MasukDeru mesin SUV hitam yang ditumpangi Marcus membelah jalanan utama T-City yang diselimuti kabut tipis sisa hujan subuh.Konvoi tiga kendaraan mewah itu bergerak beriringan membawa barisan pengawal pribadi berbadan tegap.Di dalam kabin yang dingin, jemari Marcus mengetuk-ngetuk sandaran tangan kulit dengan irama tidak teratur.Dadanya dihinggapi kombinasi emosi yang merusak ketenangan: rasa tidak percaya, kepanikan tersembunyi, dan amarah yang meluap.Ejekan Ririn mengenai fakta bahwa Dewi masih hidup terus bergema di telinganya. Jika kenyataan ini sampai tercium oleh Tyas Astaguna, maka seluruh fondasi kekuasaan serta kepemilikan saham yang digenggamnya atas Astaguna Pharmacy akan hancur lebur tanpa sisa."Pak, kita sudah memasuki area TPU Pemakaman Umum T-City," panggil pengemudi pribadinya, memecah hening.Marcus menatap luar jendela dengan pandangan tajam bertabur paranoia."Bawa keluar semua peralatan," perintah Marcus dingin."Baik, Pak," jawab sang sopir seraya menunduk hormat,
Pagi hari di kediaman Manggala terasa begitu dingin dan mencekam. Setiap penghuni bergerak melakukan tugas serta kegiatannya masing-masing dalam keheningan yang kaku.Marcus mengulurkan tangannya, mengambil dan mengecek ponselnya yang terus berdering sejak subuh.Layar kaca ponsel itu memuat laporan mendetail dari mata-matanya. Terdapat sebuah tautan yang mengarah langsung ke laman media sosial galeri ternama.Klik!Marcus menekan tautan tersebut. Dalam sekejap, layar ponselnya menampilkan foto Adrian dan Tyas yang berpose bersama, didampingi oleh putra mereka masing-masing di bawah pendar lampu galeri yang megah.Seketika, senyum licik tersungging lebar dari bibir Marcus."Oh, Adrian... Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Sekarang kau mengincar Tyas Astaguna? Apa kau akhirnya berpaling dari Saifanny?" Gumam Marcus parau, melontarkan rentetan pertanyaan yang dipenuhi kalkulasi jahat di dalam benaknya.Marcus melihat potret itu sebagai sebuah peluang emas—peluang besar untuk membuat hu
Malam kian melarut di dalam The Zenith Crystal Hall. Syahdan memeluk erat ukiran bunga mawar mewah berlapis kristal yang telah dibungkus rapi dalam wadah pelindung khusus—karya seni bernilai fantastis yang berhasil dimenangkan oleh Adrian.Lantaran beberapa kali kedapatan menguap dan menggosok matanya yang disergap kantuk, Adrian mengambil keputusan untuk undur diri lebih awal, menyisakan Jovian dan Tyas yang wajib bertahan hingga seluruh rangkaian perhelatan berakhir."Kami pamit dulu, Bu. Saya akan segera menghubungi Bu Tyas untuk kelanjutan rencana kita," tutur Adrian tegas sebelum menuntun langkah putranya masuk ke dalam mobil hitam.Syahdan menyerahkan bungkusan ukiran bernilai tinggi itu pada pangkuan Adrian, lalu menyunggingkan senyum seraya melambaikan tangannya ramah pada Aidan sebagai ucapan perpisahan.Kedua figur ayah dan anak itu pun meluncur meninggalkan galeri, menutup malam dengan perpisahan yang hangat.Rangkaian acara lelang hari itu terbilang sukses besar. Sebagian
Usai sesi pemotretan singkat bersama fotografer galeri, kerumunan tamu perlahan bergeser menuju area aula lelang utama.Suasana di sekitar pilar marmer kini mendadak lebih tenang, menyisakan pendar cahaya spotlight yang memancar lembut membungkus patung kristal mawar mekar di atasnya.Syahdan melangkah pelan mendekati pilar itu kembali. Manik matanya tak lepas menatap bias keemasan dan merah dari ukiran kristal yang begitu memikat. Di sisinya, Aidan mengekori sembari memiringkan kepala."Kau benar-benar menyukai patung bunga ini, ya?" Tanya Aidan memperhatikan pandangan kaku Syahdan.Syahdan mengangguk pelan, jemari kecilnya terangkat mengudara—hampir menyentuh permukaan kaca pelindung namun ia tahan."Mama suka sekali bunga mawar... Mama juga punya taman bunga mawar di rumah kami," jawab Syahdan pelan, memori rumah membayang di benaknya.Aidan tersenyum tipis, memahami ikatan polos itu. "Oh, begitu... Minta saja pada papamu kalau mau patung itu," ucap Aidan sambil menunjuk patung
Ketegangan di dalam ruangan privat yang menyekap mereka perlahan meluruh, menyisakan residu keheningan yang lebih teratur. Dengan pergerakan anggun, Tyas mengulurkan tangannya, meraih tangkai gelas kristal di hadapannya lalu menyesap pelan gelembung sampanye yang tersaji. Tyas memiringkan kepalanya sedikit, menatap Adrian dengan tatapan mata yang berkilat analitis. "Jadi... Anda ingin menegaskan bahwasanya adik saya memang mengalami kekerasan fisik dari pria narsis itu?" Ucap Tyas datar seraya menggoyangkan pelan cairan di dalam gelasnya. Adrian menganggukkan kepalanya perlahan, mendaratkan jemarinya di atas permukaan meja dengan ketukan konstan. "Boleh saya bertanya satu hal?" Lanjut Tyas, yang serta-merta direspons Adrian lewat isyarat telapak tangan—mempersilakan wanita itu bersuara. "Mengapa Anda begitu berambisi menghancurkan Marcus? Apa dia sudah melakukan sesuatu yang memicu amarah seorang Adrian Utama?" Cerca Tyas diiringi senyum tipis yang sarat akan provokasi. Adr
Di sebuah VIP suite tertutup yang steril di dalam galeri, ketenangan begitu mencekam. Dinding berbahan kedap suara memisahkan keriuhan lelang di luar dari dua figur penguasa yang kini duduk berhadapan.Di atas meja mahoni, dua gelas kristal berdiri tak tersentuh, mencerminkan ketegangan terukur yang meruap ke setiap sudut ruangan.Tyas menyandarkan punggungnya, menatap Adrian dengan cermat. Garis wajahnya membeku tanpa riak emosi, memamerkan kewaspadaan seorang matriark yang terbiasa memegang kendali."Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang Marcus, saya ingin bertanya satu hal pada Anda," buka Tyas serius, mengunci lurus manik mata lawan bicaranya.Adrian menegakkan posisi duduknya, membalas tatapan itu dengan ketenangan yang setara."Saya yakin sebelum mendekati saya, Anda sudah mencari tahu tentang saya, kan? Apa saja yang Anda ketahui tentang Astaguna dan Manggala?" Cerca Tyas tajam, menguji sejauh mana pria di hadapannya telah meretas batas kerahasiaan keluarganya.Ukiran se
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







