Home / Romansa / Bunga Biru / Chapter 37: Kompas

Share

Chapter 37: Kompas

Author: Feyaa
last update publish date: 2026-03-26 21:45:29

Malam semakin larut ketika Evelune akhirnya melangkah pulang.

Namun langkahnya kali ini tidak sama seperti malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang tertinggal di persimpangan itu, bukan sesuatu yang hilang, melainkan sesuatu yang perlahan tumbuh dan belum ia beri nama.

Di dalam kamarnya, ia meletakkan kompas itu di atas meja kecil dekat jendela.

Jarumnya masih menunjuk ke arah yang sama.

Laut.

Seolah tidak peduli apakah Evelune siap atau tidak, arah itu tidak akan berubah.

Evelune duduk di kurs
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 40: D’Amour

    Suara kunci terbuka terdengar sangat jelas di ruangan batu yang sunyi itu.Perlahan Evelune membuka tutup peti itu.Kayunya berderit pelan.Di dalam peti itu tidak ada emas.Tidak ada uang.Tidak ada perhiasan.Di dalamnya hanya ada beberapa dokumen, sebuah kotak kayu kecil, dan sebuah pistol tua yang dibungkus kain.Elian mengerutkan kening. “Dokumen?”Evelune mengambil kotak kayu kecil itu dulu. Ia membukanya pelan.Di dalamnya ada sebuah cincin dengan lambang keluarga D’Amour, dan sebuah surat yang dilipat rapi.Evelune membuka surat itu dan mulai membaca. Semakin lama ia membaca, wajahnya berubah. Bukan karena kaget saja, tetapi karena seperti akhirnya memahami sesuatu yang sangat besar.“Apa isinya?” tanya Alira pelan.Evelune menelan pelan sebelum menjawab.“Ini bukan tentang harta,” katanya pelan. “Ini tentang nama keluarga kami. Tentang siapa yang mengkhianati ayahku.”Ia mengangkat dokumen dari dalam peti.Di bagian atas dokumen itu ada beberapa nama dan cap resmi perusahaan

  • Bunga Biru   Chapter 39: Laut dan isinya

    Pagi hari ketiga di laut, kabut turun cukup tebal hingga jarak pandang menjadi pendek. Laut terlihat tenang, tetapi suasananya terasa berbeda, lebih sunyi dari biasanya, seolah-olah mereka sedang berlayar di tempat yang tidak banyak dilalui kapal lain.Neriel membuka kompas itu lagi. Jarumnya bergerak lebih cepat dari biasanya, bergetar kecil, lalu berhenti. Ia mengerutkan kening.“Kenapa?” tanya Evelune yang berdiri di dekatnya.“Jarumnya mulai bergerak lebih sering. Artinya kita sudah dekat,” jawab Neriel pelan.“Dekat dengan petinya?”“Entah. Tapi kita dekat dengan sesuatu.”Alira ikut mendekat. “Kapal di belakang itu masih ada?”Neriel melihat ke belakang, tetapi kabut terlalu tebal. Kapal itu tidak terlihat, namun justru itu yang membuat keadaan terasa lebih tidak tenang.“Kalau mereka masih mengikuti kita, kabut seperti ini justru menguntungkan mereka,” kata Alira.Beberapa jam kemudian, kompas itu tiba-tiba berputar cepat, lalu berhenti menunjuk ke satu arah yang sama sekali be

  • Bunga Biru   Chapter 38: Laut dan Rahasianya

    Mereka berangkat dua hari kemudian, saat langit masih berwarna abu-abu pucat dan kota belum sepenuhnya bangun. Pelabuhan masih sepi, hanya beberapa nelayan yang bersiap dengan jaring mereka, dan suara kayu kapal yang berderit pelan terdengar di antara kabut pagi.Kapal kecil milik Neriel tidak terlihat mencolok. Dari luar, ia tampak seperti kapal biasa yang digunakan untuk mengangkut barang ringan antar pelabuhan kecil. Tidak ada yang akan mengira bahwa mereka berlayar bukan untuk berdagang, melainkan untuk mencari sesuatu yang telah hilang bertahun-tahun.Evelune berdiri di atas dermaga sebentar sebelum naik. Ia menoleh ke arah kota, ke arah jalan-jalan yang sudah ia kenal sejak kecil, ke arah kehidupan yang selama ini terasa tetap dan tidak berubah.“Kalau kau ragu, kita bisa menundanya,” kata Neriel dari atas kapal.Evelune menggeleng pelan. “Aku tidak ragu. Aku hanya merasa… setelah aku naik ke kapal itu, hidupku tidak akan kembali seperti sebelumnya.”Neriel tidak langsung menjaw

