kilasan layar ponsel Vee







