แชร์

Bab 71. Luna Ternyata ....

ผู้เขียน: Nona Muda
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-01 21:47:42

Setelah menekan tombol kirim ke nomor Rian, Lexi memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana dengan gerakan santai.

Dia menghabiskan sisa kopinya yang mulai mendingin, lalu menaruh selembar uang sepuluh ribuan di atas meja warkop.

Rasa mual di perutnya kini sudah hilang sepenuhnya, berganti rasa puas yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Dia yakin, kali ini dia yang akan memenangkan taruhannya. Ya, taruhan pada diri sendiri sih!

"Terima kasih kopinya, Cak. Mantap," ujar Lexi sembari mel
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 167. Aku Tidak Butuh Uang!

    Pukul dua dini hari, lereng bukit Prigen diselimuti kabut tebal yang bergulung-gulung ditiup angin gunung yang membekukan. Di dalam kamar utama vila, Angel kembali terbangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup brutal secara abnormal. Kram di perut bawahnya tidak lagi terasa, namun dadanya mendadak terasa begitu hampa dan sesak, seolah-olah ada ikatan batin tak kasat mata yang sedang ditarik paksa dari kejauhan. Angel bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju balkon kamar dengan gaun hamil katunnya. Di ujung ruangan, Bramantya yang selalu sensitif terhadap pergerakan Angel langsung terjaga dari sofa panjangnya. Pria itu menyelimuti bahu Angel dengan selimut tebal dari belakang, dengan gestur manis yang protektif. "Ada apa, Angel? Firasatmu buruk lagi?" tanya Bramantya lembut, suaranya yang berat memecah keheningan kabut. "Bram, dadaku sakit sekali," bisik Angel, air matanya perlahan menetes tanpa sebab yang jelas. "Aku merasa... aku merasa malam ini ada sesuatu yang

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 166. Berpacu Dengan Waktu

    Lexi mematung di kursinya, menatap nanar pintu ruang rapat yang baru saja tertutup rapat.Keheningan yang ditinggalkan oleh Bramantya dan Kevin terasa begitu pekat, seolah mencekik seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya. Urat-urat di pelipisnya menegang hebat seiring dengan rasa pening yang kembali menghantam kepalanya dengan brutal.Lagi-lagi dia gagal. Selisih waktu, benteng hukum, dan barikade proteksi Bramantya selalu berhasil memotong jalurnya tepat sebelum dia bisa menjangkau Angel."Lex." Tasya menyentuh lengan adiknya dengan lembut, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam melihat tubuh Lexi yang perlahan bergetar menahan gejolak emosi."Kita balik ke Dharmahusada dulu, ya? Kamu butuh istirahat.""Nggak, Mbak," desis Lexi, suaranya terdengar begitu parau, serak, dan pecah akibat keputusasaan yang sudah berada di ambang batas. Ia menepis tangan Tasya perlahan, lalu mencengkeram tepi meja oval mahoni itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.Tiba

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 165. Gagal Lagi dan Lagi

    Malam itu, di dalam ruang tengah rumah singgah Dharmahusada, suasana terasa begitu sunyi dan dingin.Jam digital di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Lexi masih duduk tegak di depan laptopnya. Berkas-berkas legalitas Permana Infrastructure berserakan di atas meja, menjadi satu-satunya senjata hukum yang ia miliki untuk memaksa Angel keluar besok pagi.Di kursi seberang, Tasya menatap adiknya dengan tatapan iba. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana gurat kelelahan dan frustrasi yang amat mendalam mencengkeram wajah tampan Lexi. Pria itu berulang kali memijat pangkal hidungnya, menahan denyut nyeri di kepala yang kian menyiksa setiap kali dia mencoba menggali ingatan masa lalunya yang kosong."Lex, mending kamu tidur dua jam," tegur Tasya lembut, menggeser segelas air putih hangat ke dekat Lexi. "Kalau besok kamu tumbang di meja pleno, Bramantya bakal dengan mudah menguliti kamu hidup-hidup di depan umum."Lexi mengepalkan tangannya di atas meja, napasnya keluar

