MasukMelihat kondisi Ayyana, Anggi paham betul apa yang dirasakannya. Ia mengelus pelan lengan Ayyana dan berucap, "Semuanya akan baik-baik ajah Ayyana, kamu nggak perlu terlalu khawatir."Anggi berusaha untuk meyakinkannya, meminta Ayyana untuk tidak terlalu banyak pikiran. Kemudian ia menjadwalkan pemeriksaan rutin untuk Ayyana lebih sering untuk memantau kondisinya secara ekstra.Untuk masalah fisik, Ayyana sebenarnya sudah baik-baik saja, bahkan pun rahimnya sudah normal dan siap untuk kembali hamil. Tetapi psikisnya yang tidak terlalu baik, trauma akan keguguran itu jelas bisa memicu stres yang dapat membuat tekanan darahnya naik.Setelah berkonsultasi lebih banyak, Ayyana pun memutuskan untuk kembali, berganti dengan pasien di antrian selanjutnya.Ia pun tidak kembali ke kantor lagi, Dita menyarankan agar ia pulang saja untuk beristirahat lebih banyak. Apalagi wajah perempuan itu sejak tadi tampak lebih pucat.Menyadari keterdiaman Ayyana sejak tadi, Dita yang sudah menghentikan mobi
"Inget, jangan capek-capek." Peringat Fakhri setelah Ayyana menyalami tangannya dan hendak masuk ke kantor. "Siap Pak Bos." Canda Ayyana. "Dasar kamu." Fakhri mengakhiri obrolan mereka dengan mencubit pelan pipi sang istri kemudian ia sendiri beranjak masuk ke mobil dan menuju perusahaannya. Ayyana sendiri masih merasa belum terlalu fit, tapi ia bosan jika harus tinggal di rumah lebih lama, jadi ia memutuskan berangkat ke kantor saja hari ini, meski harus melewati perdebatan cukup panjang dengan suaminya. Karena itulah, saat ia sampai, Dita justru sudah duduk serius di meja kerjanya dengan alis terangkat sebelah saat Ayyana masuk. "Tumben telat Bu?" Dita tahu perempuan itu sedang tidak sehat karena memang Ayyana sudah izin dua hari, tetapi biasanya bahkan setelah sakit yang lebih parah pun tidak ada dalam sejarah dia telat masuk kantor. "Tadi Mas Fakhri ngajak debat dulu, dia masih ngelarang gue berangkat ke kanto
Di kamarnya saat ini Ayyana berbaring nyaman di kasur dengan masih mengenakan mukena yang belum sempat ia lepas setelah sholat subuh tadi.Sementara di dekatnya ada Fakhri yang sibuk mengemasi barang-barangnya untuk di bawa pulang."Ada satu lagi baju aku di keranjang," instruksi Ayyana mengingat baju yang dipakainya kemarin ke kantor dengan suara agak serak.Entah kenapa begitu bangun subuh tadi perempuan itu merasa tidak enak badan dan justru malah berakhir demam.Fakhri sendiri sudah menawarkan agar mereka menginap semalam lagi disana, setidaknya sampai Ayyana merasa agak baikan. Tapi Ayyana menolak dengan alasan sudah merindukan rumahnya.Setelah mengemasi semua barang sang istri, Fakhri beranjak menghampiri Ayyana, mengecek suhu tubuhnya kembali."Yakin mau pulang? Nanti di jalan malah pusing." Kata Fakhri mengusap lembut kepala sang istri.Ayyana hanya membalas dengan gumaman lalu bergerak memindahkan kepalanya dari bantal ke paha Fakhri dan kembali
Sekitar jam sebelas malam, Fakhri tiba di kediaman mertuanya. Kali ini ia pulang tanpa memberitahu Ayyana, ia tidak ingin merepotkan sang istri untuk menjemputnya di bandara tengah malam seperti ini. "Mampir dulu Bay," tawar Fakhri pada Bayu sebelum turun dari mobil. "Lain kali deh, nggak enak bertamu selarut ini." Tolak Bayu. Fakhri pun mengucapkan terima kasih pada teman sekaligus sekretarisnya itu kemudian beranjak turun yang di timpali Bayu dengan peringatan agar sang bos tidak lupa mengirimkan bonus uang lembur sebagai upah telah menjemputnya. "Siap." Jawab Fakhri enteng lalu memasuki gerbang setelah Bayu melesat pergi lebih dulu. Tak lupa ia menjawab sapaan satpam yang berjaga, menanggapi sedikit pertanyaan beliau seputar kedatangannya yang tiba-tiba sebelum masuk. Tapi ada satu hal yang mencuri perhatian Fakhri, selain mobil Ayyana, ada satu lagi mobil lain yang terparkir di halaman itu, mobil berwarna hitam yang terasa cukup asing baginya. Dan saat mengetuk pintu, rasa
"Aku nggak mau!" Sentak Jihan keras, bahkan sebelum Daffa menyelesaikan penjelasannya ia sudah menyela tanpa ragu.Jihan menunjuk Fakhri dengan tajam, "Kak Fakhri benar-benar nggak bertanggung jawab. Aku cuma minta nikah apa susahnya?""Saya sudah menikah Jihan!""Pria bisa menikah lebih dari sekali.""Tapi saya tidak akan menduakan istri saya." Tegas Fakhri sekali lagi.Jihan menyugar rambut acak-acakannya dan tersenyum miring. "Mentang-mentang Kak Fakhri udah bahagia sama perempuan lain jadi sekarang Kakak seenaknya mau lempar aku ke Kak Daffa.""Gue yang mau nikahin lo sendiri Jihan, ini bukan permintaan Fakhri." Jelas Daffa angkat suara."Aku nggak mau Kak!" Balas Jihan cepat, "Aku hanya akan menikah dengan Kak Fakhri.""Gue sama Fakhri nggak ada bedanya.""Beda."Fakhri bangkit menengahi, "Pilihannya hanya dua, menikah dengan Daffa atau tanda tangani surat itu dan masuk keluarga kami sebagai anak angkat. Hanya itu tawaran yang bisa kami b
"Lo gila ya!" Sentak Fakhri, bukan pada Jihan tapi pada Daffa.Setelah berhasil menghentikan aksi nekat Jihan dan mengurungnya di kamar, Fakhri beralih menyeret Daffa untuk bicara berdua."Gue udah pikirin semuanya semalam dan ini keputusan yang terbaik." Jelas Daffa. "Lo sama Aya udah seharusnya melanjutkan hidup dengan normal, dan Jihan? Yang dia tuntut cuman orang yang mau nikahin dia kan? Jadi, biar gue yang ambil peran itu."Fakhri tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa, "Kenapa lo selalu mengorbankan diri buat jadi tameng di masalah ini Daf?"Kedua tangan Fakhri mencengkeram sisi lengan Daffa, "Lo lupa sama Dita hah? Lo nggak pengen nikah sama cewek yang lo suka?"Daffa tersenyum miris, "Dita udah nolak gue Fakhri, dan mungkin nggak akan lama lagi dia akan nikah sama laki-laki pilihan orang tuanya.""Jadi karena itu lo mau ngorbanin diri untuk nikah sama Jihan?" Itu bukan pilihan yang tepat menurut Fakhri. "Kalau sejak dulu lo pernah sekali ajah men
"Sebelumnya Mami minta maaf kalau Mami terkesan ingin ikut campur dengan persoalan rumah tangga kalian." Kata Dania tak ingin membuat kesalahpahaman diantara mereka semakin melebar."Kamu tau kan, pernikahan kalian adalah hasil perjodohan dari keluarga, meskipun kami sama sekali tidak memaksa
Hari ini, Ayyana sudah diizinkan untuk pulang dan ia begitu bahagia saat sampai di rumah karena semua keluarganya berkumpul disana.Yang paling antusias menyambutnya adalah Gio, ia hanya pernah menjenguk Ayyana sekali jadi rasanya begitu bahagia saat tantenya itu bisa pulang.Gi
Mata Ayyana mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang menusuk indra penglihatannya.Hal pertama yang bisa ia tangkap adalah ruangan serba putih dengan pencahayaan terang, pandangannya bergeser pelan mengitari ruangan tersebut hingga dilihatnya sosok Fakhri yang duduk di kursi sampingnya sam
Diruang makan sedang berkumpul semua para perempuan untuk menikmati sarapan, para laki-laki pula sudah sarapan lebih dulu dan tengah bersiap ke kantor.Termasuk Fakhri, setelah beberapa hari tidak masuk ia memutuskan untuk berangkat kerja hari ini.Begitu selesai mengenakan pakaiannya Fak







