LOGIN"Sekarang?" tanya Lyn dengan ponsel menempel di telinga."Sekarang." Suara Julian terdengar."Tapi sekarang saya masih kerja," bisik Lyn. Dia bahkan merasa perlu melirik ke sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar. "Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja," tambah Lyn masih berbisik."Aku akan bicara dengan Adrian. Aku sudah hampir sampai.""Tapi saya ...." Kalimat Lyn terputus. Dia menatap ponsel dengan mulut terbuka, tidak percaya kalau sambungan telepon itu diputus sepihak."Apa kau ada masalah?"Lyn refleks berbalik mendengar suara yang terdengar di belakangnya. Kedua alis Lyn terangkat melihat Adrian berdiri di belakangnya. Seolah lelaki itu sudah bekerja sama dengan Julian."Oh, tidak." Lyn menggeleng pelan. "Saya hanya ...."Lagi-lagi, kalimat Lyn terhenti begitu saja. Dia menggeram pelan, mengingat apa yang dikatakan Julian barusan."Maaf, Sir." Lyn menatap atasannya tanpa ragu. "Apa saya sudah bisa pulang?""Pulang sekarang?" Kening Adrian berker
"Papa, mau makan es krim," pekik Mira sambil melompat-lompat. "Es krim stroberi.""Tidak bisa." Julian dengan tegas menolak. "Kita pulang,""Kau baru sembuh, Mira." Lyn menambahkan, kemudian menangkup wajah anak itu. "Apa kau mau ditusuk jarum infus lagi?""Tidak." Mira dengan cepat menggeleng. "Sakit.""Kalau begitu jangan bicara sembarangan lagi dan jangan makan es krim dulu deh. Besok saja ya." Lyn kembali menasihati."Miss temani?" tanya Mira dengan tatapan memohon."Kalau sesudah jam kerja, mungkin bisa." Lyn mengangguk pelan. "Tapi besok dilihat lagi ya. Sekarang saja, Miss sudah harus kembali ke sekolah.""Harus ya?" Mira jadi cemberut. "Tidak boleh pulang ke rumah saja? Bareng Mira dan papa?""Sayangnya tidak." Dengan terpaksa, Lyn menggeleng. "Miss punya tanggung jawab, harus kerja. Sama kayak papa kan. Jadi, hari ini Mira sama Papa dulu ya."Julian menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap bergantian dua perempuan yang berjongkok tak jauh darinya itu, sebelum akhirnya
"Mireille sebenarnya sudah bisa pulang, tapi kau akan menginap sehari dulu. Nanti kita sekalian medical check up ya." Dokter Oliver mengusap kepala si kecil Mira."Thank you uncle Oliver," ucap Mira dengan senyum lebar."Seharusnya kau berterima kasih pada Miss-mu." Oliver mengedikkan kepala ke arah Lyn. "Kalau bukan karena dia berpikir cepat, mungkin kau harus menginap beberapa hari."Lyn melirik sesaat ke arah sang dokter. Dia tersenyum tipis, sebelum teralihkan oleh Mira yang sudah mengulurkan kedua tangan. "Makasih banyak, Miss." Mira tanpa ragu memeluk dan tentu saja Lyn tanpa ragu membalas."Lalu tolong hindari yang namanya stroberi. Oke?" tambah Oliver sedikit lebih tegas."Tapi itu enak." Mira cemberut, masih menggenggam tangan pengasuhnya."Enak, tapi itu akan bikin aku repot. Uncle tidak mau dipelototi papamu sepanjang hari."Mira tertawa pelan, melihat sang dokter mengedipkan mata, Oliver bahkan tak segan menoleh ke arah Julian yang hanya bisa menatap ke arah mere
