LOGINSaat agak besar, yang paling disukai adik itu adalah kelinci berwarna pink.Dia sering berkata bahwa dirinya datang dari planet kelinci untuk menyelamatkan dunia.Namun dia tampaknya tidak begitu beruntung.Ibunya meninggal saat melahirkannya.Saat berusia delapan tahun, ayahnya meninggal.Dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kakaknya berhadapan dan bertarung dengan paman-pamannya yang mengincar kekuasaan.Dirinya sudah lelah menyaksikan semua itu.Dia datang untuk menyelamatkan dunia, maka dirinya tak boleh menjadi beban bagi kakaknya.Karena itu, saat disiksa oleh para pelayan, dia diam saja.Saat diejek dan dirundung di sekolah karena gangguan bicara, dia hanya tersenyum pada Shane.Yang memiliki gangguan bicara sebenarnya bukan Shane.Melainkan dia.Untuk menyembunyikan penyakitnya, dia sering menulis catatan kecil untuk Shane.[Kak, sekolah lebih menyenangkan, liburan musim panas ini aku nggak pulang ya, kamu jaga diri baik-baik!][Kak, aku dapat teman baru lagi, hari ini ha
"Aku mengatakan hal-hal itu pada Serina karena sesaat aku kehilangan akal sehat. Itu karena ... ya, dia licik! Dia yang menggoda aku!""Aku juga nggak serius ingin bercerai darimu.""Bukankah aku sudah bilang akan memberi dirimu kejutan? Aku berencana melamarmu lagi keesokan harinya.""Vina, semuanya hanya kebetulan yang salah!""Malam itu aku juga berniat ke apartemen mencarimu ....""Itu Jefrie si bodoh yang memaksa dan mengajakku minum!""Ya, semuanya salah orang lain."Aku menunduk menatap air matanya. "Kondom itu orang lain yang memasukkannya ke sakumu.""Kasur itu orang lain yang mendorongmu untuk naik.""Semua kata yang merendahkan dan menghinaku itu juga karena kerasukan setan, baru bisa keluar dari mulutmu."Aku mengucapkan kalimat sepanjang itu, ternyata tanpa terhenti sama sekali."Ervando, kamu hanya merasa aku nggak bisa hidup tanpamu.""Karena itu kamu meremehkan, mengabaikan, dan memandang rendah.""Mengejek dan menekanku, sudah menjadi satu-satunya cara bagimu mencari r
Di telingaku berdengung.Darah dan emosi melonjak naik.Ternyata benar, itu Ervando.Dia membawa sekelompok seleb internet yang sedang mengadakan siaran langsung, berdiri di depan rumahku dan Shane."Pihak Furshan bertindak sewenang-wenang, mohon kalian semua jadi saksi! Hari ini aku harus bertemu istriku!"Aku meraih berkas-berkas yang sudah kucetak sebelumnya dan berlari ke bawah.Sama sekali lupa bahwa semua pelayan sudah kusuruh keluar untuk berbelanja.Di rumah hanya tersisa aku sendirian.Sama sekali lupa bahwa setelah kecelakaan, wawancara dalam jumlah besar pernah menimbulkan luka sekunder bagiku.Menghadapi kamera, aku tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.Ternyata, saat ingin melindungi sesuatu, kekuatan seseorang bisa sebesar ini.Aku langsung membuka pintu utama."Vina ...." Ervando tampak sangat gembira.Belum sempat dia mengucapkan kata kedua, aku melangkah maju dan menamparnya."Ervando! Berkacalah dulu dan sadar diri sedikit! Siapa yang membuatmu sebegitu pede sampai m
Aku buru-buru menekan tombol lantai minus satu.Sebelum pintu lift menutup, Shane dengan sengaja bersikap kejam.Mencubit daguku, tepat di depan Ervando.Lalu menciumku dengan lebih kuat.Kabarnya Ervando dikurung oleh Keluarga Zorias.Ponsel dan komputernya disita, semua alat komunikasi diputus.Dia dipaksa bersumpah, berjanji tidak akan lagi menggangguku, barulah dilepaskan.Aku ikut Shane kembali ke ibu kota.Awalnya kami berencana mengesahkan akta nikah, tetapi Shane merasa merepotkan, jadi langsung pergi ke Kantor Catatan Sipil dan mengambil satu lagi akta nikah.Aku juga sudah bertemu dengan teman-teman dan keluarganya.Sama seperti yang beredar dalam rumor.Dia adalah putra sulung sekaligus cucu sulung, tetapi ibunya meninggal lebih awal, dan ayahnya wafat mendadak karena serangan jantung saat dia berusia delapan belas tahun.Paman-pamannya kini sudah tidak punya peluang apa pun, dan bersikap sangat sopan kepadaku.Teman-temannya juga semuanya sopan dan beradab.Hanya ada satu o
"Nanti istrinya juga akan datang.""Kamu yang manis sedikit, kalau mempermalukan Keluarga Zorias, ibu dan kakakku nggak akan membiarkanmu begitu saja!"Sambil berkata begitu, Ervando meraih tanganku.Aku langsung menepiskannya."Vinadya!"Suaranya tidak kecil.Cukup banyak orang menoleh.Shane juga menoleh, sorot matanya menggelap."Ervan, ribut apa ini?"Bu Hilda memanggil Ervando, tetapi yang dirinya tatap dengan tidak puas justru aku.Kakak sulung Ervando mengerutkan dahi dan melirikku sekilas, lalu tersenyum ke arah Shane."Nyonya Furshan seharusnya sudah sampai? Perlu aku turun menjemput?"Ada suara bisikan pelan.Ervando mendengus kesal,"Sudah kubilang jangan ribut, jangan ribut, sekarang puas?""Ini pertama kalinya kamu ketemu begitu banyak kerabat Keluarga Zorias, mau kasih kesan seperti ini ke orang-orang?"Ya.Menikah tiga tahun, ini baru pertama kalinya aku bertemu seluruh Keluarga Zorias."Vina." Shane tiba-tiba memanggilku."Kemarilah."Di antara dia dan Bu Hilda, tersisa
Shane bukan sekadar menyuruh orang mengantarkan "beberapa" gaun.Deretan gantungan pakaian yang penuh, ditambah sepatu yang serasi, perhiasan, serta para penata rias.Satu ruangan penuh sesak.Melihat betapa seriusnya dia, aku juga tidak berani bersikap asal-asalan.Aku bolak-balik ganti pakaian, memilih hampir semalaman.Akhirnya aku tetap memilih satu set tampilan yang terlihat penurut dan berprofil rendah.Untungnya Shane juga tidak pulang.Dia sudah sepuluh tahun tidak pulang ke tanah air, dan jarang sekali sampai datang sendiri ke cabang perusahaan di Harosha.Jadi tingkat kesibukannya bisa dibayangkan....Keesokan harinya, aku tidur lagi hampir setengah hari.Ketika bangun, hari sudah sore.Setelah ganti baju dan berdandan, pesan dari Shane kebetulan masuk."Aku sudah suruh sopir menjemputmu."Saat naik mobil, ada panggilan telepon dari sebuah nomor tak dikenal.Instingku bilang itu Ervando, langsung kututup.Telepon lagi, tutup lagi.Akhirnya langsung kublokir.Hanya saja tak k







