Share

28. Seret Dia ke Sini

Penulis: 5Lluna
last update Tanggal publikasi: 2026-03-16 21:23:14

Lyn menggigit bibir bawahnya. Keningnya berkerut dan napasnya tertahan, sementara tangannya berusaha mengutak-atik lubang kunci kamar menggunakan peniti yang kebetulan dia temukan.

"Sial," desis Lyn pada akhirnya membuang peniti yang sudah bengkok.

Tatapan Lyn tertuju pada jam digital di nakas sebelah tempat tidur. Sudah pukul tiga subuh dan dirinya masih belum tidur atau makan apa pun sejak pulang dari kediaman Vale. Alhasil, Lyn menyerah juga.

"Padahal besok aku sudah mulai kerja sam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   81. Perlakuan Berbeda

    "Papa, mau makan es krim," pekik Mira sambil melompat-lompat. "Es krim stroberi.""Tidak bisa." Julian dengan tegas menolak. "Kita pulang,""Kau baru sembuh, Mira." Lyn menambahkan, kemudian menangkup wajah anak itu. "Apa kau mau ditusuk jarum infus lagi?""Tidak." Mira dengan cepat menggeleng. "Sakit.""Kalau begitu jangan bicara sembarangan lagi dan jangan makan es krim dulu deh. Besok saja ya." Lyn kembali menasihati."Miss temani?" tanya Mira dengan tatapan memohon."Kalau sesudah jam kerja, mungkin bisa." Lyn mengangguk pelan. "Tapi besok dilihat lagi ya. Sekarang saja, Miss sudah harus kembali ke sekolah.""Harus ya?" Mira jadi cemberut. "Tidak boleh pulang ke rumah saja? Bareng Mira dan papa?""Sayangnya tidak." Dengan terpaksa, Lyn menggeleng. "Miss punya tanggung jawab, harus kerja. Sama kayak papa kan. Jadi, hari ini Mira sama Papa dulu ya."Julian menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap bergantian dua perempuan yang berjongkok tak jauh darinya itu, sebelum akhirnya

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   80. Yang Jadi Hakku

    "Mireille sebenarnya sudah bisa pulang, tapi kau akan menginap sehari dulu. Nanti kita sekalian medical check up ya." Dokter Oliver mengusap kepala si kecil Mira."Thank you uncle Oliver," ucap Mira dengan senyum lebar."Seharusnya kau berterima kasih pada Miss-mu." Oliver mengedikkan kepala ke arah Lyn. "Kalau bukan karena dia berpikir cepat, mungkin kau harus menginap beberapa hari."Lyn melirik sesaat ke arah sang dokter. Dia tersenyum tipis, sebelum teralihkan oleh Mira yang sudah mengulurkan kedua tangan. "Makasih banyak, Miss." Mira tanpa ragu memeluk dan tentu saja Lyn tanpa ragu membalas."Lalu tolong hindari yang namanya stroberi. Oke?" tambah Oliver sedikit lebih tegas."Tapi itu enak." Mira cemberut, masih menggenggam tangan pengasuhnya."Enak, tapi itu akan bikin aku repot. Uncle tidak mau dipelototi papamu sepanjang hari."Mira tertawa pelan, melihat sang dokter mengedipkan mata, Oliver bahkan tak segan menoleh ke arah Julian yang hanya bisa menatap ke arah mere

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   79. Tidak Ada Hubungan Denganku

    "Apa sebelumnya sudah ada yang memberikan Mireille obat?" Seorang lelaki dengan jas putih, bertanya dengan tatapan serius pada Julian. Hal itu membuat Lyn yang masih panik, jadi makin panik saja. Sang guru beranggapan ada yang salah dengan itu."Saya." Lyn memberanikan diri untuk bicara. "Saya yang meminta Julian untuk menyuntikkan EpiPen, karena berpikir Mira sedang alergi.""Kau bilang apa?" Sang dokter refleks menoleh ke arah perempuan di sebelah kirinya dengan mata membulat."Saya yang meminta Ju ...."Kalimat Lyn terhenti. Kedua matanya membulat, seolah baru tersadar dirinya sudah membuat kesalahan yang sangat fatal."Lanjutkan kalimatmu," pinta sang dokter terlihat sangat antusias. "Aku tidak mendengarnya dengan baik tadi.""Tuan Julian." Lyn dengan cepat memperbaiki kesalahannya. "Saya yang meminta Tuan Julian memberi Mira obat.""Oh, begitu?" Sang dokter kini tampak kecewa."Oliver," panggil Julian disertai embusan napas berat. "Sebaiknya kau memberitahu apa yang t

