Beranda / Romansa / CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku / 87 | Peperangan di Ranjang

Share

87 | Peperangan di Ranjang

Penulis: Eliyen Author
last update Tanggal publikasi: 2025-09-16 22:07:09

“Ahh … lebih cepat lagi! Aaah … aaah …. Ya, di sana, Akash! Oh, sial! Sial! Aku … datang!”

Gista nyaris menjerit meneriakkan nama Akash. Punggungnya melengkung. Payudaranya membusung tinggi. Kepalanya terlempar ke belakang, merasakan kenikmatan luar biasa.

Sementara Akash tak memberikan waktu istirahat bagi wanitanya. Tangannya meremas dan dia kembali menghunjam dalam-dalam diri Gista. Dia menarik diri hampir di ujung, lalu mendorong sangat kuat dan keras ke dalam.

Di bawahnya Gista tersentak-s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   196 | G-Ash Media

    “Kamu bikin G-Ash Media?” Daging yang hendak disuap Gista terhenti di udara. Di sampingnya Akash mengangguk.“Gista & Akash. Nama kita bersama. Website buku itu adalah proyek pertama. Novelmu selanjutnya adalah proyek gabungan Megalitera dan G-Ash.”“Tunggu dulu.” Gista terperangah. “Tapi kamu CEO Salim!”“Posisiku genting,” senyum Akash tipis.Gista tertegun, tiba-tiba teringat perkataan Leo yang memintanya bersabar atas sikap Akash.“Jadi, ini yang dimaksud kondisi khususmu?” gumam Gista.Seolah mengerti maksud perkataan Gista, pria itu mengangguk. “Leo yang kasih tahu kamu?”“Iya, juga hubungan dia sama Adel.”“Ah, itu. Ada gunanya juga punya pacar yang baik hati. Pacarnya bisa menolong pacarku.” Akash mengangguk-angguk. “Akan kusuruh direktur Mega menaikkan gaji Adel.”“Nepotisme banget, sih,” kelakar Gista.“Siapa saja yang sudah bantu pacarku wajib diapresiasi.” Akash tersenyum lagi.Gista meraih tangan Akash. “Ini karena aku? Karena kamu bertengkar sama papa-mu gara-gara aku?”

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   195 | Bercumbu di Restoran

    Silakan lewati bab ini bila Readers belum 18 tahun. ^^~~~~~“Sekali lagi kamu nempelin mata ke layar itu, Gista, aku akan pastikan ponselmu hancur di bawah sepatuku.”Gista langsung mendongak. Belum apa-apa, satu ciuman kuat langsung hinggap di bibirnya.“Akash!” seru Gista kaget, “Kita lagi di kafe ini.”“Bodo amat,” gerutu Akash. “Aku nggak mau diduakan dengan ponselmu. Kita sudah susah-payah ketemuan, kenapa masih harus ada ponsel di antara kita?”Gista tertawa dalam hati. Ucapan pacarnya ini benar. Setelah akhirnya bisa bertemu lagi, sesudah Akash menghindari Gista beberapa hari, rasanya sangat berbahaya kalau dia sibuk dengan ponsel.Masalahnya notifikasi di ponsel saat ini jauh lebih menarik dibanding pertemuan dengan Akash. Karena itulah, Gista menunjukkan layar ponselnya kepada pria itu.“Lihat,” tunjuk Gista mengabaikan ekspresi masam dan cemberut di wajah pacarnya, “novelku “naik”, nih.”Akash menyipitkan mata. Anehnya, respons pria itu sangat datar alih-alih ikut histeris

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   194 | Pengakuan Leo

    “Kalian pacaran? Kapan? Kenapa nggak ngomong sama aku? Emang niat privat, ya?” Gista memberondong Leo dan Adel dengan pertanyaan-pertanyaan. Dia duduk di depan dua orang itu layaknya hakim yang sedang mengadili terdakwa. “Udah lama,” jawab Leo. “Masih barusan, kok,” ujar Adel. Gista menaikkan sebelah alis. Pandangannya bergantian menatap tajam Adel dan Leo. Yang ditatap saling melempar pandangan. “Jadi, yang bener yang mana?” Sejurus kemudian, Leo memberikan senyum lebarnya. “Biar gue yang ngomong.” “Tapi–” “Miss Gista berhak tahu. Gue udah ngomong ke Akash juga.” Ada denyut sakit di hati Gista mendengar nama Akash disebut. Sudah tiga hari ini pacarnya menghilang. Ponselnya aktif, tetapi telepon dan pesannya tak direspons sama sekali. “Kita udah pacaran lama,” suara Leo memecah lamunan Gista. “Sebelum Adel datang ke Mega.” Gista berkedip cepat. “Sebelum … ke Mega?” “Benar. Maafin aku, Kak Gista. Awalnya aku diutus buat melindungi Kak Gista di sini. Perlindungan diam-diam de

