LOGINWaktu menunjukkan tepat pukul enam sore saat guratan jingga senja mulai memudar di balik jendela rumah sakit.Indah dan Januar pamit sejenak meninggalkan kamar perawatan VIP untuk menunaikan ibadah salat Magrib di mushola rumah sakit.Kini, hanya tersisa Bima dan Andien yang mendiami ruangan berpendingin tersebut. Keheningan dan kecanggungan perlahan merayap, menyelimuti atmosfer di antara mereka.Sebagian dari jiwa Bima masih diliputi rasa malu yang teramat sangat; ia merasa telah bertindak kekanak-kanakan karena histeris dan ketakutan di hadapan Adrian maupun Andien.Andien memecah hening dengan mengangkat tas kain berisi barang-barang milik Bima yang dibawanya dari apartemen."Aku dan ibumu yang mengemasinya. Paperbag yang kau inginkan juga ada di dalam," ucap Andien lembut sembari menyerahkan tas tersebut ke atas peraduan."Terima kasih," sahut Bima singkat.Dengan jemari yang sedikit gemetar, Bima merogoh isi tas di hadapannya. Ia mengeluarkan sebuah paperbag hitam berukuran keci
Atmosfer sore di dalam ruang perawatan VIP Rumah Sakit Pusat J-City terasa begitu tenang, dihangatkan oleh perbincangan antara ibu dan anak.Sania tak henti-hentinya mengobrol bersama Saifanny. Waktu seolah bergulir tanpa terasa, memotong jam demi jam yang semula membelenggu Saifanny dalam kejenuhan.Tiba-tiba, keheningan di sela obrolan mereka terpecah.Ting!Suara dering notifikasi dari ponsel milik Sania bergema tipis. Layar ponselnya menampilkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh pihak pengurus Panti Asuhan Sania.Sania meraih ponselnya, menariknya dari dalam tas, lalu menunduk membaca pesan tersebut. Seketika, dahinya berkerut dalam, melukiskan keheranan yang tak mampu disembunyikannya.Mendapati perubahan drastis pada raut wajah sang ibu, Saifanny memberanikan diri untuk bersuara."Kenapa, Ma? Ada masalah di panti?" Tanya Saifanny dengan nada suara sarat kecemasan, mengira terjadi sesuatu yang buruk pada fasilitas panti milik ibunya.Sania menggelengkan kepalanya perlahan
Pagi itu, atmosfer di koridor Rumah Sakit Pusat J-City terasa begitu mencekam bagi Sania. Wanita paruh baya itu melangkah terburu-buru dengan derap sepatu yang bergetar hebat, diselimuti gelombang kecemasan yang teramat sangat. Informasi mengenai putrinya, Saifanny, yang terbaring kritis akibat luka tembak baru saja memukul batinnya. Tujuan utamanya pagi ini hanya satu: memastikan secara langsung bahwa Saifanny baik-baik saja.Dengan napas yang patah-patah dan dada yang naik-turun tak beraturan, Sania melangkah lebar menuju ruang perawatan VIP.Begitu berdiri tepat di depan daun pintu kayu tebal tersebut, tanpa mengetuk, jemarinya langsung mendorong gagang pintu secara tergesa-gesa.Ckrek!Pintu berderit terbuka lebar. Di dalam ruangan yang didominasi warna putih itu, Saifanny yang sedang duduk diatas ranjang serta Adrian yang terduduk kaku di sisi tempat tidur seketika mengalihkan pandangan mereka serempak ke arah ambang pintu."Mama..." Ucap Saifanny lirih. Suaranya terdengar begit
Bima terduduk kaku di atas peraduan rumah sakit, memeluk kedua kakinya erat-erat ke dada. Pandangan matanya menyiratkan kekosongan yang datar dan hampa.Sesekali, manik matanya melirik redup ke arah pergelangan tangan dan pergelangan kakinya. Kendati ikatan telah terlepas, bekas memar kebiruan dan pola melingkar akibat jeratan tali serta cengkeraman borgol besi masih tercetak jelas di atas kulitnya—menjadi saksi bisu kekejaman yang pernah menerornya.Walau rasionalitasnya membisikkan bahwa ia kini aman di dalam ruang perawatan rumah sakit, bayangan kelam tentang Ririn yang mengikat tubuhnya secara paksa terus membayangi dan merayapi benaknya.Bima tak mampu memejamkan mata secara alami. Pandangannya senantiasa terlempar gelisah ke arah pintu kamar yang sengaja dibiarkan setengah terbuka.Di dalam pikirannya yang terdistorsi trauma, Ririn bisa saja menerobos masuk kapan saja; ia merasa harus selalu bersiap untuk bangkit dan berlari seketika.Andien yang cermat menangkap gelagat Bima me
Bima terduduk di atas peraduan rumah sakit. Manik matanya menatap hampa menerobos beningnya kaca jendela, hanyut dalam pergulatan batin yang tak kunjung mereda.Di sampingnya, Andien sibuk mengupas buah apel dengan gerakan santai, tak henti-hentinya mengoceh menceritakan dinamika pekerjaannya demi mencairkan suasana.Namun, mendapati Bima yang tetap membisu kaku, Andien perlahan menghentikan kegiatannya. Ia mengulurkan tangan, mengusap lembut bahu pria itu."Bima..." Panggil Andien pelan.Bima tersentak, refleks menoleh menatap paras Andien."Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Andien heran.Bima menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengusir bayang-bayang kelam yang merayapi benaknya."Aku ingin menjenguk Saifanny, Andien," ucap Bima singkat, menyuarakan desakan rasa bersalah yang terus menghimpit dadanya.Andien mengangguk paham. Tanpa membuang waktu, ia mengambil kursi roda di sudut ruangan, lalu dengan telaten membantu Bima memindahkan tubuhnya.Namun, baru saja jemari Andien h
Pagi berganti siang di kediaman megah milik Marcus Manggala. Atmosfer di dalam rumah mewahnya terasa hening namun mencekam. Di ruang tengah, seorang pengawal pribadi berdiri tegak dengan posisi sempurna, siap memberikan laporan perkembangan terbaru mengenai insiden penyekapan dan perburuan terhadap Ririn. Marcus duduk anggun di atas sofa kulit impor sembari mengamati layar iPad miliknya. Jemari kokohnya sesekali menyesap cangkir kopi hitam yang mengepulkan aroma pahit—selaras dengan suasana hatinya. "Lapor, Tuan. Seperti yang Anda duga, Bu Ririn gagal total menjalankan seluruh rencananya," mulai pengawal itu dengan nada berhati-hati. "Dua mobil pengalih perhatian berhasil tersusul oleh tim pencari hingga mereka langsung diringkus dan diamankan polisi. Di saat yang sama, Bu Saifanny nekat menyusup ke vila hanya didampingi satu pengawal. Bu Ririn mengeksekusi pengawal itu, dan Bu Saifanny pun tertembak hingga mengenai area dadanya." Mendengar nama Saifanny disebut terkena temba
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