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   78. Tidak Akan Ada Masalah Besar

    "Mira." Lyn mendorong Melissa. Cukup keras, sampai perempuan itu nyaris terjungkal. "Sesak," ucap Mira mulai berkaca-kaca."Cepat bawa dia ke rumah sakit." Tiba-tiba saja, Melissa berinisiatif. "Biar aku bantu.""Sebaiknya kau menjauh," hardik Lyn melotot pada rekan kerja, sekaligus musuhnya."Hei, aku hanya mau bantu." Melissa ikut menghardik. "Dia sesak nafas, Lyn. Kalau dibiarkan bisa berbahaya."Lyn tidak menjawab. Dia menatap anak di pangkuannya dengan sekasama. Melihat area bibir, leher dan beberapa bagian lain yang mulai terlihat memerah. Lalu terakhir, Lyn menempelkan telinga di dada Mira."Sepertinya ini bukan sesak napas biasa. Apa ada EpiPen?" Lyn menatap ke arah lelaki di depannya.Kedua alis Julian terangkat. Dia terdiam untuk sekian detik, sebelum mengulurkan tangan ke belakang."Sebastian," panggil lelaki itu, masih menatap Lyn.Tanpa banyak bicara, Sebastian merogoh tas pinggang kecil yang dia bawa. Kebetulan, hari ini sang kepala pelayan memang menggunakan

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   77. Nama Depan

    Lyn melirik ke sekeliling meja makan, yang tidak terlalu ramai itu. Selain dirinya, ada Mira yang makan dengan cukup lahap. Lalu, ada juga dua lelaki yang sejak tadi diam saja. Bahkan, makanan mereka belum tersentuh."Apa makanannya sudah sesuai dengan selera Tuan Vale?" Melissa mendekat tanpa ragu dan langsung mendapat lirikan dari Adrian."Kau yang mengatur ini?" Adrian menoleh pada Lyn."Saya yang mengatur." Melissa dengan cepat menyambar, diikuti senyum lebar. "Tapi saya tidak tahu bagaimana Miss Lyn bisa duduk di sini.""Aku yang minta dia duduk di sini," ucap Julian, melirik Melissa. "Keberatan?"Rahang Melissa sedikit mengeras. Namun, sesaat kemudian senyumnya mengembang lebar. "Tentu saja tidak. Tapi itu artinya Tuan Vale tidak akan keberatan saya juga ikut duduk di sini kan?" tanya Melissa dengan percaya diri. "Aku keberatan."Lyn melirik ke arah suara. Tatapannya terlihat datar, tapi bibirnya nyaris saja membentuk lengkungan. Samar dan tidak lama, tapi Julian masi

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   76. Kau Menghindar

    Lyn melirik ke arah Julian. Lelaki itu terlihat menggendong Mira dan menjelaskan beberapa hal pada putrinya dengan sabar. Hal yang membuat Lyn makin memikirkan kejadian barusan, saat lelaki itu membiarkannya mengambil keputusan. "Tapi untuk masalah kali ini, aku serahkan padamu," ucap Julian beberapa waktu yang lalu. "Biar bagaimana kau yang paling dirugikan." "Aku tahu kau sedang jatuh cinta, tapi jangan terus melihat Tuan Vale dong." Bisikan di telinganya, membuat Lyn tersentak. Dia menoleh sambil memegang telinga, menemukan Amelie tersenyum sangat lebar. "Jangan bicara ngawur," ucap Lyn berdehem, membersihkan tenggorokannya. "Sama sekali tidak." Amelie mengedikkan bahu. "Setidaknya bagiku kau terlihat seperti sedang jatuh cinta." "Apalagi, tadi Tuan Vale menyelamatkanmu." Amelie mengatupkan kedua tangan seolah sedang berdoa. "Dia bahkan memberimu wewenang penuh untuk mengurus masalah ini, tapi kau malah membiarkan Melissa." Lyn memutar bola matanya, sebelum kembali mel

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   7. Hukuman Tak Terasa Asing Lagi

    "Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru. Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu. "Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan,

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   6. Terlanjur Masuk

    Lyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyar

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   5. Sebelum Papa Datang

    "Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya."Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian V

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   4. Tidak Sesuai Rencana

    Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status