  • Bunga Biru   Chapter 37: Kompas

    Malam semakin larut ketika Evelune akhirnya melangkah pulang.Namun langkahnya kali ini tidak sama seperti malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang tertinggal di persimpangan itu, bukan sesuatu yang hilang, melainkan sesuatu yang perlahan tumbuh dan belum ia beri nama.Di dalam kamarnya, ia meletakkan kompas itu di atas meja kecil dekat jendela.Jarumnya masih menunjuk ke arah yang sama.Laut.Seolah tidak peduli apakah Evelune siap atau tidak, arah itu tidak akan berubah.Evelune duduk di kursinya, menatap benda kecil itu cukup lama. Pikirannya penuh, tetapi tidak lagi kacau seperti sebelumnya. Ada benang-benang yang mulai terhubung, meskipun belum sepenuhnya jelas.Ayahnya menyembunyikan sesuatu.Kapten Merovyn membawanya pergi.Dan sekarang, kompas itu meminta untuk mengikuti arah yang sama.Namun di antara semua itu, ada satu hal lain yang terus muncul di pikirannya.Bukan tentang peti.Bukan tentang masa lalu.Tetapi tentang Neriel.Tentang cara ia selalu berada di sana tanpa mem

  • Bunga Biru   Chapter 36: Kapten Rhon

    Angin laut berembus lebih kencang, membuat ujung mantel Evelune bergerak pelan. Ia menatap Neriel cukup lama, seolah baru menyadari bahwa pertemuan mereka mungkin bukan kebetulan sederhana.“Jadi sejak awal,” kata Evelune pelan, “keluargaku dan keluargamu sudah saling terlibat dalam semua ini.”Neriel tidak menghindari tatapannya. “Sepertinya begitu.”Pria di dermaga itu mengeluarkan sesuatu dari dalam mantelnya, sebuah benda kecil yang dibungkus kain gelap.“Aku tidak memanggilmu ke sini hanya untuk bercerita,” katanya. “Ada sesuatu yang ayahmu titipkan padaku, untuk diberikan kepada keluarganya jika suatu hari keluarganya datang mencarinya.”Ia menyerahkan bungkusan itu kepada Evelune.Perlahan Evelune membukanya.Di dalamnya ada sebuah kompas tua, terbuat dari logam berwarna perak yang sudah sedikit kusam. Di bagian belakangnya ada ukiran kecil.Lambang keluarga D’Amour.Dan di bawahnya, ukiran huruf kecil:Pour trouver ce qui est perdu.“Apa artinya?” tanya Elian.“Itu bahasa Pran

  • Bunga Biru   Chapter 35: Pria Surat

    Pria itu berdiri membelakangi mereka, menghadap laut yang gelap. Mantelnya panjang, tertiup angin pelan, dan topinya menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bergerak ketika mendengar langkah kaki mendekat, seolah ia sudah tahu mereka akan datang.Evelune berhenti beberapa langkah sebelum mendekat lebih jauh.“Aku datang,” kata Evelune.Pria itu akhirnya berbalik perlahan.Wajahnya tidak sepenuhnya tua, tetapi jelas lebih tua dari Neriel dan Elian. Matanya tajam, seperti orang yang sudah melihat banyak hal dalam hidupnya.“Evelune Arséline D’Amour,” katanya pelan. “Kau sangat mirip ibumu.”Nama itu terdengar asing dan akrab di saat yang bersamaan.“Anda yang menulis surat itu?” tanya Evelune.Pria itu mengangguk. “Ya.”“Anda bilang mengenal ayah saya.”“Aku tidak hanya mengenalnya,” jawab pria itu. “Aku bekerja untuknya.”Elian dan Neriel tetap berdiri sedikit di belakang Evelune, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk melihat dan mendengar semuanya.Pria itu melirik mereka sebentar. “Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status