LOGINSatu tahun terakhir, Dika Narendra Hasan CEO HSNMega Publisher mengencani Bella, putri sahabat ayahnya, pemilik Perusahaan Percetakan. Demi memperkuat kerjasama, keduanya akan menikah. Namun, dua pekan menuju hari bahagia, Narendra dikabarkan mengalami kecelakaan. Dia divonis lumpuh oleh dokter yang menanganinya. Tidak ingin terjebak dengan laki-laki cacat seperti Narendra, Bella memilih pergi di hari seharusnya dia menikah. Narendra meminta pengganti Bella, dan Sheilla lah yang ditunjuknya. Orangtua Bella yang tidak ingin menanggung aib sekaligus kehilangan berlian seperti Narendra pun membujuk keponakan mereka. Bersediakah Sheilla memenuhi permintaan om dan tantenya sebagai balas budi? Dan mengapa Narendra dengan mudah melabuhkan pilihan pada sosok Sheilla di tengah keadaan-dimana seharusnya dia bersedih karena Bella? Seiring berjalannya waktu, misteri tentang kecelakaan orangtua Sheilla; serta hilangnya seorang penulis yang pernah menerbitkan banyak buku di perusahaan Narendra, perlahan terkuak. Siapa dalang di balik semua kejadian itu?
View More”Lo tau gue udah balik, tapi lo gak ada niatan buat nemuin gue gitu?” Suara Bella masih bisa Sheilla dengar di seberang sana. “Kenapa? Terlalu nyaman lo, ya, sama posisi lo sekarang. Inget, Sheilla, kalo bukan karena gue lo gak bakal ada di tempatnya Naren sekarang.”“Apa-apa? Karena Kakak?" Sheilla tersenyum kecut. "Kenapa, Kak Bella nyesel?” tanyanya.“Kalo iya, lo mau balikin Naren ke gue?”Sheilla memindahkan ponsel ke telinga kiri. Tangan kanannya memilin ujung kaus yang dia kenakan. Lantas mendongak menatap Narendra. Dalam satu garis lurus tatapan mereka bertemu. “Kak Naren bukan barang yang bisa Kakak taruh gitu aja, lalu Kakak ambil lagi ketika Kakak membutuhkannya.” Dapat Sheilla lihat Narendra sedikit terkejut dengan apa yang diucapkannya. Dia terus saja menatap.“Dan, ya, kali ini … boleh aku serakah? Aku mau tetap di sini. Lagi pula, Tante Alma sendiri yang sudah mengusirku keluar dari rumah kalian. Aku tidak punya tempat kembali selain tetap berada di sini.” Lanjut Sheill
Meminta Jenar pulang lebih dulu bersama anak-menantunya, sementara Hasan masuk ke dalam mobil yang sudah ada sopir siaga di sana. Duduk di bangku belakang seraya mendial nomor Wira."Kita bertemu di kantorku," ucap Hasan singkat, mengakhiri panggilannya.Hasan tiba tepat ketika Wira juga turun dari mobil. Keduanya lantas masuk ke dalam kabin lift demi bisa ke lantai paling atas. Tempat di mana ruangan Hasan berada."Soal film itu, aku baru saja menontonnya dengan anak-anak, juga Jenar," ungkap Hasan begitu dia duduk di atas sofa. Wira meneliti penampilan Hasan lantas membalas, "Pantas, pakaianmu tidak seperti biasanya. Lalu, apa kamu tidak memperhatikan ada yang aneh dengan penayangan film itu?""Entahlah, mungkin karena terlalu senang dengan perubahan sikap Narendra beberapa hari ini, aku sampai tidak memperhatikan yang lain." Hasan tidak mengerti kapan Narendra mulai bersikap tak acuh padanya. Seingat Hasan, setelah pertunangan Naren dengan Bella. Bukan! Jauh sebelum itu. Pertama,
Pagi-pagi sekali Asisten pribadi Narendra sudah datang. Sudah berada di ruang kerja sejak pukul enam. Narendra menekuri layar kemudian mendongak. "Jadi bagaimana?" "Tuan Besar belum bereaksi apa pun, Tuan." "Papa belum bereaksi apa-apa padahal penanyangan film sudah hampir satu pekan?" Narendra menautkan ke sepuluh jemarinya. "Apa dia tidak memperhatikan berita? Apa mungkin seseorang yang memimpin perusahaan, yang bergerak di bidang industri media, sama sekali tidak update? Dia punya portal berita yang tentu ikut andil menayangkan promosi film ini, bukan?" "Sepertinya Tuan Besar memang tidak terlalu peduli. Saya rasa, Tuan harus mengajaknya menonton film itu. Mungkin dengan begitu dia baru akan bereaksi." Narendra mengangguk-angguk, kemudian meminta Asprinya turun untuk sarapan. "Saya harus ajak Papa nonton film nya, kan? Well, dengan bergabung di meja makan," ungkap Narendra ketika asisten pribadinya itu hanya menatap datar seolah sedang mempertanyakan, tumben mau ikut sarapan? B
Sesampainya di rumah, Narendra memanggil Ratih, pembantu yang biasa membereskan kamarnya. Tidak perlu banyak tanya, wanita 40 tahunan itu langsung menceritakan yang terjadi sepanjang hari ini hingga berakhir Chiko tidak ada di kamar."Nyonya tadi minta kucing itu di bawa ke penampungan hewan liar, Tuan," tutur Ratih. "Bibi hari ini gak kerja." Dia mengeluh sakit. "Jadi, tadi Nena yang bereskan kamar Tuan Muda. Nena bilang kucingnya lompat ke depan dia, terus dia kaget dan teriak. Maafin bibi, ya, Tuan, Non Sheilla.""Gak apa-apa, Bi. Segitunya gak suka kucing sampe di bawa ke Shelter hewan. Chiko bukan kucing liar, ya, yang harus ditampung di penampungan. Dia aku adopsi, lho.""Shei ...." Sheilla menoleh ke sumber suara. Narendra menatapnya seperti sebuah peringatan. Sheilla tahu, ucapannya barusan menyinggung Narendra. Bagaimanapun, yang bermasalah dengan hewan peliharaannya ialah ibu kandung lelaki itu."Kita cari Chiko besok. Mama bukan gak suka kucing, dia hanya …." Narendra tida






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews