ANMELDENBilah sabit hitam yang tercipta dari miasma kegelapan itu bergetar hebat, hanya berjarak setipis helaian rambut dari kulit leher Elloist.Hawa dingin yang mematikan menguar dari senjata ilusi tersebut, membekukan butiran keringat yang menetes di pelipis sang Putri Mahkota.Namun, Elloist tidak memejamkan mata. Ia membalas tatapan Liliyana dengan keteguhan absolut, menyerahkan nyawanya sepenuhnya pada keputusan gadis remaja penguasa ketiadaan ini.Tawaran kebebasan untuk Thomas.Kalimat itu seolah menjadi mantra yang melumpuhkan seluruh rasionalitas dan dendam kesumat di dalam kepala Liliyana.Napas gadis bersuku rubah itu tersengal-sengal. Sepasang netra birunya yang tadi menyala oleh api ungu kegelapan, kini membelalak lebar, memancarkan keterkejutan, harapan yang menyayat hati, dan teror yang berbaur menjadi satu."Kebebasan ... untuk kakakku?" bisik Liliyana dengan suara yang nyaris tak terdengar, bibir pucatnya berg
Cahaya keemasan yang memancar dari inti jiwa Elloist menerangi ruang singgasana bawah tanah itu dengan pendaran suci yang menyilaukan.Di tengah neraka ketiadaan yang dipenuhi miasma hitam, energi kehidupan murni tersebut terasa begitu kontras, hangat, dan nyata.Elloist menyodorkan nyawanya secara harfiah di atas telapak tangan, membiarkan pertahanan absolutnya terbuka lebar demi meyakinkan sang penguasa kegelapan.Namun, bagi seseorang yang telah dikhianati dan dihancurkan hingga tak bersisa, kebaikan adalah racun yang paling diwaspadai.Sepasang netra biru rubah Liliyana membelalak lebar. Gadis remaja itu menatap kristal jiwa yang berdenyut di depannya dengan napas tertahan.Insting silumannya meronta, merasakan kebenaran dan ketulusan yang memancar dari inti jiwa tersebut. Tidak ada kepalsuan di sana.Akan tetapi, memori kelam tentang tawa arogan sang putri di atas tebing kembali berkelebat, menutupi cahaya kebenara
Cekikan ekor-ekor rubah hitam pekat itu terasa seperti jerat kawat baja yang dipanaskan di atas bara api. Tubuh Elloist menggelepar di udara, kakinya menendang-nendang ruang kosong mencari pijakan yang tak pernah ada.Pasokan oksigen ke otaknya terputus total. Wajah sang Putri Mahkota berubah kebiruan, sementara pembuluh darah di pelipisnya menonjol seolah siap meledak.Namun, rasa sakit fisik yang meremukkan lehernya itu sama sekali tidak sebanding dengan siksaan psikologis yang terpancar dari sepasang netra biru rubah milik Liliyana.Di dalam mata gadis remaja itu, terdapat lautan penderitaan, keputusasaan, dan kebencian yang telah mengkristal menjadi racun mematikan."Kau pikir aku tidak mengingatnya, Elloist?" desis Liliyana. Suaranya yang merdu berubah menjadi geraman parau yang menggema memantul di dinding obsidian ruang singgasana.Liliyana melangkah maju, membiarkan tubuh mungilnya tersorot oleh cahaya redup dari pilar a
Kegelapan absolut menyambut tubuh Elloist seketika. Sensasi jatuh menembus Jurang Dunia Hampa sama sekali tidak menyerupai rasanya melayang di udara bebas, melainkan seperti dihancurkan perlahan-lahan oleh jutaan ton tekanan air di dasar palung samudera terdalam. Angin menderu memekakkan telinga, membawa jeritan pilu jiwa-jiwa yang telah lama membusuk di dalam ketiadaan. Suhu udara anjlok hingga membekukan darah. Kulit Elloist mulai terkelupas, seolah diiris oleh ribuan belati es tak kasatmata yang terbuat dari energi kegelapan murni. Namun, janji yang ia ukir di dalam hatinya tak mengizinkannya mati semudah itu. Kekuatan Penyembuh Level SSS miliknya bekerja secara otomatis dan brutal. Setiap jaringan sel yang koyak oleh miasma jurang, langsung beregenerasi dalam hitungan milidetik. Pendaran cahaya emas dan hijau menyelimuti tubuhnya, bertarung habis-habisan melawan energi perusak dari dasar neraka tersebut,