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   193 | Ciuman di Rooftop

    “Terima kasih sudah angkat teleponku, Sayang.”Ponsel di genggaman Gista berpindah tangan. Wanita itu tertegun melihat Akash berjalan pergi.“Kapan dia keluar kamar mandi?” Gista penasaran.Namun, rasa bingungnya berganti dengan rasa ingin tahu. Rupanya Pak Adam berkomunikasi intens dengan putranya soal Gista.“Jadi, apa kamu mau kita putus?” Gista blak-blakan setelah Akash menyelesaikan teleponnya.“Gista, apa yang kamu bicarakan?”“Nggak usah polos gitu, Kash. Aku tahu kok, papa-mu minta kita putus.” Gista berkata santai, meski hatinya berdentum-dentum.Cukup lama Akash terdiam, sampai dia menjawab pertanyaan Gista. “Kamu mau kita putus?”“Akash, jangan mutar balik fakta, deh.”“Nggak. Aku nggak mutar balik fakta. Aku hanya ingin tahu seberapa besar kamu berjuang buat hubungan kita.”Gista tersentak kaget. Kekesalannya dengan cepat memuncak. “Maksudmu, aku yang harus nentukan arah hubungan kita?”“Gista, kamu tahu maksudku,” desis Akash. Ketenangannya sedikit terganggu. “Aku sedang

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   192 | Rahasia Akash

    Leo berjalan pelan mendekati Adel. Dia senang karena gadis itu tidak menghindar. Saat sudah ada persis di hadapan Adel, dua tangan Leo terulur mengurung gadis itu. Dia mematikan lampu pantri.“Lo cantik. Lo tahu gak?” bisik Leo.“Tahu bangetlah. Banyak yang bilang gue cantik.” Adel percaya diri.“Berapa banyak laki-laki yang ngomong?” Leo menundukkan kepala. Sosok Adel diterangi cahaya dari belakang yang berasal dari koridor kantor. Keremangan itu tidak mengurangi profil wajah Adel yang memang cantik, meski sebagian riasannya sudah mulai luntur.“Banyak.” Adel balas berbisik. “Kenapa kepo?”Mata Leo mengunci pandangan Adel. Kepalanya semakin menunduk. Kini dia benar-benar sejajar dengan gadis itu. “Karena–”“Kenapa kalian gelap-gelapan di sini?”Leo langsung meloncat mundur. Adel refleks makin merapat ke dinding. Dia melotot galak pada seseorang yang berdiri di sebelahnya.“Brian, ngapain lo di sini?”“Lah, gue tanya malah balik ditanya.” Brian menyalakan sakelar yang berada di sampi

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   191 | Ultimatum Hati

    “Jangan pernah ganggu hubunganku dengan Gista.”Pagi itu ruang kerja pribadi Adam Salim dilingkupi ketegangan yang pekat. Sekretaris Adam tidak bisa menghalangi kedatangan Akash yang tiba-tiba menerobos masuk tanpa janji temu.“Kamu begitu peduli padanya.” Adam bersandar ke kursi.“Jelas. Dia adalah wanita yang aku cintai.” Akash bicara tanpa keraguan.Adam menangkupkan dua tangan di depan mulut. Pandangannya tajam menusuk, mengamati cermat putra tunggalnya yang menolak duduk di depannya.“Dia tidak cocok untukmu, Akash.”“Dia cocok,” suara Akash sangat dingin. Dia berbalik.“Mau ke mana kamu?”“Pergi. Aku sudah tak ada urusan di sini.”Tawa Adam menggelegar di ruangan yang luas itu. “Keluar masuk seenaknya hanya untuk penulis murahan itu. Akash, apa kamu sudah menurunkan standarmu? Kamu bahkan membuat website khusus untuk penulis murahan itu.”“Namanya Swari. Dia bukan penulis murahan.”“Jika dia tidak menulis novel erotis itu, aku bisa mempertimbangkannya masuk ke keluarga kita.”Ak

  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   111 | Akash Menguping

    “Kamu cemburu, kan?”Gista yang sedang fokus ke makanannya mendongak sejenak. “Cemburu? Kepada siapa?”“Sarah Deta.” Akash langsung menjawab. Ekspresinya serius, menunggu harap-harap cemas jawaban Gista.“Nggak.”Akash menyipitkan mata. Di depannya Gista kembali asyik menyantap makan malam. Sepirin

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   109 | Bercinta di Rooftop

    “Si Akash Salim itu emang beneran playboy, ya? Perasaan kemarin dia digosipin sama lo, Gis. Sekarang udah gandeng cewek baru lagi.”“Duh, rugi juga kita gibahin lo, Gis. Maafin kami, yak. Ternyata emang yang gak beres si Akash Salim. Bukan lo yang kecentilan.”Gista tak tahu harus bicara apa. Saat

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   107 | Story WA Pembawa Curiga

    “Latihan kencan lagi?” Gista menatap Arvin.Pria itu mengangguk. Dia menunjuk ke deretan gerobak kaki lima di depan salah satu sekolah Kebayoran Lama. “Nasi uduknya mantap, Gis. Kamu belum sarapan, kan?” Gista menghela napas panjang. “Udah, Kak. Aku lebih suka udah sarapan sebelum berangkat kerja

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku   114 | Ciuman di Tengah Meditasi?

    Gista melepaskan bibirnya dari bibir Arvin dengan cepat. Namun, pria itu kembali menahannya, Gista meronta sekuat tenaga. Saat akhirnya berhasil melepaskan diri, lampu di kantor kembali menyala. Gista cepat-cepat bangun. Napasnya tersengal, tetapi bukan karena gairah. Rasa kaget, marah, dan kecewa

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status