"Apa sebelumnya sudah ada yang memberikan Mireille obat?" Seorang lelaki dengan jas putih, bertanya dengan tatapan serius pada Julian. Hal itu membuat Lyn yang masih panik, jadi makin panik saja. Sang guru beranggapan ada yang salah dengan itu."Saya." Lyn memberanikan diri untuk bicara. "Saya yang meminta Julian untuk menyuntikkan EpiPen, karena berpikir Mira sedang alergi.""Kau bilang apa?" Sang dokter refleks menoleh ke arah perempuan di sebelah kirinya dengan mata membulat."Saya yang meminta Ju ...."Kalimat Lyn terhenti. Kedua matanya membulat, seolah baru tersadar dirinya sudah membuat kesalahan yang sangat fatal."Lanjutkan kalimatmu," pinta sang dokter terlihat sangat antusias. "Aku tidak mendengarnya dengan baik tadi.""Tuan Julian." Lyn dengan cepat memperbaiki kesalahannya. "Saya yang meminta Tuan Julian memberi Mira obat.""Oh, begitu?" Sang dokter kini tampak kecewa."Oliver," panggil Julian disertai embusan napas berat. "Sebaiknya kau memberitahu apa yang t
"Mira." Lyn mendorong Melissa. Cukup keras, sampai perempuan itu nyaris terjungkal. "Sesak," ucap Mira mulai berkaca-kaca."Cepat bawa dia ke rumah sakit." Tiba-tiba saja, Melissa berinisiatif. "Biar aku bantu.""Sebaiknya kau menjauh," hardik Lyn melotot pada rekan kerja, sekaligus musuhnya."Hei, aku hanya mau bantu." Melissa ikut menghardik. "Dia sesak nafas, Lyn. Kalau dibiarkan bisa berbahaya."Lyn tidak menjawab. Dia menatap anak di pangkuannya dengan sekasama. Melihat area bibir, leher dan beberapa bagian lain yang mulai terlihat memerah. Lalu terakhir, Lyn menempelkan telinga di dada Mira."Sepertinya ini bukan sesak napas biasa. Apa ada EpiPen?" Lyn menatap ke arah lelaki di depannya.Kedua alis Julian terangkat. Dia terdiam untuk sekian detik, sebelum mengulurkan tangan ke belakang."Sebastian," panggil lelaki itu, masih menatap Lyn.Tanpa banyak bicara, Sebastian merogoh tas pinggang kecil yang dia bawa. Kebetulan, hari ini sang kepala pelayan memang menggunakan
Lyn melirik ke sekeliling meja makan, yang tidak terlalu ramai itu. Selain dirinya, ada Mira yang makan dengan cukup lahap. Lalu, ada juga dua lelaki yang sejak tadi diam saja. Bahkan, makanan mereka belum tersentuh."Apa makanannya sudah sesuai dengan selera Tuan Vale?" Melissa mendekat tanpa ragu dan langsung mendapat lirikan dari Adrian."Kau yang mengatur ini?" Adrian menoleh pada Lyn."Saya yang mengatur." Melissa dengan cepat menyambar, diikuti senyum lebar. "Tapi saya tidak tahu bagaimana Miss Lyn bisa duduk di sini.""Aku yang minta dia duduk di sini," ucap Julian, melirik Melissa. "Keberatan?"Rahang Melissa sedikit mengeras. Namun, sesaat kemudian senyumnya mengembang lebar. "Tentu saja tidak. Tapi itu artinya Tuan Vale tidak akan keberatan saya juga ikut duduk di sini kan?" tanya Melissa dengan percaya diri. "Aku keberatan."Lyn melirik ke arah suara. Tatapannya terlihat datar, tapi bibirnya nyaris saja membentuk lengkungan. Samar dan tidak lama, tapi Julian masi
"Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya."Tapi kenapa wajah
"Kau akan dikurung di kamar, sampai kau sadar akan kesalahanmu."Itu adalah kalimat terakhir yang Lyn dengar, setelah dirinya dilempar masuk ke sebuah kamar, dan tepat sebelum pintu kamarnya ditutup dan dikunci dari luar. Padahal, dia baru saja mau mengulurkan tangan untuk minta bantuan, tapi itu
"Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya."Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian V
Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung







