Share

Bab 598

Author: Ayesha
Pandangan Lambert jatuh pada Brielle. Dia sedang menatap kedua anak yang bermain piano. Cahaya matahari senja membungkus mereka dengan lembut.

Lambert sempat kehilangan fokus. Andai suatu hari mereka bisa menjadi keluarga berempat seperti yang dibicarakan orang, itu pasti luar biasa.

Pukul 8 malam, Brielle menemani putrinya membaca buku bergambar. Saat itu, ponselnya berbunyi.

[ Brielle, maaf. Lain kali aku pasti meminta persetujuanmu. ]

Meskipun nomor tak dikenal, dari kalimat itu dia bisa mene
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
bener2 mantap brielle makin bersinar.....sesuai judul sih..bukan mantan biasa...tp mantan istri luarrr biasa.....yg mengabaikan nya nyesel seumur hidupppp
goodnovel comment avatar
Suryat
makin irilah si faye
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1060

    Raka memejamkan mata, bahkan kelopak matanya tidak terangkat sedikit pun."Kamu yang tangani." Suaranya dingin, tanpa sedikit pun emosi.Gavin langsung mengerti maksudnya. Dia mengambil ponsel, lalu berjalan ke arah balkon untuk menjawab panggilan itu."Bu Devina, ada perlu apa?" tanya Gavin dengan nada sopan."Di mana Raka? Aku sudah berkali-kali meneleponnya, tapi nggak tersambung. Apa dia lagi sibuk?" Suara Devina seperti biasa, lembut dan ramah."Pak Raka lagi rapat dan nggak bisa menerima telepon. Kalau ada sesuatu, bisa sampaikan padaku," jawab Gavin."Sebenarnya nggak ada apa-apa. Aku cuma ingin tanya kabarnya," ucap Devina sambil tersenyum."Pak Raka baik-baik saja. Bu Devina nggak perlu khawatir.""Baiklah, kalau begitu aku nggak akan ganggu." Devina pun menutup telepon.Gavin memegang ponsel itu, lalu kembali duduk. Dulu, tidak peduli seberapa tidak sabarnya Raka, di permukaan dia tetap menjaga formalitas. Setidaknya hubungan sosial dasar masih dipertahankan.Sekarang, setela

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1059

    Kata-kata Brielle dari awal sampai akhir sepenuhnya berdiri di sudut pandang objektif dan rasional. Tidak terdengar sedikit pun emosi pribadi di dalamnya.Bagaimana mungkin Raka tidak mengerti? Dari sudut pandang medis, dia memang benar."Aku mengerti maksudmu," kata Raka dengan suara serak. Namun kemudian, dia melanjutkan dengan nada rendah dan tegas, "Tapi aku nggak membutuhkannya."Nada suaranya mengandung keteguhan yang tak bisa digoyahkan.Suara Brielle yang semula tenang tiba-tiba mengandung sedikit kejengkelan. "Raka, sekarang kalau cuma mengandalkanmu seorang sebagai donor, risikonya sangat besar. Lagi pula, kamu baru beberapa kali diambil darah saja sudah jatuh sakit. Jangan terlalu melebih-lebihkan kondisi fisik sendiri."Kerutan di antara alis Raka tiba-tiba mengendur. Bahkan tanpa sadar, sebuah senyuman yang sangat tipis muncul di sudut bibirnya. Jadi, alasan Brielle bersikeras mempertahankan Devina sebenarnya juga karena diam-diam mengkhawatirkan kondisi tubuhnya?"Kamu ..

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1058

    Di pihak laboratorium, Brielle baru saja keluar dari laboratorium. Ada beberapa data yang perlu dia diskusikan dengan Smith. Saat baru sampai di depan pintu, dia mendengar Smith sedang menelepon.Brielle berniat datang lagi nanti, tetapi tepat saat itu dia mendengar Smith berkata kepada orang di seberang telepon,"Pastikan bawa dokumen aslinya. Kali ini Pak Raka ingin benar-benar mengakhiri transaksi dengan Bu Devina. Jangan sampai terjadi kesalahan."Langkah Brielle langsung terhenti. Dia menoleh kembali ke arah kantor dan mengerutkan kening. Raka ingin mengakhiri transaksi dengan Devina?Saat itu, asisten Smith datang dan bertanya kepadanya, "Profesor Brielle, cari Doktor Smith ya?"Smith yang sedang menelepon juga melihat Brielle melalui jendela besar, lalu mengatakan sesuatu kepada orang di ujung telepon sebelum menutup panggilan."Brielle, ada perlu denganku?" tanya Smith sambil keluar dari kantor.Brielle mengangguk. "Ada beberapa set data yang ingin kudiskusikan. Apa Doktor puny

