Share

Bab 7 Posesif

Author: Melvii_SN
last update publish date: 2026-09-29 08:00:16

Deru mesin mobil sport milik Anggara akhirnya meredup saat kendaraan mewah itu melintasi gerbang besi tempa berukuran raksasa yang terbuka secara otomatis. Mobil itu membelah jalan setapak beraspal mulus, membelah pekarangan hijau seluas lapangan sepak bola dengan air mancur bertingkat di bagian tengahnya, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pilar-pilar megah bergaya klasik modern.

Kediaman utama keluarga Darenarendra.

Raisa menatap keluar jendela dengan napas tertahan. Kemewahan bangunan di depannya begitu megah, namun baginya, tempat ini tak ubahnya sebuah sangkar emas yang baru saja siap mengurungnya.

"Turun," perintah Anggara datar seraya mematikan mesin mobil.

Pria itu keluar lebih dulu. Sebelum Raisa sempat berpikir untuk mengunci diri di dalam kabin, pintu di sisinya sudah dibukakan oleh Evan yang menyambut mereka dengan sikap hormat.

"Selamat datang di rumah, Nyonya Darenarendra," sapa Evan membungkuk sopan.

Raisa mendengus dingin dari balik sisa rasa takutnya. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku punya nama."

ia melangkah keluar dari mobil dengan kepala terangkat walau dadanya bergemuruh hebat. Anggara yang mendengar sahutan Raisa hanya terkekeh tipis. Tanpa meminta izin, jemari kokoh Anggara melingkar mantap di pinggang Raisa, merapatkannya ke samping tubuhnya dan menuntunnya masuk ke dalam pintu utama.

"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!" protes Raisa berbisik tajam, berusaha memutar tubuhnya agar terlepas dari cengkeraman pria itu.

"Sikap penurutmu sangat minim, Raisa," desis Anggara tepat di telinganya, mempererat kuncian tangannya hingga Raisa tak punya pilihan selain mengekor langkah lebar sang pria.

"Biasakan dirimu. Para pelayan dan penjaga di rumah ini harus melihat betapa mesranya pengantin baru mereka."

Begitu pintu ganda utama terbuka, berjejer belasan pelayan berseragam rapi menundukkan kepala.

"Selamat datang, Tuan Muda, Nyonya," ucap mereka serentak.

Raisa menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. Rasa asing, malu, dan marah bercampur menjadi satu. Ia, seorang gadis toko bunga yang kemarin dicampakkan di depan umum karena dianggap "tidak selevel", kini berdiri di tengah istana yang bahkan tak pernah sanggup ia bayangkan dalam mimpi.

"Bawa seluruh barangnya ke kamar utama di lantai dua," perintah Anggara pada salah satu kepala pelayan.

"Baik, Tuan Anggara."

Anggara membawa Raisa menaiki tangga melingkar berkarpet merah tebal menuju sebuah pintu kayu jati berukir di lantai atas. Begitu pintu terbuka, Raisa terpana sejenak. Kamar utama itu sangat luas, didominasi warna monokrom mewah dengan tempat tidur king size, balkon pribadi yang menghadap ke arah kolam renang, dan kamar mandi berdinding marmer transparan.

Saat pintu kamar tertutup rapat dari luar dan menyisakan mereka berdua, Raisa langsung mengambil jarak sejauh mungkin. Ia berdiri di dekat sofa, menatap Anggara penuh sikap defensif.

"Sekarang kita sudah di rumahmu. Apa mau mu sebenarnya, Tuan Anggara?" tuntut Raisa dengan suara yang mulai kembali stabil. "Uang satu miliar itu sudah memburu hidupku. Kamu sudah mendapatkanku. Jadi, katakan permainan apa yang ingin kamu mainkan?"

Anggara melepaskan jas navy-nya, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan yang sangat kasual namun memancarkan aura dominasi mutlak. Pria itu melempar jasnya ke atas sandaran sofa, lalu melangkah pelan mendekati Raisa.

"Ini bukan permainan, Raisa. Ini adalah kesepakatan yang menguntungkan untuk kita berdua," ujar Anggara, suaranya yang berat dan dalam memantul di dinding kamar yang sunyi.

"Menguntungkan?" Raisa tertawa sumbang.

"Menguntungkan di mana? Kamu menculikku, mengancam mata pencaharianku, dan memaksa pernikahan gila ini!"

"Menguntungkan karena kamu mendapatkan perlindungan dari nama besar Darenarendra," potong Anggara tegas, kini berdiri hanya sejengkal di hadapan Raisa. Pria itu menunduk, menatap dalam-dalam ke manik mata Raisa yang menyala penuh perlawanan.

"Mantan kekasihmu yang bernama Angga itu... dia membuangmu demi karier dan wanita kaya, bukan?" Anggara tersenyum sinis, ada kilat berbahaya di matanya. "Dan ibu tirimu menuntut uang darimu setiap bulan seolah kamu adalah mesin pencetak rupiah."

Raisa membeku. Rahasianya yang paling menyakitkan terucap begitu mudah dari mulut pria asing ini. "K-kau... menyelidiki hidupku?"

"Tentu saja. Aku harus tahu siapa wanita yang secara tidak sengaja menandatangani surat nikahku," balas Anggara santai. Jemari panjangnya terulur, menyentuh dagu Raisa dan mengangkatnya perlahan agar mata mereka saling terkunci.

"Tetaplah di sini, berpura-pura menjadi istri yang setia di depan kakekku dan publik selama beberapa bulan jingga hak warisku sah sepenuhnya. Sebagai imbalannya..."

Anggara membungkuk sedikit, mendaratkan bisikan dingin di telinga Raisa. "...aku akan menghancurkan Angga Sebastian dan keluarganya hingga mereka berlutut memohon ampun padamu. Aku juga akan membiayai seluruh kuliahmu dan memastikan ibu tirimu tidak akan pernah berani mengusikmu lagi seumur hidup."

Napas Raisa tercekat. Tawaran itu... terasa begitu manis sekaligus beracun. Pembalasan dendam pada Angga dan Kimberly, serta kebebasan dari jeratan ibu tirinya, adalah hal yang sangat ia impikan.

Namun, menatap sepasang mata elang Anggara yang penuh manipulasi, Raisa tahu ada harga mahal yang harus dibayar.

"Dan jika aku menolak?" bisik Raisa membalas tatapan itu, mencoba tidak gemetar saat ibu jari Anggara meraba pelan garis bibir bawahnya.

"Kamu tidak dalam posisi untuk menolak, Istriku," sahut Anggara seraya tersenyum tipis. "Sebab mulai detik ini, hidupmu adalah milikku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 7 Posesif

    Deru mesin mobil sport milik Anggara akhirnya meredup saat kendaraan mewah itu melintasi gerbang besi tempa berukuran raksasa yang terbuka secara otomatis. Mobil itu membelah jalan setapak beraspal mulus, membelah pekarangan hijau seluas lapangan sepak bola dengan air mancur bertingkat di bagian tengahnya, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pilar-pilar megah bergaya klasik modern.Kediaman utama keluarga Darenarendra.Raisa menatap keluar jendela dengan napas tertahan. Kemewahan bangunan di depannya begitu megah, namun baginya, tempat ini tak ubahnya sebuah sangkar emas yang baru saja siap mengurungnya."Turun," perintah Anggara datar seraya mematikan mesin mobil.Pria itu keluar lebih dulu. Sebelum Raisa sempat berpikir untuk mengunci diri di dalam kabin, pintu di sisinya sudah dibukakan oleh Evan yang menyambut mereka dengan sikap hormat."Selamat datang di rumah, Nyonya Darenarendra," sapa Evan membungkuk sopan.Rai

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 6

    Jantung Raisa serasa berhenti berdetak saat itu juga. Sentuhan tangannya pada lengan kokoh Anggara mendadak terasa membakar kulitnya sendiri. Dengan panik, Raisa bermaksud menarik diri dan membuka pintu mobil untuk kembali melarikan diri, namun terlambat.Satu tangan kekar Anggara bergerak kilat menyambar pergelangan tangan Raisa, sementara tangan lainnya menekan tombol kunci otomatis.Ctek.Pintu mobil sport itu terkunci rapat."Ingin lari ke mana lagi, Raisa?" suara Anggara bergema dalam kabin mobil yang sempit, begitu berat, dingin, dan sarat akan dominasi mutlak.Raisa mencengkeram sabuk pengaman, matanya liar menatap belasan pria berjas hitam yang kini sudah mengepung luar mobil sport tersebut. Evan, yang baru saja berlari terengah-engah, memberikan hormat tunduk di balik kaca jendela pengemudi."P-lepaskan aku! Biarkan aku keluar!" jerit Raisa dengan suara bergetar hebat. Wajahnya yang pucat pasi kini memerah akibat perpaduan rasa takut, panik, dan malu yang teramat sangat karen