Pintu ganda ruang pengadilan yang tertutup berdebam seolah menjadi pembatas absolut antara dirinya dan kepingan hati Thomas yang hancur lebur.Elloist berdiri mematung di tengah ruangan yang perlahan kosong. Hawa dingin dari lantai pualam menjalar naik ke ujung kakinya, namun rasa dingin yang sesungguhnya bersarang tepat di ulu hatinya.Penolakan Thomas yang begitu dingin dan sarat akan kebencian terus terngiang di telinganya."Jangan dekati aku."Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tusukan belati obsidian mana pun."Jangan buang air matamu untuk rubah tak tahu diuntung itu, Elloist." Sebuah suara bariton yang berat dan posesif memecah lamunan sang putri.Pangeran Alexander melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Tangan besar Sang Jenderal Naga terulur, menarik bahu Elloist hingga punggung gadis itu bersandar pada dada bidangnya yang hangat."Tugasnya sebagai Penasehat Hukum telah selesai. Jika
Pancaran sinar matahari pagi yang menembus kaca patri megah di Ruang Pengadilan Tinggi Kerajaan Moon sama sekali tidak mampu mengusir hawa dingin yang mencekik.Hari ini adalah batas akhir penangguhan vonis. Ratusan pasang mata bangsawan kembali berkumpul, menatap dengan napas tertahan ke arah tengah ruangan.Di dalam lingkar pesakitan, Putri Mahkota Elloist berdiri tegak. Wajahnya pucat dan tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa kelelahan luar biasa akibat demam estrus dan pertarungan mentalnya semalam.Setelah penolakan brutal di alam bawah sadar, amukan monster rubah itu mendadak terhenti. Tubuh raksasa Thomas menyusut dan menghilang ke dalam bayang-bayang, melarikan diri dari istana sebelum Alexander dan Marcus yang panik berhasil mendobrak masuk untuk menyelamatkan istri mereka.Kini, dengan tingkat kebencian yang kembali merosot ke angka minus lima puluh persen. Elloist sempat ragu apakah Sang Penasehat Hukum Utama itu akan muncul untuk membelan
"Apa?!" pekik Elloist keras. "Benar, Yang Mulia," sahut pengawal itu terbata-bata sambil menatap ke arah Elloist dengan sorot takut. Ia bahkan berusaha keras menahan tangis. Bagaimanapun juga ia merasa berhutang budi pada sang tabib yang telah menyelamatkan nyawa putrinya di masa lalu. "Kok
Elloist menangis tersedu-sedu. Penampakan yang ia pikir sebelumnya adalah hantu, ternyata wajahnya sendiri. Bertepatan dengan itu, Momo kembali muncul, terbang berputar-putar mengelilingi kepala Elloist hingga debu perak sekilas terlihat berterbangan mengikutinya. [Tuan rumah jangan bersedih!
Elloist Ellianore, putri tunggal dari Raja Edward Ellianore, adalah sosok betina bangsawan di kerajaan antar binatang di planet Moon. Planet Moon adalah sebuah planet binatang, di mana semua wanita memiliki kedudukan yang tinggi karena dianggap sebagai jelmaan para Dewi karena memiliki kekuatan me
"Ugh ... sakit sekali kepalaku." Sambil memegangi kepalanya yang terus berdenyut, Ellyn membuka matanya perlahan. Tadi, karena terlalu kesal melihat Putri Elloist, tokoh protagonis di drama yang ia tonton, mati begitu saja di tangan pangeran Ivander karena kebodohannya sendiri, Ellyn melempar gel







