Home / Romansa / CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2 / BAB 12 : RENCANA LIANA

Share

BAB 12 : RENCANA LIANA

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-11-06 12:01:55

"Assalamualaikum," seruan dari arah pintu depan reflek membuat ketiga laki-laki Adiraja itu menoleh serentak. Ziva melangkah masuk dengan wajah sembab karena abis menangis.

"Ziva!" Dewa dengan cepat mendekati putrinya. Kedua tangan kekarnya menekan bahu Ziva, matanya yang tajam menyusuri tiap bagian tubuh putrinya, khawatir terjadi sesuatu karena gadis itu pergi tanpa pamit.

"Dari mana kamu? kenapa tidak pamit kalau mau pergi? dan kenapa tidak membawa handphone?" cecar Dewa, panik.

Ziva m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk makanya aku gak mau ambil pusing. intinya mo Angga Ama Sena atau Liana itu terserah ya. cuma kalo Angga naksir liana, alangkah baiknya dia putus baik2 Ama Sena. jadi biar masing-masing cari bahagianya gitu. hmmm
goodnovel comment avatar
Yoongina
maklum primadona kampus dia kakk wkwkwk i miss you too kak yocii...iyaa alhamdulillah di approve p(^-^)q
goodnovel comment avatar
Yoongina
hayooo ada apa sm liana kak wkwkwk, kak nopphy apal ni aku suka bikin2 plot twis hehhee
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 12 : RENCANA LIANA

    "Assalamualaikum," seruan dari arah pintu depan reflek membuat ketiga laki-laki Adiraja itu menoleh serentak. Ziva melangkah masuk dengan wajah sembab karena abis menangis. "Ziva!" Dewa dengan cepat mendekati putrinya. Kedua tangan kekarnya menekan bahu Ziva, matanya yang tajam menyusuri tiap bagian tubuh putrinya, khawatir terjadi sesuatu karena gadis itu pergi tanpa pamit. "Dari mana kamu? kenapa tidak pamit kalau mau pergi? dan kenapa tidak membawa handphone?" cecar Dewa, panik. Ziva memeluk tubuh ayahnya dan menumpahkan air matanya di sana. Dewa yang terkejut mengusap lembut punggung Ziva dan mengecup puncak kepala putri kesayangannya. Angga dan Ibran bahkan sampai meninggalkan permainan mereka dan berjalan mendekat. "Kenapa, sayang?" bisik Dewa lembut. Mencium puncak kepala Ziva berkali-kali. "Farhan nggak mau putus, Pa." Rahang Dewa mengeras mendengar kalimat yang keluar dari mulut putrinya. "Sudah, jangan pernah lagi kamu menemui laki-laki itu. Papa tidak mengijin

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 11 : KEKHAWATIRAN DEWA

    Decit ban yang beradu dengan aspal terdengar nyaring memecah keheningan saat Farhan menginjak pedal rem secara mendadak. Honda Civic hitam itu berhenti mendadak tepat di depan taman kompleks yang sudah mulai sepi. Sentakan keras membuat tubuh Ziva terdorong ke depan, tertahan oleh seatbelt yang mengunci tubuhnya. ​Napas memburu Farhan yang sejak tadi dikuasai amarah perlahan mereda. Perlahan, raut wajah tampan yang sebelumnya mengeras itu kini tertunduk lesu. Pemuda itu menarik napas panjang yang terdengar sedikit gemetar, lalu menyandarkan keningnya dengan putus asa pada kemudi setir. ​Ziva, yang wajahnya sudah bersimbah air mata karena panik dan ditarik paksa masuk kedalam mobil, kini membeku. Ia menatap bingung sekaligus waspada ke arah bahu tegap Farhan yang mulai berguncang pelan. ​"Maafkan aku..." lirih Farhan, suaranya pecah oleh isak tertahan yang menyayat hati. "Aku... aku terpaksa ngelakuin semua ini karena aku benar-benar mencintaimu, Ziva." ​Ziva terdiam kaku. Jant

