首頁 / Romansa / CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2 / BAB 11 : KEKHAWATIRAN DEWA

分享

BAB 11 : KEKHAWATIRAN DEWA

作者: Yoongina
last update publish date: 2026-11-06 06:47:08

Decit ban yang beradu dengan aspal terdengar nyaring memecah keheningan saat Farhan menginjak pedal rem secara mendadak. Honda Civic hitam itu berhenti mendadak tepat di depan taman kompleks yang sudah mulai sepi. Sentakan keras membuat tubuh Ziva terdorong ke depan, tertahan oleh seatbelt yang mengunci tubuhnya.

​Napas memburu Farhan yang sejak tadi dikuasai amarah perlahan mereda. Perlahan, raut wajah tampan yang sebelumnya mengeras itu kini tertunduk lesu. Pemuda itu menarik napas panjang yang terdengar sedikit gemetar, lalu menyandarkan keningnya dengan putus asa pada kemudi setir.

​Ziva, yang wajahnya sudah bersimbah air mata karena panik dan ditarik paksa masuk kedalam mobil, kini membeku. Ia menatap bingung sekaligus waspada ke arah bahu tegap Farhan yang mulai berguncang pelan.

​"Maafkan aku..." lirih Farhan, suaranya pecah oleh isak tertahan yang menyayat hati. "Aku... aku terpaksa ngelakuin semua ini karena aku benar-benar mencintaimu, Ziva."

​Ziva terdiam kaku. Jantungnya yang tadi berdegup karena takut, kini berdebar karena kebingungan. Selama setahun lebih menjalin hubungan, baru kali ini ia melihat sisi yang begitu rapuh dari seorang Farhan. Mantan Ketua OSIS yang selalu berwibawa, juara umum kebanggaan SMA Pelita Bangsa, pangeran sempurna yang selalu diagungkan keluarganya karena baru saja menembus Fakultas Kedokteran UI—kini hancur, menanggalkan segala egonya, dan menangis terisak di sebelahnya.

​"Aku cuma takut kehilangan kamu. Aku ingin kamu ada di dekatku terus, Ziva," lanjut Farhan dengan suara parau.

​Pemuda itu memutar kepalanya perlahan, menatap wajah Ziva yang masih kaku dan merapatkan tubuhnya pada pintu mobil. Kedua bola mata bulat Ziva melebar sempurna saat melihat sepasang mata tajam Farhan yang beberapa menit lalu memancarkan amarah, kini memerah dan basah oleh air mata. Logika Ziva mulai goyah diserang oleh rasa iba.

​"A—aku..." Tenggorokan Ziva tercekat, lidahnya kelu. Rasa kasihan dan sisa-sisa memori manis mereka berperang hebat melawan bayangan cengkeraman kasar pemuda itu beberapa menit yang lalu.

​Sebelum Ziva bisa menyelesaikan kalimatnya, Farhan mencondongkan tubuh, meraih kedua tangan Ziva yang dingin, dan menggenggamnya erat. Bukan dengan paksaan, melainkan keputusasaan.

​"Jangan pergi..." potong Farhan memohon, membenamkan wajahnya di punggung tangan Ziva hingga gadis itu bisa merasakan hangat air matanya. "Tolong, jangan akhiri hubungan ini. Kalau itu yang kamu mau, aku... aku akan turunin egoku. Aku akan mencoba menahan diri untuk LDR sama kamu. Kita jalani hubungan jarak jauh, aku akan coba terbiasa, Ziva. Lakuin apa pun yang kamu mau di Yogya, tapi aku mohon... jangan putus dariku."

***

"Angga, mana adikmu?" tanya Dewa. Pengacara kondang itu melangkah pelan menuruni tangga pualam Griya Zadewa, mengedarkan pandangan mencari putri satu-satunya.