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 164. Lexi Makin Gila

    Lexi memutar tubuhnya, berjalan keluar dari restoran dengan langkah lebar yang dipenuhi kemurkaan. Rasa frustrasi karena selalu berselisih waktu beberapa menit dari Angel mulai membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Di dalam mobil sewaan, Tasya hanya bisa diam, memperhatikan adiknya yang kini menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat. "Mbak, kita nggak bisa main kucing-tikus kayak gini terus," desis Lexi, suaranya terdengar begitu rendah dan berbahaya. "Bramantya punya jaringan perimeter yang terlalu rapi di kota ini. Setiap kali gue mengendus keberadaan Angel, cowok itu pasti langsung memindahkan dia lewat pintu belakang." Tasya memundurkan sandaran kursinya, menatap Lexi dengan sebelah alis terangkat. "Terus rencana kamu apa, Lex? Waktu kamu sisa dua hari sebelum pemecatan dan pencabutan hak waris kamu di Jakarta resmi ditandatangani Bapak." Lexi tersenyum sinis, sebuah kilatan taktik bisnis yang kejam mendadak muncul di sepasang mata kelamnya. "Kalau Angel teru

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 163. Permainan Takdir

    Tasya tertegun, lalu perlahan mengulas senyum tipis melihat binar liar di sepasang mata adiknya. Karakter asli Lexi yang keras kepala dan tak tertundukkan akhirnya kembali, persis seperti sebelum kecelakaan terkutuk itu merenggut kepingan jiwanya. "Oke. Kalau itu mau kamu, Mbak dukung penuh," sahut Tasya, ikut menyambar tasnya. "Informan Mbak bilang, hari ini Angel dijadwalkan meninjau lokasi pembersihan lahan di Surabaya Barat jam sepuluh pagi. Kita ke sana sekarang sebelum Bramantya memperketat barikade pengawalan." Namun, takdir tampaknya gemar mempermainkan garis hidup mereka. Tepat pukul 10.15 WIB, mobil sewaan Lexi dan Tasya tiba di perimeter luar area proyek Surabaya Barat. Gerbang proyek tampak dijaga ketat oleh dua baris pengawal berbadan tegap dengan rompi hitam. Lexi menurunkan kaca mobil, matanya menatap tajam ke arah tenda utama di dalam area sterilisasi. "Maaf, Pak. Area ini tertutup untuk umum atas perintah Bramantya Group," hadang seorang kepala keamanan dengan

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 162. Ultimatum

    Pukul sebelas malam lewat, roda pesawat komersial yang membawa Lexi dan Tasya akhirnya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Internasional Juanda. Begitu melangkah keluar dari garbarata, hawa Surabaya yang cenderung hangat menyergap mereka, namun bagi Lexi, atmosfer kota ini terasa begitu dingin semenjak penolakan keras Angel tempo hari. Tasya bergerak gesit. Berbeda dengan Lexi yang berjalan dalam diam dengan topi hitamnya yang diturunkan rendah, Tasya sibuk memeriksa ponselnya.Dia sengaja tidak memesan hotel berbintang atas nama mereka atau menggunakan fasilitas korporasi yang biasa diakses oleh keluarga Permana. "Kita tidur di rumah singgah milik sahabatku di daerah Dharmahusada, Lex," bisik Tasya seraya menuntun adiknya menuju ke mobil sewaan yang sudah terparkir di area drop-off. "Tempatnya privat, aman dari endusan intel-intelnya Mbak Vio, dan yang paling penting... Bramantya nggak akan tahu kita ada di sana." Lexi hanya mengangguk samar, langsung masuk ke dalam mobil. S

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 7. Tinggal Ngadon Lagi, Enak Kan?

    Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 6. Surat Perjanjian Menghamili

    Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 5. Sugar Mommy

    Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status