LOGINSebuah perjuangan hidup seorang Rayana Lazuardi yang terpaksa menjadi pengantin wanita seorang pewaris lumpuh. Demi menggantikan sepupunya untuk memenuhi janji perjodohan keluarganya dengan Keluarga Prakarsa, Ia memasuki pernikahan tanpa rasa cinta maupun berharap untuk dicintai. Raya hanya berdoa, semoga pernikahannya membawa perubahan dalam hidupnya. Setidaknya, dia bisa terlepas dari penindasan keluarganya. Namun, akankah kedamaian menghampiri dunianya? Akankah Andromeda Prakarsa yang diisukan arogan, misterius, kejam dan bodoh bisa membuat Raya bahagia, ataukah dia justru semakin sengsara dalam pernikahan itu saat si tuan muda mulai mengikatkan rantai cinta di lehernya. Dibumbui dengan cerita manis bagaimana tuan muda berusaha menunjukkan cintanya dan kisah lucu juga mengharukan yang membuat hati bergetar.
View MoreHujan deras menghantam atap-atap rumah di Desa Tanjung Biru, sebuah desa kecil yang damai di tepi Laut Tengah.
Kilat menyambar, menerangi langit kelam yang seolah menangis bersama dengan para penghuni desa yang bersembunyi di balik dinding-dinding rapuh. Desa yang dulunya tenteram, kini diselimuti kecemasan dan ketakutan yang tak terungkapkan.
“Bu, apakah mereka akan datang ke sini?” tanya Gema dengan suara bergetar, matanya menatap keluar jendela yang buram oleh air hujan.
Dewi Sri Lestari, ibu angkat Gema, memeluknya erat. Wajahnya yang selalu tenang kini memancarkan kecemasan yang jarang terlihat. “Aku tidak tahu, Nak. Tapi kita harus siap. Apapun yang terjadi, kau harus tetap kuat.”
Kata-kata itu seakan tak mampu menghapus ketakutan yang menggerogoti hati Gema. Sejak kecil, dia selalu merasa aman dalam dekapan ibunya, namun malam ini, kehangatan itu terasa jauh, seperti bayangan yang perlahan memudar di tengah kegelapan yang merayap.
Gema mencoba mengingat masa-masa sebelum ini, ketika desa mereka masih tenang dan jauh dari konflik. Sebuah dunia di mana dia bisa bermain dengan anak-anak lain, memetik buah-buahan liar di hutan, dan belajar kultivasi jiwa di bawah bimbingan Dewi Sri Lestari.
Tapi semua itu berubah sejak kemunculan Sajak Abadi, yang digemakan oleh Pertapa dari Wilayah Tengah.
“Kau tahu tentang Sajak Abadi, Bu? Apakah benar itu tentang aku?” Gema menatap ibunya, berharap jawaban yang menenangkan.
Dewi Sri Lestari tersenyum lemah, meski hatinya penuh kekhawatiran. “Sajak itu telah ada sejak ribuan tahun lalu, diwariskan dari mulut ke mulut. Tidak ada yang tahu pasti artinya, Nak. Tapi... ada yang percaya bahwa sajak itu adalah pertanda dari akhir perang ini.”
Gema menelan ludahnya. Perang antara Benua Barat dan Benua Timur telah berlangsung selama ribuan tahun. Sihir kuno dari Barat dan kultivasi jiwa dari Timur terus beradu, menghancurkan segala yang ada di tengah-tengahnya.
Desa Tanjung Biru, yang awalnya jauh dari konflik, kini tak lebih dari sekadar sasaran empuk bagi pasukan yang terus mencari jalan untuk memenangkan perang yang seolah tiada akhir.
“Dunia kita sudah terlalu lama terpecah belah, Bu. Apakah benar aku bisa menghentikan semua ini?” Gema bertanya, suara rendahnya mengandung keraguan.
Dewi Sri Lestari mengangguk pelan, lalu meraih wajah Gema, menatap dalam-dalam ke matanya. “Gema, kau mungkin masih muda, tapi aku percaya ada sesuatu yang besar di dalam dirimu. Sesuatu yang bahkan aku tidak bisa sepenuhnya mengerti. Kau harus percaya pada dirimu sendiri.”
Tiba-tiba, pintu rumah mereka didobrak dengan keras. Seorang prajurit, dengan baju zirah penuh lumpur dan darah, berdiri di ambang pintu. Nafasnya tersengal-sengal, dan tatapannya penuh dengan ketakutan.
“Mereka datang! Pasukan dari Barat! Mereka sudah di tepi desa!” teriaknya panik.
Gema merasakan jantungnya berdebar kencang. “Apa yang harus kita lakukan, Bu?”
