LOGINMalam di kediaman Marcus terasa dingin menyiksa.Marcus merebahkan dirinya di sofa, kepalanya menengadah ke atas, sesekali ia memijat kepalanya sendiri. Ia tak mau memenuhi tuntutan Ririn yang menginginkan 50 miliar untuk mencari Dewi. Bukan karena ia kekurangan uang, tapi ia tahu jika ia kembali mengabulkan keinginan wanita itu lagi, maka wanita itu akan terus mempermainkan dan menipunya. Marcus tak sudi di permainkan, ia menolaknya keras.Tap! Tap! Tap! Suara langkah kaki terdengar menghampirinya. Disana berdiri seorang pria berpakaian serba hitam yang adalah ketua tim keimanan Manggala tech.Pria itu menunduk hormat lalu mendongak perlahan, bersia menyampaikan laporannya."Ada apa?" Tanya Marcus malas."Pak... Saya menemukan ada beberapa orang yang membongkar makam bu Dewi setelah kita pergi dari tempat itu" Lapor ketua tim.Mendengar ucapan ketua tim, Marcus melotot kaget, ia segera menegakkan duduknya lalu menatap ketua tim."Apa?! Kenapa kau baru memberitahu ku sekarang?" Tanya
Di dalam ruang kerja Marcus yang kini telah disulap sepenuhnya menjadi kamar pribadi Ririn yang serba merah muda, atmosfer ruangan terasa tegang menyeluruh.Ririn duduk dengan gestur anggun di tepi ranjang berukuran besar, siap menerima laporan berkala dari Doni—ketua pengawal kepercayaannya.Doni berdiri kaku di hadapan wanita itu usai menyampaikan seluruh poin laporannya. Sudah berhari-hari pergerakan timnya terhambat luar biasa lantaran di sekitar area pedesaan tempat tinggal Bima dijaga amat ketat oleh barisan aparat kepolisian."Maaf, Non. Saya sudah merekrut beberapa orang tambahan, tapi kami tidak bisa bergerak maju. Berhadapan langsung dengan polisi hanya akan mendatangkan masalah besar baru untuk kita," ucap Doni dengan suara berat dan sarat akan kecemasan.Ririn melipat kedua tangannya di dada. Tatapan matanya yang sedingin es menghujam lurus pada paras Doni."Jadi... Mas Bima tidak pernah keluar dari desa itu setelah aksi kejar-kejaran kalian hari itu?" Tanya Ririn ding
Langkah kaki bersepatu PDL milik seorang petugas sipir bergema ritmis di sepanjang koridor beton blok tahanan Lapas Kelas I J-City. Suara derit besi tua terdengar nyaring tatkala sel kawat tempat Zain mengurung diri dibuka dari luar."Tahanan atas nama Zain, keluar. Ada pengunjung yang ingin menemuimu," titah petugas sipir itu dengan intonasi datar tanpa ekspresi.Zain yang tengah berbaring di atas bale-bale semen seketika menegakkan tubuhnya. Sebuah ukiran senyum jemawa langsung mekar di parasnya yang tampak lusuh berbalut seragam tahanan berwarna oranye.Dalam benaknya yang dipenuhi kecongkakan, ia sangat yakin bahwasanya sosok yang tengah menunggunya adalah sang pengacara pribadi."Akhirnya datang juga..." Gumam Zain seraya bangkit berdiri.Dengan dagu terangkat tinggi, Zain membiarkan kedua pergelangan tangannya dipasangi borgol besi oleh petugas sipir. Di balik rasa dingin logam yang mengunci kedua tangannya, ego Zain melambung tinggi.Ia sudah menyusun deretan skenario dan t
Bima perlahan mendudukkan dirinya di hadapan Ghina dan tiga anggota timnya yang duduk melingkar di ruang tengah.Dalam suasananya yang tenang, benaknya masih dirayapi rasa tak percaya bahwasanya sosok wanita yang ingin dikenalkan oleh sang ibu adalah Ghina—peretas dingin kepercayaan Utama Group.Ghina—yang secara resmi menjabat sebagai Lead Field Risk & Intelligence Specialist di Utama Group—tampak begitu santai menikmati cangkir teh hangatnya.Posisi resminya yang berfokus pada survei risiko dan analisis lapangan membuatnya sangat bebas bergerak di luar kantor tanpa perlu dipertanyakan oleh staf HRD."Aku senang akhirnya bisa bertemu dengan Pak Bima lagi," ucap Ghina lembut seraya perlahan meletakkan cangkirnya di atas meja kayu.Ketiga anggota timnya saling melirik satu sama lain dengan raut terperanjat, sama sekali tak menyangka atasan mereka yang terkenal berdarah dingin dan irit bicara sanggup mengeluarkan intonasi sedemikian halus.Mereka yang selalu mendampingi Ghina paham betu
Malam semakin larut di dalam penthouse mewah milik Adrian. Suasana di dalam hunian itu begitu sunyi, hanya dihiasi pendar gemerlap lampu malam J-City yang membentang luas dan dapat terlihat jelas dari ketinggian dinding kaca. Adrian duduk tenang di tepi ranjang berukuran besar, menatap tajam putra kecilnya yang telah tertidur lelap dengan ekspresi polos nan tenang. Sesekali, dengan gerakan jemari yang amat lembut, ia menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang menutupi dahi Syahdan. Adrian menghela napas pendek, sementara otaknya berputar dan berproses begitu cepat. Batinnya bergejolak diliputi pertanyaan mendalam mengenai apa yang sebenarnya tengah berkecamuk di dalam benak Saifanny saat ini. Ia teramat ingin menghubungi wanita itu, namun dinding keraguan dan jarak yang terbentang memaksa logikanya untuk menahan diri. Tringgg! Tringgg! Tiba-tiba, getaran ponsel Adrian memecah keheningan malam. Ia melirik layar yang menyala berpendar, mendapati nama Sania—ibu kandung Saifanny—t
Maheswara kembali mendudukkan dirinya, menyandarkan tubuh tuanya di kursi kebesarannya yang megah dengan kepasrahan yang dibuat-buat.Menghadapi cucu pertamanya itu tidak pernah menjadi perkara mudah. Pria tua itu merasakan tiap detonasi amarah di dada seolah mengikis perlahan sisa helaan napas hidupnya."Kau pulang saja dulu. Aku akan mengirimkan dokumen pengalihan saham itu nanti kepadamu," ucap Maheswara pasrah, mengibaskan tangannya di udara dengan gestur mengusir.Namun, Marcus tetap geming di posisi duduknya. Ia menolak bangkit walau hanya seinci dari kursi kayu berukir tersebut."Aku tidak akan pergi ke mana pun. Dokumen itu harus ada di tanganku hari ini juga," sergah Marcus keras kepala, intonasi suaranya mematok batas yang tak bisa ditawar.Maheswara mengeraskan rahangnya kaku, geram luar biasa menyaksikan kebebalan cucunya. Ia menghela napas panjang yang amat berat, lalu merogoh ponsel pintar dari saku jas mewahnya. Jemarinya menari lincah memanggil kontak pengacara keluarg
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