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 10 : KEKASIH YANG POSESIF

    Mendengar nama itu disebut, tawa yang sejak tadi meledak di bibir Ziva menghilang tanpa sisa. Wajah gadis itu mendadak kaku, senyumnya luntur seketika. Bahkan Ibran yang biasanya tidak peka terhadap situasi, refleks melepaskan cengkeramannya dari pinggang sang kakak dan ikut menoleh ke arah Angga dengan kening berkerut. ​"Ngapain tuh cowok toxic ke sini?" decak Ibran sinis, bangkit berdiri sambil merapikan kausnya yang kusut. "Belum puas dia neror hape Kak Ziva dari semalam sampai baterainya drop?" ​Angga tidak menjawab Ibran. Mata elangnya masih menatap lurus pada Ziva yang kini perlahan bangkit dari sofa, merapihkan rambutnya yang berantakan dengan jari-jarinya yang sedikit gemetar. ​"Kalau lo nggak mau ketemu dia, gue bakal suruh satpam depan buat ngusir dia sekarang juga," tawar Angga dingin. Bagi Angga, tidak ada satupun hal yang boleh mengganggu ketenangan keluarganya. Ziva menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan debar jantungnya. Ia men

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 9 : KEDATANGAN MANTAN

    Angga dan Liana masih terdiam mendengar pertanyaan Ibran. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat menjawab. Liana kembali fokus pada halaman novel To Kill a Mockingbird di pangkuannya, seolah pertanyaan Jibran Adiraja dan segala kehebohannya barusan hanyalah selembar daun kering yang ditiup angin. ​Gadis itu dengan tenang membalik halaman, matanya menelusuri deretan kalimat ikonik dari karakter Atticus Finch yang sedang ia baca. "You never really understand a person until you consider things from his point of view... until you climb into his skin and walk around in it." ​Sebuah filosofi tentang memahami sudut pandang orang lain sebelum menghakimi. Dan dari sudut pandang Liana yang kelewat rasional, Ibran saat ini hanyalah remaja laki-laki dengan hormon hyperactive yang sedang memancing reaksi. Tidak ada alasan untuk tersipu, marah, apalagi mengklarifikasi status hubungannya dengan Angga, yang memang tidak ada apa-apa. Mengabaikan pemuda itu adalah langkah yang paling efisien un

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 8 : KETENANGAN LIANA

    Angin pagi berembus lembut melintasi permukaan danau buatan, membawa hawa sejuk yang menyapa kulit. Di bawah bayangan pohon trembesi yang rindang, waktu seolah berjalan lebih lambat bagi Angga. ​Otak pemuda itu biasanya bekerja cepat seperti ayahnya, dan tidak pernah membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Namun pagi ini, semua isi di kepalanya seakan terhenti hanya karena melihat seorang gadis. ​Angga melangkah perlahan mendekati bangku taman itu. Sepatu olah raganya tidak menimbulkan suara saat menginjak aspal paving. Dari jarak sedekat ini, Angga bisa mengamati sosok gadis itu dengan lebih detail. ​Ia sedang membaca novel tebal bersampul klasik, To Kill a Mockingbird. Jari-jarinya yang lentik membalik halaman dengan tenang. Tidak ada riasan di wajahnya, hanya kulit wajah yang bersih, cerah, dan rona merah alami akibat udara pagi. Wangi parfum Jo Malone Wood Sage & Sea Salt tercium dari arah tubuhnya, membaur sempurna dengan aroma kopi Americano di sebelahnya. Santa

  • CHEMISTRY CHAPTER SEASON 2   BAB 7 : SIAPA DIA?

    "Assalamualaikum." ​Suara bariton yang berat dan tenang memecah hiruk-pikuk di ruang makan Griya Zadewa. Anggara baru saja membuka pintu utama dan melangkah masuk. Pemuda jangkung itu berjalan menghampiri meja makan di mana seluruh keluarganya telah berkumpul, memancarkan rasa lelah yang justru membuat wajah tampannya terlihat semakin menawan. ​"Kenapa baru pulang jam segini, Angga?" tegur Dewa layaknya seorang ayah yang menuntut laporan karena putranya pulang melebihi jam tujuh malam. ​Angga menarik kursi di sebelah Ibran, menghela napas panjang untuk melepaskan penatnya, lalu membalas singkat, "Nemenin Sena kumpul sama teman-temannya dulu di kafe tadi, Pa." Tanpa dosa, tangan Angga terulur mencomot tahu goreng terakhir yang ada di atas piring adiknya. ​"Ck! Kenapa ambil punya gue sih, Kak?!" protes Ibran tak terima. Ia buru-buru menoleh ke piring saji di tengah meja untuk mengamankan satu-satunya tahu goreng yang tersisa. Namun, tangannya kalah cepat oleh garpu Ziva yang men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status