LOGIN"Tenangkan dirimu, Clarissa! Tarik napas dan katakan dengan jelas, apa yang sebenarnya terjadi pada Alexis?!" perintah Viona. Matanya memberi isyarat kepada Abraham yang kini sudah berdiri dari kursi kebesarannya, menatap putri sulungnya dengan ketegangan yang memuncak. Di seberang telepon, suara tangis Clarissa akhirnya pecah, memecah keheningan malam yang mencekam. "Tadi malam... Lexi tidak bisa tidur, Mbak. Aku berpura-pura terlelap, tapi aku melihatnya berdiri di balkon dengan gelisah. Lalu pagi-pagi sekali, dia pergi begitu saja meninggalkan hotel tanpa memberi tahu papaku ataupun aku. Dia membatalkan semua agenda hari ini!" Clarissa terisak, napasnya memburu karena kepanikan yang luar biasa. "Hanya karena itu kamu meneleponku sambil menangis seperti orang histeris?" potong Viona dingin, mencoba meredam kepanikan Clarissa meskipun jantungnya sendiri mulai berdegup tidak karuan. "Bisa saja dia hanya pergi memeriksa aset hotel atau menemui kolega bisnis lokal, Clarissa." "B
Malam semakin larut, namun ketegangan di dalam kamar suites mewah itu tidak berkurang sedikit pun. Di balik selimut tebal yang hangat, Clarissa sebenarnya tidak benar-benar terlelap. Sepasang matanya perlahan terbuka begitu mendengar suara klik halus dari pintu balkon yang ditutup. Ia sengaja memasang telinga sejak awal. Ketika melihat bayangan Alexis bergerak menjauh dari ranjang menuju balkon, kecurigaan Clarissa langsung memuncak. Ia mengubah posisinya menjadi duduk, menatap tajam ke arah Alexis yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celananya dengan gerak-gerik gelisah. "Kamu menelepon siapa malam-malam begini, Lexi?" tanya Clarissa tiba-tiba, memecah keheningan kamar. Suaranya terdengar menuntut, menghilangkan kesan lembut yang biasa ia tunjukkan di depan keluarga besar mereka. Alexis sedikit terperanjat, namun dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. Ia berjalan mendekati ranjang dengan langkah berat, menatap wanita yang statusnya kini adalah tunangannya. "Bu
Malam itu, di dalam kamar hotelnya yang megah, Alexis tidak bisa memejamkan mata.Ketika Clarissa sudah terlelap di ranjang berselimut tebal, Alexis berdiri di balkon, menatap kerlip lampu kota Surabaya dengan pikiran yang berkecamuk hebat.Rasa bersalah kepada Clarissa sempat menahannya, namun ingatan tentang mata wanita di mal itu terus berputar seperti kaset rusak. Nalurinya berteriak bahwa ada kebohongan besar yang sedang menyelimuti hidupnya.Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponselnya. Alexis mendial sebuah nomor yang sangat rahasia—seorang mantan intelijen yang kini membuka jasa penyelidikan swasta di bawah radar."Bantu aku cari seseorang di Surabaya," bisik Alexis lirih, menjaga volume suaranya agar tidak membangunkan Clarissa."Perempuan, tinggi, berpenampilan elegan seperti pebisnis. Hari ini dia memakai blazer pastel di mal Tunjungan Plaza sekitar jam empat sore. Dia diproteksi oleh seorang pria tegap yang memanggilnya dengan nama Angel."Di seberang telepon, suara berat m
Clarissa mematung di tempatnya.Senyuman manja yang biasanya terukir di wajah cantiknya langsung lenyap, digantikan oleh kepanikan yang berusaha ia sembunyikan di balik topeng kepura-puraan.Ia bisa merasakan cengkeraman tangan Alexis di bahunya bergetar hebat. Pria ini tidak sedang bertanya biasa; ia sedang menuntut kebenaran yang selama ini disembunyikan dengan rapi oleh dua keluarga besar."Lexi, kamu bicara apa, sih?" Clarissa tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat dipaksakan di telinga Alexis. Ia melepaskan tangan Alexis dari bahunya secara perlahan, lalu menggenggamnya erat."Siapa lagi yang harus kamu ingat? Aku ini tunanganmu, Lexi. Kita sudah bersama sejak lama. Dokter kan sudah bilang, ingatanmu terganggu karena trauma benturan keras. Wajar kalau kamu sering merasa linglung atau berhalusinasi.""Aku tidak berhalusinasi, Clarissa!" potong Alexis dengan nada tinggi, membuat beberapa pasang mata pengunjung lobi hotel menoleh ke arah mereka.Alexis menarik napasnya ya
Angel merasakan tenggorokannya tercekat, seolah seluruh pasokan udara di sekitar koridor mal itu menguap habis. Sentuhan lembut Bram di sikunya menjadi satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak langsung jatuh bertumpu pada lutut. Di depannya, Alexis masih melangkah maju. Sorot mata pria itu begitu intens, penuh kepedihan, sekaligus kebingungan yang amat dalam—seolah ia sedang melihat hantu dari masa lalunya yang paling berharga. Setiap langkah Alexis mendekat membuat dadanya semakin sesak. 'Jangan sekarang... kumohon, jangan sekarang,' jerit batin Angel panik. Ia belum siap. Benteng pertahanan yang ia bangun dengan air mata di Jakarta runtuh dalam sekejap. Jika ia membiarkan Alexis mendekat, jika ia membiarkan pria itu melihat air matanya, maka semua pengorbanan dan rasa sakit yang ia tanggung sendiri selama ini akan sia-sia. Terlebih lagi, pria di depannya ini sekarang sudah memiliki Clarissa di sisinya. Angel memejamkan mata sesaat, menarik napas sekuat yang ia bisa dem
Pesawat komersial yang membawa Angel mendarat di Bandara Internasional Juanda tepat saat matahari Surabaya mulai memancarkan terik khasnya.Begitu melangkah keluar dari pintu kedatangan, seorang pria dengan seragam safari rapi sudah berdiri memegang papan nama bertuliskan 'Kebayoran Baru Land'.Di samping pria itu, bersandar pada pintu mobil SUV hitam yang mengilap, Bramantya Dirgantara melambaikan tangan dengan senyum tipis yang ramah."Bagaimana penerbangannya, Ibu Angel?" tanya Bram, langsung mengambil alih tas jinjing kecil milik Angel sebelum wanita itu sempat menolak."Sangat lancar, Pak Bram. Terima kasih atas sambutannya," jawab Angel, menyesuaikan langkahnya yang anggun dengan langkah lebar Bram."Kita akan langsung menuju lokasi proyek di kawasan Surabaya Barat. Perjalanan sekitar empat puluh lima menit jika lalu lintas bersahabat. Saya sudah menyiapkan berkas amandemen tata ruang terbaru di dalam mobil untuk Anda tinjau sepanjang jalan," ujar Bram profesional.Angel mengang
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke







