ログイン"Mau saya tinggal satu atap dengan Andri atau pria mana pun, bukankah itu bukan lagi urusan Tuan Reynard?" Suara Alina mengalun santai, diiringi tawa hambar yang menyindir. Wanita itu berdiri dengan posisi rileks, sengaja memiringkan kepalanya sembari menatap Reynard dari atas ke bawah. Ada binar penuh kemenangan di matanya saat melihat raut wajah pria berkuasa itu mendadak tegang dan membiru menahan cemburu. "Alina! Jaga ucapanmu!" bentak Reynard dengan nada rendah yang bergetar. Pria itu mengikis jarak di antara mereka dalam satu langkah cepat. Sebelum Alina sempat menghindar, Reynard sudah menggenggam erat kedua bahu wanita itu dan mendorongnya perlahan hingga punggung Alina membentur pilar beton teras belakang rumah sakit. "Aww... Tuan kasar sekali!" keluh Alina, pura-pura meringis meski tidak ada rasa takut sedikit pun di raut wajahnya. "Kenapa Tuan emosi begitu? Bukankah dulu Tuan sendiri yang membiarkan saya diusir? Jadi untuk apa sekarang Tuan mencampuri kehidupan pribadi
"Apa... apa tante bernama Angel itu ibu kandungnya Sean?" Pertanyaan polos yang terlontar dari bibir mungil Sean membuat suasana kamar VIP itu mendadak hening seketika. Reynard membeku di tempatnya. Pria itu perlahan menoleh, menatap Alina dengan sorot mata intens seolah melemparkan holds isyarat. Haruskah aku menceritakan semuanya sekarang pada Sean? Alina yang ditatap seperti itu hanya mengarahkan pandangannya lurus, lalu sedikit menaikkan kedua alisnya seraya menyilangkan tangan di dada. Raut wajahnya seakan mengisyaratkan. Terserah Tuan, dia putra Tuan. "Papa... jawab Sean," cicit anak laki-laki itu lagi, meremas selimut rumah sakitnya dengan jemari gemetar. "Angel itu siapa, Pa?" Namun, sebelum Reynard sempat membuka mulutnya untuk menyusun kata-kata, suara langkah kaki tergesa-gesa disertai deru napas serak seorang wanita paruh baya memecah keheningan dari arah pintu. "Sudah saatnya Sean tahu siapa ibu kandungnya, Reynard." Alina dan Reynard serentak berbalik. Di ambang pi
"Kau tidak punya hak untuk membentaknya, Ayah!" bentak Reynard lantang, memotong udara dingin di dalam kamar rawat VIP. Pria itu langsung berdiri pasang badan di depan Alina dan ranjang Sean. Richard melangkah maju dengan hentakan tongkat yang bergema nyaring di atas lantai marmer. Matanya menyalang penuh kemurkaan. "Apa kau bilang, Reynard?! Kenapa kau tidak memberitahu Ayah kalau cucu Ayah kecelakaan?! Dan kenapa wanita pembawa sial ini bisa ada di ruangan ini?! Apa kau sudah gila?!" "Alina bukan wanita pembawa sial!" tegas Reynard dengan napas memburu, menatap tajam pria paruh baya yang paling ia hormati sekaligus takuti itu. "Justru karena ada Alina, Sean bisa cepat diselamatkan! Kalau bukan Alina yang sigap mendonorkan darahnya yang langka itu di rumah sakit, Sean mungkin tidak akan tertolong! Ayah harus tahu itu!" Richard mendengus kasar, wajahnya yang bergaris tegas dipenuhi rasa tidak percaya dan keangkuhan. "Ayah tidak peduli! Ayah tidak peduli apa pun alasanmu! Berapa yan
Plak! Sebuah pukulan mendarat cukup keras di dada bidang Reynard, membuat pria itu sedikit tersentak mundur. "Apa maksud Tuan Reynard, hah?!" bentak Alina dengan suara bergetar menahan amarah, matanya menatap tajam pria di hadapannya. "Pekerjaan aneh-aneh?! Jadi selama ini Tuan berpikiran seburuk itu tentang saya?!" Reynard memegang dadanya yang baru saja dipukul, menatap Alina dengan dahi berkerut dan napas yang masih berat. "Aku hanya bertanya, Alina! Bagaimana bisa kau yang dulunya begitu sederhana, polos, dan tidak pernah peduli riasan... tiba-tiba berubah total seperti ini dalam beberapa bulan saja? Pakaianmu, rambutmu... semua orang pasti heran!" Alina tertawa hambar, menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatap Reynard dengan pendar penuh kekecewaan. "Oh, jadi saya tidak boleh berubah? Saya tidak boleh mempercantik diri saya sendiri? Saya harus tetap jadi wanita lugu, kusam, dan meratapi nasib setelah diusir dari rumah keluarga Dirgantara?!" "Bukan begitu maksudku,
"Mari ikut saya ke ruang donor, Mbak. Kita harus bergerak cepat," ucap perawat seraya membimbing Alina berbelok ke lorong samping. "Baik, Suster. Tolong lakukan secepatnya," sahut Alina tanpa ragu sedikit pun. Reynard berdiri mematung di lorong, matanya menatap punggung Alina yang menghilang di balik pintu kaca. Ada rasa guncangan hebat di dadanya. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini dihina dan dianggap tidak pantas oleh keluarganya, justru memiliki golongan darah langka yang menjadi penentu hidup dan mati putranya? Di dalam ruang tindakan donor, aroma antiseptik yang tajam menusuk indra penciuman Alina. Kenangan pahit saat dirinya terbaring tak berdaya di rumah sakit beberapa tahun lalu mendadak berkelebat, memicu gelombang trauma yang membuat tangannya dingin. Namun, saat melihat kantung darah kosong di atas meja, Alina menarik napas panjang dan menguatkan hatinya. "Agak sakit sedikit ya, Mbak," bisik perawat seraya mengoleskan alkohol dan menusukkan jarum donor ke pembu
"Suster! Tolong saya! Cepat, Suster!" jerit Alina histeris, berlari menerobos koridor rumah sakit seraya menggendong tubuh mungil Sean yang bersimbah darah. Beberapa perawat dengan sigap mendorong brankar ke arahnya. "Tenang, Mbak! Baringkan adiknya di sini! Mari masuk ke ruang tindakan!" Alina membaringkan tubuh Sean dengan tangan yang bergetar hebat. Ia hendak melangkah masuk mengikutinya, namun dada wanita itu segera ditahan oleh seorang dokter. "Mbak, tolong tunggu di luar ya. Kami akan melakukan tindakan medis darurat," ujar dokter itu tegas namun berusaha menenangkan. "Dokter, tolong selamatkan Sean! Tolong, Dok... saya mohon!" tangis Alina pecah, tangannya meremas jas putih sang dokter sebelum pintu ruang tindakan ditutup rapat di depan jalannya. Alina terduduk lemas di bangku panjang koridor. Gaun bagian depannya yang berwarna cerah kini ternoda bercak darah merah pekat milik Sean. Beberapa menit terasa seperti selamanya, Alina tidak bisa berpikir jernih. Bayangan ketakut