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1057

    Sepertinya Brielle hanya bisa menunggu sampai dokter dan Gavin datang sebelum pergi.Brielle berdiri di depan jendela besar, bersabar menunggu. Sambil menunggu, dia juga memandangi langit biru cerah di luar jendela, dengan awan putih yang melayang perlahan.Meskipun Raka memejamkan mata, rasa pusing dan sakit kepala akibat demam tinggi terus menyerangnya. Namun, dia bisa merasakan bahwa Brielle masih berada di dekatnya. Dia memaksa membuka kelopak mata yang terasa berat, tidak ingin benar-benar tertidur."Uhuk!" Raka terbatuk pelan.Brielle berbalik. Melihat Raka sudah duduk kembali, dia berjalan ke meja minum, menuangkan segelas air hangat, lalu menyodorkannya.Wajah Raka terlihat agak pucat. Karena demam tinggi, ujung matanya sedikit merah. Di mata yang dalam itu berkurang sedikit ketajamannya.Raka menerima air itu, menatap Brielle, lalu berkata pelan, "Terima kasih."Brielle membalas dengan nada datar, "Dokternya seharusnya sudah dalam perjalanan."Setelah mengatakan itu, dia tanpa

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1056

    Brielle mengerutkan kening dan berkata, "Asistenmu nggak bisa menghubungimu. Dia sangat khawatir, jadi menyuruhku datang melihatmu."Raka mengusap pelipisnya yang terasa berdenyut, lalu bersandar pada kusen pintu. "Nggak apa-apa, hanya sedikit ... demam."Melihat keadaannya, Brielle memang merasa dia seperti sedang demam."Suruh orang antar kamu ke rumah sakit," usul Brielle."Nggak perlu. Setelah tidur sebentar juga akan membaik." Raka menggeleng. Setelah itu, dia juga tidak menutup pintu dan langsung berjalan menuju ruang tamu.Brielle mengernyit. Cara pria ini menghadapi sakit masih saja begitu asal-asalan. Namun, Brielle tidak ingin ikut campur. Kemungkinan besar panggilan Gavin tidak diangkat hanya karena tadi dia sedang mandi dan tidak mendengarnya.Brielle berbalik hendak pergi. Tiba-tiba, dari dalam rumah terdengar suara kaca pecah. Langkahnya langsung terhenti. Dia kembali ke pintu dan melangkah masuk ke area foyer.Di ruang tamu, Raka menahan tubuhnya dengan satu tangan di me

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1055

    [ Jadi, ini berarti kamu setuju? ][ Setuju apa? ][ Setuju jadi pacarku. ]Jay menarik napas dalam-dalam lalu menekan kirim.Satu menit, dua menit, tiga menit berlalu, Jay tidak mendapat balasan. Dia langsung menekan nomor Siria dan meneleponnya."Halo!" Terdengar suara Siria dari seberang."Siria." Suara Jay begitu bersemangat sampai sedikit serak. "Aku ... aku menyukaimu. Kamu mau jadi pacarku?""Jay, sekarang sudah hampir jam 2 pagi. Kamu mabuk ya? Jangan-jangan kamu salah orang lagi?" Siria bertanya dengan nada serius.Kepala Jay langsung berdengung. Dia teringat malam ketika dia pernah salah mengira Siria sebagai Devina. Dengan nada cemas tetapi tulus, dia berkata, "Nggak. Siria, aku nggak salah orang.""Aku ingin mengatakan langsung padamu kalau yang kusukai adalah kamu. Kamu, Siria. Aku ingin secara resmi dan sungguh-sungguh memintamu menjadi pacarku."Di sana, Siria terdengar tertawa. Akhirnya, dengan sedikit nada tak berdaya tetapi juga geli, dia berkata, "Aku belum pernah de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 65

    "Aku rasa dia nggak punya latar belakang pendidikan yang layak. Seseorang yang bahkan nggak lulus kuliah, mana mungkin bisa racik obat khusus? Kalau publik tahu, bisa-bisa jadi takut minum obatnya!""Benar juga sih. Faye memang lebih cocok mewakili laboratorium kita."Kedua wanita itu keluar sambil

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 142

    Akhir pekan, Brielle tetap tinggal di rumah. Raka pergi ke rumah Keluarga Pramudita untuk menemani Anya dan Brielle tidak ikut.Hari Senin.Setelah mengantar Anya, Brielle langsung menuju lokasi ujian di Fakultas Kedokteran. Jurusan utamanya adalah Ilmu Penyakit Dalam, tetapi ujian lulus percepatan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 97

    Devina menatap Brielle. "Brielle, kalung malam ini untukmu saja. Kamu jangan marah ya?"Brielle termangu sesaat, lalu menatap mata Devina yang penuh senyuman licik dan perhitungan."Kamu boleh ambil sesukamu semua barang yang nggak aku inginkan." Selesai berbicara, Brielle melirik ke arah pria di si

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 145

    Brielle melirik sekilas tesis itu, lalu tersenyum tipis. "Menurut Profesor Madeline sendiri bagaimana?"Andai Brielle gagal lulus ujian kali ini, Madeline pasti akan mengira itu hanyalah peninggalan Adam. Namun dengan nilai yang begitu mencengangkan, dia benar-benar bisa memercayai bahwa itu adalah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status