Share

Bab 8 Permusuhan

Author: Melvii_SN
last update publish date: 2026-09-30 08:00:27

Bab 8

Pernyataan dingin yang keluar dari mulut Anggara terngiang-ngiang bak gema di dinding kamar yang sunyi. Sentuhan ibu jari pria itu di garis bibir bawah Raisa terasa membakar—sebuah sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, memicu denyut halus yang asing sekaligus mendebarkan di dalam dada.

Raisa mematung. Matanya menatap lurus pada manik mata elang di depannya. Di sana, tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. Hanya ada dominasi mutlak yang dibungku
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 8 Permusuhan

    Bab 8Pernyataan dingin yang keluar dari mulut Anggara terngiang-ngiang bak gema di dinding kamar yang sunyi. Sentuhan ibu jari pria itu di garis bibir bawah Raisa terasa membakar—sebuah sensasi aneh yang menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya, memicu denyut halus yang asing sekaligus mendebarkan di dalam dada.Raisa mematung. Matanya menatap lurus pada manik mata elang di depannya. Di sana, tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. Hanya ada dominasi mutlak yang dibungkus dengan ketampanan yang sangat berbahaya.Namun, tepat sebelum jiwanya benar-benar tersedot oleh aura mengintimidasi itu, bayangan wajah Angga Sebastian yang tertawa mengejek di depan kantor catatan sipil mendadak melintas di kepalanya.“Kamu cuma staff toko florist yang gajinya kecil sekali. Kita tidak selevel!”Suara itu bekerja bagaikan air es yang disiramkan ke kepala Raisa. Kesadarannya tertarik kembali secara paksa. Rasa hangat yang sempat menyelinap di dadanya seket

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 7 Posesif

    Deru mesin mobil sport milik Anggara akhirnya meredup saat kendaraan mewah itu melintasi gerbang besi tempa berukuran raksasa yang terbuka secara otomatis. Mobil itu membelah jalan setapak beraspal mulus, membelah pekarangan hijau seluas lapangan sepak bola dengan air mancur bertingkat di bagian tengahnya, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pilar-pilar megah bergaya klasik modern.Kediaman utama keluarga Darenarendra.Raisa menatap keluar jendela dengan napas tertahan. Kemewahan bangunan di depannya begitu megah, namun baginya, tempat ini tak ubahnya sebuah sangkar emas yang baru saja siap mengurungnya."Turun," perintah Anggara datar seraya mematikan mesin mobil.Pria itu keluar lebih dulu. Sebelum Raisa sempat berpikir untuk mengunci diri di dalam kabin, pintu di sisinya sudah dibukakan oleh Evan yang menyambut mereka dengan sikap hormat."Selamat datang di rumah, Nyonya Darenarendra," sapa Evan membungkuk sopan.Rai

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 6

    Jantung Raisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sentuhan tangannya pada lengan kokoh Anggara mendadak terasa membakar kulitnya sendiri. Dengan panik, Raisa bermaksud menarik diri dan membuka pintu mobil untuk kembali melarikan diri, namun terlambat.Satu tangan kekar Anggara bergerak kilat menyambar pergelangan tangan Raisa, sementara tangan lainnya menekan tombol kunci otomatis.Ctek.Pintu mobil sport itu terkunci rapat."Ingin lari ke mana lagi, Raisa?" suara Anggara bergema dalam kabin mobil yang sempit, begitu berat, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak.Raisa mencengkeram sabuk pengaman, matanya liar menatap belasan pria berjas hitam yang kini sudah mengepung luar mobil sport tersebut. Evan, yang baru saja berlari terengah-engah, memberikan hormat tunduk di balik kaca jendela pengemudi."P-lepaskan aku! Biarkan aku keluar!" jerit Raisa dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah akibat perpaduan rasa takut, panik, dan malu yang teramat sangat karen

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 5 Akhir Dari Pencarian

    Rencana matang Anggara untuk mengepung area kos Raisa ternyata meleset dari perkiraan. Usaha belasan anak buahnya yang berjaga dalam senyap di sekitar Gang Kelinci sejak tengah malam terbuang sia-sia. Mereka tidak tahu bahwa kamar kos di lantai dua itu sudah kosong sejak kemarin malam.Tepat saat semburat merah subuh mulai memecah langit, Raisa baru saja turun dari angkutan kota dengan langkah gontai. Gadis itu tidak berada di kosnya, melainkan baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari rumah ibu tirinya di pinggiran kota."Dasar anak tidak tahu untung," gumam Raisa lirih, meniru makian ibu tirinya semalam dengan senyum getir. "Menyesal rasanya aku pulang ke kampung. Lagipula, aku pun tak tau kenapa aku memilih pulang kemarin. Ah... dasar orangtua kejam."Raisa merapatkan jaket tudungnya, mencoba menghalau hawa dingin subuh sekaligus menyembunyikan wajahnya yang pucat. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak kemarin malam tidak ada satu pun makanan yang masuk. Berniat men

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 4 Informasi Terbaru

    "Tuan... Tuan... Bangun Tuan..."Satu kedipan. Dua kedipan.Aroma keringat, karet lantai gym, dan sensasi dingin yang mendadak menepuk pipinya dengan agak kurang ajar membuat kesadaran Anggara ditarik paksa dari trotoar jalanan malam yang sepi.Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus, menangkap bayangan siluet wajah yang sangat familiar di atasnya. Bukan wajah Raisa dengan senyum sinisnya yang menantang, melainkan wajah cemas Evan yang memegang sebuah handuk kecil dan botol air mineral.Anggara mengerang rendah. Rasa sakit menjalar di punggung dan lehernya. Pria itu baru menyadari dirinya masih terduduk di lantai, bersandar pada tiang besi tepat di bawah samsak gantung yang masih bergoyang pelan. Dia ketiduran karena saking lelahnya. Semua konfrontasi intens dengan Raisa tadi hanyalah proyeksi dari otaknya yang terlalu stres."T-Tuan Anggara? Anda tidak apa-apa?" suara Evan memecah keheningan ruang gym, terdengar sangat berhati-hati. "Saya tadi ke sini karena ada dokumen daru

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 3 Menemukannya?

    Di sisi lain kota, atmosfer di dalam ruang kerja utama kediaman megah keluarga Darenarendra terasa begitu mencekik. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu hening, hanya menyisakan deru napas tertahan dari Evan yang berdiri membeku di depan meja kerja jati yang besar.Di balik meja itu, Anggara duduk tegak. Setelan jasnya sudah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Sepasang mata elangnya menatap dingin lembar dokumen pernikahan di atas meja, sebelum akhirnya perlahan mendongak, menusuk tepat ke manik mata asisten pribadinya."Jadi kamu datang ke hadapanku hanya membawa kabar kosong, Evan?"Evan menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran melewati pelipisnya. Ia menunduk dalam, tidak berani membalas tatapan dominan sang atasan. "M-maaf, Tuan Anggara. Tim kami sudah menyisir radius lima kilometer dari kantor catatan sipil, termasuk memeriksa CCTV di sekitar ga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status