登入Setelah melewati malam bersama Lie Ming, Jendral Huang masih terlelap tidur di pagi itu. Lie Ming sudah lebih dulu bangun dan melangkah keluar dari kamarnya. Hari itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Sudah lama Jendral Huang tidak menemaninya seperti semalam. Namun... kegelisahan yang berkembang di dalam hatinya belum juga menghilang. Lie Ming masih diliputi kekesalan terhadap Jendral Huang yang tetap bersikap semena-mena terhadap bawahannya. Kematian Ming Sien menjadi titik balik bagi Lie Ming. Ia mulai menyadari bahwa suatu hari nanti, bisa saja dirinya menghadapi nasib yang sama. Saat ia duduk termenung di pekarangan depan rumah. Udara pagi masih terasa segar. Embun pagi masih menyelimuti rerumputan di sekitar halaman. Lie Ming memperhatikan Shao Yang yang berlari kecil sambil bermain. Tawa anak itu terdengar riang dan lepas. Tak ada beban pikiran. Tak ada kesedihan. Semuanya terasa begitu polos di mata Shao Yang. Lie Ming terseny
Dalam perjalanan pulang menuju kediamannya, Jendral Huang tak banyak bicara. Ia masih terngiang kata-kata Zhuang Ling yang mengatakan, " Bila kita bertemu lagi... maka aku akan membalas dendam atas kematian Ming Sien!" Kata-kata itu membuatnya semakin memikirkan bagaimana caranya untuk segera menghabisi nyawa Zhuang Ling dan Zhang Xin. Namun... ia tak mau gegabah dalam hal ini. Ia harus mencari celah untuk menyerang Zhang Xin tanpa membuat pasukan kerajaan istana menyerang kediamannya. Wajahnya muram dan tak bisa menyembunyikan kekesalan yang semakin memuncak. Sesampainya di kediamannya, Jendral Huang langsung masuk ke dalam ruangan kamarnya. Tiba-tiba ia menghunus pedangnya dan menghantam meja hingga terbelah dua. " Brak!..." Para pelayan di kediaman Jendral Huang terkejut setengah mati mendengar suara keras itu. Di luar ruangan, para pelayan yang melayani Jendral Huang ketakutan dan tak berani mendekat. Mereka segera berlari menuju tempat Lie Ming, istri Jendral
Zhang Xin yang sedang memimpin upacara pemakaman terdiam membisu ketika mengetahui kedatangan Jendral Huang. Wajahnya langsung berubah tegang. Di dalam hatinya timbul berbagai pertanyaan. " Rencana apa lagi yang sedang dipikirkan Jendral Huang?" " Kenapa ia datang ke tempat pemakaman ini?" Zhang Xin tidak berani meremehkan Jendral Huang. Ia tahu pria itu tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Karena itu ia segera mengambil tindakan. Zhang Xin lalu memerintahkan pasukan kerajaan untuk mencegah Jendral Huang dan pasukannya masuk ke area pemakaman. " Pengawal!... cegah Jendral Huang masuk ke dalam!" " Ini pemakaman istana. Orang luar dilarang masuk!" " Jika ia memaksa, lakukan apa yang harus kalian lakukan!" Perintah Zhang Xin dengan suara tegas. " Baik Yang Mulia!" Jawab para pengawal serempak. Tak lama kemudian. Pasukan kerajaan langsung bergerak. Mereka membentuk barisan dan mengepung jalan masuk menuju area pemakaman. Pedang-pedang mulai dihu
Malam itu bulan bersinar cerah. Keadaan di sekitar istana sunyi senyap. Hanya terdengar suara kicauan jangkrik dari kejauhan. Di dalam ruangan itu, Zhuang Ling masih berada di sisi peti mati Ming Sien. Zhuang Ling duduk berdiam diri. Tatapannya terus tertuju ke arah peti mati itu. Terlihat di wajahnya air mata yang perlahan menetes jatuh membasahi pipinya. Hatinya terasa membeku karena kehilangan seorang pelayan yang selama ini begitu setia berada di sisinya. Ia tak dapat menyembunyikan perasaan sedih yang ada di dalam hatinya. Matanya membengkak karena terlalu banyak menangis. Malam yang semakin larut pun tidak membuatnya terlelap. Yang terus dipikirkannya saat itu hanyalah penyesalan. Kenapa Ming Sien harus pergi diam-diam tanpa memberitahunya. Kenapa Ming Sien harus memikul semuanya seorang diri. Kenapa Ming Sien tidak mau mendengarkan perkataannya. Di sisi peti mati itu. Zhuang Ling hanya bisa duduk merenungi nasib Ming Sien yang kini telah tiada.
Lie Ming tergesa-gesa masuk ke halaman rumah Jendral Huang. Ia takut terjadi sesuatu terhadap Jendral Huang. Karena itulah ia segera bergegas menuju paviliun tempat Jendral Huang biasa berdiam. Ketika ia masuk ke dalam. Betapa terkejutnya ia melihat Jendral Huang berdiri di dekat tubuh seorang wanita yang sudah bersimbah darah. Lie Ming langsung menghentikan langkahnya. Wajahnya berubah pucat. Ia menatap Jendral Huang dengan tidak percaya. " Jendral... apa yang sedang kau lakukan!?" Tanya Lie Ming dengan suara bergetar menahan ketakutan. Ia segera menghampiri wanita yang tergeletak tak berdaya itu. Namun ketika ia melihat wajah wanita tersebut dengan jelas. Matanya langsung membelalak. Tubuhnya seakan membeku di tempat. " Kau..." " Kau telah membunuhnya!" Teriak Lie Ming. Tatapannya semakin dalam ketika melihat wajah Ming Sien yang sudah tidak bernyawa. Tangannya bahkan mulai gemetar. Jendral Huang tidak menjawab. Ia tetap berdiri di tempatnya t
Ming Sien mengendap di halaman rumah Jendral Huang. Saat itu Jendral Huang ternyata sedang berlatih ilmu pedang. Ming Sien memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Jendral Huang. Matanya tidak berkedip sedikit pun ketika melihat jurus-jurus pedang yang sedang dilatihnya. Setiap ayunan pedang Jendral Huang terlihat sangat kuat dan penuh tenaga. Bahkan hembusan angin dari ayunan pedangnya mampu membuat dedaunan di sekitar berjatuhan. Melihat hal itu, timbul keraguan di dalam hati Ming Sien. Apakah ia benar-benar bisa membunuh Jendral Huang? Ilmu pedang yang dimiliki Jendral Huang jauh lebih kuat dari yang ia bayangkan. Selagi ia masih memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Jendral Huang tiba-tiba menghentikan latihannya. Tatapannya perlahan mengarah ke tempat persembunyian Ming Sien. Ia mengernyitkan dahinya. Seakan-akan merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Jendral Huang lalu melangkah mendekati tempat persembunyian Ming
Di kediaman Jendral Huang, suasana duka masih menyelimuti seluruh rumah. Sejak Shao Yang mengalami gangguan pendengaran, emosi Jendral Huang menjadi semakin tidak stabil. Ia mulai jarang menemui anaknya sendiri. Bahkan… ia sudah lama tidak lagi tidur bersama Lie Ming. Hal itu membuat Lie
Zhang Xin tidak menyangka bahwa nama Jendral Huang akan muncul di balik kekacauan besar ini. Namun… ia tidak ingin langsung mempercayainya begitu saja. Tatapannya terlihat tajam sambil memikirkan semua kemungkinan yang terjadi. “Apa maksud semua ini…” gumamnya pelan dalam hati. “Apakah Je
Zhuang Ling yang mendengar namanya disebut sebagai calon penerus kerajaan langsung terkejut. Apalagi ketika Zhang Xin terang-terangan mengumumkan bahwa dirinya sedang mengandung anak Kaisar. “Hamil?!...” Para pelayan istana yang berada di sekitar ruangan juga ikut shock mendengar kabar terseb
Malam itu, setelah pertemuan dengan para menteri dan pejabat negara selesai… Zhang Xin duduk melamun di teras depan kamar pribadinya. Angin malam berhembus pelan, namun pikirannya tetap terasa berat. Ia terus memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kerajaan yang sedang kacau. “Ak