​Di ruang keluarga, suara gemuruh dari layar televisi sebesar 85 inch memenuhi ruangan. Anggara dan Jibran tengah duduk bersila di atas karpet tebal, mata mereka terpaku tajam pada layar, sementara jari-jari mereka menari lincah di atas controller PlayStation 5. Pertandingan FIFA antara Manchester City yang dikendalikan Angga dan Paris Saint-Germain milik Ibran sedang berada di menit-menit yang menegangkan.

​"Kayaknya keluar sama Farhan, Pa," sahut Angga santai. Mata elangnya sama sekali tidak terlepas dari layar televisi. "Tadi cowok itu memang datang. Terus pas aku cek ke luar lagi, mereka berdua udah nggak ada. Paling pergi nyelesaiin urusan mereka sebelum Ziva pergi ke Yogya."

​"Woy, woy! Curang lo, Kak! Jangan di-tackle dong Mbappe gue! Pelanggaran itu, woy, wasitnya buta!" jerit Ibran heboh. Tubuh remaja jangkung itu sampai ikut miring ke kanan dan ke kiri, seolah gerakan badannya bisa ikut mengendalikan arah bola di layar.

​Angga hanya mendengus pelan, ekspresinya sedatar tembok beton. Tanpa ampun dan tanpa terpengaruh oleh teriakan adiknya, otak logis Angga mencari celah di pertahanan lawan. Dengan sebuah kombinasi gerakan pada tombol yang tepat, ia melakukan umpan silang yang diakhiri dengan tendangan voli mematikan dari luar kotak penalti.

​GOOOLLL!

​Suara sorakan penonton dan komentator virtual dari speaker home theater meledak memenuhi ruangan. Skor berubah menjadi 3-0 untuk kemenangan telak Anggara.

​"Bukan curang, Bran. Lo aja yang mainnya pakai emosi, nggak pakai otak," cibir Angga dingin. Pemuda itu meletakkan controller-nya dengan gaya angkuh, lalu meraih gelas air es di meja. "Algoritma pertahanan lo berantakan. Gampang banget ditebak."

​"Sialan! Ini stick PS-nya yang rusak nih pasti! Tombol R2-nya ngadat pas gue mau sprint!" gerutu Ibran tak terima, membanting pelan controller-nya ke atas karpet sambil mengerang frustrasi meratapi kekalahan memalukannya.

​Dewa yang berdiri di ujung tangga hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan dua jagoannya. Namun, senyum di bibir Dewa perlahan memudar. Entah mengapa, ada sebersit firasat tidak enak yang tiba-tiba menyelinap di dadanya saat mendengar nama 'Farhan' disebut.

​Sebagai seorang ayah, Dewa seolah merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kepergian putrinya yang begitu tiba-tiba. Ziva tidak pernah pergi tanpa pamit.

​"Angga. Telepon adikmu. Suruh dia pulang sekarang."

​Suara bariton Dewa terdengar menggema dari arah ruang makan, memotong riuh kemenangan di ruang keluarga. Nada bicaranya tidak lagi santai, ada ketegasan dan kecemasan yang tidak bisa disembunyikan dari nada suara pria itu.

​Angga menekan tombol pause di controller-nya, keningnya sedikit berkerut menanggapi perubahan nada suara papanya.

​Namun sebelum Angga sempat merogoh saku celananya, Ibran yang masih duduk bersila menunjuk sebuah ponsel ber-casing lilac yang tergeletak malang di atas karpet berbulu.

​"Hape Kak Ziva ada di sini, Pa," sahut Ibran polos. Remaja itu memungut ponsel kakaknya dan mengangkatnya ke udara. "Tadi kan hape ini Ibran sita paksa buat ngapus foto aib Ibran yang dikejar anjing. Pas Kak Ziva keluar nyamperin Kak Farhan, dia nggak bawa Hape."

​Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti lantai satu Griya Zadewa.

​Di ruang makan, firasat buruk yang sejak tadi mengganjal di ulu hati Dewa kini meledak menjadi alarm bahaya yang berdering nyaring. Ia meletakkan gelas teh chamomile-nya ke atas meja pualam dengan hentakan yang sangat keras.