Dewi Sri Lestari segera bergerak. “Kita harus pergi sekarang! Gema, kau harus lari ke hutan, aku akan menahan mereka di sini.”
Gema memegang lengan ibunya erat. “Tidak, Bu! Aku tidak akan meninggalkanmu!”
Wajah Dewi Sri Lestari menegang sejenak, lalu dia menatap Gema dengan penuh cinta dan keberanian. “Kau harus pergi, Gema. Aku tidak bisa membiarkanmu tertangkap. Mereka tidak boleh tahu siapa dirimu sebenarnya.”
Gema menggeleng, air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Aku tidak bisa meninggalkanmu, Bu! Kita harus pergi bersama!”
Suara dentuman keras terdengar dari luar. Tanah bergetar, dan suara jeritan mulai terdengar semakin dekat. Pasukan Barat telah tiba, membawa kehancuran dan kematian dalam langkah mereka.
“Gema!” Dewi Sri Lestari membentak, suaranya pecah oleh rasa sakit. “Dengarkan aku! Pergilah sekarang! Cari Raden Jayabaya di Kerajaan Langit Timur. Hanya dia yang bisa membantumu mengerti siapa dirimu dan apa yang harus kau lakukan!”
Dengan enggan, Gema mulai melangkah mundur, hatinya berat. Tapi sebelum dia bisa menjawab, pintu depan rumah mereka dihancurkan, dan pasukan musuh menyerbu masuk. Pedang mereka berkilat, siap untuk menumpahkan darah.
Dewi Sri Lestari mendorong Gema keluar dari pintu belakang. “Lari, Nak! Jangan lihat ke belakang!”
Gema berlari, air mata mengalir di pipinya, mendengar suara pertempuran yang pecah di belakangnya. Dia ingin berbalik, tapi kata-kata ibunya bergema di telinganya. Dia harus pergi. Dia harus bertahan.
Gema terus berlari, menyelinap di antara pepohonan, mencoba mengabaikan rasa takut dan kesedihan yang mencengkeram hatinya. Namun, suara bentrokan pedang dan teriakan dari rumahnya terus menghantuinya.
“Gema!” Suara ibunya terdengar samar, seolah memanggilnya dari jauh. Gema berhenti, terengah-engah, kakinya gemetar.
“Bu!” teriaknya putus asa, meski dia tahu tidak ada jawaban yang akan datang.
Hujan semakin deras, seolah langit menangis atas tragedi yang tengah berlangsung. Gema terjatuh ke tanah, tubuhnya gemetar. Dia merasa hancur. Dunia yang dia kenal telah lenyap, ditelan oleh api perang yang tak terpadamkan.
“Tolong... Bu...” Gema meratap, memeluk tanah basah di bawahnya. Dia ingin kembali, ingin menyelamatkan ibunya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia hanyalah seorang pemuda, tidak lebih dari bayangan di tengah perang yang telah menghancurkan segalanya.
Namun di dalam hatinya, terngiang-ngiang Sajak Abadi. Kata-kata yang mengerikan namun penuh harapan. Pahlawan Pratama, nama yang dibisikkan angin...
Gema bangkit perlahan, menyeka air matanya. Di tengah kesedihan dan ketakutan, dia merasa ada sesuatu yang membara di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa dia abaikan.
Dia mengingat kembali kata-kata ibunya. “Cari Raden Jayabaya...”
Dengan langkah yang berat namun penuh tekad, Gema mulai berjalan menuju arah Timur. Hatinya hancur, tetapi di dalam kepedihan itu, ada kekuatan yang mulai tumbuh. Kekuatan untuk mengakhiri perang ini, untuk menyatukan dua benua yang telah lama bermusuhan.
Dan meski dia tidak tahu bagaimana caranya, dia tahu satu hal pasti: dia tidak akan membiarkan pengorbanan ibunya sia-sia.
Malam itu, di tengah hujan yang tak kunjung reda, Gema Pratama memulai perjalanan yang akan mengubah nasib dua benua besar. Sebuah perjalanan yang dipenuhi oleh darah, air mata, dan kehancuran.
Namun di balik semua itu, tersimpan harapan baru untuk Nusantara. Harapan yang bersemayam dalam sosok seorang pemuda yang tak terduga, yang akan menghadapi kegelapan, tragedi, dan kematian dengan keberanian yang tak tergoyahkan.
Arin dan juga Samuel bergegas menuju rumah Cantika begitu pulang sekolah. Suasananya jauh berbeda dari sebelumnya, semua orang di sana terlihat sangat berduka."Nek, Cantika mana ya?" tanya Arin sambil memberi salam."Ada di dalam, sana ke kamarnya ya."Arin langsung menarik tangan Samuel untuk mengikuti langkahnya, mereka memasuki kamar Cantika dimana sosok itu terlihat sedang bersiap. mereka akan pergi ke gereja untuk Misa Arwah."Cantika?"Sosok itu langsung menoleh seketika, air matanya langsung turun begitu dia melihat Arin. Sosok yang lebih kecil itu langsung menangis dengan kuat saat Arin memeluknya. Mengungkapkan perasaanya yang sebenarnya. Cantika benar benar merasa tersakiti, kehilangan sosok yang selalu bersamanya, membesarkannya, dia kehilangannya saat itu juga.Dunianya terasa runtuh, bahkan Cantika tidak yakin dirinya bisa bertahan tanpa sosok itu."Hei, udah.... Inget loh, Mama kamu ada di tempat terbaik bersama dengan Tuhan," ucap Arin mencoba untuk menenagkan sahabatn
Gala kembali ke rumah setelah mengantarkan sang Pujaan Hati. Dia terdiam sejenak di ambang pintu, rasanya sangat sepi tanpa kedua orang tua dan juga adik adiknya yang selalu ribut."Hiks... Aku merindukan kalian," ucapnya dengan Satu Tetes air mata yang tidak sempat jatuh; Gala lebih dulu menyukainya. "Tapi... Rasanya tenang sekali, hehehe."BUK!"Astaga naga!" teriak Gala dengan spontan saat sebuah sendal melayang dan mengenai kepalanya, akan membuatnya kini tengah tertunduk di atas lantai.Belum juga memarahi sosok yang membuatnya terjatuh dia terlebih dulu melihat dua orang yang sedang kejar-kejaran. "Kembali ke sini, Alden, kau harus mandi," teriak Mentari sambil membawa ember dan gayung yang berisi air.Di belakang sana ada pelayan yang berusaha mengeringkan lantai supaya tidak ada yang terjatuh. Gala mengerjapkan matanya. "Apa yang terjadi?" tanya Gala pada sang pelayan."Mari saya bantu Anda berdiri, Tuan muda.""Berapa lama mereka seperti itu?""Sejak Tuan Alden pulang ke ruma
Galuh berjalan begitu saja melewati Gala dan gerombolannya, membuat Mentari menghela napas kemudian mengikuti sosok itu."Heh, kau mau kemana?!" teriak Gala pada sang adik."Masuk kelas.""Kenapa bersama dengannya?!""Kami sekelas!""Iya juga," gumam Gala baru mengingat.Yang mana membuat Cantika speechless dengan. Gala, tapi hal itu tidak mengurangi kekaguman Cantika terhadap sosok di depannya itu."Kapten, bisa kami Kembali ke kelas sekarang?""Ya, kembalilah ke kelas kalian, dan belajarlah dengan giat. Sudah sana.”Mereka yang ikut menghadang Galuh adalah pasukan basket, dimana Samuel yang memanggil mereka semua lewat Group Chat atas perintah Gala. Saat semuanya mulai bubar, di sana mulai tertinggal Gala yang masih menggenggam tangan Cantika, bersama dengan Samuel yang masih menatap heran pada pasangan baru itu."Lu ngapain masih di sana?" tanya Gala menyadari keberadaan Samuel."Lu jangan lupa, Gal, ada PR yang belum kelar. Cantika, bilang sama Gala buat berhenti nyontek sama gue
"Mommy dan Daddy akan ke Amerika sebentar, untuk menemani Oma sambil mengurus beberapa hal. Jaga baik baik adikmu ya. Dan jika butuh sesuatu, minta saja pada Samuel.""What the....," ucapan Gala terhenti tatkala dia mendapatkan tatapan tajam dari sang Mommy. "Kenapa Samuel?""Dia temanmu 'kan? Daddy tau dia bisa diandalkan, jadi Daddy memberinya upah untuk menjagamu." Andro bicara sambil memakai jasnya."Eoohh, dia itu lelet, Dad. Lagipula aku bisa sendiri.""Jangan seperti itu," ucap Raya dengan lembut, yang sontak membuat Gala bungkam. Mana bisa dia melawan bidadari kesayangannya. Jadi dia merentangkan tangannya dan memeluk sang Mommy. "Apa ini? nanti parfume Mommy menempel.""Hati hati dijalan ya, Mom. Jangan khawatirkan yang lain, adik adik akan aman bersama denganku."PLETAK! Andro melayangkan jitakan di kepala anaknya, membuat Gala mengaduh sambil melepaskan pelukannya. "Daddy ini kenapa?!""Pamitannya nanti, jangan lebay. Kau ini habis nonton apa semalam?""Film India," gumam G






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore