تسجيل الدخولKetegangan di dalam ruangan privat yang menyekap mereka perlahan meluruh, menyisakan residu keheningan yang lebih teratur.Dengan pergerakan anggun, Tyas mengulurkan tangannya, meraih tangkai gelas kristal di hadapannya lalu menyesap pelan gelembung sampanye yang tersaji.Tyas memiringkan kepalanya sedikit, menatap Adrian dengan tatapan mata yang berkilat analitis."Jadi... Anda ingin menegaskan bahwasanya adik saya memang mengalami kekerasan fisik dari pria narsis itu?" Ucap Tyas datar seraya menggoyangkan pelan cairan di dalam gelasnya.Adrian menganggukkan kepalanya perlahan, mendaratkan jemarinya di atas permukaan meja dengan ketukan konstan."Boleh saya bertanya satu hal?" Lanjut Tyas, yang serta-merta direspons Adrian lewat isyarat telapak tangan—mempersilakan wanita itu bersuara."Mengapa Anda begitu berambisi menghancurkan Marcus? Apa dia sudah melakukan sesuatu yang memicu amarah seorang Adrian Utama?" Cerca Tyas diiringi senyum tipis yang sarat akan provokasi.Adrian me
Di sebuah VIP suite tertutup yang steril di dalam galeri, ketenangan begitu mencekam. Dinding berbahan kedap suara memisahkan keriuhan lelang di luar dari dua figur penguasa yang kini duduk berhadapan.Di atas meja mahoni, dua gelas kristal berdiri tak tersentuh, mencerminkan ketegangan terukur yang meruap ke setiap sudut ruangan.Tyas menyandarkan punggungnya, menatap Adrian dengan cermat. Garis wajahnya membeku tanpa riak emosi, memamerkan kewaspadaan seorang matriark yang terbiasa memegang kendali."Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang Marcus, saya ingin bertanya satu hal pada Anda," buka Tyas serius, mengunci lurus manik mata lawan bicaranya.Adrian menegakkan posisi duduknya, membalas tatapan itu dengan ketenangan yang setara."Saya yakin sebelum mendekati saya, Anda sudah mencari tahu tentang saya, kan? Apa saja yang Anda ketahui tentang Astaguna dan Manggala?" Cerca Tyas tajam, menguji sejauh mana pria di hadapannya telah meretas batas kerahasiaan keluarganya.Ukiran se
Di sudut kanan hall yang memajang jajaran instalasi seni kontemporer, Syahdan berdiri mematung di hadapan sebuah pilar marmer. Di atasnya, bertengger sebuah patung kristal transparansi berbentuk kuncup bunga mawar yang sedang mekar. Pendar spotlight dari langit-langit membiaskan spektrum warna merah keemasan yang teramat indah, memancar lembut ke seluruh sudut pilar.Syahdan menatap patung itu tanpa mengedipkan mata. Benak polosnya melayang pada ingatan di rumah; bunga kesukaan ibunya, serta senyum hangat Saifanny saat hatinya sedang tenang dan bahagia."Itu karya ukir kristal buatan seniman Prancis," sebuah suara berintonasi tenang dan percaya diri menyapa dari samping.Syahdan menoleh perlahan. Di sebelahnya, berdiri seorang anak laki-laki yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Anak itu mengenakan setelan jas biru yang amat rapi, dengan helaian rambut blonde halus yang membingkai paras tampannya."Wow..." Ucap Syahdan penuh kekaguman sambil menatap anak itu. Kagum pada an
Sore hari menyelimuti kantor pusat Utama Group dalam keheningan yang menenangkan. Pasca-ledakan amarah dan jeritan histeris Saifanny di lorong eksekutif beberapa jam lalu, ketenangan perlahan merayap kembali di setiap sudut ruangan.Tak ada satu pun karyawan yang berani memperpanjang perbincangan atau membocorkan insiden tersebut.Di bawah kepemimpinan Adrian Utama, disiplin dan aturan kerahasiaan diterapkan secara ketat; membocorkan urusan internal perusahaan sama saja dengan mempertaruhkan karier dan menghadapi konsekuensi hukum yang amat berat.Tringgg... Tringgg...Ponsel di atas meja kerja Adrian berdering nyaring, memecah kesunyian. Layar digitalnya menampilkan identitas sang ketua tim keamanan elit."Halo..." Sapa Adrian dingin usai menggeser tombol hijau."Halo, Pak. Bu Saifanny sudah dipastikan langsung tiba dan masuk ke rumah pribadinya. Beliau tidak mendatangi kediaman atau kantor Marcus Manggala," lapor ketua tim dengan nada tegas."Bagus. Terus awasi pergerakannya sampai
Saifanny melajukan kendaraan rodanya dalam kecepatan sedang membelah jalanan utama J-City.Jemarinya yang menegang mencengkeram erat lingkar kemudi, membuat buku-buku jarinya memutih kaku.Pikiran wanita itu berputar hebat, didera kekacauan emosi yang membakar pasca-interaksi mengerikan di Lembaga Pemasyarakatan bersama Zain.Siapakah sosok jahat yang berani melayangkan salinan berkas tes DNA rahasia itu ke balik jeruji besi?'Apa mungkin Adrian yang sengaja mengirimkan surat tes DNA itu?' Batin Saifanny geram, prasangka buruk membimbing logikanya menuju satu nama yang paling berambisi atas identitas sang anak.Di kursi penumpang samping, Syahdan duduk membisu dengan raut cemas yang nyata. Bocah 9 tahun itu menangkap pergeseran atmosfer yang tidak biasa lantaran sang ibu tak mengatakan sepatah kata pun sejak mereka melangkah keluar dari area penahanan."Syahie, pegangan yang erat ya. Mama mau ngebut sedikit," instruksi Saifanny datar.Tanpa membantah, Syahdan meremas pegangan tangan d
Hari libur telah tiba. Di bawah naungan langit pagi yang cerah, Saifanny dan Syahdan kini menginjakkan kaki mereka di pekarangan Lembaga Pemasyarakatan tempat Zain ditahan.Kendati pendar matahari terasa hangat menyengat kulit, sebuah sensasi dingin yang tak kasatmata mendadak menerpa seluruh permukaan tubuh Saifanny.Ada kecemasan teramat pekat yang merayapi batinnya—entah sebuah firasat buruk yang tengah memberi peringatan, atau sekadar respons penolakan biologis saat raga wanita itu dipaksa bernapas di tempat yang teramat asing dan menyesakkan ini.Saifanny menyapu pandangan matanya ke sekeliling sebelum menapakkan kaki melewati gerbang utama.Keraguan luar biasa masih bergolak hebat di dasar jiwanya, namun nasi sudah menjadi bubur; ia dan putranya telah terlanjur melangkah terlalu jauh di area penahanan ini.Dengan pergerakan naluriah, Saifanny meraih bahu mungil Syahdan, merangkul sang putra dengan proteksi penuh.Di sisinya, Syahdan melangkah dengan ekspresi polos khas anak-anak
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te







