Share

bab 54

Author: Noah harun
last update publish date: 2026-06-17 14:06:14

Ming Sien mengendap di halaman rumah Jendral Huang.

Saat itu Jendral Huang ternyata sedang berlatih ilmu pedang.

Ming Sien memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Jendral Huang.

Matanya tidak berkedip sedikit pun ketika melihat jurus-jurus pedang yang sedang dilatihnya.

Setiap ayunan pedang Jendral Huang terlihat sangat kuat dan penuh tenaga.

Bahkan hembusan angin dari ayunan pedangnya mampu membuat dedaunan di sekitar berjatuhan.

Melihat hal itu, timbul keraguan di dal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 61

    Di dalam ruang pertemuan istana. Seluruh menteri dan pejabat negara telah berkumpul. Suasana begitu hening. Semua masih memikirkan peristiwa yang terjadi beberapa hari lalu antara Kaisar Zhang Xin dan Jendral Huang. Tiba-tiba. Salah seorang Menteri Tua, Quang Ninh, melangkah maju ke depan. Ia menundukkan kepalanya memberi hormat. Lalu berkata dengan suara lantang. " Yang Mulia!... Hamba lancang berbicara. Menurut hamba, Kaisar terlalu berani bersikap tegas terhadap Jendral Huang!" " Hamba khawatir Jendral Huang akan tersinggung dan membawa pasukannya menyerang negara kita!" katanya dengan lantang dan tegas. Perkataan itu membuat seluruh menteri dan pejabat negara terkejut. Beberapa di antara mereka langsung menundukkan kepala. Tidak ada yang berani menatap wajah Kaisar. Namun sebagian lainnya justru mengangguk pelan, seolah menyetujui pendapat Menteri Quang Ninh. Wajah Zhang Xin tetap tenang. Tidak ada perubahan raut wajah sedikit pun. Ia memang sudah m

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 60

    Kaisar Zhang Ziyi menatap sekilas ke arah Jendral Huang. Lalu dengan tatapannya yang tajam, ia berkata, " Jendral!... Aku tidak ingin berperang melawan Zhang Xin. Jika kau ingin balas dendam, itu urusanmu!" " Jangan bawa-bawa kerajaan ini!" teriak Kaisar Zhang Ziyi. Jendral Huang tetap tidak beranjak dari tempatnya. Kata-kata Kaisar membuatnya membeku. Amarahnya memuncak saat itu juga. Ia merasa diperlakukan bukan seperti seorang Jendral yang telah memenangkan banyak peperangan bagi kerajaan. Namun... Ia tidak berani membantah. Setelah Kaisar berlalu meninggalkan aula istana. Jendral Huang perlahan bangkit dari tempatnya. Wajahnya tetap tenang. Tetapi di dalam hatinya, amarah itu terus membakar. Ia lalu berjalan keluar dari ruangan istana. Para menteri dan pejabat negara yang berada di sana memandang ke arahnya. Sebagian menatap sinis. Sebagian lagi saling berbisik satu sama lain. Namun ada juga yang diam-diam mendukungnya. Mereka tahu. Jendral Hu

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    bab 59 Jendral Huang terancam dipecat

    Setelah melewati malam bersama Lie Ming, Jendral Huang masih terlelap tidur di pagi itu. Lie Ming sudah lebih dulu bangun dan melangkah keluar dari kamarnya. Hari itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Sudah lama Jendral Huang tidak menemaninya seperti semalam. Namun... kegelisahan yang berkembang di dalam hatinya belum juga menghilang. Lie Ming masih diliputi kekesalan terhadap Jendral Huang yang tetap bersikap semena-mena terhadap bawahannya. Kematian Ming Sien menjadi titik balik bagi Lie Ming. Ia mulai menyadari bahwa suatu hari nanti, bisa saja dirinya menghadapi nasib yang sama. Saat ia duduk termenung di pekarangan depan rumah. Udara pagi masih terasa segar. Embun pagi masih menyelimuti rerumputan di sekitar halaman. Lie Ming memperhatikan Shao Yang yang berlari kecil sambil bermain. Tawa anak itu terdengar riang dan lepas. Tak ada beban pikiran. Tak ada kesedihan. Semuanya terasa begitu polos di mata Shao Yang. Lie Ming terseny