​TRANG!

​Denting kaca yang beradu dengan meja itu membuat Angga dan Ibran serempak menoleh dengan punggung menegang. Sangat jarang melihat Sadewa Adiraja kehilangan ketenangannya di dalam rumah, kecuali jika menyangkut keselamatan keluarganya.

​Wajah Dewa mengeras, rahangnya terkatup rapat memendam amarah sekaligus kepanikan seorang ayah. Ziva, putri kesayangannya, pergi bersama laki-laki tanpa membawa alat komunikasi apa pun.

​Angga yang biasanya selalu berpikir rasional, mendadak mematung. Otak briliannya baru saja menyadari satu celah fatal, ia membiarkan adiknya menghadapi Farhan sendirian.

​"Ziva keluar tanpa bawa ponsel?!" geram Dewa, melangkah cepat kembali ke ruang keluarga dengan tatapan setajam elang. Ia menatap marah ke arah putra sulungnya. "Kalau begitu telepon Farhan. Suruh dia putar balik dan bawa adikmu pulang. SEKARANG."

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 11 : KEKHAWATIRAN DEWA

    Decit ban yang beradu dengan aspal terdengar nyaring memecah keheningan saat Farhan menginjak pedal rem secara mendadak. Honda Civic hitam itu berhenti mendadak tepat di depan taman kompleks yang sudah mulai sepi. Sentakan keras membuat tubuh Ziva terdorong ke depan, tertahan oleh seatbelt yang mengunci tubuhnya. ​Napas memburu Farhan yang sejak tadi dikuasai amarah perlahan mereda. Perlahan, raut wajah tampan yang sebelumnya mengeras itu kini tertunduk lesu. Pemuda itu menarik napas panjang yang terdengar sedikit gemetar, lalu menyandarkan keningnya dengan putus asa pada kemudi setir. ​Ziva, yang wajahnya sudah bersimbah air mata karena panik dan ditarik paksa masuk kedalam mobil, kini membeku. Ia menatap bingung sekaligus waspada ke arah bahu tegap Farhan yang mulai berguncang pelan. ​"Maafkan aku..." lirih Farhan, suaranya pecah oleh isak tertahan yang menyayat hati. "Aku... aku terpaksa ngelakuin semua ini karena aku benar-benar mencintaimu, Ziva." ​Ziva terdiam kaku. Jant

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 10 : KEKASIH YANG POSESIF

    Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. ​"Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" ​Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. ​"Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

    Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. ​Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." ​Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 8 : KETENANGAN LIANA

    Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. ​Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. ​Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. ​Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 7 : SIAPA DIA?

    "Assalamualaikum." ​Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. ​"Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. ​Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. ​"Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 6 : GEN ADIRAJA

    "JIBRANNN!" ​Teriakan melengking Zea membahana dari lantai dasar, memantul di dinding-dinding marmer Griya Zadewa hingga nyaris membuat lampu gantung kristal di ruang tamu bergetar hebat. Para asisten rumah tangga yang sedang membersihkan ruang keluarga seketika menunduk, mendadak sibuk mengelap vas bunga yang sebenarnya sudah mengkilap, tak berani mencari gara-gara dengan sang Nyonya Rumah. ​Zea baru saja tiba dari Mahkamah Agung. Wanita cantik itu bahkan belum sempat mengganti kemeja sutra dan blazer kerjanya, apalagi melepas sepatu hak tingginya. Tas kerjanya ia letakkan sembarangan di atas sofa ruang tamu, sementara dadanya naik turun menahan emosi. ​"Kenapa teriak-teriak sih, Sayang? Suaramu itu aset negara, jangan dihabiskan untuk marah-marah." ​Sebuah suara bariton yang dalam dan berat terdengar bersamaan dengan sepasang lengan kekar yang tiba-tiba melingkar erat di pinggang Zea dari arah belakang. Dewa, yang rupanya baru saja masuk menyusul istrinya dari garasi, tanpa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status