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 5 Akhir Dari Pencarian

    Rencana matang Anggara untuk mengepung area kos Raisa ternyata meleset dari perkiraan. Usaha belasan anak buahnya yang berjaga dalam senyap di sekitar Gang Kelinci sejak tengah malam terbuang sia-sia. Mereka tidak tahu bahwa kamar kos di lantai dua itu sudah kosong sejak kemarin malam.Tepat saat semburat merah subuh mulai memecah langit, Raisa baru saja turun dari angkutan kota dengan langkah gontai. Gadis itu tidak berada di kosnya, melainkan baru saja menempuh perjalanan melelahkan dari rumah ibu tirinya di pinggiran kota."Dasar anak tidak tahu untung," gumam Raisa lirih, meniru makian ibu tirinya semalam dengan senyum getir. "Menyesal rasanya aku pulang ke kampung. Lagipula, aku pun tak tau kenapa aku memilih pulang kemarin. Ah... dasar orangtua kejam."Raisa merapatkan jaket tudungnya, mencoba menghalau hawa dingin subuh sekaligus menyembunyikan wajahnya yang pucat. Perutnya berbunyi nyaring, memprotes karena sejak kemarin malam tidak ada satu pun makanan yang masuk. Berniat men

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 4 Informasi Terbaru

    "Tuan... Tuan... Bangun Tuan..."Satu kedipan. Dua kedipan.Aroma keringat, karet lantai gym, dan sensasi dingin yang mendadak menepuk pipinya dengan agak kurang ajar membuat kesadaran Anggara ditarik paksa dari trotoar jalanan malam yang sepi.Pandangannya yang semula kabur perlahan memfokus, menangkap bayangan siluet wajah yang sangat familiar di atasnya. Bukan wajah Raisa dengan senyum sinisnya yang menantang, melainkan wajah cemas Evan yang memegang sebuah handuk kecil dan botol air mineral.Anggara mengerang rendah. Rasa sakit menjalar di punggung dan lehernya. Pria itu baru menyadari dirinya masih terduduk di lantai, bersandar pada tiang besi tepat di bawah samsak gantung yang masih bergoyang pelan. Dia ketiduran karena saking lelahnya. Semua konfrontasi intens dengan Raisa tadi hanyalah proyeksi dari otaknya yang terlalu stres."T-Tuan Anggara? Anda tidak apa-apa?" suara Evan memecah keheningan ruang gym, terdengar sangat berhati-hati. "Saya tadi ke sini karena ada dokumen daru

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 3 Menemukannya?

    Di sisi lain kota, atmosfer di dalam ruang kerja utama kediaman megah keluarga Darenarendra terasa begitu mencekik. Ruangan luas berlantai marmer hitam itu hening, hanya menyisakan deru napas tertahan dari Evan yang berdiri membeku di depan meja kerja jati yang besar.Di balik meja itu, Anggara duduk tegak. Setelan jasnya sudah berganti dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kokohnya. Sepasang mata elangnya menatap dingin lembar dokumen pernikahan di atas meja, sebelum akhirnya perlahan mendongak, menusuk tepat ke manik mata asisten pribadinya."Jadi kamu datang ke hadapanku hanya membawa kabar kosong, Evan?"Evan menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bercucuran melewati pelipisnya. Ia menunduk dalam, tidak berani membalas tatapan dominan sang atasan. "M-maaf, Tuan Anggara. Tim kami sudah menyisir radius lima kilometer dari kantor catatan sipil, termasuk memeriksa CCTV di sekitar ga

  • Candu Belaian Tuan Miliader    Bab 2 Menyerahkan Diri?

    Petang itu Raisa baru saja pulang dari kampus menuju toko florist tempatnya bekerja paruh waktu. Namun, baru beberapa langkah matanya dibuat melotot melihat brosur-brosur yang tersebar di beranda jalan. Beberapa menempel di pohon, beberapa lainnya pada dinding-dinding bangunan, dan yang paling membuatnya hampir jantungan adalah reklame sayembara pencarian dirinya terpampang jelas di atas sana. Napas Raisa tercekat di tenggorokan. Kakinya mendadak terasa lemas, seperti kehilangan tulang penyangga. Di atas papan reklame digital berukuran besar yang menyala di pinggir jalan raya, foto dirinya terpampang dengan sangat jelas—foto wajahnya yang diambil secara acak, kemungkinan dari tangkapan layar akun media sosialnya.Di bawah foto itu, deretan huruf kapital berwarna merah tebal seolah berteriak ke arahnya. DICARI: RAISA SHAZANAFIABARANG SIAPA YANG MENEMUKAN DAN MEMBAWANYA DALAM KEADAAN AMAN KEPADA ANGGARA DARENARENDRA DALAM WAKTU 5 HARI, AKAN DIBERIKAN IMBALAN TUNAI SEBESAR 1 MILIAR R

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status