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 58 Lie Ming ingin bercerai

    Dalam perjalanan pulang menuju kediamannya, Jendral Huang tak banyak bicara. Ia masih terngiang kata-kata Zhuang Ling yang mengatakan, " Bila kita bertemu lagi... maka aku akan membalas dendam atas kematian Ming Sien!" Kata-kata itu membuatnya semakin memikirkan bagaimana caranya untuk segera menghabisi nyawa Zhuang Ling dan Zhang Xin. Namun... ia tak mau gegabah dalam hal ini. Ia harus mencari celah untuk menyerang Zhang Xin tanpa membuat pasukan kerajaan istana menyerang kediamannya. Wajahnya muram dan tak bisa menyembunyikan kekesalan yang semakin memuncak. Sesampainya di kediamannya, Jendral Huang langsung masuk ke dalam ruangan kamarnya. Tiba-tiba ia menghunus pedangnya dan menghantam meja hingga terbelah dua. " Brak!..." Para pelayan di kediaman Jendral Huang terkejut setengah mati mendengar suara keras itu. Di luar ruangan, para pelayan yang melayani Jendral Huang ketakutan dan tak berani mendekat. Mereka segera berlari menuju tempat Lie Ming, istri Jendral

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    bab 57 Pertemuan hampir tak terelakkan

    Zhang Xin yang sedang memimpin upacara pemakaman terdiam membisu ketika mengetahui kedatangan Jendral Huang. Wajahnya langsung berubah tegang. Di dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan. " Rencana apa lagi yang sedang dipikirkan Jendral Huang?" " Kenapa ia datang ke tempat pemakaman ini?" Zhang Xin tidak berani meremehkan Jendral Huang. Ia tahu pria itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Karena itu ia segera mengambil tindakan. Zhang Xin lalu memerintahkan pasukan kerajaan untuk mencegah Jendral Huang dan pasukannya masuk ke area pemakaman. " Pengawal!... cegah Jendral Huang masuk ke dalam!" " Ini pemakaman istana. Orang luar dilarang masuk!" " Jika ia memaksa, lakukan apa yang harus kalian lakukan!" Perintah Zhang Xin dengan suara tegas. " Baik Yang Mulia!" Jawab para pengawal serempak. Tak lama kemudian. Pasukan kerajaan langsung bergerak. Mereka membentuk barisan dan mengepung jalan masuk menuju area pemakaman. Pedang-pedang mulai dihu

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    bab 56

    Malam itu bulan bersinar cerah. Keadaan di sekitar istana sunyi senyap. Hanya terdengar suara kicauan jangkrik dari kejauhan. Di dalam ruangan itu, Zhuang Ling masih berada di sisi peti mati Ming Sien. Zhuang Ling duduk berdiam diri. Tatapannya terus tertuju ke arah peti mati itu. Terlihat di wajahnya air mata yang perlahan menetes jatuh membasahi pipinya. Hatinya terasa membeku karena kehilangan seorang pelayan yang selama ini begitu setia berada di sisinya. Ia tak dapat menyembunyikan perasaan sedih yang ada di dalam hatinya. Matanya membengkak karena terlalu banyak menangis. Malam yang semakin larut pun tidak membuatnya terlelap. Yang terus dipikirkannya saat itu hanyalah penyesalan. Kenapa Ming Sien harus pergi diam-diam tanpa memberitahunya. Kenapa Ming Sien harus memikul semuanya seorang diri. Kenapa Ming Sien tidak mau mendengarkan perkataannya. Di sisi peti mati itu. Zhuang Ling hanya bisa duduk merenungi nasib Ming Sien yang kini telah tiada.

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    bab 31 Zhuang Ling Hamil

    Malam itu, setelah pertemuan dengan para menteri dan pejabat negara selesai… Zhang Xin duduk melamun di teras depan kamar pribadinya. Angin malam berhembus pelan, namun pikirannya tetap terasa berat. Ia terus memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kerajaan yang sedang kacau. “Ak

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    bab 29 Shao Yang tuli

    Lie Ming memanggil tabib yang berada di kediaman itu dengan suara panik. “Tabib! Tolong cepat kemari!” teriaknya dari luar kamar. Tabib yang sedang beristirahat langsung terbangun mendengar suara itu. Ia segera keluar dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Begitu pintu terbuka, ia melihat Lie Ming

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 28 Shao Yang sembuh tapi...

    Keputusan Zhang Xin yang membela Zhuang Ling mulai menimbulkan benih keretakan di antara para pejabat dan menteri kerajaan. Diam-diam, sebagian dari mereka mulai meragukan kepemimpinan Kaisar baru itu. Hal ini tentu berbahaya bagi kerajaan bila tidak segera diredam. Apalagi Zhang Xin baru saj

  • Bukan Istri Pajangan Sang Jenderal    Bab 27 Zhuang Ling menjadi permaisuri Kaisar Zhang Xin

    Zhang Xin mengajak Zhuang Ling masuk ke kamar pribadinya. Begitu pintu tertutup, suasana menjadi jauh lebih tenang dibanding keramaian aula istana sebelumnya. Zhang Xin perlahan melepaskan jubah kuning kebesarannya dan meletakkannya di kursi dekat ranjang. Zhuang Ling langsung menunduk gugup.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status